BARA

BARA
Hampir Saja


__ADS_3

Seorang pria baru saja turun dari motor Aeroxnya. Terlihat beberapa kali dia memencet bel pintu hingga seorang gadis dengan hijab hitam membukakan pintunya.


"Udah lama?" Tanya seorang gadis yang memakai jilbab berwarna hitam yang baru saja muncul dari balik pintu.


Pria di hadapannya tersenyum, lalu menggeleng pelan, "engga, ini baru aja sampe kok!" Serunya


"Mau masuk dulu apa gimana? Ketemu papa," ajak Milla lalu membuka pintu lebih lebar. Mata Nanda turun kebawah, memperhatikan busana yang dikenakan oleh Milla


"Ngga usah, kamu udah siap?" Nanda menggaruk tengkuknya, "langsung aja ayo!" Ajak pria itu pada kekasihnya.


Milla mengangguk, "bentar ya, izin sama papa dulu!" Nanda mengangguk mendengar ucapan kekasihnya.


Malam ini, Milla tampak sangat cantik dengan baju coklat yang dikenakannya, kulit putih bersih dan sedikit polesan make up menambah kesan kecantikan gadis berusia 20 tahun itu


"Hati-hati," ucap Nanda ketika Milla tampak kesulitan untuk menaiki motornya. Gadis itu memberikan senyuman manis, tanda agar pria dihadapannya tak perlu khawatir, beberapa saat kemudian mereka pergi, meninggalkan kediaman orang tua Milla Az-Zahra


"Dingin?" Tanya Nanda saat berhenti di lampu merah, tangannya menggenggam tangan kecil Milla dan mengelusnya pelan.


"Engga kok," jawab Mila singkat, sejujurnya malam ini udara sangat dingin. Terlebih langit terlihat mendung, tanda hujan akan turun.


"Kamu mau kemana?" Tanya Nanda saat lampu hampir berubah hijau, Milla mendekatkan tubuhnya ke arah kekasihnya lalu berbisik, "ikut kamu aja, terserah kamu,"


Nanda mengumpat dalam hati, jawaban yang tak pasti seperti ini sungguh membuatnya kesal. Lebih baik Milla langsung menjawab pertanyaannya


"Kamu kalo makan biasanya kemana?" Bisik Nanda, Milla sedikit menjauhkan tubuhnya kebelakang. Dia tak nyaman


"Ke kafe Andromeda, Dekat persimpangan raya," ucapan Milla membuat Nanda menelan ludahnya susah payah.

__ADS_1


Cafe Andromeda, merupakan salah satu cafe kelas atas yang selalu hitz dikalangan anak muda, selain terkenal karena memiliki design bangunan yang bertema antariksa, harga dari hidangan di sana juga tidak main-main, harga paling murah pun dibandrol dengan harga Rp.500.000,00


"Tapi aku males ke sana, udah bosen," ucap Milla membuat Nanda membelalakkan mata, dia saja hanya pernah beberapa kali masuk ke cafe itu.


"Lalu kamunya mau kemana?" Nanda, berusaha tetap cool. Milla terdiam, berfikir sebentar.


"Beli makanan pedagang kaki lima aja yuk, abis itu dimakan di taman!" Seru Milla. Nanda bisa bernafas lega, lalu mengangguk meng-iyakan ucapan kekasihnya


Sebenernya bukan karena Milla benar-benar bosen dengan cafe tersebut, namun Milla tahu, tak mungkin Nanda memiliki budget sebesar itu. Milla bukanlah anak keluarga konglomerat, hanya saja secara ekonomi dia lebih mampu daripada Nanda, Milla juga tidak ingin menyusahkan kekasihnya.


Beberapa menit kemudian motor Nanda berhenti di depan pedagang penjual martabak, "kamu mau yang rasa apa?" Nanda berbalik menghadap Milla yang saat ini tengah mengetukkan jari pada dagunya-berfikir-


"Keju! Aku mau keju!" Milla tampak bersemangat, Nanda tersenyum ringan tangannya mengelus pucuk kepala gadis dihadapannya membuat gadis itu cemberut, kesal


"Ihh, jadi rusak jilbabnya! Jangan gitu, aku lama loh pakeknya!" Ucap Milla tak terima. Nanda hanya cengengesan mendengar hal itu, lalu berjalan pergi meninggalkan Milla yang masih sibuk membetulkan hijabnya


"Kamu mau minum apa?" Tanya Nanda saat sudah menghidupkan motornya.


"Bobba aja,"


****


Nanda telah menghentikan motornya pada taman kota, dengan tangan kanan yang membawa dua bungkus martabak dan tangan kiri yang memegang dua plastik bobba


"Itu bobba-nya aku aja yang bawa, biar kamu ga kesusahan," ujar Milla yang berada tepat dibelakang kekasihnya. Nanda berbalik, seulas senyum terbit di bibirnya


"Ga usah, kamu kan lemah nanti kalo bawa tanganmu bisa patah," ledek Nanda, bibir Milla mengerucut, karena merasa gemas Nanda menundukkan tubuhnya, dia mendekat kearah Milla, hendak mencium gadisnya yang nampak menggemaskan.

__ADS_1


Namun, sebelum bibir mereka benar-benar bersatu Milla buru-buru melangkahkan kakinya mundur, tangannya bergerak menutupi bibirnya, lagi-lagi Nanda berdecak. Hilang sudah kesempatannya


"Kamu mau ngapain?" Tanya Mila panik, Nanda berjalan mendekat


"Apa lagi? Ya mau cium kamu lah!" Seru Nanda, Milla menggeleng.


"Apaan sih! Ga ya! Ga akan! Ga mau!" Serunya, lagi-lagi Nanda berdecak, dia sangat kesal. Sudah dua tahun dirinya berpacaran dengan Milla tapi mereka hanya berpegangan tangan setiap bertemu, bahkan untuk sekedar mencium kening saja tak pernah, Nanda merasa sangat tersiksa


"Apa sih! Kita pacaran udah lama loh! Yakali cuma pegangan tangan aja!" Milla menggeleng mendengar perkataan kekasihnya, sejujurnya kejadian ini terjadi bukan hanya sekali dua kali


"Gak mau!" Milla berbaik, saat akan melangkah pergi tangannya dicekal.


"Oke kalo ga mau, gapapa. Maaf, tadi aku kelepasan," ucap Nanda. Milla mengangguk


"Janji?" Tanya gadis itu, dia menunjukkan jari kelingkingnya pada kekasihnya. Senyum Nanda kembali terbit, jari kelingkingnya tertaut dengan jari kekasihnya


"Iya, janji!"


Malam ini sepasang kekasih menikmati indahnya malam, tanpa *****. Hanya saling tersenyum dan memandang. Malam ini hati Nanda terisi penuh, celotehan yang keluar dari bibir Milla tak ia lewatkan sedikitpun.


..."Saat seorang gadis jatuh cinta, maka gadis itu akan memberikan seluruh cintanya pada kekasihnya,"...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nanda ar-rafi


__ADS_1


__ADS_2