
___________________
Kencan hanyalah untuk mereka yang sanggup merelakan uang miliknya demi si dia.
__________________
—000—
Semarang, 2008
Tahun ini Bangun sudah resmi menjadi seorang murid SMA. Sudah naik pangkat menuju dewasa. Tapi yang disayangkan Bangun adalah dia kembali menjadi junior. Rasa-rasanya baru kemarin Bangun menjadi junior. Dan sekarang ia harus menjadi junior lagi.
Ngomong-ngomong, Bangun dan Hadyan kembali sekolah di tempat yang sama. Sebenarnya Bangun bosan jika ada Hadyan di sekitarnya. Tapi Hadyan justru berkata jika ia tidak bersama Bangun. Nanti Bangun tidak bisa hidup tanpanya.
Saat Bangun mendengar ucapan Hadyan, Bangun hanya pura-pura sibuk sendiri seolah tak mendengar curhatan Hadyan.
“Hai anak baru.” Bangun mengedarkan pandangan ke sumber suara. Bangun hanya takut suara itu bukan tertuju untuk dirinya. Bangun tak mau jika disangka ia yang kegeeran.
Saat menoleh, Bangun justru mendapati Elsa yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
“Elsa?” Bangun menyernyit bingung.
“Kok kamu di sini? Anak baru juga?” tanya Bangun heran.
“Iya dong. Aku, kan anak baru kelas sebelas,” ucap Elsa sembari tertawa kecil melihat kebingungan Bangun.
“Jadi, kita satu sekolah ya?” tanya Bangun polos. Elsa hanya tertawa melihat Bangun. Elsa beralih ke teman-temannya.
“JESS, kenalin ini temenku,” ucap Elsa memperkenalkan Bangun pada ketiga temannya.
“Hai, Bangun. Salam kenal ya. Aku Jessica. Biasa dipanggil J.” Teman Elsa yang bernama Jessica mulai memperkenalkan diri dan diikuti oleh kedua temannya.
“Hai. Aku Seli. Panggil S aja.”
“Aku Stefani. Panggil S juga.”
“Jadi ini toh yang namanya Bangun. Ternyata karismanya mengakar kuat banget ya. Pantesan Elsa enggak kedip,” celetuk Stefani.
Kedua teman Elsa termasuk Elsa hanya memandang tajam pada Stefani. Sedangkan Stefani berpura-pura memandang langit.
“Hah? Maksudnya?” tanya Bangun penasaran.
“Bukan apa-apa kok. Abaikan aja. Oh iya, aku seneng banget kita bisa satu sekolah tau,” ucap Elsa.
__ADS_1
“Tapi aku yang bosen, El.”
“Kok gitu? Aku kira kamu ikutan seneng,” lirih Elsa. Sedangkan Bangun hanya tertawa mendengar ucapan Elsa yang tak bertenaga.
Ketiga teman Elsa justru terpana melihat tawa Bangun yang terlihat mempesona. Semua hal yang ada di sekitar mereka seolah ikut melambat untuk menyaksikan tawa Bangun.
Jessica, Seli, dan Stefani juga menahan napas mereka dan tidak berkedip untuk beberapa saat.
Saat mereka bertiga sedang menikmati tawa Bangun, Elsa justru memporak porandakan keterpanaan mereka bertiga.
“Aku cuma bercanda, Elsa. Enggak serius, kok,” jawab Bangun.
“Ya udah. Aku mau ke kelas dulu ya. See you.” Bangun berbalik memunggungi Elsa dan kawannya.
Belum jauh Bangun melangkah, Bangun kembali memutar tubuhnya menghadap Elsa dan kawannya. Lalu berkata,”Dah...” Bangun mengedipkan sebelah matanya pada Elsa.
Tapi yang menjerit-jerit justru ketiga teman Elsa.
—000—
Hari Minggu pagi begini biasanya aku masih di dalam kamar. Kemalasan yang sudah menempel erat sejak aku masih jadi bocah. Tapi berbeda untuk Minggu kali ini.
Di Minggu kali ini aku ingin meluangkan waktu bersama orang tuaku. Karena sudah lama juga aku selalu sibuk dengan duniaku sendiri. Setidaknya, sekali-kali aku ingin bermanja-manja lagi dengan mereka.
—000—
“Lagi nungguin Daddy sama Bunda ke luar kamar lah. Ditungguin malah asik berdua aja,” ucapku sembari menyindir Daddy.
Daddy justru tertawa mendengar perkataanku. Apakah perkataanku terdengar lucu? Padahal aku itu serius. Bayangkan coba. Sudah satu jam aku menunggu kedua orang tuaku keluar. Tapi nihil. Kan kesel ya?
“Kalau cemburu itu bilang dong boy.”
“Dih! Bangun cemburu sama Daddy? Cemburu kok, sama orang tua. Itu, mah bukan level Bangun,” balasku.
Belum sempat Daddy menjawab, tiba-tiba Bunda datang membawa brownis cokelat kesukaan Daddy dan aku tentunya. Terkadang aku dan Daddy memang mempunyai beberapa hal yang disuka seperti brownis misalnya.
“Masih pagi, kok mukanya pada asem gitu, sih? Kenapa?” tanya Bunda memandangku dan Daddy bergantian. Aku dan Daddy justru saling menunjuk seolah menyalahkan satu sama lain.
“Udah, sih. Daripada ribut mending quality time sebelum ada nikahan, ya nggak?” rupanya Bunda mencoba menggodaku. Dengan bangganya aku menjawab, “Betul banget.”
—000—
Kami bertiga menghabiskan waktu dengan hal yang ringan-ringan saja. Setidaknya itu membayar waktu padat yang kujalani beberapa tahun terakhir.
__ADS_1
“Calon manten, masa manja,” sindir Daddy. Aku tahu kalau Daddy iri padaku yang saat ini sedang menyenderkan kepala dibahu Bunda.
“Bun, dengar suara orang iri, nggak?” tanyaku pada Bunda. Sekali-kali, kek, aku lebih manja. Kan, aku rindu bermanja ria dengan Bunda. Hoho.
“Van, jangan mulai lagi, deh. Ini yang kelima kalinya kamu ngomong yang sama dalam tiga jam ini.” rupanya Bunda mulai jengah dengan Daddy.
“Siapa, Van? Namaku Mas Evan. Bukan ‘Van’.” kata Daddy.
“Sama aja, Mas Evan.”
“Nah! Itu baru namaku yang keren.”
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka hanya karena hal sepele. Meskipun begitu, aku bersyukur keluargaku masih utuh sampai saat ini.
—000—
Semarang, 2008
Minggu kali ini berbeda dengan Minggu Bangun yang biasanya. Jika Minggu-minggu sebelumnya Bangun hanya mendekam di sarangnya. Kali ini Bangun memiliki rencana lain.
Semalam, Bangun bertukar pesan dengan Elsa. Elsa mengajak Bangun hari ini untuk menemaninya ke sebuah pameran lukisan. Karena Bangun jarang pergi jika di hari libur, maka Bangun pun mengiyakan ajakan Elsa.
“Bunda, lagi ngapain nih,” tanya Bangun saat melihat Bunda yang sedang menyusun bekal.
“Biasalah boy. Pacar kesayangan minta Bunda ke kantor. Jadi Bunda bawain bekal sekalian.”
“Bunda nggak selingkuh dari Daddy, kan?” tanya Bangun was-was.
“Kamu, tuh omongannya ngelantur banget. Yang ada tuh, Daddy mu kalau selingkuh bakal Bunda gorok,” ucap Bunda Ajeng berapi-api.
“Eh!” Bangun terkejut dengan jawaban Bunda.
“Tapi tadi Bunda bilangnya mau nemuin pacar Bunda,” jawab Bangun polos.
“Daddy kan suami sekaligus pacar Bunda. Emang cuma anak muda aja gitu yang bisa pacaran. Gantian dong, yang tua juga bisa pacaran, tau.”
“Eh! Kamu mau ke mana itu? Rapi bener. Mau kencan ya?” goda Bunda.
“Dih gayanya kencan. Kalau kencan itu nanti nunggu punya uang sendiri. Nggak ngrepotin orang tua. Itu baru kencan sejati. Lagipula aku masih enam belas tahun. Nggak pantes tau, Bun,” oceh Bangun panjang lebar.
Bunda menghentikan kegiatannya sejenak dan beralih memandang Bangun takjub.
“Ck... ck... ck... ya ampun ternyata anak Bunda udah sedewasa ini. Bunda jadi terharu sama pemikiran kamu,” ucap Bunda sembari mengacak-acak rambut klimis Bangun.
__ADS_1
Bangun mendecak kesal karena rambut klimisnya berantakan. Alhasil, Bangun segera pamit dari hadapan Bunda. Takut rambutnya tambah acak-acakan.
Bangun melenggang keluar rumah untuk menjemput Elsa. Untuk yang pertama kalinya juga Bangun seberani itu untuk mengajak anak gadis orang pergi dengannya.