
"Assalamualaikum ya ahli neraka," suara beriton terdengar dari luar pintu, membuat penghuni didalam ruangan menoleh, jam sudah menunjukkan pukul 23.15. tak mungkin ada orang yang berkunjung
"Siapa? Setan?" Sahut Riki dari dalam ruangan. Sontak kata kata yang ia ucapkan membuat umpatan keluar dari mulut kedua sahabatnya
"*Cangkemmu Cok!" Umpat Galen, pria yang mengucapkan salam tadi. Riki berdecak, bisa-bisanya ada mahluk halus yang datang
*Mulutmu Cok!
"P," satu huruf itu keluar dari mulut Jovan. Satu tempelengan Galen hadiahkan di tengkuk pria di sampingnya, "Sakit anjing!" Umpat Jovan, pria yang tengkuknya dipukul oleh Gallen
"Salam yang bener bego!"
"Y," jawab Jovan singkat, alis Galen berkerut sebal. Bisa-bisanya dia berteman dengan orang yang otaknya miring 360°
"Najis, sok dingin!" Jovan hanya membalas umpatan sahabatnya dengan mengangkat satu bibir ke atas
__ADS_1
"Ga usah ribut! Dimarah suster nanti!" Bentak seorang pria yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit. Dua orang tengil yang menjabat sebagai sahabatnya menyunggingkan senyum jahil
"Pergi Lo! Gua Mau tidur!" Seru Gallen yang lantas berjalan mendekat ke arah ranjang rumah sakit, tempat Riki berbaring
"Lah ogah, yang sakit siapa yang tidur siapa," Riki menaikkan satu alisnya keatas.
"Yang sakit Lo, yang tidur gua. Udah sana cepet pindah ke sofa, atau gua sambit ini!" Gallen berancang-ancang untuk menempeleng kepala sahabatnya yang tengah terbaring di kasur
"Iya anjing! Puas Lo!" Sentak pria berusia 22 tahun itu, sedangkan Jovan hanya menggeleng. Menghadapi tingkah temannya hanya akan membuat sakit kepala. Meski mereka telah bersahabat sejak masa SMA, Jovan masih tetap saja tidak terbiasa
Lebih memilih untuk duduk di sofa dari pada ranjang, jovan kini tengah memakan martabak yang dia beli saat kesini tadi, "buset... Lu doyan apa kelaparan Jo?" Tanya Riki yang melihat gaya makan temannya
"Sakit ga?" Tanya Galen dari arah ranjang. Dahi Riki berkerut, "maksudnya?"
"Itu, lu kan dari kemoterapi. Sakit ga?" Ujar Galen, membetulkan kalimatnya. Riki hanya ber-oh ria saat mendengar ucapan temannya
__ADS_1
"Jawab anjing! Mulut tuh dipake," sentak Gallen emosi. Jovan yang tengah menikmati makanannya sampai tersedak akibat terkaget-kaget
"Santai anjing!" Bentak Jovan
****
Pagi ini, Jovan telah siap dengan pakaian kerja di tubuhnya. Kemeja putih yang dibalut dengan jas biru tampak membuatnya mencolok, terlebih hal itu dipadukan dengan wajah dewasanya
"Barangkat dulu ma," ujarnya pada bingkai foto kecil yang terdapat di atas meja ruang keluarga. Terdengar suara dari arah tangga membuatnya menoleh, tampak kakaknya baru saja turun dari tangga
"Udah bangun pan," Jovan hanya menanggapi pertanyaan itu dengan anggukan kecil saja. Terlalu malas menghabiskan tenaganya hanya untuk hal seperti ini, "udah mau berangkat?" Tanya kakaknya lagi. Sekali lagi, Jovan hanya memberikan senyum kecil
"Yaudah, duluan!" Seru pria berusia 23 tahun itu. Kakaknya hanya mampu menghela nafas, sejak kepergian ibunya ke surga mereka seakan memiliki kerenggangan hubungan.
Pria muda yang menjabat status sebagai kakak dari Bara Jovan Gevano itu hanya bisa diam. Jika dia bergerak lebih jauh lagi, maka semuanya akan hancur.
__ADS_1
Memilih untuk melupakan adik pertamanya, Jovan melangkahkan kakinya ke dapur. lebih baik ia mempersiapkan makanan untuk adik perempuannya
***