Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 3 - GOMBALAN SANG BIDADARI


__ADS_3

_____________________


Ketika ego sudah menguasai diri, apakah semua akan terlihat sama?


_____________________


Sudah lima belas menit yang lalu aku hanya diam memilih cincin mana yang menurutku sederhana tapi bermakna. Agak bingung, sih. Ah! Tapi nggak apa-apa. Nyari yang sesuai feeling aja kali ya?


“Mbak! Mbak!” panggilku pada pramuniaga yang sedang nganggur.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”


Apa dia bilang? Pak? Setua itukah diriku? Padahal hari ini aku terlihat manly. Eh! Tapi benar juga, sih. Lagipula aku itu nanti akan jadi bapak-bapak kalau punya anak.


“Bisa liat cincin yang itu?” tunjukku ke cincin emas putih yang terlihat menyilaukan mata hatiku. Enggak! Maksudnya mata yang buat liat.


“Oh! Boleh banget, Pak. Silakan dilihat terlebih dahulu barangkali Bapak tertarik. Saya bagi tahu, ya, Pak. Cincin ini termasuk yang limited edition, lho, Pak. Bahan yang digunakan itu merupakan kualitas premium dengan harga yang masih tergolong medium. Ayo, Pak, diambil saja. Keren pastinya. Kinclong banget itu cincinnya,” ucap pramuniaga tersebut panjang lebar.


“Mbak, bukan seberapa mahal dan keren cincinnya. Tapi seberapa niatnya seorang pria membawa ke dalam ikatan bernama keseriusan. Nah itu baru cincinnya bisa terlihat keren.”


Si Mbaknya kenapa melongo begitu ya? Jika terpesona denganku, ku mohon segera akhiri karena aku sudah berlabel calon suami. Aku tidak ingin mendapati calon-calon penikung dihubunganku.


Si Mbak pramuniaga justru bertepuk tangan seolah baru saja menyaksikan pertunjukkan yang luar biasa. Pramuniaga tersebut berkata, “Pak, Bapak adalah salah satu pelanggan yang baru saya temui yang memiliki pemikiran hebat. Saya salut, Pak. Beruntungnya yang jadi isteri Bapak nanti.”


Aku membalasnya dengan senyuman menawan ala Bangun Hidayatulloh. Setelah itu, aku kembali lagi fokus dengan cincin yang saat ini sedang coba kutelisik lebih dalam.


Saat sedang terfokus pada cincin yang kuakui nampak indah ini, tiba-tiba ponselku berbunyi. Seketika orang yang ada disekitarku menoleh ke arahku.


Bagaimana tidak, soalnya aku menggunakan nada dering khas suara telepon-teleponan jaman dulu. Nada dering ini aku gunakan ketika aku pertama kali pegang ponsel. Sampai sekarang, pula.


Aku hanya tersenyum memandang orang-orang di sekelilingku. Mengatakan permohonan maaf lewat tatapan.


“Mbak! Jagain cincinnya sebentar, ya? Saya mau angkat telepon dulu,” pesanku pada pramuniaga tadi, dan diangguki olehnya.


—000—


Semarang, 2003


“Bangun! Oh Bangun!”

__ADS_1


Suara Cinta membuat Bangun kesal. Bangun masih saja teringat dengan kalimat-kalimat dari teman-temannya yang lain tentang Cinta. Kata si kembar Edo dan Ado, Bangun tidak terlihat seperti laki-laki jika bersama Cinta. Katanya Bangun itu tidak macho.


Sebenarnya Bangun tidak terlalu ambil pusing perkataan Edo dan Ado. Tapi lama kelamaan Bangun jadi mengiyakan setiap perkataan mereka.


Juga, Bangun yang tidak bisa menghentikan jika Cinta berbuat jengkel pada dirinya. Mereka juga sering mengolok-olok Bangun jika Bangun pernah dibuat menangis oleh Cinta.


“Kenapa, sih?!” tanya Bangun ketus saat melihat Cinta datang ke rumah.


“Kok, marah? Aku, kan mau minta maaf soal yang tadi. Maafin, ya,” ucap Cinta.


“Nggak mau. Males maafin kamu.”


“Kan, aku udah minta maaf. Biasanya juga dimaafin, kok.” Cinta masih saja ngeyel.


Karena tidak mendapat tanggapan dari Bangun, Cinta menyerahkan sesuatu pada Bangun. “Nih!”


Bangun hanya mengernyit heran karena Cinta memberikan sebuah ponsel mainan. Menjawab kebingungan Bangun, Cinta mengatakan jika ponsel itu Cinta beli karena kasihan dengan penjualnya yang belum dapat pelanggan.


Cinta juga mengatakan itu sebagai kenang-kenangan ketika mereka sudah besar nanti. Sedangkan Bangun hanya menerimamya tanpa mengucapkan sesuati. Membuat Cinta jadi sedih.


Setelah itu, Bangun langsung menutup pintu rumahnya dan membiarkan Cinta sendirian.


Akhirnya Cinta berbalik arah menuju rumahnya. Membiarkan Bangun dengan segala kekesalannya pada dirinya karena Cinta tak sengaja berkata jika Bangun takut dengan ulat.


—000—


Semarang, 2003


Semenjak saat itu, baik Bangun dan Cinta sudah jarang bersama. Terlihat dari Bangun yang menghindari Cinta ketika Cinta ingin berbincang dengan Bangun.


Setiap kali Cinta ingin bermain ke rumah Bangun pun, Bangun akan mengunci pintu jika Bangun sudah mulai mendengar nama Cinta. Menghindari Cinta seperti salah satu kebiasaan baru untuk Bangun. Membuat Cinta jadi jengkel sendiri.


Padahal Cinta juga meminta maaf pada Bunda Ajeng dan Daddy Evan, bahkan orang tua Bangun juga ikut membujuk Bangun supaya tidak marahan dengan Cinta. Tapi Bangun hanya diam mendengarkan perkataan Bunda dan Daddy nya agar Bangun mau memaafkan Cinta.


Sampai satu bulan kemudian, berita kepindahan Cinta pun sampai ke telinga Bangun. Tadinya Bangun pikir itu hanya akal-akalan Cinta agar dirinya mau berbicara lagi dengan Cinta.


Tapi nyatanya setelah satu minggu berita kepindahan Cinta, Bangun pun merasa heran dengan keadaan rumah Cinta yang sepi. Bangun langsung menghampiri Bunda untuk bertanya tentang kepindahan Cinta.


Memang benar, Cinta sekeluarga pindah ke Jakarta.

__ADS_1


“Bunda bohong, kan?” tanya Bangun menuntut.


“Dih, ngapain Bunda bohong. Cek aja sendiri rumahnya yang kosong melompong , tuh,” sahut Bunda.


“Kok, Cinta nggak pamit sama aku, ya,” monolog Bangun. Bunda yang mendengar itu pun berkata, “ lagian kamu, sih. Si Cinta mau ketemu kamu, kamunya nolak, kan? Padahal Cinta waktu itu mau pamitan, loh. Katanya biar kamu nggak nyariin. Eh! Kamunya ambekan nggak jelas kayak Bunda ke Daddy mu itu.”


Bangun hanya diam mendengar perkataan Bundanya. Setelah itu, Bangun berlari ke luar rumah. Bangun berlari menghampiri rumah Cinta. Si tetangga sebelah.


Di depan pagar yang masih tertutup rapat, Bangun hanya diam memandang sekitar rumah Cinta. Sedih? Sudah jelas. Bangun yang hanya tahu jika dirinya saat itu punya teman semenyenangkan dan semenjengkelkan Cinta akhirnya harus kesepian.


Hingga berhari-hari kemudian, setiap Bangun pulang sekolah, ia akan mengunjungi rumah Cinta yang tidak berubah sama sekali. Hanya sepi dengan halaman rumah yang terkadang Bangun lihat bersih karena Bangun sering melihat orang yang bersih-bersih.


Ternyata Bangun belum siap jika Cinta pergi dari hari-harinya. Sempat murung karena Cinta, tapi Bunda juga berkata jika setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Meskipun Bangun saat itu tak terlalu tahu artinya, tapi Bunda Ajeng juga berkata kalau Bangun sudah besar nanti, Bangun bisa bertemu kembali dengan Cinta.


—000—


“Halo! Assalamu’alaikum,” aku menyapa si penelepon yang ternyata calon ibu dari anak-anakku kelak.


“Waa’alaikumsallam. Mas, belum pulang, ya?”


Subhanallah, suaranya merinding sekaligus adem di hati. Ini, sih, nggak perlu lah minum air es. Dengar yang ini aja dahaga langsung minggat. Biarlah orang berkata aku lebay, alay dan sejenisnya. Yang penting aku tetap bahagia.


“Eh! Iya, belum. Kenapa? Mau titip sesuatu?”


Nah, diriku ini sedang menerapkan prinsip perhatian. Katanya perempuan suka diberi perhatian gitu, iya, nggak, sih? Bukan cuma untuk sekarang, tapi jika Tuhan mengizinkan aku ingin sampai maut memisahkan. Hahahaha...


“Ehm... iya aku titip sesuatu, ya.”


“Oke, mau titip apa? Biar aku catat sekalian biar nggak lupa.”


“Yakin mau dicatat, nih? Kalau aku titip hati kamu dijaga buat aku, mau dicatat juga?”


Duileh, kenapa kesannya aku jadi kayak perempuan kena gombalan begini, sih? Aku menggelengkan kepala tak habis pikir. Ternyata calon isteriku ini nggak berubah ternyata.


Dia adalah dia. Yang selalu membuatku berdebar. Yang selalu ada disetiap aku sedang berpikir. Dan bertemu dengannya rasanya bahkan nano-nano. Semua rasa seolah bergantian untuk saling mendominasi.


Eh! Tapi aku nggak nyadar jadi senyum gitu waktu dengar calon isteri gombalin aku. Tau-tau liat di kaca toko aku lagi senyum. Ternyata pesona dia tetap yang number wahid buatku.


Dia perempuan yang Tuhan kirimkan untuk menguji segala kelebihan yang telah Tuhan anugerahkan untukku. Dan pada akhirnya aku hanya kembali pada rasa syukur.

__ADS_1


__ADS_2