Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Berdebat


__ADS_3

Saat melihat Zevila tengah ditangani oleh Dokter, Razan langsung mendekatinya dan melihat lukanya.


"Kamu! ngapain kesini? sana pergi." Dengan tatapan penuh kesal saat melihat siapa yang datang, Zevila tidak segan untuk mengusirnya.


"Maaf, Tuan, jika berkenan, silakan untuk menunggunya di luar," ucap Dokter sambil mengisyaratkan dengan salah satu tangannya mengarah ke pintu.


Zevila yang merasa malu, langsung menyambar kain yang ada di dekatnya, dan menutupi punggungnya.


Tanpa sepatah katapun, Razan keluar dari ruangan tersebut. Kemudian, duduk di sebelahnya Rivan.


"Bukan kamu 'kan penyebabnya?" tanya Razan kedengaran menuduh saudara sepupunya.


Saat itu juga, Rivan yang seolah tengah dituduh oleh Razan, langsung menoleh dengan tatapan penuh kesal.


"Yang benar aja kalau aku penyebabnya, bukankah aku yang menolong Zevila? kemana aja pengawasan Kak Razan yang standby dua puluh empat jam, cih! bersembunyi dibalik kebohongan sendiri."


Rivan tak kalah sengitnya saat menjawab pertanyaan dari saudaranya sendiri.


"Siapa tahu aja, kamu yang udah mengatur semuanya," ucap Razan dengan tatapan yang dibarengi seringainya.


"Jadi, Kak Razan menuduh ku? ha!"


"Santai aja lagi, gak perlu ngegas gitu." Sahut Razan dengan santai.


"Trik yang dipermainkan Kak Razan itu, benar-benar sangat sempurna. Pura-pura datang terlambat dan seolah peduli, tapi kenyataannya, ada udang di balik batu."


"Diam! kamu!" bentak Razan yang sudah dikuasai oleh emosinya.


Rivan yang juga sama halnya tengah kesal dan juga geram, tidak peduli jika harus melakukan perlawanan kepada saudara sepupunya sendiri. Dengan kepalan tangan yang sudah penuh emosi, ingin rasanya melayangkan sebuah tinjuan kepada Razan.


"Dimana Zevila?" tanya Tuan Danian yang baru aja datang bersama istrinya.


Tentunya menghentikan pertikaian antara Razan dengan Rivan.


"Zevila sedang ditangani Dokter, Tuan. Sebentar lagi mungkin udah selesai, silakan duduk, Tuan, Nyonya," jawab Rivan sekaligus mempersilakannya duduk.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, bagaimana ceritanya, kenapa Zevila bisa mengalami cidera? dia gak lagi berkelahi 'kan?"


Tuan Danian yang merasa penasaran, pun bertanya untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Tadi ada empat orang yang mengeroyok Zevila, mungkin karena kewalahan, Zevila kesulitan untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri. Saat saya datang, untung polisi lewat, dan tidak menjadi perkara besar. Sayangnya saya datang terlambat, dan membuat Zevila mengalami luka yang lumayan serius, maafkan saya, Tuan."


"Yang terpenting Zevila selamat, makasih atas pertolongan dari kamu. Entah apa jadinya kalau tidak ada kamu, saya tidak bisa untuk membayangkannya," ucap Tuan Danian.


Razan yang memang tidak ada dilokasi kejadian, hanya bisa menjadi pendengar setia. Saat itu juga, seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut, dan semuanya buru-buru menghampiri Dokter.


"Gimana keadaan keponakan saya, Tuan?" tanya Tuan Danian lebih dulu.


Razan dan Rivan memilih mengalah, yakni untuk tidak menyerobot. Sedangkan istrinya Tuan Danian hanya diam dan nurut ajakan suaminya.


"Keadaannya baik-baik saja, hanya luka memar, dan bisa pulang," jawab Dokter.


"Syukur lah, berarti kami boleh masuk ke dalam 'kan, Dok?"


"Boleh, silakan," jawab Dokter mengiyakan.


Karena penasaran dan ingin tahu kondisi Zevila, mereka cepat-cepat untuk masuk kedalam.


"Tadi Rivan yang menghubungi Paman, dan kebetulan juga, Paman mau antar Tante kamu, eee si Rivan ngabarin kalau kamu terluka oleh empat preman, benarkah?"


Zevila mengangguk.


"Benar, Paman, tadi niat aku nolongin seorang ibu kena jambret, dan aku nyoba nolong, tapi saat aku mau melanjutkan perjalanan aku, gak tahunya aku di hadang oleh empat orang. Karena kondisi badan aku lagi gak baikan, akhirnya aku gak bisa melawan mereka, akhirnya aku mendapat serangan dan terpental, untung bukan kepala, jadinya masih aman. Paman sama Tante gak perlu khawatir, aku baik-baik aja kok," jawab Zevila menjelaskan dengan detail, dan gak ada yang dilewatkan.


"Terus, kamu ditolong Rivan, iya 'kan?"


"Iya, Paman, aku ditolong sama Rivan, gak tahu apa jadinya kalau gak ada dia, mungkin aja aku dah pindah alam," jawab Zevila dengan sengaja membuat Razan kesal.


"Hus! gak boleh bicara seperti itu, yang terpenting kamu selamat. Namanya juga musibah, mana ada yang tahu," timpal istrinya Tuan Danian ikut bicara.


Razan yang malas mendengar obrolan yang menurutnya sangat receh itu, lebih memilih duduk di sebelahnya Zevila. Kemudian, diraihnya air minum.

__ADS_1


"Minumlah, biar tenggorokan kamu gak kering," ucap Razan menyodorkan air minum untuk Zevila.


Bukannya langsung menerima, justru menatap wajahnya.


"Ini diminum," ucapnya lagi.


Dengan terpaksa, Zevila menerimanya, dan meminumnya.


"Makasih," jawabnya singkat.


"Kata Dokter, hari ini kamu boleh pulang, mau sekarang atau nanti?"


"Baru juga diobati, masa' iya disuruh langsung pulang, gak salah kah?"


Rivan yang tengah terbakar oleh api cemburu, langsung ikut bicara.


Razan menoleh saat dirinya seolah tengah diejek. Kesal, geram, itu sudah pasti yang sedang dirasakan oleh Razan.


"Zevila calon istriku, dan kamu gak mempunyai hak apapun terhadap dirinya. Jadi, kamu gak usah banyak komentar soal aku dan Zevila, ngerti." Razan tidak segan segannya untuk memberi peringatan kepada Rivan.


"Cuih! baru juga calon, belum tentu juga si Zevila mau dengan kamu Kak Razan. Jangan terlalu bermimpi untuk dapetin cintanya, eih! palingan juga cuma mau dimanfaatkan."


Razan yang tengah diejek terang-terangan oleh saudara sepupunya, otaknya serasa mendidih, dan detak jantungnya bergemuruh, bahkan napasnya pun terasa panas.


Zevila sendiri tidak tahu harus menengahi dengan cara apa, keduanya sama-sama kedengaran tidak mau mengalah. Tidak ada cara lain selain untuk diam, tetapi juga terasa risih ketika mereka berdua tidak juga beranjak pergi.


"Sudah, sudah, sudah, kalian berdua jangan saling mengejek ataupun berdebat, ini rumah sakit, dan saya selaku Pamannya Zevila, tidak ingin jika di ruangan ini terjadi keributan. Jadi, alangkah baiknya untuk diam, maaf sebelumnya," ucap Tuan Danian yang tidak ingin ada keributan di ruangan tersebut.


"Aku mau pulang aja, dan aku ingin istirahat di rumah tanpa ada yang menggangguku, gak apa-apa 'kan?"


"Gak apa-apa kok Zev, itu jauh lebih baik daripada di rumah sakit, yang ada nantinya kamu gak bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi ada yang berniat untuk mencelakai kamu, lebih ngeri nantinya."


Razan yang merasa jika dirinya tengah diejek oleh Rivan, benar-benar tidak terima ketika disudutkan.


"Kamu menyindir aku?"

__ADS_1


"Sudah, sudah, gini aja, kalian berdua lebih baik segera pulang. Biar Zevila pulangnya bersama kami, lagi pula si Zevila keponakan kami. Jadi, kalian berdua tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ucap Tuan Danian yang tidak ingin ada keributan di rumah sakit.


Sedangkan Razan maupun Rivan, keduanya tidak bisa memaksa, dan memilih untuk pergi dan meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2