
Note : Happy Ied Mubarak 1441 H semuanya:-)
*Salam,
tricikcik*
—000—
Semarang, 2009
“Cinta.”
Bangun sungguh kaget sekarang. Ia benar-benar terkejut mendapati seseorang memperkenalkan dirinya sebagai Kirana Cinta Hanafi. Seseorang yang pernah menjadi tetangganya dulu. Dan sekarang mendapati orang yang berbeda tapi menyebutkan nama yang sama membuat Bangun bingung harus merespon apa.
“Hai tetangga.” cinta melambaikan tangan pada Bangun sesaat setelah mereka berdua bertemu pandang bukan karena sengaja.
Sorakan dari teman sekelas untuk Bangn membuat dirinya mulai sadar jika ini bukanlah mimpi. Sampai Hadyan pun ikut dibuat penasaran saat murid baru melambaikan tangannya pada teman semejanya itu.
“Un, kamu kenal dia? Tadi dia dadah-dadah ke arah kamu terus bilang hai tetangga,” tanya Hadyan.
“Hah? Apa?” tanya Bangun linglung.
“Ck... itu, kamu kenal sama murid baru itu? Kok dia kenal kamu?”
Bangun mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepala, barulah menghadap Hadyan dan berkata, “Nggak, kok.”
Sejujurnya Bangun tidak berniat berbohong. Hanya saja ia bingung harus mengatakan apa. Kalau Bangun berkata dirinya mengenal Cinta, pasti Hadyan akan menerornya dengan berbagai pertanyaan. Dan sesungguhnya Bangun sedang malas menanggapi.
Bangun justru mencoba mengalihkan tatapannya ke arah ponsel yang sempat terjun bebas ke lantai. Pemandangan ponselnya memang biasa saja. Tapi itu setidaknya membuat Bangun lebih baik daripada memandang Cinta terus menerus. Itu sungguh tidak baik untuk kinerja jantungnya.
“Nah, sekarang kita sudah mengetahui nama Cinta. Apa ada pertanyaan untuk teman baru kalian?” tanya Bu Ina pada murid XI IPS 2.
“Saya, Bu.” Hadyan mengangkat tangannya menginterupsi. Sedangkan Bangun justru terkejut dan beralih memandang Hadyan tak percaya.
“Boleh, silakan mau bertanya apa?”
“Cinta, sudah ada pacarkah?” pertanyaan tak bermutu Hadyan sontak membuat seisi kelas riuh. Terutama anak laki-laki yang sebenarnya juga penasaran. Dan berkat perwakilan dari Hadyan membuat kelas menjadi pecah.
__ADS_1
“Kamu ini. Pertanyaannya tidak berbobot sama sekali. Cinta mau jawab?” Cinta mengangguk sembari tersenyum.
“Saya tidak diperbolehkan untuk berpacaran. Jadi pasti sudah tau sendiri jawabannya,” jawab Cinta tersenyum.
Meski Bangun tak melihat ke arah Cinta, tapi Cinta yakin jika Bangun mendengar jawabannya. Sedangkan Bangun di tempatnya diam-diam menghembuskan napas lega karena sebelum mendengar jawaban Cinta dirinya sempat menahan napas karena tegang.
“Tapi kalau ada yang ngajak kamu pacaran, mau?” lagi-lagi mulut Hadyan seperti tidak memiliki rem.
“Kalau pacaran sebelum nikah, maaf nggak bisa. Tapi kalau pacaran setelah nikah, ayo aja.” ucapan Cinta seolah air segar dari pegunungan yang menyiram hati murid laki-laki di kelas ini.
Diam-diam Bangun tersenyum mendengar jawaban Cinta. Tak menyangka dengan Cinta yang sekarang ternyata sudah berbeda dengan yang dulu. Bangun kembali mengangkat wajahnya dan lagi-lagi tatapan Cinta mampu membiusnya.
Dalam hati Bangun bertanya-tanya kenapa sejak pertemuan tak sengaja mereka sudah membuat Bangun seperti orang yang hilang kesadaran. Bahkan Bangun tak menyangka jika perempuan yang menyebrang jalan tadi pagi ialah Cinta.
Sungguh takdir Tuhan begitu hebat.
“Kalau begitu, Ibu rasa pertanyaannya sudah cukup karena pertanyaan kalian sungguh kurang berbobot. Nah, Cinta sekarang kamu bisa duduk di baris ketiga itu, ya.” Bu Ina menunjuk kursi yang masih kosong di barisan ketiga. Yang hanya terdapat seorang murid perempuan duduk sendiri.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Bu Ina, Cinta segera melangkah ke tempat duduknya. Belum sempat meletakkan tasnya, Cinta berdiri di samping tempat duduk Bangun yang Cinta perhatikan hanya diam memandang ponselnya.
Hadyan yang sebelumnya sedang berbincang dengan teman meja sebelah, terhenti karena Joni teman yang diajak bicara justru sedang menunjuk-nunjuk sesuatu. Hadyan pun ikut mengalihkan pandang. Terkejut karena sudah berdiri Cinta di dekat Bangun.
“Lagi ngapain, sih?” ucapan Bangun tak diindahkan oleh Hadyan. Membuat Bangun menoleh ke arah pandang Hadyan.
“Astaghfirullah.” Bangun mengelus dadanya terkejut karena sudah ada Cinta yang berdiri di sampingnya. Cinta hanya diam memandang Bangun tajam.
Dengan ragu Bangun menyapa Cinta.
“Ha—hai,” sapa Bangun ragu. Sedangkan Cinta masih saja diam.
“Ada apa?” tanya Bangun kembali.
Tanpa Bangun dan Hadyan duga Cinta justru menjewer telinga Bangun dan memukul Bangun dengan sangat bar-bar. Berbeda sekali saat berada di depan teman-temannya yang terlihat anggun. Sekarang Cinta yang ini lebih mirip jelmaan Hulk daripada bidadari.
Bangun mengaduh sakit karena Cinta tak kunjung berhenti memukul. Kejadian tersebut membuat teman yang lain dengan sigap melerai Cinta yang seperti orang kerasukan.
“Dasar tetangga jahat! Sok nggak kenal! Dasar nyebelin! Aku sebel sama kamu!” begitulah ucapan yang Cinta lontarkan ketika memukul Bangun.
__ADS_1
Mayang Sari, perempuan yang akan menjadi teman semeja Cinta langsung bereaksi saat Cinta seperti orang kerasukan.
Bangun hanya pasrah saat cinta melakukan tindakan bar-barnya. Setelah puas memukul, menjewer, bahkan menjambak rambut Bangun, Cinta langsung berhenti. Merasa puas karena sudah bisa melampiaskan rasa rindunya terhadap Bangun. Karena bahagia Cinta adalah saat Bangun menderita seperti sekarang. Terlihat seperti orang jahat memang.
“Akhirnya...” Cinta berucap sembari tersenyum. Beruntung saat dirinya berulah, kerudungnya masih melekat rapi di kepalanya. Teman sekelas mereka yang melihat Cinta hanya melongo bingung.
“Akhirnya rasa rinduku sudah terbayar lunas,” ucap Cinta sembari mengatupkan kedua tangannya dan memandang Bangun dengan senyum dibibirnya dan kerlingan mata.
Reaksi Bangun? Melongo terkejut. Bangun tak menyangka Cinta seperti memiliki kepribadian ganda. Karena Cinta sudah terlihat tenang, teman yang sempat menonton akhirnya membubarkan diri.
Beruntung Bu Ina hanya datang untuk memperkenalkan murid baru.
“Kamu nggak kenapa-napa, kan?” tanya Mayang saat melihat Cinta yang justru nampak bahagia. Anggukan dari Cinta membuat Mayang kembali ke tempat duduknya.
“Cantik-cantik macan,” bisik Hadyan pada Bangun.
Mengabaikan ucapan Hadyan, Bangun berkata pada Cinta, “Kamu apaan sih, datang-datang bukannya peluk, kek. Apa, kek. Ini malah dipukul. Aku itu nggak suka sama yang namanya kekerasan. Tapi kalau dipukul sama kasih sayang aku maju paling depan.” mendengar ucapan Bangun membuat Hadyan protes tak terima karena masih sempat-sempatnya menggombal.
“Serius mau dipukul sama kasih sayang? Boleh, asal mau penuhi syaratnya. Cukup minta izin Ayah sama Mama buat nikahin aku. Gampang, kan?” ucap Cinta menggoda Bangun.
“Tau lah, halu terus.” Bangun berdiri hendak pergi namun Cinta menahannya.
“Mau ke mana? Ikut dong,” pinta Cinta.
“Mau ceburin kamu ke neraka. Masih mau ikut?”
“Emang kamu tega?”
Nggak!!!
Tentu saja Bangun hanya berucap dalam hati. Akhirnya Bangun hanya mengendikan bahu tak acuh. Setelah itu berlalu dari hadapan Cinta.
Hari ini sungguh hari kejutan untuk Bangun. Meskipun Bangun terlihat biasa saja saat merespon Cinta, sebenarnya ada rindu yang diam-diam menyelinap. Sudah beberapa tahun sejak kepindahan Cinta tentu membuat Bangun kehilangan sosok teman yang sudah menemaninya sejak mereka masih bayi.
Hanya saja Bangun bingung harus berbuat apa untuk pertemuan pertama mereka. Jadi Bangun lebih memilih menghindar dari Cinta terlebih dulu. Mungkin nanti setelah pulang Bangun akan menginterogasi Cinta. Bangun ingin mencairkan kecanggungan anatara dirinya dan Cinta nanti saja. Begitu pikirnya.
—**000—
__ADS_1
To be continued**...