Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 7 - HISTORY


__ADS_3

___________________


Sejarah mengajarkan kita bahwa masa lalu isinya bukan hanya kenangan tapi juga pelajaran. Ingatlah, bahwa sejarah adalah pengalaman yang mengajarkan arti kedewasaan.


__________________


A/N :


Cek typo ya:-) Jika suka mari tinggalkan jejak yaaa.. Happy reading 😉. maaciwww


—000—


Semarang, 2007


Bangun masih termangu menunggu balasan dari Cinta. Tapi setelah hampir setengah jam berlalu, ponsel Bangun tak menunjukkan reaksi apa-apa.


“Masa, sih Cinta jadi gitu sama aku?” tanya Bangun pada dirinya.


“Apa mungkin ini karma buatku karena aku sering judes juga waktu dulu?” Bangun beralih memandang cermin gantung yang ada di kamarnya.


Daripada menunggu ketidakpastian, Bangun kembali mengutak-atik ponselnya. Tak berapa lama kemudian Bangun menerima telepon dari Elsa. Hah! Sepertinya sudah lama juga Bangun tak bertukar kabar dengan Elsa. Karena sekarang Elsa sudah jadi murid SMA. Berbeda dengannya yang masih mengenakan seragam biru putihnya.


“Hai.”


Elsa itu selalu ceria jika sedang bersama Bangun. Dan, Elsa bisa membuat suasana hati Bangun membaik kembali.


“Hai juga, El. Kayaknya sibuk bener. Udah jarang curhat lagi nih.”


“Hehehe... iya nih. Maklum anak baru. Jadi junior lagi. Kan, nyebelin.”


“Mau cerita?” tawar Bangun yang disambut antusias oleh Elsa.


“Jadi gini, tadi pagi ada kakak kelas cowo gitu yang minta nomorku. Tapi belum ku kasih. Menurut kamu aku kasih jangan?”


“Emang cara dia minta gimana?”


“Dia bilang gini, ‘Elsa aku mau minta nomor kamu boleh, kan? Biar kita bisa akrab aja’. dia bilang gitu, tuh.”


“Kasih aja nomornya.”


“Kamu serius?”


“Iya serius. Tapi kamu tulis di kertas gitu biar lebih spesial. Biar lebih lengkap gitu, kamu tulisin tuh nomor sepatu kamu, nomor sendal jepit kamu atau nomor baju atau celana gitu, deh biar puas.”


“Kok bukan nomor ponsel?”


“Emang dia ada bilang minta nomor ponsel kamu? Enggak, kan? Jadi ya udah, bebas dong kamu mau kasih nomor apa.”


“Kamu bisa aja, deh.”


Bangun dan Elsa seolah lupa waktu. Mereka selalu saja ada hal yang dibahas setiap mereka berbicara. Bagi Bangun, Elsa adalah tempat terbaik untuk berkeluh kesah. Sedangkan bagi Elsa, Bangun adalah tempat ternyaman untuk berbagi.


—000—


Semarang, 2007


Memasuki kelas akhir di tingkat Menengah Pertama, Bangun tidak diizinkan Bunda Ajeng untuk mengikuti kegiatan seperti ekstrakurikuler. Kata Bunda, di kelas tiga ini Bangun harus benar-benar fokus dengan pelajaran saja.


Biar pikiran Bangun tidak terbagi dengan yang lain. Saat Bangun bertanya alasan pastinya Bunda justru berkata, “Pelajaran aja difokusin, apalagi dia yang sudah pasti dihati kamu.”


Bangun hanya memutar bola mata jengah. Heran dirinya dengan Bunda, bagaimana Bunda mengatakan jawaban yang mengarah ke rayuan. Sungguh Bunda Ajeng adalah Bunda paling ajaib.


Jadi, semenjak awal masuk sekolah Bangun memutuskan berhenti. Begitupun dengan Hadyan. Hadyan berkata jika dirinya akan selalu setia dengan Bangun. Maka dari itu, jika Bangun tidak berkegiatan di kelas tiga Hadyan pun begitu.


—000—

__ADS_1


Semarang, 2007


Jika Sabtu malam biasanya para anak muda akan menghabiskan waktu di luar bersama teman biasa hingga orang spesial yang berakhir pulang larut malam. Maka Bangun tidak termasuk dalam kategori anak muda yang menghabiskan waktu di luar.


Bangun lebih menyenangi Sabtu malam dengan agenda ringan yang sudah terencana dalam otaknya. Seperti menonton film kesukaan. Bukan hanya perempuan yang punya film kesukaan. Dirinya pun tak ingin kalah.


Sebelum memulai hari menyenangkan versi dirinya, Bangun beranjak ke dapur untuk mengambil makanan ringan sepaket dengan minuman.


“Eh itu anaknya.” saat Bangun sedang menutup pintu kulkas dirinya mendengar suara Daddy yang sedang berbincang dengan seseorang.


Bangun penasaran dengan siapa Daddy di ruang keluarga. Sekalian membawa makanan yang ia ambil, Bangun ingin mengintip secara tak langsung. Tapi rasa penasaran Bangun yang sempat ia kumandangkan terpaksa Bangun tarik kembali.


“Mau ngapain?” Bangun mendekat ke ruang keluarga. Rupanya Hadyan yang malam ini datang ke rumah.


“Main dong.” Bangun hanya cemberut mendengar semangat Hadyan. Sepertinya nonton film malam ini akan sedikit membosankan karena kehadiran Hadyan yang menyebalkan.


—000—


Semarang, 2007


Bangun dan Hadyan berjalan beriringan menuju kamar. Saat sampai di kamar, jiwa cerewet Hadyan mulai meronta-ronta tak sabar. Menjadikan Bangun berdecak malas untuk sekedar menanggapi.


Beberapa menit terlewati, suara-suara gaduh mulai terdengar dari sosok di sebelah Bangun. Suara berisik Hadyan yang sedang mengunyah sangat terdengar jelas membuat Bangun berdecak.


“Bisa diam nggak, sih?”


“Nunggu tak bernyawa dulu.”


“Aamiinin jangan?”


“Janganlah!”


“Makanya jangan berisik. Sekali-kali anteng jadi orang.” Hadyan langsung menganggukan kepala menurut. Beberapa menit kemudian Bangun bisa bernapas lega dan menikmati film yang sedang terputar.


—000—


Semarang, 2007


Elsa


Hai...


19.53


Bangun H


Juga. Ada apa nih? Tumben


19.54


Bangun sesekali mengarahkan netranya bergantian antara laptop dan ponsel. Di sebelahnya, Hadyan sudah tenggelam dengan film yang sedang diputar. Bangun akhirnya bisa bernapas lega karena si cerewet Hadyan sedang mengahayati film. Bagus, deh!


Elsa


Nggak papa. Kamu lagi apa? Nggak malmingan?


19.56


Bangun H


Aku nggak malmingan soalnya sendal jepitku rusak wkwkwk


19.56


Elsa

__ADS_1


Dih. Besok main yuk


19.57


Bangun H


Ke mana?


19.58


Elsa


Ke lawang sewu mau nggak? Sekalian mau nyari referensi langsung


19.58


Lawang Sewu, ya? Hm, menarik juga. Lalu Bangun mengetik balasan bahwa dirinya bersedia.


—000—


Semarang, 2007


Bangun tengah bersiap-siap untuk pergi bersama Elsa. Mengabaikan Hadyan yang masih berlayar di pulau kapuk miliknya.


“Ganteng banget. Mau ke mana?” Bangun lumayan kaget karena tadi Hadyan masih tidur. Dan sekarang tiba-tiba bertanya.


“Main.”


“Aku nggak diajak?”


“Aku nggak mau yang ketiga nanti kamu jadi setan.”


Bangun meninggalkan Hadyan yang masih belum seratus persen sadar. Langkah kaki Bangun terdengar saat menapakan kakinya menuju lantai bawah.


“Boy, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah handsome?” Bangun menghampiri Bunda yang sedang mengelap meja makan.


“Jadi kalau siang sampai malam aku jelek ya, Bun?”


“Kata siapa? Justru gantengnya nambah.”


“Makasih Bunda buat pujiannya. Tapi Bangun nggak terbang soalnya bukan burung.” Bangun segera pamit ke Bunda dan juga berkata bahwa di kamar masih ada Hadyan.


—000—


Semarang, 2007


Baru kali ini Bangun merasakan sensasi hari Minggunya digunakan bersama perempuan selain Bundanya. Dan akhirnya Bangun terdampar bersama Elsa di Lawang Sewu. Salah satu tempat wisata sejarah di Semarang.


Lepas membayar tiket masuk, Bangun dan Elsa mulai menjelajah. Di sini sebenarnya Bangun hanya mengikuti Elsa. Karena Bangun belum pernah ke tempat ini meskipun dirinya dilahirkan di Semarang. Terlihat seperti anak yang kuper saja alias kurang pergaulan.


“Kamu tahu nggak—” Bangun langsung menjawab tidak dengan cepat. Sementara Elsa terkekeh.


“Aku belum selesai ngomong. Kamu tahu nggak katanya tempat ini mau dijadikan tempat buat main film horror gitu.”


“Wah, asik dong bisa sekalian ikut main. Kamu nggak ikut?”


“Aku mau jadi penontonnya aja bareng kamu.” Bangun merasakan aura-aura pengkodean dari Elsa. Dengan cepat Bangun mengalihkan topik.


“Kamu mau cari apa di sini?”


“Aku mau belajar sejarah aja, sih. Mau cari referensi tugas sejarah juga. Jadi sekalian.” Bangun selalu bingung kenapa harus belajar sejarah.


“Kenapa harus belajar sejarah? Kan, kita harus move on dari masa lalu?”


“Itu beda kali. Belajar sejarah itu penting supaya kita bisa menghargai arti sebuah perjuangan.”

__ADS_1


—**000—


*To be continued***...


__ADS_2