Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 15 - SIOMAY


__ADS_3

Selamat membaca...


—000—


Semarang, 2009


Pagi-pagi sekali Cinta sudah bertamu ke rumah Bangun. Tidak lain untuk ikut berangkat bersama Bangun. Hingga sarapan pun sengaja Cinta lewatkan agar bisa sarapan di rumah Bangun. Katakan saja jika Cinta modus pada Bangun. Tapi memang begitu adanya.


Di ruang makan Cinta sudah duduk manis sembari menunggu dua laki-laki di keluarga Bunda Ajeng. Tak lama, terlihat Bangun versi dewasa dan satunya lagi terlihat Daddy Evan versi mudanya. Membuat Cinta tersenyum lebar.


Tinggi mereka berdua pun hanya selisih beberapa centi meter. Membuat Cinta berdecak kagum melihat mereka berdua.


Yang membuat Cinta tambah mengagumi Daddy Evan adalah sikap manis yang Daddy Evan tunjukkan terhadap Bunda Ajeng. Hanya sebuah ciuman di kening dan usapan lembut di kepalanya. Tapi perlakuan seperti itu yang justru sulit dilupakan.


“Wah, ada love sepagi ini. Love sudah sarapan?” Cinta menggeleng ketika Daddy Evan bertanya.


“Daddy kenapa, sih panggil Cinta pakai love segala. Nanti Bunda cemburu lagi,” protes Bangun.


“why? Bunda kamu cuma cemburu sama janda sebelah, ya kan, honey?” dengan semangatnya Bunda Ajeng mengangguk.


Cinta beralih menatap ke arah Bangun. “Kamu nggak mau kayak Daddy Evan?” tanya Cinta setelah Bangun duduk di smaping gadis tersebut.


“Kayak yang bagaimana?”


“Kayak gini.” Cinta mengambil tangan Bangun dan mulai membelainya di kepala Cinta dengan tangan Cinta yang menggerakan tangan Bangun.


“In your dream.” Bangun segera menarik tangannya kembali dan mulai bersiap untuk sarapan. Membiarkan Cinta dan Daddy Evan yang terkekeh. Beruntungnya Bangun karena Bunda Ajeng tidak melihat ulah Cinta.


—000—


Semarang, 2009


Selesai sarapan, Cinta mengikuti Bangun mulai dari beranjak dari duduknya hingga berpamitan dengan kedua orang tuanya. Seperti saat mereka kecil dulu.


“Helm buatku mana?” Cinta mengedahkan tangan kanannya pada Bangun.


“Buat apaan?”


“Kan, aku mau bareng kamu. Masa aku nggak pakai helm?”


“Yang nyuruh bareng aku siapa?”


“Aku.” Cinta menunjuk dirinya sendiri.


“Tapi aku nggak mau. Aku carikan kamu taksi aja,” putus Bangun. Bangun enggan mengambil resiko jika Cinta menaiki motor ninja miliknya. Untuk helm, meskipun Bangun bisa meminjam milik Bunda Ajeng tapi Bangun urungkan.


“Aku mau bareng kamu aja.”

__ADS_1


“Yakin? Kalau iya, ya terserah.” Bangun menunjukkan motor ninja miliknya.


“Kenapa nggak pakai yang waktu itu aja?” motor matic yang Bangun gunakan sewaktu menjempu Cinta.


“Mau dibawa Bunda ke rumah Mbah Uti.”


Lalu, Cinta tertunduk sembari menghela napas kecewa. Akhirnya mau tidak mau Cinta diantar oleh pak supir. Setelah melihat Cinta pergi dengan taksi, Bangun mengirim pesan pada Hadyan.


Bangun H


Yan, kirim alamat toko helm perempuan. Sekarang!!!


06.18


—000—


Semarang, 2009


Bangun masih melihat taksi yang Cinta tumpangi. Dengan sengaja Bangun menyalip taksi tersebut. Cinta yang melihat Bangun hanya mendengus kesal. Dirinya heran kenapa Bangun tidak peduli lagi padanya. Apa gara-gara balasan pesan dari Cinta beberapa tahun lalu? Padahal kan, dirinya hanya ingin memberi Bangun sedikit ujian.


Sampai taksi yang ditumpangi Cinta mendarat tepat di depan gerbang sekolah dengan selamat, Cinta masih saja dongkol hatinya.


Belum sempat masuk kelas, dari kejauhan dirinya justru melihat Bangun yang sedang jalan berdampingan dengan teman perempuannya itu.


“Kenapa sepagi ini terasa panas, sih?!” Ocehan tak jelas sudah Cinta keluarkan hingga sampai di dalam kelas. Beruntungnya Cinta duduk dengan Mayangsari sehingga sedikit bisa mengalihkan Bangun dari dunianya.


Bel masuk berbunyi dan Bangun baru memasuki kelasnya. Sempat Cinta melirik Bangun sebentar, setelah itu langsung buang muka. Sedangkan Bangun masih cuek saja.


—000—


Semarang, 2009


“Cinta mau pesan apa, nih?”


“Yang enak di sini apa, Yang?” tanya Cinta. Pasalnya Cinta baru pertama kali ini ke kantin baru di sekolah barunya.


“Ih, Cinta jangan panggil aku Yang. Nanti dikira ada apa-apa gimana?” siapa pula yang tak salah paham jika Cinta memanggil nama Mayangsari hanya dengan panggilan ‘Yang’ bisa-bisa mereka berdua dipandang memiliki hubungan layaknya pasangan.


Cinta hanya memamerkan giginya menanggapi ucapan Mayang. Makanan sudah dipilih dan saatnya memesan. Tapi Cinta memilih untuk memsan makanan mereka. Katanya supaya lebih akrab lagi dengan tempat baru. Mayang menurut dan duduk menunggui meja tempat mereka makan.


“Pak, siomay pedasnya satu.” Bangun dan Cinta menoleh bersamaan. Rupanya pesanan mereka sama. Tapi Cinta hanya memandang Bangun sekilas, lalu mengalihkan pandang pada tukang siomay.


“Kamu suka juga?” Bangun memilih bertanya pada Cinta lebih dulu daripada menunggu Cinta buka suara. Sepertinya Cinta masih kesal karena insiden pagi tadi. Tapi demi Cinta, Bangun tak berniat mengabaikan Cinta. Sungguh.


“Suka apa?”


“Siomay.” Bangun mengendikkan dagu ke arah siomay yang sedang dibuat.

__ADS_1


“Nggak suka.”


“Kenapa? Kan, enak,” tanya Bangun penasaran.


“Kan, aku sukanya cuma sama kamu. Aku nggak mau berhianat dari kamu ke siomay. Kasihan dia.” Cinta ikut menunjuk ke arah siomay.


Tukang siomay yang mendengar ucapan Cinta ikut terkekeh. Heran dengan anak muda jaman sekarang yang rajin memberi gombalan.


Senyum yang sempat Cinta tampilkan mendadak luntur karena kehadiran Elsa. Entah mengapa hawa panas pagi tadi mengikuti hingga ke kantin. Menyebalkan sekali, ya?


Pesanan selesai Cinta segera membawa sepiring siomay. Baru balik badan lengan baju Cinta ditarik oleh Bangun. Cinta hanya diam memandang Bangun dan tangan Bangun di lengan bajunya. Lalu mengkode Bangun dengan tatapannya supaya melepaskan tangannya.


—000—


Semarang, 2009


Pulang sekolah lagi-lagi Cinta sendirian. Mau ikut pulang Bangun juga percuma. Saat sedang mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba ada sebungkus permen dihadapannya.


Mengalihkan atensi dari ponsel lalu ke sebungkus permen dan beralih ke tangan yang memegang permen.


“Buatku?” tanya Cinta heran. Dia tidak mengenal orang dihadapannya ini. Jangankan mengenal, Cinta saja masih menjadi murid baru meski statusnya bukan murid peralihan dari SMP ke SMA.


Anak laki-laki tersebut mengangguk dan ikut duduk di sebelah Cinta. “Aku ikut duduk.” Cinta diam-diam memutar bola matanya. Bagaimana mungkin seseorang meminta ijin untuk duduk disaat orang tersebut sudah duduk terlebih dulu.


“Kenalin, aku Raga. Kamu?” dipikiran Cinta saat terlintas nama Raga ialah tentang salah satu lagu milik Armada.


Aku punya ragamu tapi tidak hatimu...


“Hatimu.”


“Hah? Maksudnya?”


“Lupain aja.” Cinta mengibaskan tangannya pertanda tidak penting. “Aku Cinta.”


“Kamu anak baru, ya?”


“Kok tahu?”


“Seragam kamu jelas banget warnanya masih bersih gitu.” Cinta perkirakan jika orang yang duduk di sebelahnya ini masih kelas satu SMA. Dan anggukan Raga ternyata membenarkan.


Karena perkenalan tak sengaja mereka, Cinta jadi melupakan bahwa ia harus segera pulang.


“Mau ku antar?” tawar Raga saat Cinta berkata bahawa dirinya lupa jika harus pulang.


“Kamu ojek?”


“Bisa jadi kalau kamu mau jadi penumpangku.” akhirnya Cinta tanpa sungkan meminta Raga untuk mengantarnya ke rumah dan berjanji akan membayar jasa ojek Raga.

__ADS_1


—000—


To be continued...


__ADS_2