BARA

BARA
Hujan


__ADS_3

Pukul 17.45 langit tampak mendung, udara semakin dingin membuat Milla dan beberapa orang lainnya segera mencari tempat berteduh. Beberapa orang memilih masuk pada sebuah toko dan yang lainnya memilih menggunakan fasilitas umum seperti halte bus. Rintik hujan mulai terasa pada permukaan kulit, gadis yang memakai celana berwarna putih itu semakin mempercepat langkahnya menuju sebuah teras ruko kosong yang tampak tak terawat. Gadis itu menetralkan nafasnya setelah berlari beberapa saat.


Beberapa saat kemudian hujan turun deras, menerpa permukaan bumi. Langit semakin menggelap karena itu, ditambah dengan pemadaman listrik sejak 1 jam yang lalu, hanya ada cahaya samar disekitar. Matahari juga hampir tenggelam membuat udara semakin terasa dingin.


Beberapa kali terlihat gadis itu mengecek ponselnya, baterainya semakin berkurang membuat Milla berdecak sebal, saat hendak mengumpat klakson mobil mengagetkan dirinya, gadis itu segera menoleh ke kiri. Dia memiringkan kepala, tak mengenal mobil siapa yang ada dihadapannya.


Terlihat kaca mobil turun sedikit, "mau pulang ga?" Suara yang ada didalam mobil mengagetkan Milla. Gadis itu mengerinyit, lupa akan siapa yang dia ajak bicara


"Ayo pulang, ku antar!" Ajak suara itu. Milla segera kembali pada kesadarannya.


"Tapi kalo nanti aku kesana, bajuku akan basah!" Teriak Milla, berharap suara kecilnya terdengar. Pintu mobil terbuka, menampilkan sesosok pria dengan visual yang menawan tengah berjalan kearahnya dengan payung hitam yang terbuka


Milla memiringkan kepalanya, tak mengenal pria yang tengah berdiri dihadapannya. Pria itu terkekeh kecil, "kenapa?"


Milla menggelengkan kepalanya pelan, "siapa ya?" Pria dihadapannya mengucapkan istighfar ketika mendengar sesuatu yang terlontar dari bibir merah Milla


"Masa udah lupa sih? Aku temennya Pasa, cowo yang tadi duduk di depanmu, di cafe." Mila menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Masih ga inget?"


Milla menggeleng pelan, sebenernya saat di cafe tadi dirinya tidak pernah memperhatikan sekitarnya, bahkan dia sudah lupa akan orang yang meminta izin duduk di mejanya.


"Jovan, cowo yang nganterin kamu waktu malam itu," pria itu menjulurkan tangan. Meskipun masih sedikit kebingungan, Milla tetap menerima uluran tangan pria dihadapannya.


"Yaudah, ayo aku antar. Ga ada tanda-tanda hujan mau berhenti sekarang," ucap Bara. Milla menggelengkan kepalanya cepat


"Kita kan ga kenal!" Serunya, dahi Bara berkerut, "bukannya udah kenalan? Aku Jovan, Bara Jovan Gevano," tekan pria itu di akhir kalimatnya


"Tap-" sebelum menyelesaikan kalimatnya, Bara... Pria itu langsung memotong, "kalau ga ikut saya, kamu mau naik apa? Keburu malam,"


Bara menaikan bibir kanannya ke atas. "Oke,".


****


Hujan sangat deras, hampir seperti badai. Jalanan tampak sepi tanpa kendaraan satupun yang lewat. Kurasa mereka lebih memilih berteduh untuk menghindari kemungkinan terburuk seperti banjir bandang.

__ADS_1


"Dingin ga?" Pertanyaan singkat terlontar dari mulut pria di sebelahku. Aku menoleh sebentar kearahnya.


"Engga terlalu," dia mengangguk singkat lalu menghentikan mobilnya ditepian, membuatku bertanya-tanya, dia meraba-raba kursi penumpang, aku tak tahu apa yang sebenarnya dia cari hingga dia kembali pada tempat duduknya


"Nih pake!" Dia melemparkan sebuah Hoodie kepadaku. Aku menoleh kearahnya sebelum aku mengeluarkan suara lagi-lagi dia memotong ucapanku


"Tenang aja, itu masih bersih," ucapnya lalu kembali mengendarai mobil. Kupikir aku harus menghargai kebaikannya, aku memakai Hoodie yang dia berikan tanpa bertanya lagi. Hingga kami sampai di depan gerbang rumahku


Beberapa kali dia memencet klakson mobil, hingga satpam rumahku membukakan gerbang untuk kami. Tanpa kata-kata lagi dia langsung saja masuk kedalam halaman rumahku


"Ayo, masuk dulu!" Seruku padanya. Dia menoleh, lalu tersenyum singkat.


"Ga ah, kapan-kapan aja kalo ketemu lagi,"


"Kenapa? Sekarang aja. Itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena udah anterin aku dua kali!" bujukku sekali lagi. Merasa tak enak karena menolak bujukan Milla, Bara mengangguk


"Tapi ga bisa lama-lama, ada urusan," pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Milla tersenyum, lalu mengangguk.

__ADS_1


"Oke, ayo!" Ujarnya


*****


__ADS_2