BARA

BARA
Musuh Sebenarnya


__ADS_3

Vivian menatap bingung kepada Agam yang wajahnya langsung menampilkan ekspresi panik ketika sudah mengakhiri percakapan teleponnya bersama Hugo.


"Ada kabar apa dari Hugo, Agam?" tanya Vivian penasaran.


"Kita harus segera pergi ke lapangan utama sekolah sekarang untuk menyusul para peserta kelompok empat," jawab Agam dengan ekspresi paniknya.


"Ada apa dengan para peserta?"


"Hugo mengatakan bahwa para peserta kelompok empat sedang dalam bahaya. Mereka terkepung api sekarang."


"Apa? Terkepung api? Api dari mana?"


"Gue tidak tahu. Intinya keadaan di luar sana sedang kacau sekarang. Kita harus segera pergi, Vivian. Ayo!"


Vivian pun menurut. Dia langsung meninggalkan tugasnya yang sedang mem print sertifikat para peserta dan beranjak mengikuti Agam meninggalkan ruang kosmik.


Vivian dan Agam pun berlari mengitari area koridor kelas yang begitu panjang dan berbelok-belok di gedung Ipa. Mendatangi lapangan utama sekolah untuk menyelamatkan para peserta adalah tujuan mereka berdua saat ini. Mereka harus melewati dua area terlebih dahulu sebelum mereka bisa sampai ke lapangan utama sekolah, yaitu mereka harus melewati lapangan basket dan gedung guru. 


Agam berlari sangat cepat saat ini. Membuat Vivian kewalahan menyamakan langkah lari mereka dan diapun tertinggal beberapa meter di belakang Agam.

__ADS_1


Vivian pun tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan sosok siswa menyeramkan yang tiba-tiba keluar dari sebuah kelas dan menghadang Vivian yang ingin menyusul Agam. Agam bahkan terus berlari meninggalkan Vivian di depan sana.


Sosok siswa menyeramkan yang menghadang Vivian saat ini sangat familiar di mata Vivian. Dia adalah Bara. Sosok siswa itu adalah hantu Bara.


Vivian pun langsung syok di tempatnya. Ini pertama kalinya Vivian bertemu dengan hantu Bara. Penampilan hantu Bara begitu menakutkan seperti yang dibicarakan oleh orang-orang di sekolah ini.


Vivian pun menangis karena merasa takut. Tubuh Vivian bergidik ngeri. Vivian merasakan rasa merinding luar biasa yang yang membuat Vivian kencing di dalam roknya saat ini.


Hantu Bara menatapnya tajam penuh amarah. Dia mulai menghampiri Vivian. Dia berjalan ke arah Vivian sembari merentangkan tangannya ke depan seperti zombie hidup. Dia ingin menggapai Vivian dan mencekik Vivian dengan kedua tangannya itu.


Merasa takut, Vivian pun berlari berbalik arah mencari tempat untuk bersembunyi dari hantu Bara. Vivian kembali berlari mengitari koridor gedung Ipa untuk mencari tempat persembunyian. Dia berlari sembari menangis ketakutan. Hantu Bara terus mengejarnya di belakang.


"Kamu? Sedang apa kamu disini? Dimana teman-teman kamu?" tanya Vivian bingung.


Namun murid itu tidak menjawab dan malah tersenyum mengerikan seperti psikopat. Murid itu pun merentangkan tangannya kepada Vivian dan mendorong kencang tubuh Vivian sehingga tubuh Vivian pun terjatuh dan terguling di tangga yang dia naiki barusan. Vivian terguling dengan sangat cepat. Dia pun kembali mendarat di lantai satu. Tubuh area wajah, tangan dan kaki Vivian mengalami lecet dan berdarah. Vivian mengalami rasa ngilu yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


Langkah kaki seseorang mendekati tubuh Vivian yang terkapar lemah dan tidak berdaya di lantai. Mata Vivian membulat kaget ketika melihat siapa orang itu.


"Mister Daniel?" seru Vivian dengan nada kesakitan.

__ADS_1


"Tolong aku, Mister Daniel!" mohon Vivian.


Mister Daniel yang memegang sebuah pistol saat ini menertawakan ketidakberdayaan Vivian. Dia pun mengarahkan pistolnya kepada Vivian kemudian diapun menembak wajah Vivian berkali-kali detik itu juga. Vivian pun sekarat dan kemudian meregang nyawa ditangan Mister Daniel. Yang mana adalah orang yang dia sukai.


Menyukai seseorang memang tidak selalu berakhir indah. Orang yang kita sukai bisa saja menjadi penyebab kematian kita suatu hari nanti.


Di sisi lain, Agam yang sudah memasuki area lapangan basket menghentikan larinya dan terdiam membisu ketika dirinya menemukan jasad Hugo yang sudah tidak bernyawa lantai lapangan. Tangis Agam pecah ketika melihat tubuh keadaan jasad Hugo yang begitu tragis.


Tanpa Agam sadari, ada seorang pria paruh baya memegang tongkat baseball di belakangnya yang saat ini diam-diam mendekati tubuh Agam. Ketika Agam lengah karena terus meratapi jasad Hugo, pria paruh baya dibelakangnya pun mengambil kesempatan itu untuk memukul keras kepala Agam membuat Agam pingsan di tempat detik itu juga. Tubuh pingsan Agam pun diseret oleh pria paruh baya itu ke suatu tempat.


***


Siapa kira-kira murid yang mendorong Vivian dari tangga?


Siapa kira-kira orang yang memukul Agam?


Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.


See you in next chapter.

__ADS_1


Instagram : @sourthensweett


__ADS_2