Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Ada yang aneh


__ADS_3

Razan yang melihat istrinya bersikap aneh, pun menggelengkan kepalanya saat istrinya sudah masuk ke kamar mandi.


"Aaaaa!" teriak Zevila didalam kamar mandi.


Mendengar teriakan dari istrinya, Razan pun kaget saat hendak naik ke atas tempat tidur. Untung saja, laptopnya tidak terjatuh ke lantai.


Penuh kesal, Razan langsung menuju kamar mandi.


"Woi! bisa diam gak sih, kamu itu. Berisik! tau."


"Bukannya khawatir kek, apa kek, denger istrinya teriak histeris malah maki-maki, nyebelin banget sih. Emang kok, gak peka."


"Lagian kamunya yang aneh. Teriak tanpa sebab, ngapain kamu teriak, ha?"


Bukannya menjawab, Zevila malah mewek.


"Aku dobrak nih, minggir!"


"Eh... jangan jangan jangan. Enak aja main dobrak, yang ada entar situ berubah jadi buaya, ngeri akunya. Enak aja, entar yang ada jauh dari ekspetasi. Bukannya untung, yang ada gue malah buntung."


"Terus, ngapain kamu teriak, ha! Siapa juga yang mau ambil kesempatan, cuih. Kamu pikir kamu itu udah cantik, masih dekil juga."


"Udah udah udah, eneg lama-lama ngomong sama Kak Razan. Sekarang juga, cepetan ambilkan handuk. Basah nih handuknya, jatuh tadi."


"Iya iya ya ya, bawel. Dah sana mandi dulu, nanti kalau udah selesai mandinya, kamu tinggal panggil aku, nanti aku ambilkan." Sahut Razan dari luar.


Zevila yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa nurut dan segera mandi. Razan sendiri duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya, juga menunggu istrinya selesai mandi.


Tidak begitu lama ketika menunggu, akhirnya mendengar suara pintu yang tengah digedor dari dalam kamar mandi.


"Kak Razan, mana handuknya?"


Zevila memanggil suaminya sambil mengeluarkan tangannya lewat celah pintu yang dibuka tidak begitu renggang.


"Nih," jawab Razan dan menyodok handuknya kepada sang istri.


Zevila yang merasa lega, ia langsung menutup kembali pintunya. Sedangkan Razan sendiri keluar dari kamar, ia sengaja keluar karena tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman. Lebih lagi keduanya bak tomy dan jerry, tentunya yang ada hanya akan ada perdebatan dan berdebat. Jadi, jalan satu-satunya mengalah, pikirnya.

__ADS_1


Zevila yang baru saja keluar dari kamar mandi, celingukan, takutnya ada suami yang tiba-tiba nongol di hadapannya.


"Kak Razan, Kak, Kak Razan dimana?"


Zevila berkali-kali memanggil suaminya sambil celingukan. Juga, mengamati isi dalam ruang kamar.


"Kak Razan, Kak, Kakak ada dimana?"


Seketika, Zevila melotot saat pintu dibuka oleh suaminya.


"Kunci aja dari dalam, kalau mau tidur, tidur aja."


"Terus, Kak Razan mau tidur dimana?" tanya Zevila.


"Gak usah banyak tanya, ujungnya juga dijadikan guling sama kamu. Dah lah, cepetan pakai bajumu. Jangan lupa dikunci pintunya," jawab Razan dan balik badan, kemudian menutup kembali pintunya.


Zevila sendiri terasa aneh, juga ada sedikit kelegaan kalau suaminya tidak tidur dalam satu kamar dengannya. Tapi itu semua mustahil, pikirnya Zevila. Lebih lagi jelas-jelas Razan yang meminta untuk menikah dengannya, yang pastinya si Zevila penuh dengan rasa penasaran terhadap suaminya, yakni soal tujuan menikahinya.


Tidak ingin keburu suaminya masuk ke kamar, Zevila cepat-cepat mengenakan pakaiannya. Razan sendiri sudah berada di dapur, kemudian ia membuka kulkas dan mengambil sesuatu yang dapat diolah.


"Tuan, ini sudah hampir larut malam, Tuan belum tidur?" tanya salah seorang asisten rumahnya.


"Loh, itu 'kan kerjaannya Bibi. Biar Bibi aja yang ngerjainnya, Tuan. Mendingan Tuan tunggu aja di kamar, nanti biar Bibi yang anterin." Kata asisten rumah.


"Gak usah, Bi, biar aku aja. Mendingan Bibi istirahat saja, aku bisa kok melakukannya sendiri. Dah malam juga, waktunya Bibi untuk istirahat, soalnya besok pagi Bibi juga harus bangun pagi buat kerja." Razan sendiri menolaknya.


"Tapi, Tuan-"


Razan mengibaskan tangannya, yakni tanda mengusir asisten rumahnya agar segera pergi dari dapur.


"Baik, Tuan, kalau begitu Bibi permisi," ucapnya pamitan.


Razan cukup menganggukkan kepalanya.


'Tuan Razan dari dulu gak pernah berubah, selalu mengerjakan sendiri kalau sudah lewat jam malam, sama persis seperti mendiang Tuan Arival dan Nyonya. Andai saja semua masih lengkap, Tuan Razan tidak menjadi kejam dengan yang lainnya.' Batin asisten rumah yang masih bertahan dengan pekerjaannya.


Tidak ingin kena marah oleh majikannya, Bi Ningrum segera meninggalkan dapur.

__ADS_1


Kini, tinggallah Razan sendirian di dapur, yakni tengah sibuk membuat sup ikan kesukaannya.


"Kak Razan, lagi ngapain? dah macam koki aja ini Kakak," panggil Rivan yang tiba-tiba masuk ke dapur.


Razan tersenyum sambil menuangkan ikannya kedalam wadah panci.


"Setidaknya aku tidak membuat istriku kelaparan, kenapa? bukannya tidur, kenapa kamu ke dapur?"


"Enggak apa-apa, aku baru aja pulang soalnya. Kebetulan juga perut aku keroncongan, boleh ya minta sup ikannya. Kelihatannya enak tuh, apalagi cuaca adem begini, enak keknya."


Razan tidak menanggapinya, dan memilih fokus memasak sup ikannya.


Tidak begitu lama buat masak sup, akhirnya matang juga. Kemudian, Razan mengambil sup ikannya dua mangkok, dan langsung dibawa ke kamarnya. Sedangkan Rivan yang tidak bisa menahan perut keroncongan, langsung mengambil sup dan menikmatinya dengan kuah yang lumayan panas.


Zevila yang memang belum bisa tidur, ia dapat mendengar jika ada yang mengetuk pintu kamar. Takut mendapat omel, langsung bergegas untuk membukanya.


"Lelet banget sih kamunya, cuma bukain pintu juga, udah macam turun dari tangga. Ini ambil, pegal tanganku."


Zevila langsung menerima nampan berisi dua mangkok sup ikan.


"Kamu pasti lapar, makan lah. Maaf, aku hanya buatin kamu sup, soalnya hanya itu cara cepat buat mengganjal perut, walau hanya sup ikan campur tofu doang." Kata Razan sambil berjalan menuju tempat duduk.


"Enggak apa-apa kok, makasih ya Kak, udah buatin sup ikan buat aku."


"Kepedean kamunya, aku masak sup itu karena aku lapar, jadi jangan kepedean."


Razan langsung jual mahal di hadapan istrinya. Bahkan, dirinya saja sampai lupa, jika barusan mengatakan kalau dirinya membuatkan sup untuk sang istri.


'Dih! tadi katanya buatin sup buat aku, tapi sekarang lain lagi perkataannya. Ini orang memang benar-benar menyebalkan. Aish! bukankah tujuan aku menikah dengannya itu, ya buat balas dendam. Kenapa mesti tertipu dengan kebaikannya. Ingat Zevila, ingat, kamu harus ingat dengan tujuanmu, yaitu menghancurkan hidupnya, dan melenyapkan orangnya. Ingat, dia baik belum tentu baik. Bisa aja, semua yang dilakukannya itu hanyalah sandiwaranya saja.' Batin Zevila yang berusaha untuk waspada dengan suaminya sendiri.


Razan yang melihat istrinya melamun, mencoba untuk melambaikan tangannya agar tersadar dari lamunannya.


"Kamu ngapain melamun? mau dimakan gak ini sup ikannya? ha?"


Zevila tidak menjawabnya sama sekali, langsung meraih mangkok dan menikmati sup ikan hingga tidak terasa sampai habis itu sup ikannya. Razan yang melihat istrinya menyuapi dirinya sendiri, pun menelan air ludahnya susah payah.


"Dah habis, aku mau tidur." Dengan ketus, Zevila langsung bangkit dari posisinya, dan ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur.

__ADS_1


Razan selaku suaminya yang merasa aneh dengan istrinya, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran.


__ADS_2