
Aku menghembuskan nafas dalam-dalam, malam ini udara terasa sangat menusuk kulit. Menengadahkan wajahku ke atas, netraku dapat dengan jelas melihat langit tampak gelap, sepertinya akan turun hujan malam ini.
Suara ketukan pintu terdengar membuatku menoleh kebelakang, seorang gadis dengan piyama berwarna hijaunya tengah bersandar pada pintu kamarku. "Ngapain malam-malam di balkon?" Dia lalu berjalan masuk ke kamarku
"Kakak juga ngapain kesini?" Aku bertanya balik, dia menghembuskan nafas kasar
"Kalau ada orang nanya itu dijawab bukan malah ditanya balik," setelah mendudukkan bokongnya ke sofa tanpa permisi dia menghidupkan tv yang ada di kamarku, membuatku bingung akan tingkahnya
"Kak!" Seruku karena tak mendapat jawaban. Dia menoleh ke arahku sebentar lalu berucap, "turun sana. Dicariin Nanda tuh!" Ucapannya membuatku berdecak malas
"Kenapa? Biasanya seneng kalo pacarnya Dateng." Satu alisnya naik, perhatiannya sudah teralihkan kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku pelan
"Gapapa, yaudah makasih ya udah dikasi tau. Aku mau turun," lalu tanpa sepatah katapun aku berjalan pergi, menghampiri pria menjijikan yang ada dibawah.
***
Aku menginjakkan kakiku di anak tangga terakhir, disana terlihat seorang pria tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Aku menarik nafas panjang. Tenang Milla, kau hanya perlu mengakhiri hubungan ini
Saat mendengar langkah kakiku dia menoleh, senyum simpul terlihat dibibir nya. Tangannya bergerak meraih pinggangku, namun sebelum dia sampai aku segera berjalan menjauh
"Apa?" Tanyaku singkat. Sekilas aku dapat melihat senyuman kecewa darinya
"Milla aku mau jelasin yang tadi siang, seben-" sebelum dia menyelesaikan ucapannya aku membuka suara
"Ga ada yang perlu dijelasin, aku udah liat semuanya!" Seruku, dia menggeser duduknya mendekat ke arahku
"Jangan gitulah, Milla... Kita ini pacaran udah lama loh!" Dia berbicara dengan nada membentuk diakhir kalimat, membuatku semakin naik darah
"Terserah, kan kau duluan yang mulai. Seharusnya kalau kau tau kita pacaran udah lama, kau harusnya semakin jaga hubungan ini lah. Bukan malah selingkuh! Faham?" Ucapku panjang lebar, aku mengalihkan pandangan darinya
"Milla, kenapa kamu kalau marah ga pernah menatap mataku?" Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Tanpa menoleh kearahnya aku berucap, "ga usah coba alihin pembicaraan deh, sampah! Kau ga punya kata-kata yang bisa ngelawan ucapanku kan?"
"Bukan gitu Mila, kamu jangan marah dong," nada bicaranya berubah menjadi lembut. Tangannya bergerak meraih tanganku. Aku merasakan kecupan singkat beberapa kali pada ujung jari-jariku
"Udah berapa banyak wanita yang kau giniin? Kotor banget sih, tanganku jadi banyak kuman kan," aku menarik tanganku, tanpa memperdulikan tatapan matanya yang terasa tersakiti aku menyemprotkan hands sanitizer beberapa kali pada tanganku lalu mengelapnya menggunakan tisu.
__ADS_1
"Kenapa liatnya begitu? Ga ada yang aneh kan? Kalo ga segera dibersihin nanti aku bisa kena kuman. Terlebih aku juga ga tau udah berapa banyak cewe yang kau tidurin!" Seruku lalu berjalan pergi meninggalkan dirinya yang masih mematung, tak menyangka bahwa aku yang biasanya bermulut manis akan melakukan hal itu.
Saat akan menaiki anak tangga aku menoleh kebelakang, "saya beri saran, kuharap kau segera pergi dari rumah ini. Ingat, SEGERA!" Tekanku
Dengan langkah berat aku melangkahkan kakiku ke arah kamar, sebenarnya aku sangat tidak suka bersikap seperti gadis jahat. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak mungkin dapat bersikap manis pada seorang penipu dan penghianat.
Saat aku sampai dikamar aku sudah tak mendapati adanya kakakku disana. Televisi masih menyala, membuatku geram. Tak bisakah dia mematikannya saat akan keluar tadi?
Aku merebahkan tubuhku ke ranjang. Rasanya sangat lelah menghadapi pria seperti dirinya, saat sedang menelusuri beranda Instagram terdapat sebuah postingan yang membuatku tertarik
[
]
♥️💭↗️
1.458 suka
Hari ini seru banget ada kakak-kakak alumni💘
Lihat semua 76 komentar...
Seorang pria yang tertangkap kamera membuatku sedikit penasaran, tapi beberapa kali pun aku men-zoom fotonya aku masih tidak dapat mengenali wajahnya. "CK! Siapa sih, bikin penasaran aja,"
Frustasi akan pertanyaanku yang tak mendapatkan jawaban, aku membuka laman komentar. Namun tetap saja, jawaban dari pertanyaanku masih belum terjawab. "Apasih! Lagian kenapa aku mikirin orang yang ga sengaja ketangkap kamera!"
Aku mematikan ponselku, dan meletakkannya di nakas, perlahan pengelihatan ku memudar, aku kehilangan kesadaran, dan tertidur
****
Hiruk pikuk keramaian di luar tak memudarkan konsentrasi Milla yang tengah menyelesaikan pekerjaannya disebuah cefe ternama. Dentingan pintu terdengar, menandakan seorang masuk kedalam cafe. Ketukan meja terdengar, membuat gadis berusia 20 tahun itu mendongak
"Kenapa ya kak?" Tanyanya. Pria yang mengetuk tadi berdehem sebentar, "kak, disini ada yang nempatin?" Tanyanya, merujuk pada bangku-bangku kosong disekitaran Milla. Gadis itu menggeleng pelan, membuat senyum kecil muncul pada bibir pria tadi
__ADS_1
"Saya sama temen-temen saya boleh duduk disini ga? Soalnya cafe penuh, ga ada bangku kosong yang sisa." Ucapnya. Mila menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat banyaknya pengunjung yang datang kemari. Yang dikatakan pria tadi benar, dia tidak berbohong
"Ya, boleh." Milla mengangguk singkat, "tapi teman-teman mu dimana? Kan kamu sendirian," basa-basinya. Segera setelah mendapat persetujuan pria tadi duduk dihadapan kursi Mila.
"Oh, mereka lagi dijalan, macet soalnya." Setelah mengatakan hal itu pria tadi memanggil pelayan untuk mengatakan pesanannya.
Milla tersenyum singkat, "biasa, kan lagi pembetulan jalan." Saat pria tadi ingin mengucapkan kata-kata lagi, terdengar keramaian dari para pengunjung. Pria tadi menoleh
"Tuh! Mereka datang," ucapnya, namun terlambat. Milla sudah kembali tenggelam pada layar monitor laptopnya.
"Siapa? Cewe baru?" Suara pria yang menanyakan itu terdengar serak serak basah. Kening Milla mengerinyit
"Mata lo! Gua ga pernah pacaran anjir!" Seru pria yang duduk dihadapan Milla ngegas, Milla menghembuskan nafas kasar. Beginilah jika duduk diantara pria-pria muda. Terlalu bersemangat
"Ini itu mba baik hati yang ngizinin kita numpang duduk disini!" Ucap pria itu lagi, pria lainnya berdecak,
"kayaknya iya deh Jo, liat aja. Mbaknya cantik gitu mana mau sama kadal buntung yang modelannya kaya Pasa," kekehan ringan terdengar dari para sahabat-sahabat pria yang dipanggil Pasa tadi.
"Eh titisan kodok! Gua cakep gini disama-samain sama kadal. Yang ngotak dikit dong!" Seru Pasa tak terima. Seorang pria yang memakai kaos hitam berdecih
"Titisan kambing!" Serunya membuat Pasa semakin berapi-api. Sebelum pria itu kembali mengeluarkan umpatannya, gadis yang sedari tadi hanya diam angkat suara
"Kak, bisa tolong tenang sedikit? Saya sulit fokus saat sedang melakukan pekerjaan." Milla memijit-mijit pelipisnya pusing, terlalu ramai disini. Milla tak suka keramaian
"Oh, maaf ya udah ganggu." Ucap pria dengan kaos hitam tadi, lalu duduk disalah satu kursi didekat pada. Berbeda dengan temannya yang lain, pria yang dipanggil Jo tadi malah terbengong.
"Jo! Nanti kau kesambet!" Pasa memukul lengan pria tadi, membuat kesadaran pria tadi kembali hadir.
"Ngga ah, imanku kan kuat, ga kaya kau. Bolong-bolong," ucapnya santai namun menusuk hati. Pasa berdecih
"Untung aja kamu itu tuan muda bara Jovan Gevano! Kalo ga udah kusambel mulutmu yang kaya cabe tu!" Pasa mengalihkan pandangannya, memilih memandang bidadari cantik dihadapannya dari pada pria-pria yang duduk disampingnya
"Serius amat kalo liatin cewe," ejek Bara tepat di samping telinga Pasa. Sontak saja pria berusia 22 tahun itu menoleh ke kiri. Dua pria tadi berteriak ketika merasakan kepalanya saling berbenturan
"Lain kali liat-liat bego!" Seru bara tak terima. Pasa memasang ekspresi memelas
__ADS_1
"Lah?" Aku salah apa!!!" Teriak pasa Tak terima