
______________________
Bahagia itu sederhana. Cukup melihat orang yang disuka menerima pemberian yang tak seberapa dengan tangan terbuka.
_______________________
—000—
Semarang, 2006
Mungkin perkataan Hadyan juga tidak salah. Tapi menurut Bangun, itu hanya buang-buang waktu saja. Lagipula mereka ini masih kelas delapan SMP. Kalau dikata masih anak bau kencur. Atau lebih bagusnya lagi dikata anak piyik, ya kan.
Memang sih, selama ini Bangun sudah bisa berbaur dengan orang lain. Tapi tak terlalu banyak juga. Hanya beberapa. Dan, dari pengamatan mata elangnya, Bangun juga menyadari kalau Elsa sering curi-curi pandang terhadapnya.
Bukannya ge-er, kok. Tapi memang benar begitu adanya. Dan Bangun hanya membalas tatapan itu dengan senyum. Bangun hanya berusaha sopan terhadap orang lain, terutama kakak kelas.
—000—
Semarang, 2006
Beberapa bulan sebelum perpisahan kelas tiga, Bangun justru lebih sering berjumpa dengan Elsa. Tak jarang pula, Elsa mengajak berbincang meski sebentar. Dan Bangun rasa, ia juga nyaman-nyaman saja.
Seperti hari ini. Bangun telah selesai latihan sepak bola, dan memutuskan ganti pakaian terlebih dulu. Belum sempat ia menuju kamar mandi, Elsa memanggilnya.
“Hai! Habis latihan, ya?” tanya Elsa basa-basi.
“Eh! Iya ini baru selesai. Ada perlu apa, El?” sebenarnya Bangun tak terlalu nyaman memanggil Elsa dengan nama panggilan saja. Setidaknya Bangun bisa memanggil dengan Mba, kakak atau yang lainnya karena Elsa kakak kelasnya. Tapi karena Elsa yang meminta, jadi ya Bangun hanya nurut saja.
“Kamu datang, kan waktu acara perpisahan?”
“Datang, kok. Kan, aku udah bayar buat snack nya masa nggak datang. Kan, rugi hehehe...” Elsa ikut menanggapi dengan tawa anggun sembari menutup mulutnya. Benar-benar patut diacungi jempol kalau begini. Elsa mampu membaca situasi yang mana seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan.
“Oh! Iya, aku mau kasih sesuatu. Tunggu sebentar.” Elsa langsung merogoh saku rok Pramuka yang ia kenakan. Kemudian Elsa menyerahkan sebuah gelang pada Bangun.
“Kok, warnanya nggak perempuan gitu sih, El?” tanya Bangun heran. Biasanya kan, perempuan paling suka dengan warna-warna yang cerah dan ceria.
“Aku kan, nggak suka sama warna yang kelihatan mentereng gitu. Yang simple lebih menarik gitu.” Benar juga, ya.
__ADS_1
“Di pakai, ya,” pinta Elsa.
“Oke! aku pakai sekarang aja biar nggak lupa.” Bangun memasang gelang warna cokelat pemberian Elsa. Elsa akhirnya tersenyum lebar setelah gelang pemberiannya terpasang dengan manis di pergelangan tangan Bangun.
Ada rasa kepuasan tersendiri ketika melihat pemberian kita diterima dengan baik. Apalagi oleh orang yang kita suka. Nyatanya bahagia itu memang sesimple itu.
—000—
“Cuit cuit cuit. Bau-bau calon manten, nih.” aku hanya mendengus mendengar perkataan Hadyan. Sampai bosan dengarnya. Meskipun sama calonnya enggak bosan, sih. Ehehehe...
“Sesungguhnya iri itu tanda tak mampu. Kamu, kan belum mampu punya calon jadi, sekarang kamu sedang iri,” ucapku sembari tersenyum mengejek.
Makan tuh iri, ya kan?
“Dih! Siapa juga yang iri. Jangan salah, ya, aku udah punya juga kok. Cuma aku belum bilang ke siapa-siapa.”
“Emang ada gitu yang mau beneran sama kamu?”
“Ada, lah. Pesona Hadyan Sentosa enggak kalah juga sama Bangun Hidayatulloh.” Hadyan menepuk-nepuk dada dengan bangga.
“Perempuan mana yang ketiban sial?”
“Pantesan aku banyak yang suka. Berarti selama ini aku sabar banget dong, ya?” tanyaku.
“Iyain, dah. Lagi males baku hantam juga,” jawab Hadyan kalem.
Hadyan itu ya, begitu. Suka ngalah-ngalah nggak jelas juga. Tapi aku si bodo amat, ya kan? Haha.
Ngomong-ngomong soal Hadyan aku jadi ingat kalau Hadyan adalah orang pertama yang menyadarkan aku untuk tidak melepas orang yang aku sayang. Bisa banget dia buat aku seberani itu.
Meskipun Hadyan itu menjengkelkan, tapi dia juga yang selalu ada di saat aku sedang bingung dengan diriku ini. Bukan berarti aku suka Hadyan, ya. Itu hanya sekedar rasa bangga jika aku punya teman yang paling pengertian.
—000—
Semarang, 2007
Kurang lebih empat tahun sudah Bangun berpisah dengan Cinta. Rasanya Bangun makin terbiasa tanpa Cinta. Seolah ketidakhadiran Cinta selama ini sudah terbiasa untuk Bangun.
__ADS_1
Bangun juga makin berpikir seiring umurnya berkurang di dunia ini jika tak semua yang hadir dihidupnya akan selamanya juga ikut andil di dalamnya.
Nyatanya kucing milik tetangga depan rumah juga ikut meninggalkannya. Glen—nama kucing keren milik tetangga depan rumah juga pada akhirnya pergi meninggalkan Bangun sendiri.
Dan Bangun tidak ingin menyusul Glen. Dirinya masih belum siap. Masih banyak dosa. Bangun juga tidak ingin egois hanya karena menyusul Glen ke akhirat.
Halah! Itu si karena Bangun masih takut mati. Masih banyak yang harus dibawa ke bengkel katanya. Mau perbaikan diri dulu.
Biasanya juga kalau Bangun sedang di duduk-duduk manis di bawah pohon mangga depan rumah, Bangun akan mengajak Glen bermain. Tapi sayang, Glen malah pergi.
—000—
Semarang, 2007
Jika waktu yang lalu Bangun menganggap Cinta jahat karena pergi dan tak memberinya kabar sama sekali. Sekarang justru Bangun yang merasa jahat pada dirinya sendiri.
Beberapa hari setelah kenaikan kelas, bunda Ajeng menepati ucapannya untuk membelikan ponsel untuk Bangun. Reaksi Bangun? Tak seantusias waktu pertama kali meminta ponsel pada Bundanya.
Maka dari itu, setelah dua bulan Bangun mempunyai ponsel baru dirinya justru tidak berniat untuk mencari kabar tentang Cinta. Tadinya Bangun ingin bertanya apakah Cinta masih ingat dengan Bangun, atau apakah Cinta punya teman yang lebih dari dirinya.
Alih-alih menghubungi Cinta, Bangun memilih menjadikan nada dering ponselnya dengan suara ponsel mainan yang Cinta berikan untuknya.
Tapi hari ini Bangun malah terlihat gelisah. Bangun takut untuk memulai. Sebab, dia takut dengan reaksi Cinta nanti. Bangun terlalu membayangkan reaksi Cinta yang lupa pada dirinya.
Nomor ponsel Cinta pun sebenarnya sudah Bangun dapat berkat sang bunda. Tapi lagi-lagi Bangun justru takut.
Setelah berulang kali menarik dan membuang napas, akhirnya Bangun memutuskan untuk mengirim pesan pada Cinta.
Bangun H
Cinta, aku kangen...
—000—
Beberapa hari ini aku belum menghubungi tunanganku. Bukannya tidak mau, tapi beberapa hari ini aku benar-benar sibuk. Maklum deadline calon pengantin.
Meski pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi, tapi aku memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi supaya menjelang cuti pekerjaanku tak terlalu menyita waktu.
__ADS_1
Calon isteriku juga cueknya buat aku sampai mengelus dada. Meski kadang dia baiknya itu baik banget kalau lagi bahagia, dia bisa sehari tiga kali mengirim pesan yang sama.
Jangan lupa makan ya. Biar bisa mikirin aku lagi. Ehehehe...