
Razan masih memperhatikan Zevila yang sedang menikmati makanannya, sedangkan yang diperhatikan tidak peduli dengan orang yang ada di sampingnya .
"Jangan terburu-buru makannya, nanti kamu tersedak loh," Razan mengingatkannya.
"Apaan sih kamu, datang datang gangguin orang lagi makan. Sebenarnya kamu itu bisa diam nggak sih, atau enggak tuh kamu beli makanan aja sana ."
Razan justru tersenyum ketika mendengarnya, kemudian lebih mendekatkan lagi posisi duduknya .
"Kalau disuapin aku mau, apalagi disuapi sama perempuan cantik seperti dirimu," jawab Razan senyum menggoda.
Saat itu juga , Zevila langsung menyuapi Razan dengan kasar.
"Sudah aku suapi 'kan? Sana pergi." Zevila menatap Razan dengan penuh kesal.
Sedangkan Razan justru tersenyum sambil mengunyah makanan .
"Enak juga ya, suapan dari kamu. Jadi nggak sabar buat nikahi kamu, biar aku nggak sendirian dan juga nggak kesepian. Apalagi ada yang menyuapi aku, pasti akan menjadi sempurna hidupku."
"Cih! siapa juga yang mau menikah dengan kamu, tidurmu terlalu miring, sampai-sampai mimpimu terlalu ketinggian, jatuh baru tahu rasa." Dengan ketus, Zevila masa bodoh dengan ucapannya.
Namun seketika, ingatannya tertuju dengan rencananya yang akan membalaskan dendamnya, yakni menikah dengan Razan, lelaki yang tengah duduk di dekatnya.
"Kamu serius nih, gak mau menikah denganku? entar nyesel loh, mengabaikan cowok sebaik aku, yaaaa seenggaknya masuk lah dalam kategori calon suami yang sempurna. Udah tampan, tajir, ahli waris utama, dan banyak dikagumi oleh wanita-wanita di luaran sana." Razan dengan sengaja pamer tentang sosok dirinya sendiri, meski sebenarnya hanyalah membual.
Zevila yang mempunyai rencana untuk membalaskan dendam, seolah sudah disiapkan peluang, namun juga merasa gengsi ketika terus-terusan didekati. Apalagi sudah jual mahal, mau ditaruh dimana mukanya? pikir Zevila terasa pening ketika dihadapkan dengan Razan.
"Udah ngomongnya? kalau udah, cepetan pergi dari hadapan ku. Jangan sampai selera makan ku menjadi hilang hanya gara-gara kamu, cepetan pergi."
Tidak ada pilihan lain, Zevila dengan terpaksa mengusirnya. Ia takut jika emosinya sulit untuk dikendalikan.
Razan yang tidak ingin mengganggu suasana hatinya Zevila, pun mengangguk pelan.
"Baik lah, jika maunya kamu mengusir ku, aku akan pergi. Tapi ingat, jadwal pernikahan kita akan dipercepat, karena aku tidak suka menunggu lama. Jadi, persiapkan diri kamu sebaik mungkin, dan urus badan kamu agar gak kurusan gini," ucap Razan yang akhirnya memilih pergi.
__ADS_1
Sedangkan Zevila pun terasa lega ketika Razan pamit pergi.
"Bagus lah kalau mau dipercepat, lebih cepat lebih baik 'kan? Ups!"
Tanpa sadar, Zevila menjawab dengan kalimat yang begitu ceroboh. Saat itu juga, Zevila menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Eh bukan bukan bukan, tadi aku itu salah bicara, jangan kepedean kamunya."
Demi menutupi kesalahannya saat berucap, Zevila mencoba untuk meyakinkan Razan. Sedangkan Razan sendiri mengamati ekspresi Zevila yang terlihat aneh. Tatapannya seolah tengah menyelidik dengan apa yang terlontar lewat mulutnya.
"Baiklah, aku pergi. Jaga diri kamu baik-baik, karena musuh bisa datang kapan saja," ucap Razan yang terlihat begitu serius dengan ucapannya. Bahkan, seolah tengah menyindir Zevila.
Entah apa maksud ucapannya, membuat Zevila seolah nyalinya menciut.
'Semoga saja dia gak mencurigai aku, bisa berabe kalau dia tahu rencana yang aku buat.' Batin Zevila sedikit ada perasaan was-was.
Renata yang melihat temannya hanya seorang diri, langsung menghampiri sambil membawa makanannya yang belum dihabiskan.
"Zev, Zevila, Zev, kamu gak apa-apa 'kan?"
"Zev! Zevila!" kali ini Renata setengah membentak untuk membuyarkan lamunannya.
"Aish! kamu ini, ngagetin terus kerjaannya."
"Ya salah kamu sendiri, kenapa melamun terus. Mana dipanggil gak menyahut lagi, 'kan takut akunya kalau terjadi sesuatu pada diri kamu. Oh iya, Razan udah beneran pergi 'kan orangnya?"
"Iya, dia udah pergi, tadi aku usir dia. Kenapa? kamu naksir ya, jangan deh, dia itu seperti mempunyai kepribadian ganda, ngeri tau."
"Idih, macam tahu aja kamunya. Palingan juga kamu yang naksir cowok dingin kalau musim dingin, berubah panas kalau musim panas."
"Hem! kamu kira dia itu cowok musiman? gila kamu ini."
Renata tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Terserah kamu aja lah, aku mau habisin dulu makanan ku. Kamu juga tuh, habisin dulu makanan mu. Salah sendiri, ada cowok ganteng datang dan siap menyuapi, kamu tolak, gini nih, makan pun gak habis habis jadinya."
"Renata!"
"Udahlah, habisin dulu makanan kamu. Hari ini aku mau pulang cepat, adikku ulang tahun soalnya. Jadi, maaf ya Zev, aku gak bisa menemani kamu dengan waktu lama, besok-besok siap deh nemani kamu. Tapi ada kompensasinya,"
"Kamu ini ya, sukanya pemerasan. Gak bisa baik dikit sama aku. Kamu 'kan dah tahu sendiri, Perusahaan aku akan segera diambil alih, makanya aku gak lagi jadi orang kaya kalau gak nikah sama Razan."
Zevila akhirnya berterus terang kepada Renata.
"Nah itu tau, kenapa gak kamu pepet aja itu si Razan. Jugaan nih ya, dia kek ngebet banget buat nikahi kamu. Eee malah kamunya yang sok jual mahal, entar keburu diembat cewe lain baru tahu rasa kamu."
"Tenang aja, dia mau mempercepat pernikahannya, jadi gak usah takut."
"Tetap aja, kamu harus waspada, juga hati-hati," ucap Renata mengingatkannya.
"Iya Ren, makasih udah sering mengingatkan aku. Pokoknya kamu adalah teman paling baik buatku, selalu mendukung aku, juga menasehati aku. Meski aku tidak mempunyai kedua orang tua, aku seperti memiliki saudara kandung aku sendiri."
"Sama-sama, kamu juga kok, selalu ada kamu saat aku lagi susah, dan selalu membantu aku saat aku ada kesulitan."
"Gak nyangka ya, kita bisa sedekat ini. Bahkan, awalnya aku seperti mimpi mempunyai teman baik seperti mu, ternyata itu tidak mimpi."
"Ya udah ya Zev, aku mau langsung pulang. Kamu hati-hati, karena keselamatan jauh lebih penting dari apapun."
Zevila tersenyum mendengarnya, juga mengangguk.
"Iya Ren, hati-hati dijalan. Maaf juga karena memberi kado buat adik kamu, doanya aja dulu, kadonya nyusul. Salam ya, buat ibu kamu, juga adik kesayangan kamu."
"Iya Zev, nanti akan aku sampaikan."
Setelah itu, Renata bergegas pergi, sedangkan Zevila masih berada di Danau Kemuning.
Sambil menghabiskan makanannya, Zevila mengunyah juga menikmati pemandangan yang begitu indah. Air yang tenang, dan terasa sunyi, namun hatinya terasa tenang, meski kadang-kadang juga mendadak seperti orang jantungan.
__ADS_1
"Andai saja tidak ada masalah yang menimpa Papa, pasti hidupku tidak kesepian seperti ini. Papa yang aku rindukan, juga Mama yang entah kemana keberadaannya. Aku berharap, semoga Mama masih hidup, meski besar kemungkinan tipis harapannya." Gumam Zevila ditengah-tengah kesendiriannya di tepi Danau