
Vira benar-benar sangat terkejut ketika bertemu dengan saudara dari ibunya Zevila, meski hanya status anak angkat dari mendiang adiknya sang ibu.
"Kak Erlan apa kabarnya?" sapa Vira sambil tersenyum.
"Baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? kirain kamu yang menikah, gak tahunya Zevila."
'Umpan yang sangat tepat buat ku,' batin Vira sambil melamun.
Begitu fokusnya saat melamun, sampai tidak merespon lambaian tangan Erlan.
"Vira, Vir, Vira." Panggil Erlan sambil membuyarkan lamunannya.
"Maaf, tadi aku melamun. Kabar aku sangat menyedihkan, lelaki yang aku sukai rupanya menikahnya dengan Zevila. Aku pikir bakalan menikah denganku, tapi kenyataannya gak. Padahal dalam surat wasiat, sudah jelas-jelas namaku, tapi Razan tetap memilih Zevila, mau bagaimana lagi?"
"Mungkin belum berjodoh, terima aja dengan lapang. Bukankah kalau jodoh itu gak akan kemana, iya 'kan? oh iya, aku mau lihat Zevila menikah, kamu mau ikut? aku akan temani kamu."
Vira yang mendapat ajakan dari Erlan, hatinya berbunga-bunga, serasa mendapat obat penawar, pikirnya tersenyum senang.
'Mungkinkah karena patah hati? sampai-sampai mengajakku untuk menyaksikan pengucapan kalimat sakral oleh mereka berdua. Baguslah, setidaknya ada penggantinya. Erlan juga gak kalah tajirnya dengan Razan, apa salahnya jika aku mengambil hatinya dengan cara luka hati yang sangat menyedihkan.' Batin Vira sambil mencari ide agar bisa mendekati Erlan.
Tidak ingin membuang kesempatan yang ada di depan mata, Vira dengan percaya dirinya berjalan beriringan dengan Erlan. Sedangkan Erlan sendiri begitu cuek, dan tidak ada ketertarikan sama sekali dengan Vira.
Masih di acara pernikahan Zevila dengan Razan, kini kedua calon pengantin tengah duduk bersebelahan, sebentar lagi acara pengucapan kalimat sakral, pun akan segera dimulai.
Zevila yang yang tengah duduk disebelah calon suaminya, pikirannya mulai kemana-mana, yakni tidak hanya memikirkan rencana balas dendam, tetapi juga memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Razan jatuh cinta padanya, dan menghancurkan karir hingga hidupnya jatuh terpuruk.
Zevila yang sedari tadi dipanggil, pun masih bengong. Bahkan, ajakan dari calon suaminya tidak ia tanggapi, tatapannya entah kemana jalan pikirannya.
"Zevila, Zevila," panggil Razan berulang kali sambil mendekatkan diri pada calon istrinya.
__ADS_1
"Maaf, aku kepikiran kedua orang tuaku, maaf, aku minta maaf."
Dengan gugup, Zevila menjawab panggilan dari Razan. Arah pandangannya, pun kini mengarah ke Erlan yang tengah berdiri bersebelahan dengan Vira, saudara sepupunya.
Erlan yang juga mengarahkan pandangannya ke arah Zevila, langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Rasa sakit sudah pasti, jauh-jauh pulang ke luar negri untuk menyampaikan kabar baik, dan juga sekaligus kejutan, justru harus menelan pil pahit. Sangat menyakitkan ketika harus menjadi saksi pernikahan perempuan yang disukainya.
Begitu juga dengan Rivan, hatinya tidak kalah bedanya dengan Erlan, yakni sama-sama terbakar oleh api cemburu saat menyaksikan wanita yang disukainya akan menjadi milik lelaki lain. Rivan yang dekat bak sahabat dan saudara, sedangkan Erlan bak kakak adik kedekatannya.
Namun, sejak mengemban karirnya, Erlan sudah sekian lama tidak pulang, tetapi komunikasi diantara mereka masih cukup baik. Hanya saja, Zevila belum sempat memberi kabar bahwa dirinya akan menikah, dan juga tujuannya menikah, kini harus didengar dadakan oleh Erlan, tentunya sangat kecewa.
Tapi, Erlan bisa apa? semua sudah terjadi, gak mungkin baginya untuk merusak acara pernikahan yang sakral, meski tahu tujuannya apa.
'Kamu yang membuat janji, tapi kamu mengingkari,' batin Erlan dengan penuh kecewa.
Saat itu juga, Erlan kembali teringat tujuan Zevila menikah dengan Razan, yakni balas dendam.
Bahkan, Erlan sendiri sampai tidak fokus dengan pengucapan kalimat sakral oleh Razan dan Zevila.
"Kak Erlan, Kak."
"Iya, Vir, ada apa?"
"Mau gak, Kak Erlan bantuin aku?" Vira berusaha untuk merayunya.
"Bantuin apa, Vir?"
"Jadi pacar pura-pura aku, gimana? ayolah Kak, bantuin aku. Setidaknya aku bisa pamer sama Razan, suaminya Zevila. Sekalian mau pamer ke Zevila, kalau aku juga udah punya pasangan, gitu," jawab Vira menjelaskan.
"Maaf, aku gak bisa. Aku pun gak akan temui mereka, aku mau langsung pulang, maaf." Erlan pun menolak permintaan dari Vira, karena dirinya tidak mau menambah masalah.
__ADS_1
Bagi Erlan cukup menerima kenyataan pahit, dan tidak mau bermain drama. Lebih lagi mengetahui tujuannya Zevila menikah dengan Razan hanya dijadikan alat balas dendam, Erlan merasa masih mempunyai kesempatan untuk mendekati Zevila, dan membujuknya untuk bercerai, pikirnya.
Vira mendengkus kesal saat Erlan tidak mau membantunya.
'Sialan! awas aja kamu, Kak Erlan, suatu saat kamu pasti butuh aku, lihat aja.' Batin Vira penuh kesal, dan juga merasa dongkol.
Niatnya mau memanasi dan pamer kepada Razan, juga Zevila, yang ada justru dirinya mendapat sial.
Dengan terpaksa, Vira menghampiri ibunya, dan diajak untuk menemaninya memberi ucapan selamat kepada saudara sepupunya. Begitu juga dengan Rivan, sama halnya sendirian dan tidak ada yang dijadikan alat pamer. Mau tidak mau, akhirnya memberi ucapan sendirian tanpa seseorang yang menjadi pasangan.
Vira yang melihat Rivan seorang diri yang tengah mengantri naik ke pelaminan, pun tertawa mengejek.
"Kasihan sekali, kamu. Ditinggal nikah, gak tahunya sama sepupu kamu sendiri. Sakit memang sakit, tapi kita adil, gak cuma aku aja yang sial, tapi kamu juga." Vira pun tidak segan-segan mengejek Rivan.
"Diam! kamu, gak usah mengejek ku. Sekarang aku boleh gagal, tapi gak buat nantinya, ngerti."
Rivan yang mendapat ejekan dari Vira, pun tidak terima ketika diremehkan. Sedangkan Vira sendiri justru tertawa ketika mendengar jawaban dari Rivan.
"Mana bisa kamu menyaingi saudara sepupu kamu itu, gak percaya aku, kalau kamu bisa dapetin Zevila."
"Kamu meremehkan ku, ha?"
"Bukan meremehkan mu sih, tapi kamu akan mempunyai pesaing baru, namanya Erlan. Lelaki yang selalu siaga buat Zevila." Kata Vira yang seperti orang mabok.
"Sudah, Vira, sudahi ucapan mu itu. Ayo, Mama temani kamu naik ke pelaminan, terus langsung pulang." Sang ibu pun langsung menarik tangan putrinya yang seperti orang frustrasi ketika harus menerima kenyataan jika lelaki yang disukainya telah menjadi suami saudara sepupunya sendiri.
Rivan yang malas berdebat dengan Vira yang jelas jelas seperti tengah patah hati, memilih untuk pergi ke tempat lain daripada harus memberi ucapan selamat kepada Zevila dan Razan.
"Ngapain juga aku di sini, mendingan juga pergi ke lain tempat, daripada otakku semakin korsleting." Gumamnya dan memilih untuk meninggalkan acara resepsi pernikahan saudara sepupunya bersama Zevila, perempuan yang dikenal dekat layaknya sahabat dekat.
__ADS_1