
Renata membenarkan posisi duduknya, agar lebih leluasa untuk mengobrol dengan Zevila.
"Jujur aja Zev, kamu kenapa? apa sedang ada masalah? ceritakan saja sama aku, siapa tahu aja aku bisa bantu kamu. Jangan sedih gitu dong, kamu gak sendirian, masih ada aku yang siap menemani kamu suka maupun duka." Renata mencoba bertanya dan siap untuk menjadi pendengar setia, juga teman yang baik buat Zevila.
"Kamu tahu, bahwa kematian Papa aku ada yang menjebaknya, dan orangnya ikut andil dalam kecelakaan agar tidak diketahui dalangnya, menyakitkan bukan?"
"Kematian Papa kamu ada yang jebak, siapa orangnya, Zev?"
"Dia ayah dari saudara sepupunya Rivan, si Razan, bagian keluarga Wigunanta." Zevila menyebutkan namanya.
"Kamu serius, Zev, kalau yang menyebabkan kematian Papa kamu itu, ayahnya Razan? cowok dingin sedingin es batu itu?" Renata yang kaget saat mendengarnya, pun seperti tidak percaya, keluarga yang dianggap Zevila adalah keluarga baik-baik, tapi kenyataannya tidak seperti yang disangkakannya.
"Jadi, pelakunya orang terdekat sendiri? benar-benar ya, zaman sekarang penjahat itu orang yang kita anggap baik, justru bagai racun didalam tubuh kita. Terus, proses hukumannya gimana, Zev?"
Renata ikutan geram saat mendengar kebenarannya yang diucap oleh Zevila.
"Aku ingin membalaskan dendam atas kematian Papa aku lewat Razan, biar aku puas kepada mendiang Tuan Arival." Zevila tidak segan-segan untuk mengatakan sebuah rencana yang sudah ia susun setelah mengetahui siapa pelakunya.
"Apa katamu? kamu mau membalaskan dendam atas kematian Papa kamu lewat Razan? maksudnya kamu itu gimana?" tanya Rena bergidik ngeri saat mendengarnya.
"Aku akan mengambil keuntungan lewat permintaan Razan, yaitu menikah dengannya, dan di situlah misi yang aku rencanakan akan berjalan."
"Rencana dan misi, maksudnya apa, Zev?" tanya Renata kembali karena rasa ingin tahu.
"Sebenarnya Razan akan dijodohkan dengan Vira, sepupu aku, tapi Razan sendiri menolak dan maunya nikah denganku. Dari situlah aku akan mengambil kesempatan emas untuk balas dendam, dan menghancurkan hidupnya, bila perlu melenyapkannya!" jawab Zevila penuh dengan geram saat hati kecilnya tidak dapat menerima kematian ayahnya.
"Kamu beneran mau membalaskan dendam lewat Razan? kalau kamu ketahuan, gimana? apa kamu gak takut, kalau ujung-ujungnya kamu dijebloskan ke penjara? kamu yang akan rugi, Zev." Renata mencoba untuk mengingatkannya, takut jika pada akhirnya si Zevila berakhir dibalik jeruji besi.
"Gak akan! dan aku yakin rencana aku pasti akan berhasil. Menikah dengannya, dan misi langsung berjalan, bila perlu secepatnya aku lenyapkan itu si Razan." Dengan tegas, Zevila tetap dengan pendiriannya, yakni tidak akan goyah meski Renata menasehatinya.
"Kamu gak takut kah, kalau ujungnya kamu jatuh cinta dengan Razan. Ingat loh, benci dan cinta itu beda tipis, bahkan bisa dikatakan sama aja."
__ADS_1
Saat itu juga, Zevila langsung menoleh dan menatap Renata dengan tatapan yang tajam.
"Engak enggak enggak, maksudnya aku bukan untuk memojokkan kamu. Aku hanya takut nantinya kamu yang akan masuk kedalam perangkapnya, itu, ya itu, gak ada yang lain."
Mendapat tatapan tajam dari Zevila, benar-benar cukup menakutkan, pikir Renata.
'Macam psik_opat aja kamunya Zev, bikin aku jantungan aja kamu ini.' Batin Renata ada rasa takut saat kedua matanya bertemu langsung dengan tatapan dari Zevila.
"Terus, kapan nikahnya?" tanya Renata dengan berani, meski ada sedikit rasa takut saat membahas soal balas dendam.
"Aku gak tahu kapannya, tapi aku berharap dalam jangka waktu dekat ini, aku menikah dengannya. Karena aku sudah tidak sabar untuk membalaskan dendam ku lewat Razan, sepertinya akan menjadi lebih seru jika aku perlahan menyiksa dirinya."
Renata yang melihat gerak gerik tangannya seperti orang yang sedang mempraktikkan soal pemb_unuhan, membuatnya bergidik ngeri melihatnya.
"Zev, udah siang ini, kita beli makanan yuk, aku laper," Renata pun mengalihkan obrolannya lewat ajakan.
"Boleh, pesenin sekalian ya, aku mau ayam bakar aja lah, sambelnya yang pedas ya, bila perlu yang extra pedas, terus minumannya es jeruk aja."
"Oke, siap."
Zevila sendiri yang tengah duduk sendirian, kini tengah menikmati pemandangan di Danau Kemuning sambil mengingat masa lalu bersama kedua orang tuanya.
Kenangan yang sulit untuk dilupakan, yakni kebersamaan bersama keluarganya.
"Pa, aku janji, aku akan membalaskan dendam atas kematian Papa. Mendiang Tuan Arival harus menerima perbuatannya, yaitu putranya harus merasakan kepedihan yang mendalam. Aku akan segera menikah dengannya, dan secepatnya aku akan menyingkirkan dia." Gumamnya dengan geram.
"Hey, malah ngelamun, ini ayam bakar nya udah siap saji, ayo kita makan, Zev."
Renata mencoba membuyarkan lamunannya.
"Ish! apa-apaan sih kamu, ngagetin aja kamu ini. Sambelnya pedes gak nih, entar manis lagi."
__ADS_1
"Kalau manis berarti kecap, kalau pedas berarti cabe, bukan sambel. Dah tahu extra pedas, tanya lagi kamunya, hem."
"Ekhem, sepertinya lagi makan enak nih,"
Zevila maupun Renata dibuatnya kaget saat ada seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya. Lebih lagi langsung duduk di sebelahnya Zevila, tentunya sangat shock.
Karena penasaran, Zevila segera menoleh ke sebelahnya, sedangkan Renata sedikit gemetaran saat melihat siapa orangnya.
"Kamu!"
"Kenapa, kaget ya?"
"Enggak, aku gak kaget, cuma dikagetkan aja, ngapain kamu ke sini?"
Zevila mulai geram saat duduknya berdekatan dengannya.
"Tentu saja aku mengawasi calon istriku yang paling cantik ini, ngapain lagi kalau gak ngikuti kemana perginya perempuan yang sebentar lagi akan aku nikahi," jawabnya.
Zevila menelan ludahnya dengan susah payah, terasa tercekik tenggorokannya.
"A-a-aku pindah tempat aja ya, a-aku gak ingin ganggu makan siang kalian berdua, em-- di sana kok, aku duduk di sebelah sana," ucap Renata terbata-bata.
"Eeee tunggu Ren, aku ikut."
Dengan sigap, Zevila langsung ditahan untuk tidak diizinkannya pergi.
"Kamu mau kemana? ngapain sama teman kamu itu, di sini sudah ada aku yang akan menemanimu makan, sini aku suapi."
"Eeee enggak enggak, aku bisa makan sendiri. Kamu kalau mau makan, beli aja sana, ini punyaku, bukan punya kamu. Aku itu gak suka berbagi, apa lagi berbagi dengan kamu, jangan mimpi." Dengan ketus, Zevila melarang Razan untuk ikutan makan.
"Yang bener nih gak mau berbagi? nanti nyesel loh, mengabaikan seorang laki-laki tampan dan sukses seperti ku ini, Vira aja pingin jadi istriku, kenapa kamu gengsi?" ledek Razan dengan sengaja ingin membuat Zevila kesal.
__ADS_1
"Dih! kepedean banget sih kamu ini, terlalu akut kepedean mu itu, huweeek!"
Zevila dengan sengaja mengejek Razan, yakni biar segera pergi dari hadapannya.