
Selamat membaca...
_________________
Katanya, jodoh itu tidak cuma didoakan. Tapi juga diusahakan.
_________________
Minggu kali ini aku berhasil menyeret Hadyan untuk ikut berolahraga bersama. Meskipun Hadyan menolak, tapi apapun akan kulakukan untuk menyeret si pemalas yang satu itu.
Pagi-pagi buta aku berkunjung ke rumah yang Hadyan tinggali sendiri tanpa adanya keluarga. Terkadang membuatku menghela napas karena ikut merasa sedih. Sedih karena tidak ada keluarga Hadyan yang mau menampung Hadyan lagi.
Bahkan Ayahnya yang saat itu sudah menikah lagi pada akhirnya enggan merawat Hadyan. Meskipun saat itu mereka masih tinggal bersama, tapi aku tahu dari Bunda jika keluarga baru Ayah Hadyan tak terlalu peduli pada kehidupan Hadyan.
Karena Hadyan satu-satunya orang yang mau berteman denganku saat awal masuk SMP, Bunda yang memang pada dasarnya memiliki jiwa-jiwa penuh kelembutan meski terkadang keras bersedia membantu kehidupan Hadyan tanpa Hadyan meninggalkan keluarganya.
Mulai dari sekolah, jajan, dan kebutuhan kecil Hadyan pun Bunda yang menyediakan tanpa diketahui oleh Hadyan. Barulah saat mereka lulus SMP dan Hadyan berniat berhenti untuk stop, Bunda membujuk Hadyan agar bisa melanjutkan sekolah bersamaku. Dan yah, Hadyan pada akhirnya mengetahui jika semasa kami SMP biaya kehidupan Hadyan Bunda yang menanggung. Dengan uang Daddy tentunya.
—000—
“Gila! Niat banget datang ke rumah jam lima cuma buat lari-lari.” saat kami sampai di kawasan Simpang Lima, Hadyan tak henti-hentinya berkomentar dengan alasanku yang mengajak dirinya berolahraga di jam ini. Memang ada larangannya, ya?
“Ikhlas kenapa, sih, Yan. Kaya cewe aja apa-apa protes.” kami mulai berlari kecil mengelilingi pusat car free day di Semarang ini. Mumpung masih ada waktu tiga minggu sebelum diriku resmi menjadi seorang—you know lah maksudku, aku tentu ingin terlihat gagah menawan di hadapan orang spesialku.
Meskipun saat ini sebenarnya aku jadi rindu karena mengingat calon isteriku, aku juga tak ingin menyianyiakan rasa rindu hanya untuk membayangkan senyumnya atau wajahnya saja.
“Besok-besok aja ikhlasnya. Hari ini lagi mogok ikhlas.”
“Buset! Kelihatan banget nggak ikhlasnya.”
“Tuh tau.” Hadyan orang paling jujur selama menjadi teman. Entah menyenangkan ataupun menyakitkan.
“Semangat kenapa, sih! Siapa tahu ketemu jodohmu.” aku berbicara seperti itu bukan tanpa alasan. Saat ini usiaku dan Hadyan memang sudah cukup untuk berrumah tangga. Tapi sayangnya Tuhan lebih menyayangi Hadyan dengan cara masih menahan tulang rusuknya.
“Aamiin!!!”
__ADS_1
“Giliran nyari jodoh semangat banget. Giliran nyari yang sehat ogah-ogahan. Dasar human,” aku mencibir Hadyan yang sekarang justru lebih bersemangat lari pagi.
—000—
Baru lima kali putaran Hadyan sudah mengeluh lelah. Sangat disayangkan sekali jika seorang laki-laki yang memiliki stamina tak sekuat Hadyan. Turut berduka cita.
“Yan, mau tau olahraga yang nggak gampang buat lelah?”
“Apa?”
“Ikut itu aja.” tunjukku pada sekumpulan orang yang sedang melakukan senam aerobik.
“Siapa tahu jodohmu tenggelam di sana,” lanjutku. Dan dengan percayanya Hadyan mengikuti saranku. Sedangkan aku memilih melanjutkan lari pagi.
Setelah Hadyan pergi, aku justru lebih khusyuk karena tidak ada ocehan Hadyan yang seperti Bunda.
—000—
Lepas menambah beberapa putaran aku memilih menepi sejenak. Lebih tepatnya menepi ke pedagang kaki lima. Membeli air mineral sekaligus sarapan pagi.
Aku berjalan pelan sembari melihat-lihat makanan apa yang ingin ku makan pagi ini. Sekalian membawa pulang ke rumah.
Aku pesan dua bungkus. Yang satu bungkus untuk Hadyan karena kutahu Hadyan jika tidak dibelikan pasti akan mengambil hak milikku, meskipun dia sendiri sudah berduit. Untuk orang rumah, mungkin pesan saat akan pulang saja agar tidak terlalu dingin.
Setelah antre kurang lebih lima belas menit, akhirnya aku mendapatkan dua porsi tahu aci dengan bumbu saus siram alias saus bangkok. Aku membawa tahu aci tersebut untuk ikut duduk bersamaku dan menemaniku sembari menunggu Hadyan yang entah mengapa terasa lama.
Belum ada tanda-tanda kemunculan Hadyan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kan, penasaran. Ya, sudahlah nikmati saja dulu. Masalah Hadyan terbelakang. Tapi urusan perut harus number one. Ya, nggak? Ya, dong.
—000—
Baru empat suapan tahu aci yang sebenarnya bukan termasuk agenda sarapan alias camilan, aku melihat si pemalas sedang berjalan dengan seorang perempuan. Rupanya hilal jodoh Hadyan sudah mulai nampak. Dan bersyukurnya diriku jika itu memang benar.
Aku masih mengamati Hadyan yang sedang berbincang dengan perempuan di sebelahnya. Tak lama Hadyan melihatku yang sendirian dan melambaikan tangan ke arahku.
Kulihat mereka berdua mulai mendekat. Dan benar saja dugaanku jika Hadyan sangat senang sekali. Rupanya ada yang nemplok juga ke Hadyan.
__ADS_1
“Wih, enak kayaknya.” bau-bau pengkodean mulai tercium. Aku segera mengambil seporsi tahu aci yang memang sudah kubeli tadi.
“Sekalian itu ditawarin,” saranku.
“Oh iya! Sampai lupa belum kenalin. Eh tapi, aku yakin kalian berdua saling kenal. Secara jaman SMA kalian lebih dekat.” aku terkejut dengan penjelasan Hadyan mengenai seorang perempuan yang masih diam.
Ku pandang sejenak lalu berpikir. “Kamu benar, Elsa?” ragu sebenarnya. Apalagi di usia kami, semua orang pasti lambat laun berubah. Bahkan aku sampai tak mengenali Elsa. Apalagi sekarang Elsa sudah berhijab.
Elsa mengangguk membenarkan. Aku sampai tak berkedip melihat penampilannya berbeda dengan jaman kami SMA. Rambutnya sudah terlindungi dengan kain berwarna biru yang melilit kepalanya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
“Iya, ini Elsa, kok. Beda, ya?” aku dan Hadyan bahkan mengangguk bersamaan.
“Tapi aku suka, kok,” celetuk Hadyan. Aku dan Elsa langsung memandang Hadyan. Yang ditatap seperti salah tingkah.
“Maksudku, kalau berhijab pasti banyak yang suka gitu. Bangun pasti mikir yang sama. Ya, kan, Un?” terpaksa aku mengiyakan karena hal itu memang benar adanya. Adem begitu dilihatnya.
“Kabar kamu baik? Kamu udah maafin aku soal—” ucapanku terpotong oleh Elsa yang berkata sudah. Elsa juga berkata jika kita tidak bisa memaksakan kehendak orang lain. Aku bersyukur mendengarnya meskipun kejadian tersebut sudah berlalu lama.
—000—
“Yan, kamu berasa ada yang aneh sama, Elsa nggak, sih?” aku bertanya pada Hadyan sekembalinya ke rumah orang tuaku. Hadyan juga ikut mampir ke rumah. Kangen sama Bunda katanya.
“Aku kira cuma aku yang ngerasain, ternyata kamu juga.” aku manggut-manggut membenarkan.
“Elsa nggak ada cerita sesuatu ke kamu?”
“Nggak ada. Cuma dilihat dari cara Elsa melihat, kayak ada yang disembunyiin gitu. Kayak orang lagi gelisah.”
“Kamu suka Elsa, kan?” aku bertanya tanpa basa-basi. Hadyan diam sebentar, tak lama dia menyangkal itu. Tapi aku tahu dilihat dari ekspresi Hadyan ketika memandang Elsa. Entah itu benar atau tidak, tapi kurasa aku benar.
“Kalian tukar nomor telepon?”
“Iya. Kenapa, sih?”
“Kayaknya jalan menuju hilal jodohmu mulai terlihat.” tinggal tunggu waktunya kurasa dan semua akan terjadi.
__ADS_1
—**000—
To be continued**...