
Zevila yang mendapat larangan walau hanya sekedar masuk ke dapur, pun merasa terkekang tinggal di kediaman keluarga Wigunanta. Namun, dirinya bisa apa? hanya bisa menerima perintah dari suaminya, meski ada rasa sedikit kesal atas peraturan yang diberikan oleh suaminya sendiri. Entah apa maksud dan tujuan dari suaminya itu, Zevila sama sekali belum mengerti.
"Tolong ambilkan air minum ya, Mbak," pinta Zevila dengan terpaksa meminta tolong kepada asisten rumah di kediaman keluarga Wigunanta.
"Baik, Nona, tunggu sebentar, akan saya ambilkan air minumnya," jawabnya dan bergegas ke dapur.
"Iya Mbak, aku tunggu disini," ucap Zevila yang tengah menunggu di ruang makan sambil celingukan.
Setelah diambilkan segelas air minum, Zevila duduk dan meminumnya hingga tandas tak tersisa.
"Makasih ya, Mbak. Kalau gitu saya mau- em- kira-kira buat- em- apa ya," Zevila kebingungan untuk menjelaskannya, alhasil cuma bisa nyengir di hadapan asisten rumah.
"Ada apa, Nona?"
Zevila kembali nyengir hingga terdengar suaranya walau lirih.
"Gak jadi deh, Mbak. Saya cuma bingung aja, soalnya bingung mau ngapain. Oh iya, sampai lupa, saya belum kenalan sama Mbaknya, kalau boleh tahu, nama Mbak, siapa ya?" Zevila pun akhirnya berbasa-basi meski hanya sekedar berkenalan.
"Saya Indriana, Nona. Panggil saja, Riana. Maaf, tadi Nona bilang, kalau Nona bingung mau ngapain? saya bisa temani Nona untuk mengelilingi taman belakang, hitung-hitung olahraga pagi, gimana, apakah Nona mau saya temani?"
"Boleh banget, Mbak. Apalagi cuacanya sangat mendukung, saya gak berani nolak." Kata Zevila merasa lega karena tidak harus terus menerus berhadapan dengan suaminya, pikirnya.
Meski Zevila memiliki misi untuk balas dendam, tentunya tidak buru-buru untuk melakukan tujuannya secara tergesa-gesa. Dengan sebuah taktik yang sudah direncakan sejauh hari, Zevila berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaan di hadapan keluarga Wigunanta, termasuk suaminya sendiri.
"Mari, Nona," ajak Mbak Riana menuju taman yang ada di belakang rumah.
Siapa sangka jika di taman sudah ada lelaki yang dengan sengaja dihindarinya, siapa lagi kalau bukan suaminya.
"Kenapa, kaget?"
__ADS_1
Zevila menelan ludahnya susah payah, bahkan terasa tercekik tenggorokannya saat mendapati Sang suami yang sudah berdiri di dekatnya.
"Dih! siapa juga yang kaget, biasa aja sih." Zevila menjawabnya dengan ketus.
Razan justru tersenyum melihat ekspresi istrinya yang terlihat cemberut.
"Sial! baru aja mau bernapas, ini malah suruh latihan pernapasan. Benar-benar ini manusia, gangguin orang saja kesukaannya." Gerutu Zevila sambil membuang muka dengan sinis.
"Ngomong apa tadi, ha? Biasa aja itu bibir kamu, gak perlu monyong monyong begitu, jelek, tau."
"Biarin jelek, udah laku ini, bodoh amat. Eh!"
Seketika, Zevila teringat jika dirinya untuk tidak menunjukkan kekesalannya di hadapan suaminya. Tapi kini, dirinya justru sudah melakukan kesalahan. Zevila menepuk keningnya saat menyadari atas sikapnya yang bar bar.
"Aku peringatkan sama kamu, jangan bermain api di rumah ini, kamu mengerti? Juga, kamu tidak perlu kepedean saat aku memilih kamu untuk aku jadikan istri ketimbang saudara sepupu kamu itu. Jadi, aku peringatkan sekali lagi, bahwa kamu berada di dalam pengawasan ku!"
"Siapa juga yang mau bermain api, sok tahu banget sih Kak Razan. Kek gak ada kerjaan lain aja, pakai bermain api segala, dih." Kata Zevila mendengkus kesal saat dirinya diberi peringatan oleh suaminya.
"Aku hanya memperingatkan kamu saja, terserah kamu mau menentang atau gaknya. Tapi jangan salahkan aku jika kamu berbuat sesuatu dengan keluarga Wigunanta, maka aku tidak ada belas kasih sedikitpun terhadap dirimu, ingat itu."
Seketika, Zevila mulai berpikir mengenai tujuannya.
'Gak mungkin, gak mungkin Kak Razan mengetahui niatku untuk membalaskan dendam atas kematian ayahku, ini hanya gertakan saja pastinya. Iya, aku tidak boleh kemakan omongannya, yang ada aku bakal masuk jebakannya. Aku harus berhati-hati bila bicara dengan Kak Razan, karena dia ini juga mengkhawatirkan untuk melancarkan rencana yang sudah aku buat.' Batin Zevila yang tengah berpikir, dan mencoba untuk mencerna di setiap ucapan yang terlontar lewat mulut suaminya.
Tidak ingin ketahuan, Zevila berusaha untuk menampakkan diri bahwa dirinya seolah tidak mempunyai tujuan, dan tetap bersikap layaknya perempuan yang dipaksa menikah dengan lelaki yang bukan menjadi pilihannya.
"Kenapa melamun? apa jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dariku, ha!"
"Astaga! kira-kira dong kalau mau marah, dikira aku ini gak bisa jantungan apa, enak aja main bentak bentak segala, kaget! tau."
__ADS_1
Zevila sendiri ikutan dengan suara yang meninggi saat menjawab ucapan dari suaminya.
"Terus, kamu sedang mikirin siapa, ha?"
"Mikirin siapa, mikirin siapa, yang jelas aku tuh lagi mikirin cara berpikirnya Kak Razan yang terlalu sempit itu, puas."
Razan menyeringai saat istrinya tengah dibuatnya kesal.
"Pikiran yang sempit, katamu? memangnya pikiran yang sempit bagaimana, ha?"
Zevila semakin gregetan saat berhadapan dengan suaminya yang sudah membuatnya geram.
"Lama-lama aku tuh pingin makan kamu tau gak sih, Kak Razan. Pikiran yang sempit aja kamu gak tahu, astaga. Itu yang ngelarang aku gak boleh masuk ke dapur tuh, siapa, ha? kamu pikir, aku ini mau bunuh kamu? ambil pisau dan menghunuskan pisaunya ke Kak Razan, gitu kah? dih."
"Siapa tahu aja, kalau kamu sedang mengincar ku buat menguasai harta warisan ku. Secara aku ini ahli waris satu-satunya, bisa saja kamu ingin menguasai seluruh kekayaan yang aku punya ini."
PLAK!
Tanpa ada rasa takut sedikitpun, Zevila langsung menampar pipi kiri milik suaminya yang lumayan kuat hingga membekas warna kulit yang memerah.
Razan langsung mengusap bekas tamparan dari istrinya, terasa panas dan juga perih sudah pasti. Kemudian, tatapannya kini telah berubah menyeringai, dan juga tajam, yakni terlihat seperti sudah siap untuk memangsanya.
"Kak Razan pikir, aku ini perempuan macam duitan gitu, ha! Aku tahu aku sedang jatuh miskin, tapi aku gak butuh uang mu, dan gak ada niatan untuk menguasai harta yang bukan milikku, paham. Jangan-jangan tujuan Kak Razan menikah denganku itu hanya ingin menjadikan ku kambing hitam, dan Kak Razan akan melakukan sesuatu yang sudah direncanakan. Tapi ingat, rencana Kak Razan tidak akan pernah berhasil, ingat itu."
Zevila sendiri tidak kalah emosinya dengan sang suami. Amarah yang susah payah untuk ditahan, akhirnya ia luapkan segala emosinya.
"Sudahlah, jangan sok memberi pidato yang gak penting di hadapan ku. Aku hanya memberi peringatan sama kamu, jangan bermain api di rumah ini. Sekali kamu ketahuan, jangan harap nama mu akan hidup, ingat itu."
Razan langsung meninggalkan istrinya yang berada di taman belakang. Sedangkan Zevila sendiri terasa geram, justru dirinya mendapat ancaman, dan mendapat tuduhan jika dirinya disangka akan menguasai harta milik keluarga Wigunanta, meski kenyataannya adalah untuk balas dendam atas kematian mendiang ayahnya.
__ADS_1