
______________________
Katanya ada banyak jalan menuju Roma. Lantas, apakah ada jalan untuk mengembalikan kenangan lama yang bahkan sudah terkubur begitu lama dan dalam?
_____________________
—000—
Semarang, 2005
Memasuki tahun ajaran baru saat Sekolah Menengah Pertama ternyata membuat Bangun kesulitan beradaptasi. Bangun bingung bagaimana cara memulai berkenalan dengan teman baru.
Dari dulu selalu Cinta yang memulai, dan secepat itu pula Bangun bisa menyesuaikan keadaan. Berbanding terbalik dengan keadaanya sekarang.
Lagi-lagi pikirannya kembali ke tetangga rumah sebelah. Saat mengetahui Cinta sekeluarga pindah pun, Bangun bingung sendiri. Ia merasa tidak punya teman.
Saat sedang sarapan di hari Senin pagi, sesaat sebelum berangkat untuk mengikuti serangkaian acara untuk murid baru, Bangun memberanikan diri bertanya pada Bunda.
“Bun,” panggil Bangun pelan. Yang dipanggil hanya diam. Iya lah! Orang Bangun memanggil Bunda seperti orang yang berbisik.
“Bunda!” kali ini Bunda menoleh.
“Kenapa? Mau nambah lagi telurnya?”
“Nggak, kok. Aku cuma mau nanya sama Bunda tadi,” jawab Bangun.
“Nanya apa, boy?”
“Itu... Aku kapan punya ponsel, Bun? Kan, sekarang aku udah SMP gitu, kan, ya.”
Bunda mengernyitkan dahi, kemudian berucap, “lah itu, yang warna pink dalam kotak bukan punyamu, kah?” seketika Bangun terkejut.
“Kok, Bunda main buka-buka punyaku, sih? Itu, kan pribadi tau,” sungut Bangun. Bangun heran dengan Bundanya, setiap kali ia menyimpan sesuatu pasti Bundanya seperti memiliki antena tak kasatmata sehingga tahu jika Bangun mempunyai sesuatu yang menurutnya penting.
Sedangkan Bunda Ajeng hanya cengengesan tak jelas. “Bunda nggak sengaja kali, boy. Lagipula warna nya lucu gitu. Kan, gemes tau.” dasar Bunda. Paling bisa memberikan pembelaan.
“Emang kenapa, sih? Lagipula tugas anak SMP ngga seberat Menengah Atas. Kalau Bunda belikan pas kamu kelas tiga, gimana? Mau nggak,” tanya Bunda.
Bangun ragu untuk menjawab. Kalau ia minta sekarang pasti akan ditanya macam-macam. Padahal, kan niat Bangun untuk sesuatu yang urgent menurutnya.
“Belikan sekarang juga nggak apa-apa, kok honey. Asalkan baby boy tetap juara, ya nggak boy?” Daddy Evan tiba-tiba ikut menyahuti.
“Jangan dulu lah. Lagian kalau ada tugas semacamnya aku masih bisa bantu kok. Aku, kan udah lulus SMP. Nggak gaptek juga, kok.” tiba-tiba Bunda jadi sewot. Padahal yang dijadikan topik perdebatan hanya diam saja.
Bangun hanya diam memandang kedua orang tuanya berdebat. Bangun jadi heran kenapa Daddy nya selalu menyela pembicaraan dirinya dan juga Bunda. Tapi bagus juga, sih kalau kata Daddy mau dibelikan ponsel.
—000—
Semarang, 2005
__ADS_1
Setelah selesai sarapan tadi, Bangun berangkat dengan diantar oleh Bunda. Tadinya Daddy Evan juga mengotot untuk ikut mengantarkan Bangun. Tapi langsung Bangun tolak mentah-mentah.
Karena sudah pasti Daddy Evan hanya ingin mencuri waktu agar bisa bersama dengan Bunda. Dan Bunda pun setuju dengan alasan Bangun. Daddy Evan berangkat dengan cemberut. Daddy Evan mengatai Bunda pelit karena tidak mengizinkan untuk ikut.
Bukannya kasihan, Bunda justru berkata jika Bunda enggan untuk berbicara pada Daddy dan ancamannya berhasil meskipun ada rasa tidak rela yang Daddy Evan tampilkan.
Setengah tujuh Bunda mengantarkan Bangun ke sekolah baru dengan menggunakan motor. Tak lupa Bunda menyerahkan helm pada Bangun agar Bangun kenakan. Kata Bunda Ajeng, kepala juga perlu dilindungi dengan helm. Selain untuk melindungi kepala, kata Bunda Ajeng juga bermanfaat untuk membantu perekonomian tukang jual helm.
Bangun hanya mengangguk saja sok tahu.
—000—
Semarang, 2005
Sampai di depan gerbang sekolah Bangun turun dari motor dan melepas helm di ikuti Bunda. Setelah itu Bangun pamit untuk masuk ke dalam. Tapi belum sempat melangkah, Bunda justru menggandeng tangan Bangun.
“Bunda kenapa gandeng-gandeng?”
“Ya Bunda mau antar kamu ke dalam lah.”
“Nggak, ah. Bangun malu. Belum juga Bangun punya temen, terus nanti pasti diledekin. Tambah nggak punya temen nanti.”
“Udah. Tenang aja. Nanti Bunda bantu cari, deh. Ayo masuk.”
Bangun mau tidak mau menurut. Meskipun agak ragu, karena nampaknya murid baru tidak ada yang diantar hingga ke dalam sekolah seperti dirinya.
Kemudian Bunda membawa Bangun menuju murid baru yang tengah duduk sendirian. Senyum Bunda bertambah lebar saat Bunda memperkenalkan pada murid baru berjenis laki-laki.
Murid tersebut masih diam memandang Bunda Ajeng dan Bangun secara bergantian. Barulah setelah itu ia membalas sapaan Bunda Ajeng.
“Kenapa tante?”
“Jangan panggil tante. Panggil aja Bunda. Oke?”
“Tapi Bundaku ada di kuburan tante.”
“Ooh... lagi bersihin kuburan siapa memang?”
“Bukan bersihin kuburan tante. Tapi yang dikubur. Yang di dalam tanah.”
Ucapan anak laki-laki tadi membuat Bangun dan Bunda Ajeng saling menatap horror. Mereka berdua kira si anak laki-laki tadi bercanda. Tapi setelah memastikan kembali nyatanya itu benar. Untuk mengusir rasa canggung karena Bunda Ajeng melihat ada sorot kesedihan di mata anak kecil tersebut, Bunda Ajeng beralih menanyakan namanya.
“Namaku Hadyan Sentosa tante.”
—000—
Semarang, 2005
Setelah beberapa minggu yang lalu, Bangun meminta ponsel yang berujung tidak jadi. Bangun akhirnya harus menahan rasa penasaran hingga dirinya memasuki kelas tiga nanti.
__ADS_1
Tak apa, mungkin belum saatnya ia bisa mengetahui kabar Cinta. Yap! Tadinya Bangun ingin meminta dibelikan ponsel ya itu, karena ia ingin tahu kabar Cinta.
Cinta benar-benar ingin menghukum dirinya sepertinya. Buktinya, Cinta tidak ada kabar sama sekali. Padahal Bangun yakin jika Bunda Ajeng dan Mama Jena masih saling bertukar kabar. Masa Cinta tidak ada kabar sama sekali. Kan, menyebalkan.
—000—
Semarang, 2006
Setahun yang lalu, Bangun mungkin masih merasa bergantung dengan Cinta. Seakan-akan ia tak bisa hidup tanpa Cinta. Meskipun pada kenyataanya Bangun masih bisa hidup.
Ah, bukan. Lebih tepatnya sesaat setelah Cinta pergi dan Bangun tak melihat Cinta .
Di tahun kedua Bangun bersekolah, dirinya hanya fokus dengan pelajaran yang diberikan serta beberapa ekstrakurikuler yang Bangun ikuti. Kata Bangun, dirinya harus bisa mengalihkan dunianya dari Cinta..
Ternyata pengaruh tetangga rumah sebelah begitu mengakar kuat pada dirinya.
Saat sedang melamun seperti ini, terkadang Bangun masih teringat Cinta. Meskipun hanya sebentar.
“Bangun tidur ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi...” Bangun sungguh terganggu dengan suara milik Hadyan. Bangun hanya menoleh dengan tatatpan datarnya. Barulah Hadyan menghentikan konsernya.
“Hehehe... udah bangun, toh?” tanya Hadyan tak jelas.
“Apa, sih?! Bangun dari apa?”
“Bangun dari ngelamun maksudnya. Gitu aja nggak paham-paham gimana, sih. Pantesan sama perasaan orang lain gagal paham terus,” oceh Hadyan.
“Maksudnya?” tanya Bangun heran.
“Masa harus dikasih tau dulu, sih. Noh, liat arah jam dua. Si ratu keraton lagi curi-curi pandang terus sama dirimu. Masih mending kalau aku ikut dilirik. Lah, ini aku bagaikan remahan rempeyek kacang. Meskipun enak, sih rempeyek nya,” ucap Hadyan.
Bangun kemudian mengalihkan pandangannya dari sedotan es teh ke arah jam dua sesuai instruksi Hadyan. Dan di sana terlihat bidadari keraton yang benar-benar indah.
Namanya Sephia Elsa Nayara Rengganis. Murid terlembut yang Bangun ketahui dari orang-orang. Ya, memang, sih kalau dilihat-lihat perilakunya, tutur katanya mencerminkan perempuan sekali. Idaman Bangun sebenaranya.
Bangun hanya tersenyum melihat Elsa yang sedang menatap malu-malu ke arahnya.
“Masih nggak sadar juga?” bisik Hadyan membuat Bangun menatap horror karena terkejut. Sedangkan Hadyan hanya bermuka datar.
“Sadar kenapa, sih? Aku nggak kesurupan, kok,” jelas Bangun.
“Ck... itu si ratu keraton naksir kamu. Peka dong jadi manusia.”
“Mana mungkin, lah. Aku, kan nggak jelek.”
“Dih! Narsis banget. Iya, tau, kok yang ngerasa nggak jelek tapi ganteng, deh.”
“Tapi seriusan, deh. Coba deketin, gih. Lumayan bisa buat story untuk anak cucu di masa depan,” ucap Hadyan menambahkan.
—**000—
__ADS_1
*To be continued***...