Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 9 - LABEL IZIN


__ADS_3

______________________


Seorang laki-laki sejati itu dinilai bukan hanya dari ucapannya. Melainkan ada yang lebih, yaitu tindakannya. Jadi, berhati-hatilah untuk kaum laki-laki agar tak salah langkah baik dalam ucapan apalagi tindakan.


_____________________


—000—


Semarang, 2008


Jalanan Semarang pagi ini cukup ramai juga. Mungkin karena ini Minggu. Bangun datang menjemput Elsa ke rumahnya dengan motor matic kesayangannya. Bukan dengan mobil ala-ala laki-laki keren.


Bangun lebih memilih menggunakan hal yang sederhana dan nyaman. Seperti motor miliknya. Bukan karena Bangun anak orang tak punya. Justru karena Bangun anak dari salah satu konglomerat di Semarang. Tapi bagi Bangun tidak ada bedanya sama sekali. Mau anak konglomerat, anak presiden, ataupun anak buruh sekalipun. Baginya sama, yaitu statusnya masih anak.


Perjalanan ke rumah Elsa memakan waktu hampir setengah jam lamanya. Dan saat Bangun sampai di depan pagar rumah Elsa, ternyata Elsa sudah lebih dulu menunggunya.


“Aku lama, ya? Maaf deh,” ucap Bangun tak enak hati.


“Santai aja lagi. Aku juga baru keluar. Berangkat sekarang, yuk,” ajak Elsa.


“Eh! Bentar,” interupsi Bangun. Elsa hanya memandang Bangun dengan bingung dan bertanya kenapa.


“Kok, aku kesannya nggak gentle sih, El.”


“Nggak gentle nya karena apa?”


“Masa aku ngajak kamu nggak pamitan sama orang tua kamu,” jelas Bangun.


“Kirain apaan. Nggak apa-apa kok, lagipula aku udah izin tadi,” ucap Elsa meyakinkan Bangun.


“El, dengerin aku. Laki-laki sejati itu laki-laki yang selalu meminta izin ke orang tuanya jika mau pergi dengan anak orang. Biar aku dan kamu dapat label.”


Elsa menahan senyumnya karena ucapan Bangun. So melting intinya. Elsa meremas tali tas selempang yang ia kenakan karena ucapan Bangun membuat senang luar biasa.


Baru kali ini Elsa mendapati sosok laki-laki sejati dalam diri Bangun. Dan itu kejutan sekali untuk dirinya. It’s amazing!


“Label? Label apa?”


“Mau tau?” Elsa menganggukan kepalanya penasaran.


“Ya udah bawa aku ketemu orang tua kamu.”


“Kamu nggak takut? Nggak grogi?” tanya Elsa.


“Takut? Masih manusia juga, kan? Laki-laki sejati itu nggak kebanyakan omong tapi langsung tancap gas. Katanya tadi penasaran,” ucap Bangun semangat.


“Ya udah ayo.”


—000—


Semarang, 2008

__ADS_1


Akhirnya Elsa membawa Bangun masuk kembali ke dalam rumah untuk bertemu kedua orang tuanya. Terlihat jelas jika yang gugup justru Elsa bukan Bangun. Bangun justru nampak tenang sekali.


Berkali-kali Elsa harus menghembuskan napas tanpa harus Bangun sadari. Baru akan membuka pintu rumahnya, Elsa justru terkejut karena dari dalam sudah terbuka lebih dulu. Yang lebih membuat Elsa tambah grogi adalah, Ayahnya yang membuka pintu tersebut.


Dengan gagah berani layaknya seorang pahlawan, Bangun lekas menghampiri Ayah Elsa dan bersalaman dengan sopan. Membuat Elsa diam-diam menghela napas lega.


“Perkenalkan, Om. Nama saya Bangun. Biasa dipanggil kamu tapi jangan dipanggil sayang. Karena kalau sudah sayang, saya yang repot. Ehehehe...”


Elsa dan Ayahnya yang mendengar Bangun memperkenalkan diri hanya saling memandang terkejut. Lalu sedetik kemuadian, mereka berdua tertawa karena kalimat Bangun.


Setelah perkenalan singkat Bangun yang berakhir tawa Elsa dan Ayahnya, Ayah Elsa langsung menanyakan ada apa gerangan. Karena setahu dirinya, Elsa baru saja pamit untuk pergi bersama temannya. Tak disangka temannya justru meminta izin terhadapnya.


Teman Elsa bilang, jika mereka harus mendapat label untuk bisa pergi. Dan label tersebut adalah label izin.


Saat sedang berkeliling di sudut-sudut tempat lukisan tertempel, Bangun memecah keheningan di antara dirinya dan Elsa.


“Senang nggak, udah dapet label?”


Elsa yang semula masih terfokus pada lukisan dihadapannya menoleh ke arah Bangun yang berada di sebelah kirinya. Sembari melanjutkan langkah yang diikuti Bangun, Elsa menjawab, “Belum pernah sesenang tadi.”


Bangun hanya tersenyum mendengar jawaban Elsa. Setelah itu mereka kembali larut dalam setiap lukisan yang terpampang di dinding.


Lepas berkeliling di pameran lukisan, Elsa kembali mengajak Bangun untuk menyusuri jalanan kota Semarang. Meskipun Bangun lahir dan besar hingga usianya yang sudah enam belas tahun, tapi Bangun bahkan jarang keluar dari cangkangnya.


Mungkin sudah saatnya Bangun membuka dunianya yang baru agar hidupnya tak terlalu monoton. Dan berkat Elsa, Bangun bisa menyesuaikan dunia yang Bangun anggap baru.


—000—


Semarang, 2009


Dan ketika mereka sudah naik pangkat menjadi kelas sebelas, biasanya akan bermunculan banyak anak dengan cap anak nakal. Dan Bangun bisa dibilang termasuk dan bisa dibilang tidak termasuk.


Karena sejak SMP Bangun juga begitu. Dan di SMA kemungkinan juga sama.


—000—


Semarang, 2009


Liburan semester satu kemarin Bangun tidak seperti keluarga yang lain. Bangun memilih menghabiskan waktunya bersama Bunda Ajeng. Karena sejujurnya Bangun tidak suka berlibur, makanya Bangun selalu meminta jika sedang waktu berlibur mereka sekeluarga hanya akan menghabiskan waktu bersama di rumah.


Lagi-lagi Bangun sudah terlampau sering menghabiskan waktunya bersama Elsa. Sebenarnya tak hanya Elsa. Bersama Hadyan dan teman semasa SMP pun juga begitu.


Tapi tak sesering intensitas pertemuan Bangun dan Elsa.


—000—


Semarang, 2009


Liburan semester ganjil sudah usai dan Bangun kembali beraktifitas seperti biasanya. Mulai dari sarapan, pergi sekolah, hingga pulang sekolah.


“Pagi, Bunda,” sapa Bangun di pagi hari yang cukup cerah.

__ADS_1


“Pagi juga, boy. Sudah siap dengan harapan baru di tahun baru ini?” tanya Bunda sembari memindahkan telur dadar ke piring Bangun.


“Terlalu banyak harapan, Bun. Sampai bingung mau yang mana dulu,” jawab Bangun ala kadarnya.


“Harapan bisa bertemu Cinta lagi mungkin.”


Gerakan mengunyah Bangun seketika terhenti ketika Bunda menyebut nama Cinta. Setelah sekian lamanya Bangun tak pernah mendengar nama itu lagi. Kini di tahun yang baru, Bangun kembali mendengar orang yang justru sedang Bangun hindari.


Iya! Setelah menunggu pesan balasan dari Cinta yang pada akhirnya tak Bangun ketahui karena Bangun langsung meminta tolong pada Hadyan untuk membantu menghapus kontak dan pesan atas nama Cinta.


Hadyan sempat bertanya kenapa, tapi Bangun mengatakan tidak kenapa-napa. Tipe perempuan sekali. Sampai sekarang pun Bangun mengubur dalam-dalam rasa penasarannya tentang Cinta.


Bangun tersentak dari lamunannya kala Bunda melambaikan tangan di depan wajahnya.


“Kenapa melamun?” tanya Bunda. Bangun menggeleng sebagai jawaban dan kembali menyuap sarapannya kembali.


“Mikirin Cinta, ya?” tebak Bunda yang sialnya tepat sasaran.


“Sedikit,” jujur Bangun. Seolah membaca pikiran Bangun, Bunda Ajeng kembali meyakinkan Bangun tentang Cinta. Meskipun Bangun tidak cerita apapun soal Cinta, tapi Bunda Ajeng tahu jika diam-diam puteranya itu masih memikirkan Cinta.


“Pagi, everybody,” sapa Daddy Evan ceria. Bangun ikut membalas sapaan Daddy dan menyaksikan interaksi Daddy nya saat ia menghampiri Bunda Ajeng dan mencium kening Bunda dan mengelus kerudung Bunda pelan.


Melihat Daddy membuat Bangun teringat saat Cinta menangis. Di mana Bangun juga melakukan hal semacam Daddy tapi tidak ada ciuman di kening.


—000—


Semarang, 2009


Suasana sarapan di keluarga Bangun memang tak pernah sepi. Meskipun hanya mereka bertiga karena Bangun yang anak tunggal. Tapi rasa sepi itu justru hilang digantikan dengan hal lucu yang biasanya Daddy Evan lakukan.


“Kegiatan kamu hari ini apa, boy?” tanya Daddy Evan saat Bangun sudah menyelesaikan suapan terakhirnya.


“Paling liat Elsa latihan nari sebentar. Habis itu pulang,” jawab Bangun.


“Boy, kamu seriusan suka liat si Elsa itu nari? Kamu nggak ikutan nari juga, kan?” tanyanya penuh selidik.


“Ck... apaan, sih. Ya nggak lah. Cuma liat, kok.”


“Syukurlah. Boy, kamu tau nggak kamu perlu hal lain? Mainmu itu kurang jauh.”


“Maksudnya main yang jauh? Kayak ke tempat penguin?”


“Honey, kamu apakan anak kita. Kenapa dia kurang main begini?” tanya Daddy pada Bunda Ajeng. Bunda justru berdecak heran karena suaminya terlihat lebay.


“Boy, bukan harus tempat yang jauh buat main. Kamu harus tau, dulu waktu Daddy seusia kamu, Daddy itu termasuk pemuda yang suka dengan kebebasan. Maksudnya gini, dulu Daddy sering-sering mencari hal baru. Bukan mencoba hal yang negatif. Tapi yang positif. Seperti banyak ikut kelas tambahan, dari kelas musik, kelas memasak, kelas menjahit, dan ikut kegiatan ini itu yang Daddy aja lupa karena masih banyak yang lain.


Biar apa? Biar kita tahu bahwa hidup kita itu tidak selamanya berada di zona nyaman, boy. Intinya adalah kamu bisa pergunakan waktumu selama masih muda dan main sejauh yang kamu bisa. Perbanyak koneksi dengan dunia luar,” jelas Daddy Evan.


Bangun mendengarkan perkataan Daddy dengan seksama. Saat seperti ini merupakan saat yang langka karena biasanya Daddy Evan selalu melontarkan gurauannya. Berbeda dengan hari ini yang terlihat serius dimata Bangun.


—**000—

__ADS_1


*TBC***...


__ADS_2