Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 2 - DULU DAN SEKARANG


__ADS_3

______________________


Tentang cinta. Semua hal sederhana yang bisa menimbulkan suka dan juga memberikan lara


_______________________


Dulu, masa kecilku rasanya itu indah banget. Selain nggak perlu mikir kalau besok nggak punya uang terus mau makan apa, nggak perlu mikirin bagaimana caranya bayar hutang pas lagi kanker alias kantong kering. Aku cuma mikirin bagaimana caranya supaya Cinta berhenti nangis.


Waktu itu, aku baru pertama kali dengar Cinta nangis. Jadi nggak tau cara nenangin dia itu kayak gimana. Dan, setelah aku tau rahasianya supaya Cinta berhenti nangis, aku selalu lakuin itu.


—000—


Semarang, 1997


“Mama Jeje! Mama Jeje! Cintanya ada nggak?” ucap Bangun kecil.


“Eh! Bangun. Nyari Cinta ya?” tanya Mama Jena. Bangun kecil pun menganggukakan kepalanya.


“Ada tuh, di dalam. Di kamar kayaknya lagi mainan.”


“Aku mau main sama Cinta... boleh?” tanya Bangun kecil ragu.


Mama Jena pun tertawa mendengar pertanyaan Bangun.


“Boleh dong. Masuk, gih. Pasti Cinta senang deh karena Bangun mau ajakin Cinta main.”


Bangun kecil hanya tersenyum malu dan tak lama berpamitan masuk ke kamar milik Cinta.


“Cinta! Aku main sini ya,” ucap Bangun kecil dengan riang.


“Cinta kok diam? Nggak suka ya aku main sama Cinta?” karena tidak ada tanggapan, akhirnya Bangun mendekati Cinta yang sedang meunduk mengamati robot miliknya.


Bangun terkejut. Bukan terkejut karena mengetahui jika Cinta memiliki mainan robot. Tetapi karena Cinta yang sedang menangis.


“Cinta! Cinta! Kok kamu nangis sih?” Cinta hanya diam dan menunjukkan robot miliknya yang salah satu lengannya patah.


“Aku—aku nggak bisa mainan sama Bangun lagi,” adu Cinta.


“Aku, kan juga Bangun. Mending Cinta main sama Bangun yang hidup aja, jangan sama Bangun yang mati,” ucap Bangun kecil menghibur Cinta.


Tapi Cinta masih saja menangis. Cinta sedih sama Bangun—robot miliknya.


Cinta hanya memandang Bangun sedih dan terus menangis. Sampai akhirnya Bangun berinisiatif mengulang kembali saat Cinta menangis di hadapan Bangun untuk pertama kalinya.


Menepuk pelan kepala Cinta dan mengelusnya dengan hati-hati.


“Nah! Sekarang Cinta jangan nangis lagi, ya. Kalau Cinta nangis nanti Bangun bakal cup-cupin Cinta lagi.

__ADS_1


Dan Cinta akhirnya menurut dengan Bangun. Entah karena Bangun yang hebat menenangkan Cinta atau memang Cinta sudah lelah karena terus menangis sebelum Bangun datang ke kamar Cinta.


—000—


Kalau ingat hal itu lagi, rasanya antara malu dan senang juga sih. Malunya karena aku sok jago menenangkan perempuan macam Cinta. Dan senangnya karena aku ternyata hebat juga bisa membuat seorang perempuan tenang. Apalagi waktu itu kita masih sama-sama kecil.


Yang terpenting waktu itu adalah aku bisa membuat Cinta nggak nangis lagi. Biar aku nggak main sendirian. Soalnya kalau Cinta lagi sedih pasti Cinta cuma mau sendirian di kamar. Dan aku? Tentu saja kesepian.


Dan pada akhirnya aku selalu merindukan Cinta.


—000—


Sampai di parkiran salah satu mall yang ada di Semarang, aku segera turun dari mobil. Tak lupa merapikan diri itu perlu. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi agar lebih sedap dipandang.


Kalau kata Eyang itu Ajining Raga Saka Busana. Nggak terlalu paham juga dengan artinya, aku hanya menangkap intinya. Yang artinya seseorang yang dinilai dari cara berbusananya, cara berpakaiannya itu mencerminkan harga dirinya.


Meskipun nggak semua yang kita lihat baik itu benar-benar baik dan sebaliknya. Tapi kata Eyang itu adalah salah satu tata cara hidup orang Jawa yang baik. Bukan untuk menilai seseorang hanya karena penampilan. Tapi sebagai orang Jawa yang sudah berpengalaman dibandingkan diriku tentunya, perkataan Eyang hingga kini bahkan masih saja menempel diotakku.


Karena bagiku selama itu baik akan aku ambil, dan selama itu kurang baik ya, aku biarkan. Hehehehe...


Saat sedang jalan sendiri tanpa ada yang menemani, aku melintasi sebuah toko kosmetik. Aku melangkahkan kakiku pelan. Melihat toko kosmetik aku jadi teringat dengan pelembab bibir milik Bunda.


Bukan aku mau beli, tapi mengingat hal itu membuat aku tertuju ke masa aku kecil.


—000—


Semarang, 2001


Saat itu hari Minggu. Seperti biasa, Cinta pasti main ke rumah Bangun. Entah sekedar mengikuti keseharian Bangun ataupun membuat Bangun marah-marah. Bahkan pernah sampai buat Bangun nangis dan mengadu ke Mama Cinta.


Iya! Mengadunya bukan ke Bundanya sendiri, melainkan ke Mamanya Cinta. Katanya biar Cinta dimarahin sama Mamanya juga.


Waktu sampai di rumah Bangun, suasananya sepi. Mungkin orang tua Bangun lagi pergi keluar. Itu pikir Cinta. Cinta tahu persis kalau Bangun diajak keluar pasti banyak alasan. Bangun ini tipe anak rumahan.


Waktu sedang melewati depan kamar Bundanya Bangun, Cinta tidak sengaja mendengar suara gaduh. Jadi Cinta berpikir jika Bunda Ajeng ada di rumah bersama Bangun. Cinta berniat menanyakan pada Bunda Ajeng apakah Cinta bisa bermain dengan Bangun atau tidak.


Dan, saat Cinta membuka pintu kamar yang sedikit terbuka, nampaklah pemandangan aneh Bangun. Cinta membuka pintu dan berdiri di dekat pintu. Cinta memandang Bangun heran.


“Bangun kok dandan, sih?” tanya Cinta tiba-tiba.


Bangun yang kaget langsung menghampiri Cinta dan menarik tangan Cinta agar bisa masuk ke kamar Bunda Ajeng dan menutup pintunya.


“Cinta! Cinta! Jangan bilang ke Bunda ya... aku ke sini cuma minta punya Bunda kok. Serius...” pinta Bangun panik.


“Tapi Bangun tadi dandan kaya Mama kalau mau pergi,” ulang Cinta.


“Bangun bukan dandan, Cinta. Bangun kan lagi sehat.”

__ADS_1


“Sini deh, Bangun kasih tahu. Aku kemarin liat Bunda pakai ini. Terus aku tanya itu apa. Katanya Bunda ini bisa buat bibir Bunda sehat,” jelas Bangun sembari menunjukkan sebuah lip balm.


“Aku juga pengin tau kayak Bunda, biar sehat. Cinta mau nggak?” tanya Bangun sembari mengoleskan lip balm dengan telunjuknya ke bibirnya sendiri.


“Emang Bunda nggak marah, ya?” tanya Cinta masih ragu.


“Tenang aja Cinta. Pasti dibolehin sama Bunda kok. Nanti aku minta dibeliin sama Bunda juga, deh.”


Cinta hanya memandang Bangun bingung. Dalam hati Cinta bertanya-tanya, “Bangun, kok, sekarang mirip Mas Anggi ya?” Mas Anggi adalah laki-laki kemayu yang selalu duduk-duduk di dekat Sekolah Bangun dan Cinta.


Pada akhirnya Cinta ikut tergoda mencoba hal yang sama dengan Bangun. Apapun yang Bangun lakukan pasti Cinta ikuti. Bagi Cinta, Bangun adalah panutannya.


—000—


Aku menggelengkan kepala ketika mengingat hal itu kembali. Ternyata memori masa kecilku masih berfungsi dengan baik. Aku berdehem sejenak dan kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.


Di sepanjang perjalananku menuju ke toko perhiasan rekomendasi Bunda Ajeng dan calon Mama mertua, aku mendapat pesan dari Hadyan. Teman sejak SMP hingga sekarang.


Hadyan


Lagi di mana bro??


13.07


Aku berhenti sejenak dan kuketik balasan untuk Hadyan.


Bangun H


Lagi di mall bro. Mau mejeng dulu lah


13.08


Hadyan


Jangan-jangan mau apelin cewe baru ya? Insaf woy! Kasihan calon bini. Sayang banget secantik dia diselingkuhin. Buatku juga bolehlah


13.10


Bangun H


Your head! Brother. Mimpimu tolong diturunin sedikit biar jatuhnya lebih empuk. Dia sudah berlabel calon isterinya Mas Bangun Hidayatulloh. Hahaha...


13.12


Aku langsung memasukkan kembali ponsel ke saku celana tanpa menunggu balasan selanjutnya dari Hadyan. Yang jelas, pasti sekarang Hadyan sedang misuh-misuh sendirian.


Aku melangkah kembali dengan hati yang lebih ringan. Setelah Hadyan tadi menyebut-nyebut calon isteriku, aku jadi merasa rindu dengannya.

__ADS_1


Dan sepertinya aku akan terkena karma karena selalu mengatai Daddy seperti anak manja yang selalu menempel dengan Bunda dan enggan mengalah dengan anaknya sendiri.


Aku jadi berpikir, apa iya, ya kalau aku menikah nanti aku akan seperti Daddy?


__ADS_2