Bangun Cinta

Bangun Cinta
BAGIAN 1 - KISAH KLASIK


__ADS_3

_________________________


Jangankan kata tetangga yang suka buat hati gelisah. Nyatanya, menunggu kata cinta terucap darimu pun juga sama


__________________________


A/N :


Per bagian ditambah menjadi lebih banyak. Jadi, jika bagian kemarin hanya beberapa ratus kata. Untuk bagian setelah revisi ini lebih banyak. Jadi yang kemarin sempat baca hingga BAGIAN 4, maka sekarang di BAGIAN 4 sudah bertambah. So, jika tidak keberatan dan masih suka cerita ini. Kalian bisa baca lagi dari awal agar kalian lebih paham dengan alurnya.


Thank you


—000—


“Bangun! Ayo cepetan bangun.”


“Bangun, cepet mandi nanti telat.”


“BANGUN!!!”


Nggak tau kenapa setiap dengar teriakan Bunda itu terdengar merdu buatku. Aku gila kali ya? Ah! Masa bodo.


Tapi aku serius. Aku baru bisa bener-bener bangun tidur itu kalau dengar teriakan Bunda. Kayak pagi ini. Gara-gara aku ketiduran sehabis subuh, jadinya aku kesiangan. Untungnya Bunda datang ke kamar dan teriakin aku. Seneng banget deh. Hehe...


“Honey, what are you doing? Kenapa teriak-teriak sih?” Nah, itu suara bokap alias Daddy. Dari dulu aku selalu diajarin buat manggil bokap itu dengan sebutan Daddy. Nggak tau kenapa. Mungkin karena bokap orang luar kali ya. Nggak mikir juga sih.


“Tuh! Anakmu. Dibangunin malah tambah molor. Kesel aku tuh.” sekarang Bunda malah pergi dari kamar setelah ngecek aku bener-bener bangun.


“Hey! Baby boy. Ada apa?” tanya bokap. Dan aku selalu sebel tiap kali bokap manggil dengan sebutan baby boy. Aku malu lah. Sudah berapa tahun coba? Kira-kira sekarang dua puluh delapan tahun. Padahal, sebentar lagi aku mau nikah. Nanti anak aku mau dipanggil apa coba sama bokap? Baby-baby boy? Apa baby boy-boy? Heran dah.


“Nggak tau!” jawabku jutek. Bokap benar-benar merusak suasana hati gara-gara panggilan masa kecil itu. Aku langsung turun dari ranjang untuk mandi dan meninggalkan bokap yang sepertinya juga tak acuh sama omonganku barusan.


Sebelum aku benar-benar masuk kamar mandi, aku masih dengar Bunda ngomel tentangku. Suara Bunda itu menggelegar kayak petir.


“Honey, jangan marah terus oke? Aku mau kasih hadiah buat kamu supaya kamu nggak marah-marah lagi. Kita ke kamar ya.” mendengar bokap berkata seperti itu, aku langsung teriak, “Daddy, aku nggak mau punya adik lagi. Titik!!!” Setelahnya aku berlalu ke kamar mandi. Untung tadi dengar. Kalau nggak bisa-bisa aku punya adik lagi. No! No! No!


Masa nanti kalau Daddy punya anak lagi, terus umurnya ngga beda jauh sama cucunya. Apa kata tetangga?


—000—


Hari ini karena aku telat bangun, alhasil aku makan sendiri. Bunda sama Daddy nggak mau nungguin aku sarapan bareng. Katanya aku kebo gitu. Gitu sih, katanya. Palingan juga Daddy yang minta ke Bunda buat sarapan berdua.


Mau mesra-mesraan tanpa anaknya kalau kutebak. Hah! Gitu terus dari dulu. Daddy mana mau ngalah sama aku. Gelendotan mulu sama Bunda. Dari jamannya aku ngompol, terus suka mandi bareng sama anak tetangga sebelah, Daddy nggak pernah absen yang namanya ngikutin Bunda. Mentang-mentang punya perusahaan sendiri ya gitu. Sesuka hati nggak masuk kantor.

__ADS_1


Lagi menikmati sarapan pagi yang tertunda hingga ke makan siang, tiba-tiba Bunda ikut duduk di sebelahku. Aku cuma diam sambil ngunyah nasi.


“Persiapannya udah berapa persen?” Bunda bertanya tanpa basa-basi.


Lagi makan aku sambil mikir, “mungkin tujuh puluh persen,” jawabku.


“Gimana perasaan kamu sama anak Bunda? Ceritain dong.”


“Kan, anak Bunda itu aku. Gimana sih,” jawabku.


“Ih! Maksudnya mantu Bunda itu lho.”


“Masih calon, Bun. Kalau jadi,” ucapku sembari memamerkan gigi.


“Pokoknya harus jadi, ya. Dari dulu, kan Bunda udah bilang, kalian pasti berjodoh. Kejadian, kan sekarang,” ucap Bunda berapi-api.


Dan aku hanya bergumam menyetujui omongan Bunda. Sebenarnya aku juga nggak nyangka bisa berjodoh sama dia. Iya! Sama calon isteriku lah!


Padahal kalau dipikir-pikir aku sama dia jarang akurnya. Soalnya dia suka buat aku jengkel sih. Bawaannya kalau liat dia itu kesel banget. Meskipun kadang kalau nggak buat jengkel, dia buat hatiku adem.


Asli, kisah cintaku itu klasik banget. Udah banyak kejadian juga. Tapi nggak tau kenapa aku jadi sebucin itu sama calon isteriku itu.


Dan, kisah klasik inilah yang mewarnai hidupku saat ini.


—000—


Kok cari sendiri?


Yaps! Itu kemauanku sendiri. Bukan nggak mau repotin calon isteri atau siapa. Cuma aku mau kasih yang benar-benar spesial. Iyalah! Sebagai seorang calon kepala rumah tangga yang baik, semua harus diawali dengan kemandirian.


Bukan nggak mungkin setelah nikah nanti kita bergantung terus dengan pasangan kita, kan? Makanya kita juga harus berlatih mandiri. Biar bisa saling meringankan satu sama lain. Asik!!!


Lepas siap-siap lalu pamitan ke Bunda yang pastinya lagi di jagain sama body guard kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan suami tercinta.


—000—


Waktu sedang lampu merah, di seberang jalan aku tak sengaja melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang menangis. Itu buat aku jadi teringat masa dulu waktu masih kecil. Nggak tau kenapa saat-saat kayak begini buat aku flashback. Daripada lama nunggu setidaknya aku mau mengenang masa lalu. Terutama tentang tetangga sebelah.


—000—


Semarang, 1992


Kirana Cinta Hanafi. Tetangga sebelah yang hobinya buat Bangun kesal. Tingkahnya juga buat Bangun sebal setengah mati. Intinya Bangun sebal dan kesal dengan Cinta.

__ADS_1


Dari jaman Bangun dan Cinta belum ada di perut Ibu mereka masing-masing. Ternyata orang tua mereka itu bertetangga. Mamanya Cinta—Mama Jena—dan Bunda Ajeng—Bunda Bangun—itu selalu kompak.


Mereka itu klop sekali kalau Bangun bilang. Mereka berdua suka menanam sayur bersama lalu masak bersama dan makan bersama. Bangun jadi heran, apa jangan-jangan Bunda Ajeng dan Mama Jena itu saudara kembar yang terpisahkan oleh jarak dan tempat tinggal.


Tapi ternyata itu tidak benar. Bangun juga pernah bertanya ke Bunda dan Mama Jena soal itu. Katanya Bangun itu korban sinetron. Dan Bangun percaya sih. Kayaknya dari jaman Bangun baru lahir Bangun dicekokin sama sinetron, makanya pikirannya nggak jauh-jauh dari situ.


Sampai Bunda dan Mama Jena punya anak yaitu Bangun dan Cinta. Bangun diberi nama sederhananya yaitu Bangun Hidayatullah dan Cinta dengan nama Kirana Cinta Hanafi.


Bangun sendiri heran, kenapa nama Bangun tidak ada unsur kebarat-baratan. Padahal nama Daddy nya itu keren. Dulunya bernama Ricardo Stevan Angelo. Dan, setelah itu Daddy menambahkan namanya dengan Muhammad.


Yoi! Daddy dulunya seorang non muslim. Tapi semenjak mengenal Bunda, Daddy tertarik belajar agama Bunda yaitu Islam. Dan pada akhirnya Daddy memutuskan masuk agama Bunda. Dan kata Bunda, Bunda tidak bisa berkata apa-apa lagi waktu Daddy memutuskan buat pindah agama. Hingga meminang dan menikahi Bunda.


Ah! Tapi sepertinya Bunda bohong. Buktinya Bunda masih bisa ngomong sampai sekarang.


—000—


Semarang, 1993


Kata Bunda, sejak umur satu tahun, Bangun dan Cinta itu suka diajak mandi bersama waktu sore. Tidak tahu itu ide siapa. Toh, sudah kejadian juga.


Semarang, 1997


Waktu mereka sama-sama berumur lima tahun, Cinta suka main ke rumah Bangun. Begitu juga sebaliknya. Cinta juga selalu mengikuti ke mana pun Bangun pergi. Hingga terkadang Bangun lelah sendiri melihat Cinta seperti anak ayam yang membuntuti induknya. Sampai suatu hari Cinta ikut Bangun ke kamar mandi.


Saat itu Bangun sudah sedikit tahu rasa malu. Terus Bangun enggan membawa Cinta ke kamar mandi. Tapi dasarnya Cinta yang bandel dan keras kepala, dia tidak mau Bangun tinggal barang sebentar. Padahal Bangun waktu itu sedang kebelet dan sudah lari supaya si Cinta tidak ikut.


Eh! Belum juga masuk sudah dicegat lebih dulu.


“Bangun! Tungguin Cinta. Cinta ikut,” rengek Cinta.


“Nggak mau. Bangun malu. Nanti Cinta ngintipin Bangun. Cinta di sini aja tungguin Bangun.”


Tidak tahu kenapa Bangun langsung meninggalkan Cinta waktu itu. Bangun langsung masuk ke kamar mandi. Waktu keluar Bangun justru melihat Cinta yang sedang menangis.


Cinta jika menangis itu anteng sekali. Hanya mengeluarkan air mata. Tidak teriak-teriak seperti di sinetron yang pernah Bangun tonton. Kan, Bangun jadi merasa bersalah dengan Cinta.


Cinta saat itu tidak berhenti menangis. Bangun juga membujuk dengan makanan, Cinta hanya geleng-geleng kepala. Bangun ajak main bonekanya Cinta, Cinta masih nangis. Karena Bangun yang masih kecil nan polos waktu itu, Bangun mendekati Cinta dan menepuk-nepuk pelan kepala Cinta. Selain itu, Bangun juga menambahnya dengan mengelus kepala Cinta sangat pelan. Seolah takut jika Bangun mengelusnya dengan bar-bar maka rambut panjang milik Cinta akan rontok.


Dan reaksinya apa? Cinta seketika langsung berhenti. Ajaib sekali memang. Bangun saja sampai takjub begitu.


“Cinta jangan nangis lagi. Nanti Bangun ikutan sedih tau. Cup... cup... cup..” Bangun menepuk-nepuk pipi Cinta yang masih ada air mata. Cinta hanya diam saja waktu itu sembari mengamati wajah Bangun.


Itu adalah salah satu hal yang Bangun benci dari Cinta selain suka membuat Bangun kesal dan marah. Tapi tanpa kehadiran Cinta pun hidup Bangun menjadi terasa sepi nan kosong.

__ADS_1


—**000—


To be continued**...


__ADS_2