
Note : sorry for typo :-)
—**000—
Selamat membaca...
—000**—
Semarang, 2009
Sama seperti waktu SMP, Bangun dan Hadyan juga berada di kelas yang sama dan menjadi teman semeja. Dan beruntungnya Hadyan, karena Bangun selalu mengisi ulang kesabarannya ketika Hadyan menanyakan sesuatau yang bahkan Bangun sendiri terkadang tidak tahu jawabannya.
“Un, kenapa warna kulitku nggak seputih si Elsa, ya?”
Atau
“Kenapa belum ada yang menyatakan cinta padaku, ya.”
Terkadang
“Kapan Tuhan mengirim bidadari ke hadapanku?”
Ketika Hadyan sudah seperti itu, Bangun hanya diam saja. Kecuali Hadyan yang suka memaksa Bangun untuk menjawab. Maka Bangun akan menjawab dengan asal-asalan.
—000—
Semarang, 2009
Tidak terasa, tahun ini Bangun akan segera naik kelas. Setelah pengumuman kenaikan kelas nanti, mungkin Bangun akan mencari hal baru yang pernah dibahas oleh Daddy. Dan hari ini merupakan penilaian akhir untuk kenaikan kelas. Setelah itu, tinggal lomba-lomba saja.
Nah, kesempatan itu mungkin bisa Bangun gunakan sebagai salah satu cara Bangun untuk keluar dari zona nyaman miliknya. Dengan mengikuti lomba-lomba yang sudah menjadi kebiasaan para murid ketika selesai melaksanakan ulangan, Bangun kira itu mudah.
—000—
Semarang, 2009
“Teman-teman, dengarkan dulu ya. Aku ada pengumuman terkait lomba untuk hari Senin depan. Dan kita punya waktu satu minggu untuk persiapan.” suara pengumuman lomba dari ketua kelas membuat Bangun segera menegakkan badan dan memandang si ketua kelas penasaran.
Sekretaris kelas menulis jadwal lomba yang akan diadakan di hari Senin depan. Bangun membaca dengan seksama. Selesai membaca jadwal tersebut, Bangun mengajukan tanya.
“Pak ketua, itu semuanya bener lomba yang buat Minggu depan? Kok kurang menarik, sih.”
“Kurang menariknya di mana? Orang itu yang biasa dilombakan, kok.”
“Emang, iya?” tanya Bangun polos menoleh pada Hadyan. Anggukan Hadyan membuat Bangun paham kalau ucapan Daddy nya benar jika sudah saatnya Bangun keluar dari tempatnya dan mencoba hal baru.
“Ya udah, deh. Aku mau ikut tarik tambang, bola terong, makan kerupuk, tampok air, sama yang memasukkan pensil ke dalam botol aja.” ucapan Bangun membuat teman sekelasnya menoleh heran.
“Yakin, Un mau ikutan kayak gitu. Nanti alergi lagi,” celetuk Fatih.
__ADS_1
“Ya biarin. Suka-suka pangeran dong. Pangeran yang baik itu terjun langsung membantu rakyatnya.” ucapan Bangun mendapat sorakan dari teman sekelasnya. Termasuk Hadyan.
“Jadi aku dibolehin ikut lomba yang tadi disebutin apa nggak?” tanya Bangun kembali memastikan.
—000—
Semarang, 2009
Banyak hal yang Bangun habiskan saat liburan kenaikan kelas. Bangun sampai membuat list hal apa saja yang akan ia lakukan selama mengisi liburan. Berkat pencerahan melalui Daddy nya, Bangun memulai dunianya yang baru.
Dari mulai mencoba menjadi seorang penulis puisi, berlatih alat musik bersama Hadyan dan band sekolah, selalu lari pagi bersama Daddy, belajar masak dengan Bunda Ajeng, mengikuti kegiatan bakti sosial bersama Elsa, berlatih basket hingga sepakbola, sampai yang terakhir sebelum liburan usai, Bangun mencoba menjadi seorang penyanyi dadakan.
Respon Bunda dan Daddy juga berbeda. Jika menurut Bunda, Bangun terlalu aktif. Sedangkan menurut Daddy nya, Bangun justru terlihat keren. Selain itu Daddy nya justru memberikan tips agar banyak kaum hawa yang terpesona oleh Bangun. Salah satunya yaitu Elsa.
Dan tanpa banyak protes, Bangun mengikuti tips yang Daddy berikan. Mulai dari penampilan, gaya bicara, serta pesona yang harus dikeluarkan saat berhadapan dengan para perempuan. Untuk yang terakhir justru Bunda mendengarnya. Mengakibatkan Bunda protes dadakan. Terutama pada Daddy yang mengajarkan Bangun seolah menjadi seperti seorang playboy dadakan.
Dan saat tahun ajaran baru sudah dimulai, sudah saatnya Bangun memasang aura ala-ala laki-laki keren supaya membuat para perempuan lupa caranya bernapas.
—000—
Semarang, 2009
Sebelum Bangun keluar kamar, Bangun mengecek sekali lagi penampilannya di hari pertama ia bersekolah. Sesuai saran Daddy, jika ia harus tampil maksimal mulai hari ini.
Mulai dari atas hingga bawah usahakan jangan sampai ada yang terlewat. Begitu nasehat Daddy.
Saat turun ke lantai bawah, seperti biasa Bangun menyapa Bunda dengan riang. Seolah masalahnya ikut menguap seiring dengan matahari pagi yang bersinar cerah.
“Ah, Bunda. Padahal aku selalu begini setiap hari, kok. Ada yang salah, ya?”
“Nggak. Cuma... sepertinya melihat kamu sama seperti melihat Daddy kamu untuk yang pertama kali,” jawab Bunda sembari tersenyum malu.
“Ah, itu mah Bunda lagi flashback.”
“Ih, tapi Bunda serius. Kamu terlihat lebih menawan kali ini. Atau karena kamu sudah mau dewasa kali, ya.”
—000—
Semarang, 2009
Tidak hanya dari segi penampilan Bangun berubah. Semua hal yang berhubungan dengan Bangun rupanya ikut berubah. Setelah ia bisa mendapat kartu SIM, Bangun meminta dibelikan sebuah motor baru. Sebuah motor ninja berwarna navy sesuai dengan warna kesukaannya.
Pagi ini Bangun mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sembari menikmati angin pagi Bangun memikirkan nanti jika sudah sampai sekolah ia justru bingung mau melakukan hal apa. Apakah ia akan tebar pesona atau tetap seperti biasa.
Beberapa meter sebelum Bangun belok menuju gerbang sekolah, mendadak Bangun menghentikan laju motornya. Tanpa melepas helm, Bangun memperhatikan sesosok perempuan yang sekilas terlihat tak asing di matanya.
Bangun memperhatikan sosok tersebut saat si perempuan akan menyebrang ke arah gerbang sekolah. Perempuan tersebut entah kenapa begitu bersinar di mata Bangun. Ransel berwarna navy yang hanya ia letakkan di salah satu bahunya, serta cara berjalannya yang nampak ringan seolah tanpa beban membuat Bangun untuk sesaat tak berkedip.
Dan yang membuat Bangun semakin tenggelam dalam pesona si perempuan tersebut adalah perempuan tersebut mengenakan kerudung berwarna putih. Menyesuaikan dengan seragam osisnya. Bertambahlah sudah rasa adem di hati Bangun.
__ADS_1
“Sepertinya dia jodohku,” gumam Bangun. Tanpa Bangun sadari si perempuan justru tersenyum sekilas saat tatapan mereka saling bertemu. Bangun masih belum tersadar bahwa si perempuan telah menghilang dari pandangannya. Barulah saat Hadyan menghentikan motor di sampingnya dan menepuk bahunya, Bangun baru tersadar.
—000—
Semarang, 2009
Bangun dan Hadyan memarkirkan masing-masing kendaraannya. Lepas merapikan pakaian dan rambut sebentar, Bangun dan Hadyan lantas melajukan kakinya menuju papan pengumuman untuk kelas mereka nantinya.
Di depan papan pengumuman ternyata sudah ramai dengan para murid yang mengelilingi kertas berisi nama dan kelas masing-masing. Bangun menghela napas pendek, bosan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan antrean.
Kenapa harus desak-desakan jika semua akan kebagian? Memangnya di sana ada emas atau bagaimana hingga mereka enggan untuk antre?
Sebagai seorang teman yang baik, Hadyan sudah maju lebih dulu untuk mewakilkan Bangun. Dan tolong ingatkan Bangun bahwa semua yang dilakukan Hadyan pasti ada iming-imingnya. Kalau dalam hal mendesak semacam sekarang, Bangun mungkin dengan sukarela membelikan semangkok bakso.
“Kamu pasti senang karena tahun ini kita bisa sekelas lagi, ya, kan?” mendengar ucapan Hadyan bahkan sudah membuat Bangun lesu bukan malah senang.
Setelah mendapatkan informasi tentang kelas, Bangun dan Hadyan kembali melajukan langkah menuju kelas yang akan mereka tempati selama setahun.
Di sepanjang perjalanan, entah hanya perasaan Bangun saja atau memang pada dasarnya orang-orang kini memandang ke arah dirinya dan juga Hadyan. Sebenarnya Bangun penasaran, tapi Bangun tahan karena ia mencoba bersikap cool.
Tanpa Bangun sadari, di dalam ruang kepala sekolah terlihat seseorang memperhatikan Bangun yang lewat. Sedetik kemudian senyumnya terbit kala melihat Bangun yang terlihat baik-baik saja.
—000—
Semarang, 2009
Pukul tujuh lewat lima menit guru yang akan menjadi wali kelas XI IPS 2 belum juga datang. Untuk mengobati rasa bosan Bangun hanya membuka tutup aplikasi. Tak lama kemudian Bangun mendapatkan pesan dari beberapa nomor. Salah satunya milik Elsa. Bangun mengabaikan pesan yang lain dan beralih di ruang obrolannya dengan Elsa.
Seakan lupa waktu karena terlalu terlena dengan kenyamanan saat Bangun bertukar pesan via WhatsApp. Hadyan menyenggolnya seraya berkata bahwa Bu Ina datang. Hadyan juga menyuruh Bangun untuk segera berhenti bermain ponsel.
Bangun hanya mengiyakan perkataan Hadyan. Tapi nyatanya Bangun masih asik dengan dunianya sendiri. Bangun juga tak mengindahkan perkataan Hadyan tentang murid baru dan tepuk tangan meriah dari teman sekelasnya yang lain.
“Ayo, kamu bisa perkenalkan diri kamu lebih dulu,” ucap Bu Ina.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Kirana Cinta Hanafi. Biasa dipanggil Cinta. Saya murid pindahan dari Jakarta. Semoga kita bisa berteman dengan baik untuk ke depannya. Terima kasih.”
Sesaat saat akan memasukkan ponsel ke saku baju, Bangun berhenti bergerak. Tubuhnya menegang karena mendengar satu nama yang sudah lama tak coba Bangun gali.
Kemudian tatapannya beralih ke arah depan. Di mana sesosok murid baru sedang berdiri bersisian dengan Bu Ina.
Prakkk!!!
Tanpa sadar Bangun menjatuhkan ponsel yang belum sempat masuk ke saku bajunya. Bangun tertegun mendapati orang yang selama ini ingin ia ketahui kabarnya ternyata sedang memperkenalkan diri.
Tatapan keduanya bertemu. Memandang cukup lama dengan sorotan yang tak bisa masing-masing jelaskan secara lisan. Tapi tatapan kerinduanlah yang lebih mendominasi saat ini.
“Cinta.”
—**000—
__ADS_1
TBC**...