Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 13 - LAIN DIMULUT LAIN DIHATI


__ADS_3

**Selamat membaca...


—000**—


Semarang, 2009


Malamnya, Bangun berniat mendatangi rumah Cinta. Rumah yang selama lima tahun ini hanya Bangun pandangi saja tanpa masuk ke dalamnya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan malam. Dan itu masih wajar untuk bertemu Cinta.


Lepas menjalankan kewajibannya tadi, Bangun langsung bergerak untuk ganti baju. Mengganti kaos kumalnya dengan kaos yang baru Bangun beli di sebuah distro satu minggu yang lalu.


Tak lupa jam berwarna hitam yang ikut Bangun kenakan, serta celana jeans selutut. Brownis yang sempat ia beli pun tak lupa Bangun bawa. Jadi karena tadi setelah mengantar Elsa ke toko roti, Bangun sekalian membeli brownis. Beruntung setelah mengantar Elsa ke rumahnya dan ia sendiri menuju rumahnya sendiri, Bangun tak terlambat untuk menjemput Cinta.


—000—


Semarang, 2009


“Mau ke mana, boy?”


Sekilas Bunda Ajeng melihat Bangun yang membawa sesuatu dan bertanya. Bangun menghampiri Bunda Ajeng yang sedang duduk santai di ruang keluarga, dengan Daddy yang nyaman merebahkan kepalanya di paha Bunda.


“Mau ke itu, Bun.” Bangun menggaruk alisnya yang tidak gatal. Bunda yang menangkap gelagat aneh dari puteranya itu seketika paham.


“Asiknya yang mau ketemu tetangga sebelah. Kangen, nih ceritanya?”


“Apaan, sih, Bunda.”


“Tetangga sebelah yang mana, honey? Yang janda muda itu?” Daddy bertanya dengan mata masih memejam.


“Ooh! Jadi sekarang tau banget ya, sama janda sebelah. Bagus itu. Bagus!” Bunda tiba-tiba sewot karena ucapan Daddy tentang janda sebelah.


Bangun hanya geleng-geleng melihat kedua orang tuanya mulai berdebat. Kali ini sepertinya Bunda sedang cemburu berat dengan Daddy. Dan bisa Bangun pastikan jika sepulang Bangun dari rumah Cinta, Daddy pasti tidak tidur bersama Bunda Ajeng. Daddy Evan akan beralasan ingin tidur bersama Bangun. Padahal kenyataanya Daddy tidak diperbolehkan tidur bersama Bunda.


—000—


Semarang, 2009


Malam kali ini terasa berbeda dengan malam-malam yang lalu bagi Bangun. Bangun merasa malam ini langit sedang senang. Bintang-bintang bertaburan di langit dan angin malam ini bukannya membuat dingin tapi justru terasa menyegarkan.


Bangun mengamati sekeliling rumah Cinta. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak bermain di sini. Semua ini seperti baru bagi Bangun. Lalu tangannya mengayun untuk mengetuk pintu berwarna abu-abu di depannya.

__ADS_1


Tidak sampai semenit pintu sudah dibuka. Menampilkan Mama Jena dengan balutan kerudung abu-abunya. Kalau boleh Bangun berpendapat, Mama Jena adalah Bunda kedua bagi Bangun. Rasanya nyaman saja jika bersama Mama Jena.


“Halo, tante.” Bangun bingung mau menyapa seperti apa. Mau panggil Mama lagi tapi karena lama tidak berjumpa takutnya Mama Cinta keberatan.


“Eh, Bangun. Bangun sehat?”


“Seperti yang tante lihat. Hehehe...”


“Kok, tante? Ini Mama Jena, Mamanya Cinta tau.”


“I—iya maksudnya itu.”


“Udah ah, jangan panggil tante. Telinga Mama jadi tercemar kamu panggil kaya gitu. Eh! Ayo masuk dulu.” Mama Jena membawa Bangun masuk.


Kedatangan Bangun juga sudah Mama Jena nantikan. Dan melihat Bangun main ke rumah saat Bangun kecil membuat Mama Jena tahu kalau Bangun sudah pasti ingin bermain bersama Cinta.


Sebelum Mama Jena mengantar Bangun ke kamar Cinta, Bangun sempat menyerahkan brownis yang kebetulan juga menjadi makanan kesukaan Mama Jena.


—000—


Semarang, 2009


“Cinta! Buka pintu. Ada tamu, nih,” teriak Mama Jena saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar Cinta.


“Tamu sia—” ucapan Cinta terhenti karena ada sosok Bangun yang ternyata sedang memandangnya saat dirinya baru membuka pintu.


Cinta masih diam memandang Bangun yang sekarang entah mengapa ketampanan Daddy Evan makin terlihat menurun ke Bangun. Bangun bergerak maju ke arah Cinta dan mendekatkan wajahnya untuk meneliti wajah Cinta.


Tangan Bangun terangkat ke sisi wajah Cinta. Perlahan tangannya mulai bergerak untuk membenarkan posisi kerudung yang Cinta kenakan. Cinta semakin tenggelam saja hanya karena perlakuan kecil Bangun.


“Selesai.” Cinta langsung mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepala pertanda ia sudah sadar akan kemanisan yang Bangun berikan. Cinta mengangkat tangannya ke kerudung yang ia kenakan. Baru sadar jika ia memakai kerudung terburu-buru dan akhirnya melenceng dari posisinya.


Bangun memandang heran Cinta yang tiba-tiba tersenyum tanpa alasan. “Ciye.. yang apelin aku.” Bangun hanya mendengus dan berlalu dari hadapan Cinta dengan menggeser bahu Cinta yang menghalanginya.


“Pintunya jangan ditutup.” Cinta patuh pada Bangun dan segera mengikuti laki-laki itu dari belakang. Bangun sendiri sudah tenggelam dengan suasana kamar milik Cinta.


Rasanya tak jauh berbeda saat dulu Bangun bermain dengan Cinta di kamar. Hanya perubahan cat dinding yang sekarang terlihat lebih segar. Membuat Bangun ingin berlama-lama di sini.


Cinta sendiri sudah membiarkan Bangun menjelajahi kamarnya. Cinta memilih asik kembali dengan dunianya yang sempat tertunda. Yaitu mengisi Teka-Teki Silang yang sempat dibelinya sebelum pindah ke Semarang.

__ADS_1


“Ta, laptopnya udah penuh, nih. Nggak dicabut?” Bangun bertanya saat melewati meja belajar Cinta.


“Aku nggak berhak. Yang berhak cabut ya malaikat. Aku kan, cuma manusia biasa.” Cinta menjawab tak acuh.


Bangun mengendikan bahu tak acuh. Semakin ke sini Bangun dibuat bingung dengan jalan pikiran Cinta. Apalagi jawaban aneh dari Cinta.


—000—


Semarang, 2009


Bangun menyusul Cinta dan ikut duduk di sebelah Cinta yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Bangun duduk tepat di kursi samping Cinta yang berada di balkon kamarnya.


Bangun jadi teringat ketika mereka suka bermain di dalam kamar ini, Bangun dan Cinta tidak diperbolehkan untuk membuka pintu penghubung antara balkon dan kamar Cinta. Sampai pernah Cinta merengek karena benar-benar ingin bermain bersama Bangun di area balkon.


Bangun tersentak karena ada sesuatu yang terasa menusuk-nusuk pipinya. Bangun menoleh ke arah Cinta dan mendapati jika Cinta yang ternyata tersenyum dengan memamerkan gigi dan pensil yang masih berada di dekat pipinya.


“Cinta mau minta maaf.” Cinta menghadap Bangun dan berkata seperti itu dengan serius.


“Untuk?”


“Balasan pesan.” perkataan Cinta membawa Bangun kembali saat Bangun merasa ada yang salah dengan hatinya saat itu. Merasa nyeri hanya karena balasan dari Cinta yang singkat, padat dan tidak jelas untuk dirinya.


Sampai-sampai Bangun harus meminta tolong Hadyan untuk mengecek apakah ada balasan dari Cinta atau tidak dan juga menyuruh menghapus chat bahkan nomor telepon Cinta.


Cinta menunggu dengan gelisah. Saat akan kembali berbicara, Bangun memandang Cinta sejenak dan menghela napasnya.


“Oke.”


Jawaban Bangun membuat Cinta mengernyit heran. “Segampang itu?” tanya Cinta.


“Terus kamu mau aku kasih jawaban lebay bin alay?”


“Nggak gitu. Tapi, kamu nggak penasaran kenapa aku balas kayak gitu?”


“Sedikit.”


Banget!


Memang mulut dan hati terkadang tidak sejalan. Memang dasarnya manusia.

__ADS_1


—**000—


*to be continued***...


__ADS_2