Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Merasa geram dan kesal


__ADS_3

Acara yang hanya didatangi anggota keluarga dan kerabat dekat , juga beberapa rekan kerja, tidak terasa acara resepsi pernikahan, pun telah usai. Kini, sepasang pengantin tengah bersiap-siap pulang ke rumah.


Begitu juga dengan keluarga pihak pengantin perempuan, pun sama halnya hendak pulang ke rumahnya masing-masing.


Zevila yang sudah siap pulang ke rumah suaminya, saatnya melakukan perjalanan jauh bersama sang suami. Hening seketika saat keduanya dalam perjalanan pulang, lantaran tidak ada obrolan diantara mereka.


Rasa kantuk yang tidak bisa ditahan, perlahan kedua matanya Zevila begitu sulit agar kesadarannya terjaga, tetap saja kalah dan tidak mampu untuk melawan rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya.


Berkali-kali menguap, Zevila berusaha untuk menjaga keseimbangan, yakni agar tidak terjatuh dan menatap tempat duduk yang ada didepannya.


Seketika, Zevila benar-benar tidak mampu menahan rasa kantuknya, dan pada akhirnya pun jatuh tanpa sadarkan diri di atas pundak suaminya hingga tertidur lelap sambil berstandar di dada bidangnya sang suami.


Razan yang mengetahui jika istrinya tidak bisa menahan rasa kantuk, ia langsung menjaga keseimbangan agar tidak terasa capek ketika sang istri tidur.


Bahkan, Razan tetap dengan posisinya yang tidak berubah, tentunya agar tidak mengganggu istrinya yang tengah tidur dengan pulas.


"Sudah sampai, Tuan," ucap Pak Sopir saat baru saja mematikan mesin mobilnya.


Razan yang tersadar dari tidurnya yang baru sebentar memejamkan kedua matanya, ternyata dikagetkan oleh Pak Sopir, bahwa tidak lagi harus melanjutkan perjalanannya. Kini, mereka berdua sudah sampai di depan rumah milik keluarga Wigunanta.


"Maaf, Tuan, apakah Tuan memerlukan bantuan?" tanya seorang Sopir saat membukakan pintu mobilnya.


"Gak perlu, karena saya bisa melakukannya sendiri. Mendingan Pak Ludi bawa barang bawaan milik istri saya, dan antar ke kamar," jawab Razan dan sekaligus memberi perintah kepadanya.


"Baik, Tuan," ucapnya dan bergegas untuk melakukan perintah Bosnya.


Razan sendiri justru langsung menggendong istrinya sebelum terbangun dari tidurnya.


Saat sudah masuk ke kamar, pelan-pelan menurunkan istrinya ke tempat tidur. Nahas, justru lengan miliknya Razan tertindih punggung istrinya mengakibatkan jarak wajah diantara keduanya sangatlah dekat.


Dengan reflek tanpa sadar, Zevila memeluk tubuh milik suaminya dengan kuat, dan mengganti posisinya miring ke kiri, karena disangkakannya bantal guling. Kini, saling berhadapan wajahnya.


Seketika, Razan melotot saat terjadi seperti ciuman. Gimana tidak, Zevila semakin mengeratkan pelukannya, dan membuat Razan semakin dekat dan menempel. Bahkan, Razan sendiri sampai kesulitan untuk bernapas.

__ADS_1


Mau memberontak? tidak mungkin. Lebih lagi dengan posisi yang sulit dibayangkan, membuatnya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


'Sial! kenapa ini anak gak juga bangun, mana aku gak bisa bernapas, lagi.' Batinnya yang tengah menahan napasnya, lantaran tidak memungkinkan dirinya menghembuskan napasnya dalam posisi bibir yang menempel.


Zevila yang merasakan ada hembusan napas yang hangat, pun perlahan membuka kedua matanya yang terpejam.


Seketika, Zevila melotot melihatnya.


"Aaaaaaa!" teriak Zevila yang langsung bangkit dari posisinya.


Razan sendiri, pun batuk saat dirinya dapat bernapas dengan lega. Sedangkan Zevila langsung menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu Zevila menoleh ke arah suaminya dengan tatapan matanya yang penuh kesal.


"Kamu sudah ngapain aja dengan diriku? ha!"


Razan justru tertawa kecil mendapat pertanyaan dari istrinya.


"Kamu udah lupa, kalau tadi kita sudah ngapain? nakal banget sih kamu itu sama aku, lupa atau pura-pura lupa kamunya tadi. Haduh! sayangnya, padahal tadi itu, kamu udah macam ped_opil." Razan dengan sengaja mengerjai istrinya.


Zevila yang mendengarnya, pun langsung melotot dan berubah menatap suaminya dengan tajam. Napasnya pun serasa panas ketika mendengar kalimat terakhir dari sang suami.


"What! aku, kamu bilang? enak aja main nuduh, yang meluk aku juga siapa? dih! jelas-jelas kamu sudah mengambil ciuman pertama ku. Haduh! belum belum bibirku udah ternoda oleh mu, meng sad emang kok."


Dengan akal bulusnya, Razan masih terus mengerjai istrinya hingga membuatnya geram dan kesal sendiri. Menahan tawa sudah pasti.


Zevila sendiri menatapnya heran. Apalagi main menuduh, membuatnya geram dan terasa dongkol ketika suaminya main tuduh, pikirnya.


Malas meladeni istrinya yang sedang emosi, Razan sendiri memilih ke kamar mandi untuk melakukan ritual rutinnya sebelum tidur, agar badan tidak terasa risih dan juga gerah. Begitu juga dengan Zevila, badannya pun terasa risih dan ingin segera mandi agar lebih enakan.


Sambil menunggu suaminya selesai mandi, alih-alih menyibukkan diri dengan ponselnya. Saat itu juga, Zevila teringat dengan Erlan, yang sedari tadi tidak ia lihat keberadaannya. Jangankan melihat, menghampiri dan memberi ucapan selamat aja gak, pikirnya saat mengingat pertemuan antara dirinya dengan Erlan.


Takut ada apa-apa, Zevila segera menghubunginya.


Satu kali, dua kali, tiga kali, tidak juga mendapat respon dari pemilik ponsel.

__ADS_1


"Kenapa Kak Erlan gak mau angkat telpon dariku ya? apakah Kak Erlan marah dengan ku?" gumamnya bertanya-tanya, lantaran tidak mendapat respon dari Erlan.


Masih penasaran, Zevila mencoba menghubunginya lagi, dan berharap panggilan teleponnya tidak diabaikan.


Saat tersambung, Zevila tersenyum merekah ketika panggilan telepon darinya diterima.


"Kak, Erlan dimana?"


Dengan girang, Zevila merasa senang bisa menghubungi Erlan.


"Apa? kecelakaan?" tiba-tiba senyumnya berubah menjadi murung ketika mendengar kabar buruk dari salah seorang asisten rumah.


Meski kabar yang ia dapat hanya kecelakaan kecil, tetap saja kepikiran akan keadaannya. Karena penasaran dan ingin mengetahui kondisinya, Zevila melakukan panggilan video.


"Bah! langsung dimatiin panggilan videonya. Kak Erlan ini kek mana lah, macam anak kecil aja ngambeknya. Mana suami aku udah bikin kesel, ini Kak Erlan macam bayi ngambeknya."


"Siapa yang macam bayi, siapa yang bikin kesel, ha?"


Sekujur tubuh miliknya Zevila terasa kaku, benar-benar sulit untuk digerakkan saat dipergoki oleh suaminya.


"Mampus, Gue. Ini orang udah macam Jailangkung aja, datang begitu saja, pergi pun semaunya, benar-benar dah." Gumamnya, dan menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan kedua matanya karena takut mendapat marah dari suaminya.


Bahkan, Zevila sendiri sampai lupa dengan tujuannya menikah dengan Razan.


"Buruan mandi, badan mu bau, tau. Nih! handuknya."


Razan langsung melemparkan handuknya, tepat menutupi kepala milik istrinya. Dengan kesal, dan membuang napasnya dengan kasar, Zevila langsung menarik selimutnya, dan menoleh ke arah suaminya.


"Bisa gak sih, jangan bikin aku kesel. Lihat muka kamu udah eneg banget aku Kak, huh!"


Zevila langsung meniup poninya, dan menyeringai sambil jalan menuju kamar mandi.


"Aw!" pekik Zevila sambil meringis kesakitan saat keningnya terbentur pintu kamar mandi, tentunya lumayan sakit pastinya.

__ADS_1


Antara malu, tapi juga pura-pura baik-baik saja, meski sambil mengusap keningnya. Razan sendiri tertawa kecil melihatnya.


__ADS_2