Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Ada yang ingin bersaing


__ADS_3

Di rumah kediaman keluarga Arigama, Zevila yang sudah terbangun dari tidur semalaman, badannya justru terasa semakin remuk, pegal-pegal dan sakit. Jangankan untuk bangkit dari posisi tidurnya, bergerak saja rasanya sakit dan tidak karuan.


"Untung aja ada Rivan, gak tahu deh kalau gak ada itu orang, mati keknya gue. Mana hari ini mau ada pertemuan dengan Tuan Avirlang lagi, benar-benar ni hari bikin males buat ngapa-ngapain." Gumamnya sambil bangkit dari posisi tidurnya dengan hati-hati agar tidak terjatuh.


Pagi yang cuacanya begitu dingin karena semalaman diguyur hujan deras waktu lewat tengah malam, paginya udara terasa segar. Alih-alih setelah ritual dari kamar mandi, Zevila keluar ke balkon untuk menikmati udara pagi yang segar.


Di lihatnya dari jarak dengan ketinggian, jalanan sudah dipadati banyaknya kendaraan yang lalu lalang.


"Semoga hari ini semuanya dapat aku atasi dengan baik, dan tidak ada masalah apapun nantinya. Semoga saja, semua akan berjalan sesuai rencana. Jadi gak sabar nunggu hari pernikahan, di situlah rencana yang aku buat akan berjalan. Secepatnya aku harus menyingkirkan si Razan, masa bodoh jika Vira tidak terima, yang terpenting tujuanku berhasil." Gumam Zevila sambil membayangkan rencana yang akan dijalankan.


Lamunannya tiba-tiba dibuyarkan oleh suara bel pintu di kamarnya, Zevila segera masuk ke dalam dan menekan tombol untuk membuka pintunya. Saat pintu sudah dibuka, rupanya yang datang tidak lain si Vira, saudara sepupunya.


"Tangan kamu kenapa?" tanya Vira saat mendapati ada perban di bagian tangannya.


"Oh, ini, luka ringan, nanti juga sembuh. Ada perlu apa kamu datang kemari?"

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, cuma mau memberi peringatan aja sama kamu."


"Peringatan, apa memangnya?" tanya Zevila ingin tahu.


"Awas aja ya, kalau sampai kamu merebut Razan dariku. Aku bakal bongkar semuanya kedok mu, balas dendam atas kematian Papa kamu!" jawabnya dengan nada membentak.


Zevila justru tertawa saat mendengar ancaman dari Vira, entah bodoh karena cinta, atau memang sulit untuk mencerna tujuannya untuk menikah dengan Razan, pikirnya yang merasa aneh dengan Vira.


"Ngapain kamu ketawa, gak ada yang lucu." Dengan ketus, Vira mendengkus kesal.


Vira yang mendengar ucapan dari Zevila yang begitu jelas, kali ini baru menyadarinya.


"Apa katamu? membunuh Razan kamu bilang?"


"Ya iya lah, apa lagi emangnya. Lemot ya lemot, tapi gak perlu bodoh gitu juga kamunya!"

__ADS_1


Vira yang baru mengerti, sungguh merasa tidak terima ketika lelaki yang disukainya itu akan dibu_nuh oleh Zevila.


'Tidak, aku tidak akan membiarkan Zevila membunuh Razan, bisa-bisa aku gagal jadi orang tajir melintir. Aku harus menggagalkan rencananya, apapun itu.' Batinnya yang tidak mau kehilangan orang yang disukainya.


Zevila yang malas berdebat dengan Vira, tidak punya cara lain selain menyuruhnya keluar dari kamarnya.


"Sekarang lebih baik kamu keluar dari kamar ku, aku lagi gak ingin berdebat dengan mu. Cepetan keluar, sebelum aku mengusir paksa sama kamu, cepetan!" Zevila dengan tegas menyuruhnya keluar.


"Awas saja kamu, karena aku gak bakal membiarkan kamu membu_nuh Razan, lihat aja ancaman aku ini."


Vira yang tidak terima, pun tidak mau kalah untuk memberinya ancaman. Tidak peduli siapa yang kalah dan siapa yang akan menang. Bagi Vira, tujuan utamanya ya untuk merebut Razan dan nikah dengannya.


Karena diusir dan diminta untuk keluar, Vira segera pergi dari hadapannya Zevila.


"Sialan, rupanya Vira berani-beraninya mengancam ku. Apapun caranya, tujuan ku adalah memb_unuh Razan, atau gak, aku akan membuatnya menderita, akan aku racuni perlahan, sakit, sakit, dan mati perlahan." Gerutu Zevila dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2