
Razan yang baru saja selesai mengurut kaki milik istrinya, pun segera bergegas bersiap-siap untuk berangkat kerja. Zevila sendiri memilih didalam kamar karena rasa sakit pada kakinya yang masih sulit untuk berjalan.
"Jangan kemana-mana kalau kaki kamu masih sakit, dan kamu bisa panggil asisten rumah hanya menekan tombol ini, kamu mengerti?"
Zevila hanya mengangguk sambil mendongak menatap suaminya.
'Ingat Zevila, jangan sampai kamu tertipu dengan tipu muslihatnya.' Batin Zevila yang tidak ingin terjebak lewat perhatian dari suaminya.
Razan yang tidak ingin terlambat, buru-buru berangkat ke kantor tanpa sarapan pagi terlebih dahulu, dikarenakan ada hal penting yang harus diselesaikan.
"Tuan, Tuan tidak sarapan dulu? Bibi sudah siapkan sarapan pagi untuk Tuan dan Nona," ucap Mbak Riana saat berpapasan dengan majikannya.
"Hari ini saya ada jadwal yang sangat padat, jadi gak bisa sarapan pagi. Mendingan Mbak Riana layani istri saya saja, soalnya kakinya tadi terkilir dan gak bisa keluar dari kamar," jawabnya sambil mengenakan jam tangannya karena terburu-buru takutnya datang terlambat.
"Baik, Tuan," ucap Mbak Riana setengah menunduk.
Razan yang tidak ingin membuang-buang waktu yang tidak penting, ia bergegas pergi ke kantor. Sedangkan Rivan sendiri baru aja keluar dari kamarnya, dan juga kedua orang tuanya yang hendak menuju ruang makan.
"Kak Razan sepertinya buru-buru, tumben, ada apa dengannya? astaga! hari ini kan ada pertemuan dengan Tuan Vikto." Gumamnya yang tersadar jika dirinya ada pertemuan penting dengan pemilik Perusahaan yang hendak melakukan kerja sama.
Rivan yang menyadari akan hal itu, bergegas menyambar tas kerjanya yang ada di bawah anak tangga.
"Rivan, gak sarapan dulu kamunya, Nak?" panggil sang ibu saat memergoki putranya yang terlihat terburu-buru.
"Enggak, Ma, hari ini aku sedang ada pertemuan penting, sarapannya nanti di kantor aja." Sahut Rivan sambil melangkah kakinya mundur ke belakang saat menjawab ucapan dari ibunya.
Tidak ingin disangka pemalas, Rivan akhirnya memilih segera berangkat karena takut mendapat omel dari saudara sepupunya.
Di lain posisi, Razan yang tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia terus melajukan mobilnya dengan fokus arah pandangannya meski pikirannya entah kemana, dan tertuju pada siapa.
__ADS_1
Berbeda dengan Zevila, dirinya yang masih berada didalam kamar, merasa jenuh karena harus duduk nganggur dengan kondisi kakinya yang terasa sakit, rasanya benar-benar membosankan walau baru beberapa menit saja.
Saat itu juga, Zevila dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamar. Karena malas untuk membukakan pintu kamar, Zevila hanya menekan remot, dan pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Mbak Riana yang diminta untuk mengantarkan sarapan pagi, pun siap siaga ketika diperintahkan untuk melayani istri majikannya, juga siaga dalam berada di dekatnya.
"Mbak Riana toh, kirain siapa tadi, makasih ya Mbak, udah nganterin sarapan buat saya," ucap Zevila saat mengetahui sesuatu yang dibawa oleh asisten rumah.
"Ini semua sudah menjadi tugas saya, Nona. Jadi, Nona tidak perlu sungkan," jawabnya sambil meletakkan nampan yang berisi sarapan pagi beserta susu.
"Makasih banyak ya, Mbak, atas semuanya. Eee... eee, bangun Mbak, bangun. Jangan dibawah, sini, duduk disebelah saya, jangan dibawah. Tidak ada yang membedakan antara saya dengan Mbak Riana, sini Mbak, duduk,"
Zevila yang melihatnya, pun merasa gak enak hati ketika asisten rumah memperlakukan dirinya yang berlebihan.
"Tapi, Non, nanti Tuan Razan bisa marah jika saya duduk ditempat yang sama, karena saya sadar posisi saya, dan juga status saya yang hanya asisten rumah," kata Mbak Riana merasa takut dan juga tidak enak hati.
"Mbak Riana ini kek sama siapa saja, karena saya tidak pernah memperlakukan berbeda antara saya dengan asisten rumah. Sini dong, Mbak, duduk dan temani saya makan, soalnya saya gak punya teman mengobrol," ucap Zevila dan tersenyum.
Mbak Riana yang merasa tidak enak hati dan juga ada rasa takut ketahuan majikannya, pun bingung untuk menanggapi permintaan istri majikannya.
"Mbak, sini dong, temani aku sarapan. Kalau gak mau duduk di dekat saya, oke deh, saya gak mau sarapan, biarin aku kelaparan, biar nanti Mbak Riana kena marah sama suami saya." Zevila akhirnya memberi ancaman kepada Mbak Riana.
Razan yang baru aja sampai di kantor, ia menyempatkan diri untuk melihat video CCTV di rumah, pun justru senyum senyum tidak jelas. Tanpa disadari juga, ada Dendi sebagai orang kepercayaan tengah memperhatikan Bosnya serasa aneh ketika senyum-senyum tidak jelas.
"Bos, gak lagi panas dalam 'kan Bos?" tanya Dendi membuyarkan lamunannya.
Razan yang tersadar dari lamunannya, pun langsung mendongak dan menatap Dendi dengan menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Sok tahu, kamu ini. Mana berkasnya, hari ini aku ada jadwal padat, tau sendiri kalau aku yang akan mengambil alih Perusahaan ini, sedangkan Paman Arta aku buat dirinya untuk berdiam diri di rumah." Kata Razan sambil meminta berkas penting sama Dendi.
__ADS_1
"Seriusan, Bos? jadi, Tuan Arta gak lagi di kantor ini?"
Razan menggelengkan kepalanya.
"Sudah aku bilang dari awal, kematian ayahku sangat misterius. Makanya itu, aku harus waspada walau dia Paman ku sendiri. Mau bagaimanapun, kita perlu berhati-hati ketika menentukan pilihan," jawab Razan menjelaskan.
"Terus, tujuan menikahi Nona Zevila, apa, Bos?" Dendi masih penasaran dan kembali bertanya.
"Itu urusan ku, kamu tidak perlu tahu." Razan menjawab pertanyaan dari Dendi dengan ketus.
"Hem, semoga aja gak ada udang dibalik batu. Eh, becanda, Bos,"
Razan langsung mendelik saat mendengar Dendi meledek.
"Sudah lah, urusanku masih banyak, dan kamu selesaikan tugasmu. Satu lagi, jangan tanya soal tujuan ku menikahi Zevila, karena itu hal pribadiku."
Dendi hanya mengangguk angguk mendengarnya, dan menggaruk kepala yang tidak gatal saat mau keluar dari ruang kerja Bosnya.
'Hal pribadi katanya, mustahil, pasti ada sesuatu yang lain, eits! jangan-jangan,' batin Dendi yang akhirnya memilih segera kembali ke ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya.
Sedangkan yang tengah dibicarakan, yakni si Zevila kini masih ditemani asisten rumah saat menikmati sarapan pagi.
"Mbak, boleh tanya gak?"
"Iya, Non, boleh, silakan," jawab Mbak Riana yang tengah duduk didekatnya Zevila.
"Bosnya Mbak Riana itu, kek mana sih orangnya? maksud aku, galak kah? judes kah? atau amit amit dah, soalnya kelihatannya tuh nyebelin banget, mana harus dijaga ketat lagi, huh!"
Mbak Riana justru tersenyum ketika istri majikannya berkeluh kesah saat membahas majikannya. Sedangkan yang sedang dibicarakan, kini tengah serius untuk mendengar obrolan istrinya lewat video CCTV yang tersambung di rumah.
__ADS_1