
Berbeda dengan yang ada di ruang makan, Rivan tengah mendengkus kesal ketika apa yang diharapkannya tidak juga terwujud. Lebih lagi perempuan yang disukainya kini telah menjadi istri dari sepupunya sendiri.
Begitu singkat rasanya mengenal Zevila, dan tidak lagi mempunyai waktu kebebasan seperti dulu lagi. Pergi bermain, jalan-jalan, dan menikmati keseruan bersama. Sedangkan sekarang, dirinya hanya bisa memperhatikan perempuan yang disukainya layaknya patung hidup yang sudah dimiliki oleh Tuannya.
"Zevila, bolehkah aku memperjuangkan mu?" gumamnya sambil mengaduk sup yang ada di mangkok.
Bukannya segera dihabiskan, justru hilang sudah selera makannya. Juga, sampai-sampai tidak menyadari jika Razan ikutan duduk di ruang makan.
Rivan yang tersadar akan sosok saudaranya yang tengah duduk dihadapannya, pun kaget.
"Kak Razan, sejak kapan duduk di situ?"
Razan justru tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Rivan.
"Sejak sup kamu diaduk-aduk, kenapa? kamu lagi ada masalah?"
"Enggak ada, cuma lagi gak bisa tidur aja. Kak Razan sendiri gak tidur? dah malem banget ini loh." Jawabnya.
"Iya, benar, udah malam banget. Ya udah kalau gitu, aku mau kembali ke kamar." Kata Razan dan bergegas ke dapur buat mengembalikan mangkok bekas sup yang ia makan bersama istrinya.
Kemudian, Razan kembali ke kamar untuk istirahat. Begitu juga dengan Rivan, sama halnya kembali ke kamarnya.
Saat Razan membuka pintu kamar, dilihatnya sang istri yang udah tidur di sofa.
"Cepat banget ini anak tidur, pura-pura apa emang beneran tidur ini anak?"
Razan memeriksa istrinya yang terlihat sudah tidur di sofa. Saat napasnya terasa tenang, dan juga seperti tidak dibuat-buat, percaya jika istrinya memang sudah tidur. Melihat istrinya serasa tidak nyaman, Razan mengangkat tubuhnya dan dipindah ke tempat tidurnya.
"Ini anak badannya kecil, tapi beratnya minta ampun." Gumamnya sambil mengangkat tubuh istrinya.
Dengan reflek, Zevila melingkarkan kedua tangannya tepat di bagian tengkuk leher suaminya. Nahas, kakinya justru tersandung saat mau menurunkan istrinya di atas tidur. Alhasil, tubuh Zevila tertindih oleh suaminya hingga membuat Zevila sadarkan diri dari tidurnya. Perlahan membuka kedua matanya, dan kini saling beradu pandang satu sama lain.
__ADS_1
Detak jantung ikutan tidak beraturan, berdegup sangat kencang. Tatapan Raza maupun Zevila sama-sama seperti terhanyut oleh keadaan. Lelaki normal mana yang tidak tergoda dengan kondisi yang seperti siap memangsa.
Zevila yang juga seperti terhipnotis, justru memejamkan matanya. Entah sedang berpikir atau justru terbawa suasana. Bagaimana tidak terbawa suasana, situasi yang sunyi, dan juga posisi yang sudah siap badan, membuat Zevila seperti tidak bisa berkutik apapun.
"Aw!" pekik Zevila yang justru mendapatkan tepukan di bagian pipinya.
"Jangan mesum, cepetan geser, aku ngantuk, mau tidur."
"Aaaaa! iya iya ya ya, resek banget sih Kak Razan, bikin gedek aja ini orang." Zevila langsung menggelinding agar memiliki jarak dengan suaminya, dan juga menyambar guling dan dijadikan alat peluk.
"Hati-hati loh dengan ucapan kamu itu, entar jatuh cinta bisa infeksi kamu." Ledek Razan sambil membenarkan posisi tidurnya.
"Dih! kepedean banget, gak bakal jatuh cinta sama Kak Razan. Punya nilai plus aja enggak, yang ada juga sukanya bikin kesal." Zevila memasang muka cemberutnya.
"Dah lah, aku mau tidur. Kalau butuh pelukan, aku siap menjadi penghangat tubuhmu," ucap Razan sambil memejamkan kedua matanya.
Zevila sendiri memasang muka kesal sambil memonyongkan bibirnya dengan mengarahkan pandangannya ke suaminya yang sudah terpejam.
'Sial banget akunya, punya suami tapi bikin jengkel terus. Udah bikin kesel, masih juga resek. Lihat aja nanti, aku akan tetap pada tujuanku, menyingkirkan mu dan membuat mu menderita dari awal.' Batin Zevila yang tidak goyah dengan tujuannya menjadi istri sahnya Razan, yakni untuk balas dendam.
Dikarenakan rasa kantuk yang begitu sulit untuk dikendalikan, akhirnya kedua matanya pun menyerah, lalu tidur sambil meringkuk dan memeluk guling.
Razan sendiri tidurnya dengan posisi tangan yang disilangkan di atas dada bidangnya, dan mereka berdua tidur dengan pulas hingga pagi disambut oleh hangatnya mentari.
Perlahan-lahan, Zevila mulai menggerakkan jari-jemarinya ketika mulai tersadar dari tidurnya. Merasa ada yang aneh sudah pasti, Zevila terus meraba sambil mengumpulkan kesadarannya.
Zevila langsung melotot saat dirinya memeluk suaminya, kaget dan terkejut sudah pasti. Lebih lagi salah satu kakinya menindih suaminya, antara malu juga ada kesalnya sedikit.
Saat itu juga, Zevila segera menyingkir. Tapi sayangnya, justru si Razan langsung menarik tubuh istrinya dan memeluknya.
"Aku masih ngantuk, temani aku tidur dulu. Jangan banyak protes, kamu mengerti?"
__ADS_1
"Tat-tat-tapi, aku mau ke kamar mandi, kebelet." Bujuk Zevila agar bisa terhindar dari suaminya.
Razan langsung melepaskannya, dan mendorong tubuh istrinya.
"Sudah sana kalau mau ke kamar mandi, awas saja kalau cuma mau menghindar." Razan menatap istrinya dengan tatapan menakutkan.
"I-i-iya," jawab Zevila sambil turun dari tempat tidur. Razan sendiri mengganti posisinya berubah duduk bersandar, lalu meraih ponselnya yang berada di atas nakas, tepatnya di sebelahnya.
Zevila yang sudah berada di dalam kamar mandi, buru-buru buang air kecil, dan dilanjut mencuci muka, serta yang lainnya. Setelah itu, ia bergegas keluar.
Saat keluar, rupanya sudah tidak mendapati suaminya di dalam kamar.
"Kemana dia?" gumamnya sambil mengamati di setiap sudutnya.
Tidak juga melihat keberadaan suaminya entah dimana, Zevila memilih keluar dari kamar, alih-alih beradaptasi di kediaman keluarga Wigunanta.
Saat berhenti di bawah tangga, Zevila celingukan, berharap ada yang bisa diajaknya bicara.
"Mbak, Mbak, Mbak, tunggu, dapurnya dimana ya?" panggil Zevila sekaligus bertanya.
"Dapurnya ada di sana, Nona. Maaf sebelumnya, ada perlu apa ya, Non? soalnya Tuan Razan melarang Nona berada di dapur, jadinya Nona tinggal nyuruh pelayan atau asisten lainnya," jawabnya.
"Apa! gak boleh ke dapur? macam mana lah, masa' iya gak boleh masuk dapur. Ada-ada aja Bosnya Mbak itu, mau ambil minum pun, gak boleh juga?"
Asisten rumah, pun menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Nona, tetap saja tidak boleh. Mulai sekarang, saya yang akan menemani Nona kemanapun, dan hanya waktu istirahat Nona saya tinggal."
Dengan perasaan kesal, Zevila ingin rasanya protes sama suaminya. Namun, percuma juga karena hasilnya pun bakalan nihil.
"Macam di negri dongeng saja, harus ada asisten di setiap langkah ku, oh! tidak."
__ADS_1
Zevila membuang napasnya dengan kasar, pasrah jalan satu-satunya. Memberontak pun percuma, pikirnya.