Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 6 - INI UJIAN


__ADS_3

Jangan lupa makan ya. Biar bisa mikirin aku lagi. Ehehehe...


Itu kalau dia lagi bahagia pasti kirim pesan kaya begitu. Itu tuh, yang buat tenagaku berasa nambah lagi kalau baca pesannya.


Tapi hari ini aku tidak mendapati satu pesan pun. Aku sengaja tidak menguhubungi dia karena aku juga ingin diperhatikan.


Ini tuh kayak kebalik gitu. Biasanya perempuan yang apa-apa inginnya selalu diperhatikan. Tapi aku itu laki-laki yang langka dong. Aku ini berbeda dari laki-laki kebanyakan. Hohoho...


Calon ibunya anak-anak calling...


Panjang umur. Akhirnya yang ditunggu-tunggu telepon juga. Hatiku rasanya loncat-loncat. Perutku kayak diaduk-aduk geli gimana gitu. Badanku kayak cacing kepanasan gara-gara lihat siapa yang nelepon.


Bukannya segera diangkat, aku justru senyum-senyum memandang layar ponsel yang berkedip-kedip menampilkan nama si penelepon. Untungnya di ruangan aku sendirian. Coba kalau ada Daddy pasti diledekin.


Baru mau diangkat, tapi sambungan teleponnya diputus duluan. Aku hanya cemberut memandang layar. Ah! Ini sih gara-gara tingkahku barusan. Jadi belum sempat dengar suaranya, kan. Dasar aku!


Beberapa menit aku masih menunggu dia telepon lagi. Pengin aja dicariin sama dia. Ehehehe...


Baru mau meletakkan ponsel, tiba-tiba layar ponselku menampilkan nama penelepon yang sama. Tidak mau buang waktu lagi dan tanpa banyak tingkah, aku langsung geser ke tombol hijau.


“Assalamu’alaikum, Kiran. Tadi—”


“Jangan panggil Kiran, ih! Berapa kali sih aku bilangin juga. Kamu mau ngobrol sama eyang apa gimana, sih?!!”


Buset, dah. Telingaku kaget saudara-saudara. Gila ini sih! Suaranya mirip kaya Bunda Ajeng.


“Salamnya mana?” tanyaku tenang. Kudengar dia menghembuskan napas. Mungkin kesal sama aku, ya?


“Wa’alaikumsallam. Kamu tuh gimana sih! Jangan panggil namaku Kiran. Aku bukan eyang, tau!”


Gila!! waktu ngucap salam aja lembut. Nyatanya dia masih marah. Duh! Sebenarnya bukan tanpa alasan aku panggil dia Kiran. Tapi, kan itu cuma nama kesayangannya aku ke dia.


Tapi dia sensitif gitu kalau aku panggil Kiran. Soalnya nama Kiran itu juga nama kakeknya. Hehehe...


“Iya. Maafin aku ya?


“Ada syaratnya tapi.”


“Apapun syaratnya, bakal diusahain, deh,” pintaku.


“Oke. Syaratnya kamu cuma jawab pertanyaan yang aku kasih dan enggak boleh sampai salah. Awas aja kalau jawabannya salah. Enggak mau aku nikah sama kamu.”


Ya allah calon bini tega nian. Ancamannya ternyata enggak main-main.


“Hah? Kok gitu sih. Kejam banget syaratnya begitu,” protesku.


“Ya udah, kalau enggak mau. Aku tutup aja deh. Kamunya malesin. Enggak seru.”


Buset, dah! Masa gitu banget, sih. No! No! No! Aku enggak bakalan mau kalau dia enggak jadi isteriku.


“Jangan ditutup dong. Iya, aku bakal jawab yang bener, deh. Ya udah mana-mana pertanyaannya biar langsung ku jawab.”


“Dengerin baik-baik. Pasang telinganya. Pertanyaannya yaitu ada tiga laki-laki yang mau bilang kangen sama aku. Namanya Aka, Aku, sama Aki. Terus Aka sama Aki enggak berani bilang. Jadi, yang berani bilang kangen ke aku siapa?”


“Itu siapa, sih si Aka Aka itu. Berani banget deketin kamu,” Aku seketika emosi dengar nama laki-laki lain disebut-sebut.


“Itu cuma contoh ya ampun. Jadi apa jawabannya?”


“Oh, contoh. Bilang dong. Bentar-bentar aku mikir dulu.”


Aku kembali mengingat-ingat pertanyaanya.


“Aku tahu jawabannya apa. Pasti benar. Ini soal gampang banget.”

__ADS_1


“Masa? Kalau tau apa coba jawabannya?”


“Yang kangen sama kamu ya berarti Aku. Benar, kan?”


“Ciye... yang kangen sama aku.”


—000—


Semarang, 2007


Bangun H


Cinta, aku kangen...


Belum sempat Bangun menghapus kata yang sempat ia tulis, Bunda Ajeng membuka pintu membuat Bangun terkejut bukan main. Alhasil, Bangun tak sengaja menekan tombol kirim.


Bangun seketika panik. Bunda yang melihat Bangun panik langsung ikut mendekat.


“Kenapa boy?” tanya Bunda langsung.


“Bun, tolongin Bangun. Ini pesannya bisa dihapus, kan?” Bangun panik bukan main. Ia tidak berniat mengirim pesan itu sama sekali. Itu hanyalah refleks dirinya tadi.


Bunda langsung mengambil alih ponsel yang disodorkan Bangun, lalu membaca pesan yang Bangun kirimkan.


Bangun harap-harap cemas menanti jawaban Bunda. Bangun juga melihat Bunda yang nampak tak bisa menahan tawanya.


“Bunda kenapa, sih?”


“Kamu seriusan kirim pesan kayak gini?”


“Hah? Pesan ap—” Bangun seketika merebut ponsel yang ada di tangan Bunda.


“It... itu aku bukan mau ketik itu. Tapi tadi Bunda ngagetin aku, jadinya kekirim. Bisa dihapus, kan, Bun?” tanya Bangun memastikan.


Aku langsung tersenyum lebar mendengar jawaban Bunda. Maklum aku masih agak bingung sama isi ponselnya. Di tambah tadi panik.


Sebelum aku mengutak-atik pesanku, Bunda menyela, “tapi tandanya udah centang dua, tuh,”.


Hah? Centang dua itu artinya udah kekirim, kan?


“Eh coba liat sebentar. Ini juga udah centang biru. Asik pesannya udah dibaca sama pujaan hati.” Bunda Ajeng menggoda Bangun sembari mencolek dagu Bangun.


“Ih! Bunda apaan sih!” Bangun sontak menepis tangan Bunda. Bangun merasa seperti anak gadis yang ketahuan sedang jatuh cinta saja.


“Boy! Boy! Itu Cinta lagi mengetik itu.” Bunda langsung heboh waktu melihat Cinta sedang mengetikkan pesan.


Seketika Bangun jadi tambah panik. Lagipula percuma juga jika dihapus, karena pesannya juga sudah dibaca. Bangun langsung duduk selonjor di atas karpet. Terlihat sekali jika Bangun sedang 3L alias Letih, Lesu, Lemas.


“Eh! Bunda kayaknya mau buat susu buat Daddy dulu. Bunda ke bawah ya,” pamit Bunda.


“Bilang aja enggak mau bantuin aku. Pakai acara buat susu segala. Daddy enggak suka susu, Bunda. Dia sukanya teh tawar,” balas Bangun telak.


Tetapi yang namanya Bunda Ajeng mana mungkin langsung menyerah. Bunda Ajeng akan memberikan berbagai macam alasan agar Bangun bisa mengatasi Cinta.


—000—


Semarang, 2007


Cinta


Siapa ya?


13.47

__ADS_1


Setelah Bunda pergi dari kamar, Bangun memandang dengan nanar pesan dari Cinta yang sudah masuk namun belum berani Bangun buka.


Dari sekilas saja Bangun tahu jika Cinta tak mengenali dirinya. Buktinya dia tidak langsung heboh seperti masih kecil.


Tiba-tiba pikiran Bangun terlintas ke masa Bangun dan Cinta kecil. Siapa tahu jika Bangun mengingatkan Cinta, Cinta bisa ingat dengan dirinya.


Bangun seketika seperti mendapat kekuatan tak kasatmata. Segera saja ia membuka pesan dari Cinta yang dibalas lebih dari lima menit yang lalu.


Bangun H


Cinta, ini aku. Bangun. Inget kan?


13.52


Tetangga rumah sebelah kamu dulu


13.53


Sembari menunggu balasan dari Cinta, Bangun berpikir untuk mengambil topik apa untuk bahasannya dengan Cinta.


Cinta


Ooh


14.00


Hati Bangun meluruh saat melihat balasan dari Cinta. Pikiran mengenai masa lalu mereka yang sudah siap Bangun rencanakan untuk bahasan mereka pada akhirnya buyar sudah.


“Kok hatiku nyeri ya? Apa kena mag?” gumam Bangun.


Bangun sendiri jadi bingung mau balas apa lagi. Bangun menghela napas panjang. Entah mengapa hatinya sedikit nyeri membaca balasan singkat dari Cinta.


Bangun H


Kamu kapan balik semarang? Aku pengin main bareng lagi


14.07


Eh kamu gimana kabarnya? Kok enggak pernah hubungi aku:-(


14.07


Sedikit berharap boleh, kan? Begitu pikir Bangun. Bangun rela merendahkan egonya demi Cinta. Demi tahu kabar Cinta.


—000—


Sewaktu Kiran kasih ancaman ke aku, aku sebenarnya takut gitu. Enggak bisa dan enggak mau ngebayangin kalau Kiran benar-benar menyudahi hubungan yang terbilang bukan main-main.


Tetapi setelah kupikir-pikir lagi, aku tau jika dia sedang mengujiku. Dan bersyukurnya diriku aku tau dia seperti apa, makanya aku akan meladeninya.


Setelah setengah jam telepon kami usai, aku justru masih termangu dengan isi percakapan kami di telepon. Aku enggak menyangka jika aku yang notebene seorang laki-laki justru sering mendapatkan gombalan receh dari dia.


Bukan aku tak pandai merayu. Hanya saja belum saatnya. Alias belum waktunya. Tinggal tunggu tanggal main pasti aku akan melihat rona merah dipipinya. Huh! Rasanya menyenangkan sepertinya.


Oke stop!


—000—


To be continued...


A/N : Semoga suka dan jangan lupa tinggalkan jejak ya...


Jangan cuma masa lalu yang bisa meninggalkan jejak bernama kenangan, tapi kuharap kalian juga ya. Hehe...

__ADS_1


__ADS_2