Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Ada yang tidak terima


__ADS_3

Selesai mandi, dan badan lumayan terasa segaran, Razan segera keluar dari kamarnya. Kemudian, ia menuju ruang makan untuk makan bersama dengan anggota keluarganya. Ada Tuan Arta bersama anak dan istrinya, dan ada juga Tuan Fauki bersama putranya, tidak lupa ada ahli waris utama di keluarga Wigunanta, yakni Razan, putra dari mendiang Tuan Arival, anak dari istri pertama, sedangkan anak yang kedua dan anak ketiga adalah anak dari selirnya.


Razan yang sudah duduk diantara mereka, kini tengah menikmati makan malamnya bersama. Mengunyah makanan, pun terasa hambar dan tidak berselera. Menelannya juga serasa terpaksa, mau tidak mau, Razan akhirnya menghabiskan makanannya.


"Aku sudah selesai makannya, kalau gitu aku duluan. Paman, Tante, dan juga Rivan maupun Ferian, aku mau balik ke kamar dulu, tadi aku lupa mau mengisi daya ponselku. Setelah itu, aku tunggu kalian di ruang keluarga."


Malas menunggu, Razan memilih beranjak dari ruang makan.


"Iya, gak apa-apa," jawab Tuan Arta selaku yang menempati rumah di kediaman keluarga Wigunanta.


Razan yang tidak berminat untuk bicara dengan anggota keluarganya, ia memilih tidak menanggapinya, dan bergegas ke kamar.


"Lihat lah keponakan kamu itu, dari dulu gak pernah berubah, selalu bersikap angkuh."


Istri Tuan Arta yang tidak begitu akrab dengan keponakannya, selalu berkomentar tentang Razan.


"Razan memang begitu, biarkan saja." Timpal Tuan Fauki ikut menimpali.


"Iya juga sih, ya udah lah, abaikan saja dia." Kata Tuan Arta.


'Gak penting banget sih ngomongin itu orang, aku yakin kalau Kak Razan sedang merencanakan sesuatu.' Batin Rivan yang tengah mengunyah makanan.


Razan yang sudah berada didalam kamar, segera mengisi daya pada ponselnya. Kemudian, ia berdiri di depan cermin, dan tengah menatap dirinya sendiri. Tak lupa juga mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, menahan emosi dan amarah.


Tidak ingin membuat Tuan Arta dan yang lainnya menunggu, Razan bergegas turun dan menuju ruang keluarga. Bukannya dirinya yang menunggu, justru malah sudah ditunggu.


"Maaf, jika aku sudah membuat kalian menunggu. Kalau boleh tahu, ada hal penting apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Razan saat sudah duduk diantara saudara sepupunya.


"Tidak apa-apa, santai aja," jawab Tuan Fauki.

__ADS_1


"Memangnya mau membahas soal apa, Paman?" tanyanya kembali.


"Paman mau membahas soal kamu menyerahkan tugas penting ke Rivan, benarkah?"


Razan yang dapat menangkap soal pertanyaan dari Tuan Arta, pun mengangguk.


"Benar, Paman. Aku memang menyerahkan tugas penting kepada Rivan, karena sudah saatnya Rivan yang memegang kendali. Sedangkan aku, aku sendiri yang akan memegang tugas di Perusahaan yang pernah Papa pimpin, yaitu yang Paman emban tugas itu. Jadi, Paman tidak perlu sibuk mondar-mandir di kantor, Paman bisa hidup dengan santai, bukankah begitu, Paman?"


"Apa! em- maksudnya Paman, kamu meminta Paman untuk berhenti bekerja di kantor, begitu kah maksud mu?"


Razan tersenyum mendengarnya.


"Iya, benar. Paman tidak lagi perlu repot-repot bekerja, cukup menikmati hidup dengan santai bersama Tante. Karena usia Paman sudah tidak lagi muda, dan biarkan Rivan yang mengerjakan semuanya." Dengan santainya, Razan berbicara di hadapan Pamannya.


"Terus, bagaimana dengan Paman kamu yang satunya, Fauki."


"Paman Fauki lebih muda dari Paman Arta, berarti masih ada kesempatan beberapa waktu lagi, satu tahun, dua tahun, atau tiga tahun, aku belum tahu pasti."


"Kamu itu ya, gak ada kata berterima kasih sedikitpun kepada kami, seharusnya kamu itu mikir, kalau bukan suamiku yang mengembangkan Perusahaan, belum tentu juga kamu jadi sukses seperti ini!" penuh dengan amarah, istri Tuan Arta merasa tidak terima ketika suaminya diberhentikan dari Perusahaan.


"Justru ituTante, Paman Arta harus istirahat, jangan sampai kecapean, yang repot nanti malah Tante. Sudahlah, terima saja keputusan yang aku ambil ini. Bukankah sudah ada Rivan? kurang apa lagi, Paman juga boleh kalau mau sibuk bekerja, ikut Ferian di Cabang Perusahaan, gimana?"


Razan yang mendapat protes dari Tantenya, pun dengan santainya menjawab. Sedangkan istri Tuan Arta menjadi geram ketika mendengar jawaban dari keponakannya itu.


"Sudah lah, lebih baik Mama masuk ke kamar, biar kita orang yang akan menyelesaikan masalah. Lagi pula udah waktunya untuk istirahat, udah sana kembali ke kamar." Kata Tuan Arta yang meminta istrinya untuk bergegas meninggalkan ruang keluarga.


"Awas saja kamu ya, Razan. Kalau sampai kamu menyingkirkan posisi ayahnya Rivan, Tante bakal usut tuntas siapa ayah kamu."


Istrinya Tuan Arta yang sudah merasa dongkol, tidak segan untuk memberi ancaman kepada Razan.

__ADS_1


"Sudah lah, Ma, cepetan kembali ke kamar," perintah Tuan Arta kepada istrinya.


Tidak bisa memaksakan kehendak, ibunya Rivan menuruti perintah dari suaminya. Sedangkan Tuan Fauki masih diam, karena malas membuat keributan.


Begitu juga dengan Ferian dan Rivan, mereka berdua sama halnya memilih diam.


"Razan, kamu serius mau memberhentikan Paman dari Perusahaan?"


"Terserah Paman, kalau masih bekerja, Paman Arta akan aku alokasikan ke Cabang Perusahaan. Ya... hasilnya sih masih minim, soalnya juga baru pembukaan. Jadi, ya sabar aja kalau mau berhasil. Tapi hasilnya juga harus bagi tiga, gimana?"


"Apa kamu sudah gila! bagi tiga, Cabang Perusahaan yang belum lama ini berdiri."


"Ya terserah Paman, aku sih gak maksa. Kalaupun gak mau juga gak apa-apa, itu sudah menjadi keputusan aku, dan gak bisa diganggu gugat."


"Kamu!"


"Sudahlah Paman, aku mau istirahat, keputusan aku sudah bulat, dan gak bakal bisa aku rubah. Oh iya, pernikahan ku secepatnya akan aku proses. Soalnya aku gak mau lama-lama, karena semakin cepat akan semakin lebih baik." Dengan tegas, Razan mengatakannya di hadapan kedua pamannya, dan juga kedua saudara sepupunya.


Kini, tinggal mereka berempat dengan putranya masing-masing. Ferian yang mendapat amanah dari Razan, juga Rivan yang sama halnya mendapat perintah untuk mengatur segala yang menjadi tanggung jawabnya, pun keduanya tidak mau gegabah ketika mengutarakan apa yang menjadi pertanyaan dibenak pikirannya.


Malas melanjutkan pembicaraan, Tuan Arta bersama Tuan Fauki memilih kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Ferian bersama Rivan masih dengan posisi duduknya yang semula.


"Kamu tahu kah, kenapa Kak Razan jadi aneh gitu?" tanya Fauki.


"Mana aku tahu, dia 'kan ahli waris dari keluarga Wigunanta, ya wajar aja kalau jadi orang yang sombong dan sok kuasa, cih!" jawab Rivan penuh kekesalan mengenai ucapan ucapan yang terlontar lewat bibirnya.


"Begitu ya, kasihan juga Papa kamu, ternyata gak main-main si Kak Razan memberhentikan Papa kamu dari Perusahaan."


"Terus, aku harus memberontak gitu? atau gak, merayu, memohon, sorry!" jawab Rivan merasa dongkol.

__ADS_1


__ADS_2