Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan
Acara pernikahan


__ADS_3

Waktu yang sudah ditunggu-tunggu, pun datang. Kini, Razan maupun Zevila tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka berdua.


Tidak ada lagi harapan yang lebih baik kecuali membalaskan dendamnya, pikir Zevila saat dirinya bercermin dengan polesan wajah yang tengah dirias.


Pernikahan yang sama sekali bukan keinginannya, dengan terpaksa menerima walau entah seperti apa akhir cerita selanjutnya. Bagi Zevila, mencoba apa salahnya. Jika gagal, masih ada kesempatan dilain waktu.


'Apapun caranya, aku harus bisa menyingkirkan Razan. Aku tidak peduli jika jeruji besi adalah akhir dari ceritaku, tapi aku puas membalaskan dendam atas kematian Papa. Setidaknya anak dan orang tua tidak ada yang hidup, biarkan aku yang akan menyaksikan kesedihan ini.' Batin Zevila sambil dirias wajahnya.


"Sempurna, Nona sangat cantik hari ini. Tuan Razan pasti akan terpesona melihat penampilan Nona yang cantik ini."


Zevila sama sekali tidak merespon, memilih diam dan terus berpikir untuk memikirkan cerita selanjutnya.


"Zevila! Zevi!" teriak seorang laki-laki tengah berlarian mencari keberadaan Zevila.


Saat berada di ambang pintu, napasnya tidak beraturan. Zevila langsung bangkit dari posisi duduknya, dan menoleh ke sumber suara.


"Kak Erlan," Zevila begitu shock saat melihat lelaki tampan, bertubuh atletis itu berdiri di ambang pintu.


Erlan segera mendekatinya.


"Kamu beneran mau menikah, Zev?" tanyanya sambil memegang kedua lengannya.


Zevila mengangguk.


"Iya, aku akan menikah, aku yang dipilih sama lelaki yang seharusnya menikah dengan Vira. Kak Erlan tau dari mana kalau aku hari ini mau menikah?"


"Gak penting aku tau dari mana, yang jelas aku tidak mengizinkan mu untuk menikah dengannya. Kamu tahu, aku sudah menyiapkan semuanya untuk mu."


Zevila menggelengkan kepalanya.


"Maaf, aku gak bisa, karena aku mempunyai tujuan lain, pergilah."


"Apa katamu? pergi, kamu menyuruhku pergi setelah aku menyiapkan semuanya?"


"Maaf, aku benar-benar minta maaf, dan aku belum bisa jelaskan semuanya sama kamu. Tolong, pergilah, aku sedang tidak ingin ada orang yang aku kenal baik, menjadi saksi dalam pernikahan ku ini."

__ADS_1


"Katakan padaku, sebenarnya ada apa denganmu, Zev? pernikahan mu ini sangat menyakitkan buatku." Erlan merasa kecewa ketika mengetahui jika Zevila akan menikah dengan Razan.


"Maaf, Nona, waktunya sudah mepet. Juga, sudah ditunggu oleh Tuan Razan. Mari, Nona segera keluar dari ruangan ini," ucap salah seorang yang sudah ditugaskan untuk bertanggung jawab atas Zevila.


"Iya, Mbak, bentar lagi. Saya mohon, Mbak keluar dulu, saya masih ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan saudara saya ini."


Erlan mengernyit saat dirinya diakui hanya sebagai saudara, sangat menyakitkan, pikirnya.


"Baik, Nona, waktunya hanya sebentar," jawabnya.


Kini, tinggal lah Erlan bersama Zevila di dalam ruangan tersebut. Karena tidak ingin sesuatu yang disembunyikan, Zevila memantapkan diri untuk bicara yang sebenarnya.


"Aku menikah ada alasan tersendiri, dan yang pastinya sudah menjadi keputusan ku. Menikah dengan Razan bukanlah keinginan ku, tetapi paksaan demi rencana yang aku buat akan berhasil. Jadi, tidak ada kaitannya dengan perasaan menyukai, justru aku sangat membencinya."


Zevila akhirnya mengatakannya dengan jujur, meski belum menjelaskan tujuannya menikah dengan Razan.


"Rencana, maksud kamu itu apa, Zev?" tanya Erlan yang menyimpan rasa penasaran dan ingin tahu.


"Aku menikah dengan Razan, tidak lain hanya ingin membalaskan dendam atas kematian Papa ku, tidak lebih. Apapun akan aku lakukan, dan biar impas. Nyawa harus diganti dengan nyawa, bukan yang lainnya."


"Apa kamu sudah gak waras, ha? balas dendam lewat pernikahan? kamu pikir segampang itu, Zev? enggak! aku gak setuju dengan caramu itu. Kalau sampai kamu masuk penjara, siapa yang rugi? memangnya tuduhan kamu itu sudah benar kah?"


"Aku sudah menemukan bukti yang sangat akurat, dan aku gak akan merasa rugi untuk balas dendam, karena sudah menjadi keputusan ku untuk menyingkirkan Razan. Setelah dia mati, aku yang menang, walaupun harus berada dibalik jeruji besi sekalipun." Kata Zevila yang tidak ingin berubah pikiran.


Erlan benar-benar tidak menyangka jika Zevila mempunyai rencana jauh lebih kejam.


"Permisi, Nona, mari, Tuan sudah menunggu," ucapnya saat memanggil calon istri majikannya.


"Iya, Mbak," jawab Zevila.


Kemudian, arah tatapannya tepat di hadapan Erlan.


"Kak Erlan tenang aja, semua akan baik-baik saja. Sudahlah, Kak Erlan gak perlu khawatir, aku sudah merencanakan dari awal, jadinya sudah aku pikirkan matang-matang. Sudah sana pergi, lain waktu aku akan menghubungi Kakak," ucap Zevila meyakinkan dan mengusir Erlan.


Tidak bisa memaksakan kehendak, Erlan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Zevila, perempuan yang harus ia jaga sesuai pesan ibunya Zevila. Kedekatan Zevila seperti Kakak beradik, meski hanya anak angkat dari Tantenya Zevila lewat jalur ibunya. Juga, Erlan bagai kakak sendiri bagi Zevila.

__ADS_1


Namun, sejak kematian Tantenya, Erlan tidak lagi tinggal dimana ia dilahirkan, melainkan tinggal di negara orang. Demi mewujudkan impiannya untuk membahagiakan Zevila, dan menjaganya sesuai amanah. Namun, ketika pulang, justru kenyataan lain dari bayangannya. Justru Zevila hendak menikah, dan lebih menyakitkan lagi ketika mendengar langsung kalau tujuan Zevila menikah tidak lain hanya untuk membalaskan dendam atas kematian orang tuanya.


Takut sudah pasti, namun dirinya bisa apa? hanya bisa berharap jika semuanya akan baik-baik saja.


'Zevila, sebenarnya ada apa dengan mu?' batin Erlan sambil mundur beberapa langkah, dan pergi.


Kini, tinggal Zevila yang tengah bersama seseorang yang menjadi suruhan Razan. Kemudian, mengantarkannya calon pengantin ke tempat pengucapan kalimat sakral.


Saat sudah duduk di sebelah calon suaminya, Zevila sama sekali tidak menoleh. Arah pandangannya lurus ke depan, dan pikirannya fokus dengan tujuannya.


Razan yang merasa memaksakan kehendaknya yang memilih Zevila untuk dijadikan istri, sekilas menoleh padanya.


Sedangkan di sudut ruangan, Vira yang melihatnya, pun terbakar oleh api cemburu. Bagaimana tidak cemburu, lelaki yang disukainya justru menikah dengan saudaranya sendiri.


"Untuk apa kamu masih berdiri di sini, Vira? kamu cemburu? masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik darinya. Setidaknya jika kamu tidak bisa dapatkan Razan, kamu bisa dapatkan lelaki yang jauh lebih tajir dari Razan, atau gak setara dengannya." Kata ibunya yang tengah berdiri di sebelah putrinya.


Vira tidak menanggapinya sama sekali, dan memilih untuk pergi dari hadapan ibunya.


"Vira! kamu mau kemana?" teriak ibunya memanggil Vira.


Tidak peduli dengan situasi yang dipadati banyak para tamu undangan, Vira terus berlari.


"Aw! kalau jalan tuh lihat-lihat dong, sakit! tau." Pekik Vira penuh kesal.


"Maaf, saya tidak sengaja."


"Kak Erlan!"


Vira sangat terkejut ketika melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang.


"Vira," Erlan juga ikut menyebut namanya.


"Kak Erlan, beneran 'kan Kak Erlan?"


Vira benar-benar tidak menyangka jika lelaki yang ada dihadapannya adalah Erlan. Lebih lagi dengan penampilannya yang terlihat tampan, membuatnya terpesona melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2