
Masih di Danau Kemuning, Zevila tengah menikmati duduk santai seorang diri, hingga tidak terasa sudah lewat jam satu siang. Terasa bosan dan jenuh sudah pasti, lantaran tidak ada teman untuk mengobrol.
Sendirian karena tidak ada yang menemani, Zevila akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Jalan kaki aja apa ya, sambil ngilangin penat. Juga, aku bisa menikmati kebebasan sebelum masuk ke kediaman keluarga Wigunanta, bertemu dengan cecenguk si Razan." Gumamnya sambil berpikir mencari pilihan.
Karena sudah yakin memilih jalan kaki sambil menikmati kebebasan, Zevila melangkahkan kakinya dan mengikuti kemana perginya kemauan hatinya.
"Jambret! tolong ada jambret!" teriak seseorang dengan suara yang cukup melengking, hingga terdengar jelas oleh Zevila.
Melihat seperti ada orang kejaran, Zevila langsung memasang badannya.
Bug!
Bug!
Bug!
Berulang kali si Zevila melakukan perlawanan, tidak lepas juga melintir tangannya, dan menyerang jambret hingga lumayan memar dibagian sudut bibirnya.
Namun, tidak membuatnya si pelaku menyerah, justru tetap melawan Zevila. Perkelahian semakin sengit, dan dengan ilmu bela dirinya, Zevila menyeimbangkan kemampuannya untuk menerima perlawanan dari lawan. Juga, dengan tasnya, tidak lepas untuk dijadikan senjatanya agar bisa melawan.
Bahkan, tanpa ada rasa kasihan sedikitpun, Zevila melayangkan sebuah tendangan, tepat mengenai dada bidangnya si pelaku jambret hingga jatuh tersungkur di jalan aspal. Sakit sudah pasti.
"Aw!" pekiknya saat menerima serangan balik dari Zevila.
Susah payah untuk menahan rasa sakitnya, juga, tidak ada pertolongan buat dirinya.
Zevila tidak segan-segan memberi perlawanan, dan dengan ilmu bela dirinya, Zevila mampu menangkis serangan dari lawannya. Bahkan, tidak ada rasa takut sedikitpun untuk melawan.
Kemudian, Zevila langsung merebut tas miliknya korban. Setelah itu, diserahkannya ke pihak berwajib untuk menangani kasus yang hampir saja mencelakai korban jambret.
"Ini, tasnya Ibu, lain kali hati-hati kalau di keramaian seperti ini, karena kita gak akan tahu kapan penjahat itu datang. Sebaiknya Ibu kalau mau keluar, harus ada temannya, jangan sendirian seperti ini."
Zevila tidak lupa juga untuk mengingatkannya.
"Terima kasih banyak, Nona, sudah menyelamatkan saya, juga tas saya ini yang sangat berharga. Entah apa jadinya kalau Nona tidak menolong, pasti saya akan kehilangan kesempatan baik untuk membeli obat."
"Membeli obat? memangnya siapa yang sakit, Bu?" tanya Zevila penasaran.
"Anak saya yang sakit, Nona. Kalau obatnya habis, secepatnya harus ada obat untuk dijadikan penyambung hidupnya. Maaf, jika ucapan saya ini kurang berkenan," jawabnya merasa malu.
__ADS_1
"Semoga lekas sembuh buat anaknya Ibu, lain kali hati-hati ya Bu, kalau ada apa-apa lebih baik Ibu berteriak, dan meminta pertolongan," ucap Zevila mengingatkan.
"Iya, Nona, terima kasih untuk semuanya, kalau begitu saya permisi mau pergi beli obat," jawabnya dan sekaligus pamit pergi.
Zevila mengangguk dan tersenyum.
"Iya, Bu, hati-hati, jaga diri Ibu dengan baik," ucap Zevila.
Kemudian, Ibu itu pergi, dan Zevila kembali melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.
Sambil menyusuri jalanan, Zevila menikmati perjalanannya, sampai-sampai ia tidak menyadari jika sedari tadi ada yang mengikutinya dari belakang. Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mengikuti langkah kakinya, berjalan ikut berjalan, dan berhenti ketika Zevila berhenti.
Saat itu juga, Zevila segera menoleh, dan dilihatnya tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
'Sepertinya tadi kek ada orang di belakang ku, tapi kemana perginya?' batin Zevila bertanya-tanya sambil celingukan mencari jejaknya.
Meski tidak diketahui benar atau enggaknya, Zevila tetap waspada, karena takutnya sedang merencanakan sesuatu untuknya. Setelah ditunggu tidak ada siapa-siapa, Zevila kembali menyusuri jalanan.
Betapa terkejutnya, ternyata di hadapannya sudah ada beberapa orang yang menghadang dirinya.
"Mau apa kalian? ha!"
Zevila langsung berjaga-jaga, yakni takutnya tiba-tiba ada yang melakukan perlawanan secara tiba-tiba. Juga, kedua matanya tetap fokus dan kewaspadaannya tidak lengah.
"Maaf, aku tidak punya urusan dengan kalian, minggir."
Saat itu juga, satu orang tengah bertepuk tangan bersamaan dengan seringainya, dan mendekati Zevila.
"Mau apa kamu? minggir, jangan halangi aku, atau aku berteriak agar orang-orang menghajar kalian."
Tidak ingin membuang tenaganya, Zevila mencoba untuk menakut-nakutinya.
"Tangkap! perempuan ini, cepat!"
Zevila yang mendengarnya, pun langsung siap siaga, jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari lawannya.
Bug!
Bug!
Bug!
__ADS_1
Zevila akhirnya berkelahi dengan perbandingan satu lawan empat orang, lumayan kesulitan untuk menghadapinya.
"Aw!" pekik Zevila saat sudut bibirnya di bagian kanan mendapat pukulan dari lawannya. Juga, Zevila tersungkur hingga bahunya menghantam trotoar. Sakit, sudah pasti.
Bug!
Sekali tendangan dari belakang, seseorang telah jatuh tersungkur. Kemudian, tanpa memberi ampun, langsung menyerang 4 orang yang sudah mengeroyok Zevila. Tidak memakan waktu lama, mereka kalah telak darinya.
Mendengar suara mobil polisi, langsung pergi untuk menyelamatkan diri, yakni agar tidak menjadi kejaran polisi. Melihat Zevila kesakitan, langsung menghampirinya.
"Zevila, ternyata kamu," ucap Rivan sambil membantunya berdiri.
Kemudian, dilihatnya di bagian sudut bibirnya yang memar, langsung menggendongnya dan membawanya ke mobil.
"Turunkan aku, Riv, aku bisa jalan sendiri," ucap Zevila yang tidak ingin merepotkan.
"Diam lah, jangan banyak protes, lukamu cukup serius, aku akan membawamu ke rumah sakit." Kata Rivan sambil jalan, juga sambil menggendong Zevila.
Saat sudah berada di mobil, Rivan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan membawanya ke rumah sakit untuk pengobatan Zevila.
Sampainya di rumah sakit, Zevila langsung ditangani oleh Dokter. Juga, Rivan tengah menemaninya.
"Aw!" pekik Zevila meringis kesakitan di bagian sudut bibirnya. Juga, di bagian punggungnya merasa sakit karena terbentur trotoar.
Sambil memeganginya, Zevila meringis kesakitan.
"Zev, tahan dulu ya, biar Dokter mengobati lukamu," ucap Rivan.
"Iya Riv, kamu keluar dulu ya, soalnya aku malu, dan takut salah paham, maaf ya," jawab Zevila karena tidak memiliki hubungan spesial, dan takutnya mendapat fitnah yang tidak tidak, pikirnya.
"Iya Zev, gak apa-apa, ya udah kalau gitu, aku keluar, kamu jangan takut,"
Zevila mengangguk dan tersenyum, kemudian Rivan bergegas keluar.
Baru saja keluar, rupanya Razan telah datang.
"Dimana Zevila, dimana dia?" Razan tiba-tiba langsung bertanya saat dirinya baru datang.
Rivan yang mendapati saudara sepupunya ada di hadapannya, terasa malas untuk menanggapinya. Namun, dia sendiri siapa? pikir Rivan yang menyadari jika Razan adalah calon suaminya Zevila. Mau tidak mau meski dengan terpaksa, akhirnya menjawab.
"Zevila sedang ditangani Dokter, itu ruangannya," jawab Rivan dan menunjukkan ruangannya.
__ADS_1
Razan yang mendengar jawaban dari saudara sepupunya, ia langsung masuk ke dalam. Sedangkan Rivan yang hendak mencegahnya, sudah keburu masuk ke dalam untuk menemui Zevila.
"Sialan!" umpatnya mendengkus kesal.