Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Mendapat kesialan


__ADS_3

Masih dengan perasaan dongkol, Zevila berjalan sambil memikirkan cara agar misinya segera terselesaikan.


"Zevi, kamu kenapa? muka kamu kok asem gitu, kamu gak lagi berantem sama Kak Razan, 'kan?"


Zevila menggelengkan kepalanya.


"Aku cuma lagi bete aja, gak ada kegiatan soalnya," jawab Zevila sambil berjalan beriringan.


Namun sialnya, asisten rumah yang ditugaskan untuk siaga menjaga istri majikannya, rupanya tidak main-main dengan perkataan, yakni sudah menunggu di depan pintu masuk.


"Kamu dapat penjagaan ya?" tanya Rivan saat kedua matanya dapat menangkap asisten rumah yang sudah berdiri di depan pintu masuk.


"Iya, selama aku ada di rumah ini, aku akan terus diawasi sama Mbak Riana , menyebalkan banget, 'kan? udah macam istri pangeran saja aku ini, kek didalam kerajaan, menyebalkan!" jawab Zevila dengan ketus.


Rivan yang mendapati Zevila mendengkus kesal, ia pun tertawa kecil.


"Dih! ketawa, lagi. Kamu pikir ini lucu, gak!"


"Bukan gitu, habisnya kamu memang lucu sih. Gak gak gak, aku cuma bercanda kok, serius. Jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya hilang loh, jelek entar jadinya." Kata Rivan sambil meledek.


Bahkan, keduanya tidak peduli jika tengah diperhatikan oleh Mbak Riana yang ditugaskan untuk menjaga istri majikannya.


Rivan yang seperti tengah diawasi, pun masa bodoh dan tidak peduli jika bakalan kena marah oleh saudara sepupunya.


"Maaf, Tuan, Nona Zevila dilarang untuk berkomunikasi dengan Tuan Rivan tanpa seizin Tuan Razan. Ini perintah, dan saya hanya menyampaikan pesan kepada Tuan," ucap Mbak Riana sesuai perintah majikannya.


Rivan yang mendengarnya, pun terasa geram. Bagaimana tidak geram, hanya mengobrol dan bertegur sapa saja tidak izinkan, pikirnya.


Saat itu juga, Rivan yang tidak terima jika dirinya diberi batasan untuk mengobrol dengan Zevila, langsung bergegas untuk menemuinya.


Zevila sendiri merasa takut, jika diantara mereka berdua bakal berantem hanya karena hal sepele. Tidak ingin ada keributan gara-gara dirinya, Zevila menyusul Rivan yang hendak menemui suaminya.


Dengan kuat, Rivan menggedor ruang kerjanya Razan. Pintu pun dibuka oleh Razan sendiri.

__ADS_1


"Ada perlu apa sampai-sampai menggedor pintu ruang kerjaku, ha? apa kamu sudah bosan tinggal di rumah ini?"


"Bukan soal bosan atau gaknya. Aku hanya gak terima atas peraturan yang Kak Razan berikan kepada Zevila. Jangan mentang-mentang Kak Razan yang berkuasa di rumah ini, sampai-sampai seenaknya sendiri mengekang Zevila untuk tidak diizinkan mengobrol dengan ku."


Razan justru tertawa mendengarnya.


"Atas dasar apa, sampai-sampai aku gak boleh ngelarang istriku sendiri berinteraksi dengan mu, ha? Zevila itu istriku, dan aku mempunyai hak sepenuhnya atas dirinya. Jadi, terima kenyataan kalau Zevila milikku, paham."


Kedua tangan Rivan langsung mengepal kuat saat mendengar ucapan dari Razan.


"Sudahlah, kamu itu gak tahu apa-apa tujuan ku menikahi Zevila, jadi lebih baik kamu jangan mengganggu hubungan ku dengannya, ngerti."


Zevila yang mendengar ucapan suaminya soal pengakuan Razan yang mengatakan ada tujuan tertentu menikahi dirinya, otaknya langsung berpikir dan mencoba untuk mencari tau dan mencerna ucapannya.


'Jangan-jangan Kak Razan sudah tahu yang sebenarnya, kalau aku mau membalas dendam atas kematian orang tuaku. Enggak, gak mungkin. Tapi, dari ucapannya yang aku tangkap, memang sepertinya benar, kalau Kak Razan mengetahui tujuanku. Iya, pasti tahu, secara aku dilarang ke dapur, mungkin Kak Razan takut kalau aku akan meracuninya.' Batin Zevila menerka-nerka.


Seketika, Razan maupun Rivan, pun kaget saat mendengar sesuatu yang jatuh di depan pintu.


"Siapa?!"


Demi menutupi kesalahannya yang sudah menguping, Zevila nyengir kuda. Pelan-pelan, Zevila berusaha berdiri tanpa ada yang bantuin, tak lupa sambil nyengir.


Menahan rasa sakit di bagian kakinya, Zevila justru tak mampu untuk berdiri. Saat itu juga, Razan dan Rivan langsung menangkap tubuh Zevila, sialnya, Rivan kalah cepat dari Razan.


"Sudah lah, mendingan kamu fokus saja dengan karirmu. Aku beri peringatan sama kamu, jika kamu gagal, maka kesempatan pun hilang." Dengan tegas, Razan memberi ancaman kepada Rivan.


Saat itu juga, Rivan langsung pergi tanpa menjawab ucapan dari Razan. Sedangkan Zevila sendiri tengah meringis kesakitan saat menahan rasa sakit di bagian pergelangan kakinya. Razan yang seharusnya bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, terhalang karena kondisi kaki istrinya yang terkilir.


Tidak pakai lama, Razan langsung menggendong istrinya sampai di dalam kamar.


"Aw!" pekik Zevila sambil menahan rasa sakit di kakinya.


"Makanya, punya telinga itu, buat dengerin, bukan buat menguping, ngerti."

__ADS_1


"Aw! sakit, tau." Pekik Zevila saat keningnya mendapat sentilan dari sang suami.


"Diam, jangan cerewet. Gak usah manja, dan jangan banyak protes."


Zevila hanya diam, dan memilih nahan sakit saat suaminya hendak mengurut bagian kakinya.


"Aku peringatkan juga sama kamu, jangan terlalu dekat dengan Rivan kalau gak mau menambah masalah dengan ku. Tugasmu hanya satu, diam akan jauh lebih baik daripada bertindak dengan sesuka hatimu. Disini, di rumah ini, jangan sampai kamu tertipu dengan diri kamu sendiri, ingat itu."


Zevila yang seperti mendapat sindiran, pun bingung untuk mengetahui apa yang sudah diucapkan oleh suaminya. Mau langsung berbicara soal topik utamanya, pun masih ragu. Lebih lagi belum tahu pasti kebenarannya, tentu saja butuh kewaspadaan.


"Iya, aku mengerti. Oh iya, aku boleh minta sesuatu gak? aku pingin ketemu sama anaknya Tante aku, si Erlando. Soalnya dia habis kecelakaan, juga baru pulang dari luar negeri, boleh 'kan?"


Razan langsung menatap istrinya.


"Boleh, tapi nanti, tunggu aku pulang dari kantor. Aku akan temani kamu menjenguk saudara kamu itu, dan sekarang mendingan kamu diam dan jangan banyak bicara, aku mau mengurut kakimu agar segera sembuh dan bisa jalan. Jadi, diam dan kunci mulutmu itu. Waktuku tidak banyak, karena aku harus berangkat ke kantor."


Zevila hanya bisa nurut dengan apa yang diucapkan oleh suaminya, mau menjawab pun juga percuma, yang ada hanya akan membuang-buang waktu, pikirnya.


"Aw! sakit, aduh! sakit banget, aw!" pekik Zevila sambil menggigit bibir bagian bawah.


Tanpa Zevila sadari karena menahan rasa sakit, sampai-sampai tidak merasakan jika bibirnya terluka hingga mengeluarkan darah segar.


Razan yang saat itu tengah mendongak ke arah istrinya, dilihat ada darah segar di bagian bibir bawah milik istrinya. Dengan reflek, Razan langsung mengusap bibir milik istrinya dengan ibu jarinya.


"Bibir kamu kenapa? sariawan kah?"


Zevila yang melihat ada darah segar di jari suaminya, pun langsung memegangi bibirnya untuk dicek. Benar saja, rupanya bibirnya terluka karena ulahnya sendiri.


"Oh, ini, tadi aku nahan sakit, dan gak sadar kalau aku gigit bibir aku sendiri. Maaf, aku tidak mempunyai niat buat nyari perhatian," jawab Zevila yang tidak ingin disangka yang tidak tidak, pikirnya.


"Gak apa-apa, bentar lagi juga udah selesai. Tahan aja dulu, habis ini kamu segera mandi, nanti aku bantu kamu jalan."


Zevila langsung melotot ketika mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"Kamu itu sudah menjadi istriku, gak ada larangan apapun untukku menyentuh maupun melihat sekujur tubuh mu, jadi gak perlu heboh menatap ku."


Zevila langsung membuang muka saat mendengarnya. Razan sendiri justru menyeringai saat istrinya mengalihkan pandangannya


__ADS_2