
Selamat membaca...
__________________
Ada dua tipe orang yang sedang jatuh cinta. Pertama, diam-diam hanya menyimpan rasa. Dan yang kedua, terang-terangan menunjukkannya
__________________
Semarang, 2009
Bel pulang berbunyi, Bangun segera bergegas keluar dari kelas menuju parkiran. Tadi Bangun sempat diajak Elsa untuk menemaninya ke toko roti langganannya dan Bangun mengiyakan.
Karena takut Elsa menunggu lebih lama akhirnya Bangun segera bergegas menunggu Elsa di parkiran. Cinta yang melihat Bangun tergesa pada akhirnya memilih mengikuti Bangun. Tadinya Cinta berniat untuk ikut Bangun pulang karena ia masih belum hapal jalanan menuju rumahnya.
Dari kejauhan Cinta melihat Bangun yang sedang berdiri sembari mengutak-atik ponselnya. Belum sempat Cinta menghampiri, sudah datang sesosok perempuan dengan rambut panjangnya. Ini bukan kuntilanak meskipun berambut panjang.
Cinta menghentikan langkahnya yang sebenarnya tinggal beberapa meter dari tempat Bangun berdiri. Cinta melihat mereka saling melempar senyum dan terlibat percakapan sebentar. Barulah mereka mulai melangkahkan kaki bersisian.
Cinta yang melihat itu segera mencegat Bangun. Langkahnya dipercepat hingga bisa menyusul Bangun dan segera menarik lengan hoddie yang Bangun kenakan. Otomatis Bangun terkejut dan menghentikan langkahnya. Begitu pun perempuan di sebelah Bangun.
“Aku ikut,” ucap Cinta tanpa basa-basi.
Bangun terkejut mendapati Cinta yang ternyata menghentikan langkahnya. Bangun lupa jika Cinta satu sekolah bahkan satu kelas dengannya. Karena setelah meninggalkan Cinta di kelas, Bangun di kantin bersama Elsa. Setelah masuk kelas pun, Bangun tak mendengar suara Cinta. Bahkan hingga bel pulang berbunyi.
“Ini siapa, Un?” tanya perempuan di sebelah Bangun.
“Oh, iya. Kenalkan, El. Ini Cinta murid baru di kelas.” Bangun mengenalkan Cinta pada perempuan yang tak lain adalah Elsa.
Elsa mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Cinta. Dan disambut balik oleh Cinta.
“Halo, Cinta. Kenalkan aku Elsa.”
“Hai, juga. Aku Cinta teman dekatnya Bangun. Bukan sekedar anak baru di kelas.” Cinta memperkenalkan dirinya sembari tersenyum. Membuat Bangun memutar bola mata jengah. Cinta terlalu berlebihan. Begitu pikirnya.
“Dekat dari Hongkong,” cibir Bangun.
“Oh, gitu nggak mau ngakuin aku sama pacarmu. Nggak ingat apa, kalau dulu kita sering—” Cinta menggantung ucapannya sembari menanti reaksi Bangun dan Elsa.
“Kalian dulu sering ngapain?” tanya Elsa penasaran.
“Elsa bukan pacar, Cinta. Terus apaan, tuh dulu kita sering ngapain? Jangan ngomong yang aneh, deh. Nanti orang pada salah paham,” kesal Bangun.
Bangun kira setelah bertemu dengan Cinta yang sekarang sifat menyebalkan Cinta sudah hilang. Ternyata bertambah parah. Dan ini apa coba? Kenapa bisa Cinta mengatakan jika Elsa adalah pacarnya.
__ADS_1
“Ya, sering itu,” ambigu Cinta.
Elsa tertawa mendengar jawaban Cinta. Sembari tertawa diam-diam hatinya takut dengan jawaban yang akan Cinta lontarkan.
“Intinya sering, deh,” tambah Cinta.
“Sering apaan, sih?” Bangun heran dengan jalan pikiran Cinta.
Kemudian Cinta mendekat ke arah Bangun dan menyuruh Bangun untuk menunduk sedikit. Cinta membisikkan sesuatu ke telinga Bangun yang berakhir dengan mata Bangun yang membulat karena bisikan Cinta.
Bangun seketika menegakkan tubuhnya, lalu beralih menggandeng tangan Elsa menjauh dari Cinta. Bangun reflek menghindar dari Cinta. Takut jika Cinta membocorkan rahasianya.
—000—
Semarang, 2009
Bangun meninggalkan Cinta tanpa sepatah kata. Membuat Cinta bertanya-tanya apa dirinya sudah keterlaluan. Tapi rasanya tidak sama sekali.
Lalu sekarang apa? Bagaimana caranya Cinta pulang hari ini? Kepindahan yang baru semenjak tiga hari yang lalu membuat Cinta belum sempat menghapal jalanan Semarang. Niat dirinya untuk ikut bersama Bangun harus pupus karena Bangun sudah pergi dengan pacarnya.
Ralat—teman dekat yang pasti kalau Cinta tebak jika si perempuan menyukai Bangun. Sedikit membuat Cinta sebal karena ada perempuan lain selain Cinta yang bisa jadi orang spesial.
Memang dirinya spesial? Cinta juga meragukan itu. Ah! Tapi masa bodoh. Sejak dulu Cinta yang bersama Bangun. Jadi, Cinta pasti spesial untuk Bangun.
—000—
Semarang, 2009
Cinta menimbang-nimbang apakah dirinya meminta bantuan saja. Dia masih murid baru. Masih terlalu sungkan sebenarnya. Ingin menghubungi Ayahnya. Tapi itu pilihan yang kurang baik. Ayahnya juga baru beberapa hari mengurus kepindahan pekerjaannya. Jadi pasti masih sangat sibuk.
Meminta tolong Mama Jena bisa saja. Tapi tadi Mama Jena berpesan agar dirinya ikut pulang bersama Bangun saja. Biar sekalian menghapal jalan menuju rumahnya. Dan sekarang Bangun justru pergi dengan orang lain.
Cinta melihat sekilas jam tangannya. Mungkin Cinta harus mencoba sensasi baru menaiki angkutan umum dengan modal tak tahu arah jalan pulang. Pasti sangat mendebarkan.
Setelah lima menit menunggu angkot datang lagi, Cinta melihat ada angkot yang akan melintas. Cinta sudah bersiap masuk saat ranselnya tertarik ke belakang. Cinta kira ada orang yang ingin masuk terlebih dulu sehingga sengaja membuat dirinya masuk terakhir. Nyatanya Cinta salah menuduh.
“Dia nggak jadi naik, Pak.” Cinta mengalihkan pandang ke sumber suara. Dirinya terkejut melihat Bangun yang sudah berada di sisinya.
“Nggak! Aku mau coba naik angkot.” Cinta masih berusaha masuk ke dalam. Tapi lagi-lagi ranselnya ditarik mundur. Dan Bangun juga berkata kembali jika Cinta tidak jadi naik. Setelah meyakinkan supir angkot, Bangun menyeret ransel yang Cinta kenakan.
“Lepasin, ih.” Cinta melepas tangan Bangun yang setia di ranselnya.
“Ayo pulang,” ajak Bangun.
__ADS_1
“Ke mana?”
“Ya, ke rumah, Cinta.”
“Rumah masa depan kita belum kamu bangun. Kalau-kalau kamu lupa.”
Kenapa diam-diam perasaan kesal Bangun perlahan menguap? Apa karena perkataan Cinta? Walaupun dirinya seringkali marah dan kesal pada Cinta, bahkan sejak mereka masih kecil. Tapi entah kenapa hanya sekejap saja. Setelah itu, Bangun akan terbiasa.
“Sejak ninggalin aku, kayaknya otak kamu ketinggalan setengah. Makanya omongannya ngelantur.”
“Sebenarnya bukan cuma otak, sih yang ketinggalan waktu itu.”
“Apa?” Bangun mengangkat sebelah alisnya.
“Hati aku juga ikut ketinggalan di sini.” Cinta menunjuk dada Bangun.
“Cih! Gombal terus. Makan tuh, gombalan. Pacarmu pasti banyak gara-gara gombalanmu.”
“Pacar? Kan, kamu calon pacar sekaligus calon imamku nanti. Kamu lupa?” Cinta melotot terkejut.
“Udahlah. Ayo pulang!”
Bangun membawa Cinta untuk pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan Bangun baru mengingat alamat rumah Cinta.
“Rumah kamu di mana?” tanya Bangun membuka kaca helm dan memelankan sedikit laju motor.
“Enggak aku bawa. Kenapa?”
“Alamat rumah kamu, Cinta. Serius kenapa sih?”
“Kan, harusnya kamu yang seriusin aku. Gimana, sih.”
“Tau, ah.”
“Ciye, yang kesel. Rumahku masih sama.”
“Enggak pindah? Aku kira rumahnya dijual.”
“Enak aja. Rumah bersejarah itu kalau kamu lupa.”
Bangun tidak menanggapi. Hanya menambah kecepatan motornya agar cepat sampai. Untuk pertama kalinya setelah kurang lebih lima tahun mereka tidak bertemu, kali ini mereka berdua bisa sejenak menikmati waktu berdua.
—**000—
__ADS_1
To be continued**...