BARA

BARA
Lingkaran Setan


__ADS_3

Genta dan para anggota kelompoknya berlari menghindari hantu Chelsea. Mereka berlari ke arah lapangan utama sekolah yang merupakan tempat misi terakhir mereka pada malam penentuan.


Genta dan para anggota kelompoknya berhenti di tengah lapangan. Napas mereka naik turun dengan cepat. Mereka begitu kelelahan akibat berlari barusan.


"Dimana Sairish?" tanya Liam menyadari Sairish yang tidak berada di antara mereka saat ini.


Genta dan yang lain pun begitu terkejut ketika ikut menyadari Sairish tidak ada bersama mereka.


"Sairish mungkin terpisah dari kita. Dia mungkin berlari ke area lain," tebak Hugo.


"Kita harus cari Sairish! Kita harus patuh terhadap kata-kata panitia untuk tidak berpencar dan saling menjaga satu sama lain," ucap Olivia. Dia khawatir akan keselamatan Sairish.


"Tapi kita tidak tahu Sairish ada dimana sekarang. Hantu Chelsea juga pasti sedang berkeliaran hendak mencari dan memangsa kita. Jika kita mencari Sairish sekarang, itu akan memakan waktu. Kita harus segera menyelesaikan misi terakhir sebelum datang pagi." Noah menolak ide Olivia.


Genta pun sama panik dan bingungnya seperti para anggota kelompoknya. Dia juga mengkhawatirkan Sairish. Dia pun tiba-tiba mempunyai ide bagus.


"Begini saja, kita cari dulu misinya sekarang kemudian kita cari Sairish. Setuju?" tanya Genta setelah mengutarakan idenya. Para anggota kelompoknya pun mengangguk setuju.


"Ayo, kita mulai mencari misi itu," ajak Genta kepada para anggota kelompoknya.


Genta dan mereka pun mulai berpencar mengelilingi lapangan utama sekolah untuk mencari misi terakhir malam penentuan. Mereka menggunakan senter mereka masing-masing untuk menerangi langkah mereka saat melakukan pencarian misi. Lapangan itu begitu besar membuat mereka membutuhkan waktu lama untuk menjamah seluruh tempat di lapangan demi mencari misi terakhir.


Setengah jam pun berlalu. Genta dan para anggota kelompoknya masih belum menemukan misi terakhir mereka. Mereka bahkan melupakan rencana mereka untuk mencari Sairish karena terlalu fokus mencari misi terakhir mereka saat ini.


"Bagaimana, kalian sudah menemukan misinya?" tanya Genta kepada mereka dengan nada lelah akibat mengelilingi lapangan sejak tadi.


"Tidak gue temukan," jawab Noah.


"Gue juga," jawab Liam.


"Gue sudah mengecek tong sampah lapangan dan gue juga tidak menemukan apapun," jawab Olivia.


Noah, Liam dan Olivia juga terlihat sama lelahnya seperti Genta.


"Lalu dimana para panitia menyembunyikan misinya?" tanya genta bingung.


"Misinya ada di atas tihang bendera," balas seseorang yang tiba-tiba menghampiri Genta dan yang lain.


"Sairish?" seru Genta dan yang lain secara bersamaan dengan nada terkejut.


Ternyata orang yang menghampiri mereka adalah Sairish. Sairish berdiri di depan tihang bendera sambil menyorotkan senternya ke atas tihang untuk menerangi misi terakhir mereka di atas sana. Genta dan yang lain pun segera menghampiri Sairish dan langsung menyerang Sairish dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Lo kemana barusan? Kenapa terpisah dari kami?" tanya Olivia dengan nada khawatir.


"Hantu Chelsea menahan aku tadi," jawab Sairish dengan nada lemah.


"Kenapa lo bisa selamat dari hantu Chelsea?" heran Liam. 

__ADS_1


"Hantu Bara menolong aku," jawab Sairish membuat Genta dan yang lain terkejut mendengar fakta itu.


"Lo berdarah Sairish," beritahu Olivia kepada Sairish. Dia hendak menyentuh luka di dahi Sairish namun Sairish langsung menepis tangan Olivia.


"Jangan sentuh. Aku baik-baik saja kok. Kita fokus saja kepada misi terakhir kita," saran Sairish.


Genta pun setuju dengan saran Sairish barusan. Dia pun mulai mengomando para anggotanya.


"Oke, sekarang ayo kita ambil misi terakhir kita di atas tihang bendera," ajak Genta kepada para anggota kelompoknya


Mereka berlima pun mulai bergotong royong untuk menurunkan misi mereka di atas tihang bendera. Benar saja apa yang dikatakan Sairish tadi. Di atas tihang ada sebuah benda yang sengaja disimpan di sana. Itulah misi yang sejak tadi Genta dan para anggota kelompoknya cari. Benda itu berbentuk seperti berkas dengan kertas sampul berwarna coklat. Genta dan para anggota kelompoknya pun sudah selesai menurunkan berkas bersampul coklat itu dan Genta sudah memegangnya saat ini.


"Berkas berisi apa itu?" tanya Liam sembari menatap penasaran ke berkas bersampul coklat yang saat ini dipegang oleh genta.


Genta pun memeriksa isi berkas bersampul coklat itu untuk melihat isinya. Dia menerangi isi berkas itu menggunakan senter miliknya. Setelah mengetahui apa yang ada di dalam berkas sampul coklat tersebut, mata Genta langsung membulat karena terkejut.


"Berkas ini berisi soal olimpiade," beritahu Genta kepada para anggota kelompoknya. Mereka langsung terkejut seperti Genta barusan.


Mereka berlima pun menemukan juga sebuah kartu di dalam berkas tersebut. Kartu tersebut berisikan sebuah pesan panitia. Mereka berlima pun menerangi kartu tersebut menggunakan senter dan mulai membacanya bersama-sama.


Selamat datang di misi terakhir malam inisiasi. Di berkas yang kalian pegang sekarang terdapat empat lembar kertas berisi kumpulan soal olimpiade tahun lalu. Masing-masing kertas soal tersebut terdiri dari sepuluh soal matematika, sepuluh soal biologi, sepuluh soal kimia dan sepuluh soal fisika. Tugas kalian adalah mengerjakan empat puluh soal tersebut sampai selesai dengan aturan dibagi rata kepada lima orang. Setelah selesai, bawalah soal yang sudah diisi tersebut kepada panitia sebagai bukti telah mengerjakan misi terakhir.


"Apa-apaan ini? Apa para panitia itu mengira kita mempunyai otak estein? Kita tidak mungkin bisa mengisi soal-soal olimpiade ini tanpa persiapan," protes Liam setelah membaca pesan panitia tersebut.


"Lo belum mengerjakan saja sudah pesimis duluan, Liam. Lemah!" julid Olivia kepada Liam.


"Bisa dong. Gue kan lebih pintar dari lo," balas Olivia.


"Di misi teka-teki tadi saja lo hanya bisa menjawab Corona sebagai virus penyebab Covid-19. Anak SD saja bisa menjawab soal itu." Kali ini Liam yang balas mengejek Olivia.


"Sialan! Lo membandingkan gue dengan anak SD tanpa sadar jika sifat lo itu bocah sekali seperti anak SD." Olivia mulai marah.


"Oke, si paling dewasa," balas Liam.


"Kalian itu kapan tidak bertengkar nya, sih?" tanya Noah heran. Merasa lelah menghadapi Liam dan Olivia yang selalu bertengkar seperti anjing dan kucing.


"Olivia yang mulai duluan. Lo dengar sendiri kan dia julid duluan ke gue barusan," tuduh Liam.


"Dih, lo saja yang terlalu baperan. Dasar bocah!" balas Olivia.


"Sudah-sudah. Jangan terus bertengkar. Kita harus segera mengerjakan soal-soal olimpiade ini." Genta menertibkan Liam dan Olivia. Diapun mengajak para anggota kelompoknya untuk mulai mengerjakan soal-soal olimpiade pada misi terakhir.


"Lebih baik lo sebagai ketua bagi rata terlebih dahulu soalnya, Gen," usul Noah. Genta pun mengangguk setuju.


"Oke, gue akan bagi rata empat puluh soal ini. Sairish dan Liam akan mengerjakan sepuluh soal matematika, selanjutnya Olivia akan akan mengerjakan sepuluh soal biologi, lalu Noah akan mengerjakan sepuluh soal kimia, dan terakhir gue akan mengerjakan sepuluh soal fisika. Sepakat?"


"Sepakat!" jawab para anggota kelompok empat kepada Genta.

__ADS_1


"Oke, ayo kita kerjakan soal-soal ini sekarang!" ajak Genta kepada para anggota kelompoknya untuk mulai mengerjakan soal.


Mereka berlima mengerjakan soal itu dengan tekun dengan di bantu penerangan senter. Alat tulis yang mereka bekal sejak tadi pun kini terpakai di misi terakhir itu. Butuh waktu satu jam lamanya sampai akhirnya mereka pun selesai mengerjakan soal-soal olimpiade tersebut.


"Kita berhasil. Kita sudah selesai menyelesaikan semua misi."


Olivia berucap girang. Diapun mengajak Genta dan yang lain untuk saling berpelukan merayakan keberhasilan mereka. Dan mereka pun berpelukan erat dan berputar-putar sambil berjingkrak-jingkrak gembira di tengah lapangan.


"Ayo, kita harus ke ruang kosmik untuk memberikan kertas-kertas misi yang sudah kita kerjakan ini kepada para panitia," ajak Genta kepada para anggota kelompoknya.


Mereka pun mengangguk menurut dan mulai beranjak mengikuti Genta hendak meninggalkan area lapangan utama sekolah. Namun, baru beberapa langkah mereka berlima berjalan, sebuah lingkaran api tiba-tiba berkobar tanpa sebab mengelilingi dan mengepung mereka berlima ditengah-tengah lapangan. Semua lampu pencahayaan di sekolah pun hidup kembali secara bersamaan dengan kemunculan lingkaran api itu.


Sairish dan teman-temannya itupun seketika berteriak histeris dengan kemunculan lingkaran api yang mengepung mereka saat ini. Mereka berkumpul saling memeluk dan saling melindungi satu sama lain ditengah-tengah lapangan.


"Astaga! Apa dari mana ini?" panik Noah.


"Gue tidak tahu! Apinya tiba-tiba muncul tanpa sebab," balas Genta.


"Panas sekali disini. Kita harus keluar dari lingkaran api ini sebelum kita mati terpanggang," ucap Liam frustasi.


Sairish pun sama paniknya seperti teman-teman kelompoknya. Dia melihat ke segala arah dan semuanya ditutupi oleh api. Tidak ada jalan keluar. Dia dan teman-teman kelompoknya terkepung. Sampai kemudian Sairish melihat kobaran api yang terbelah disebelahnya. Api itu terbelah membentuk sebuah gerbang jalan keluar. Sairish pun segera memberi tahu teman-teman kelompoknya.


"Api di sana terbelah membentuk gerbang keluar. Ayo kita keluar lewat sana," beritahu Sairish sembari mengajak teman-teman kelompoknya untuk keluar dari lingkaran api melewati gerbang api itu.


"Benar, api disebelah sana terbelah. Ayo kita keluar!" ajak Genta kepada Sairish dan yang lain.


Sairish dan teman-teman kelompoknya pun mulai beranjak keluar dari lingkaran api. Sairish lah yang terlebih dahulu keluar. Saat tiba giliran Olivia sebagai orang kedua yang akan keluar dari lingkaran api, tiba-tiba gerbang api tadi menutup kembali dan mengepung teman-teman kelompok Sairish di sana.


"Kenapa apinya tertutup lagi? Sairish, tolong kami!" teriak Olivia panik dan ketakutan. Genta, Noah, dan Liam pun terlihat sama paniknya.


Sairish bingung di tempatnya. Harus apa dirinya saat ini? Teman-teman kelompoknya sedang terkepung. Sairish harus segera melakukan sesuatu untuk mereka.


"Kalian jangan panik. Aku akan memanggil para panitia untuk menolong kalian. Aku juga akan membawa air untuk memadamkan api," ucap Sairish akhirnya. Diapun segera beranjak pergi untuk meminta bantuan panitia dan mengambil air untuk memadamkan api.


***


Api dari mana itu? Dari neraka kah?


Apakah Genta, Olivia, Liam dan Noah akan selamat?


Apakah Sairish akan kembali menolong mereka?


Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.


See you in next chapter.


Instagram : @sourthensweett

__ADS_1


__ADS_2