BARA

BARA
Kebenaran Di Masa Lalu (Bonus)


__ADS_3

Satu tahun yang lalu....


Cuaca malam ini sangat tidak bersahabat. Hujan turun begitu deras di luar sana. Suara petir tidak berhenti menyuarakan keperkasaannya.


SMA Harapan sudah hampir kosong penghuni. Hanya tersisa enam orang siswa yang sedang berseteru di ruangan kosmik.


"Membayar panitia olimpiade agar kalian berenam juara secara bergiliran? Itu curang! Gue tidak akan pernah mendukung cara kotor seperti itu," protes Bara di depan ruangan.


"Kami tidak membutuhkan dukungan dari lo, Bara." Hugo yang duduk menatap Bara tidak suka.


"Hugo benar, setuju atau tidak setujunya lo, kami akan tetap melanjutkan rencana kami." Kaisar yang duduk pun melakukan hal yang sama seperti Hugo.


"Lo jangan gegabah, Kaisar. Ingat, gue juga orang yang berperan penting dalam terbentuknya komunitas kosmik ini. Gue wakil lo. Gue juga berhak mengatur anggota-anggota kosmik. Gue berhak tidak setuju atas keputusan mereka. Tidak hanya lo!"


"Lo hanya wakil, Bara. Gue ketua di komunitas ini!"


"Maka dari itu lo harus menjadi panutan buat anggota lo. Ketua macam apa yang mengajak para anggotanya untuk curang?"


"Apa masalahnya dengan lo, Bara? Kami berlima setuju kok. Jangan karena lo lebih pintar dari kami, jangan karena lo sering memenangkan lomba olimpiade, lo jadi sombong dan arogan sehingga seenaknya mengatur kami." Vivian berdiri dari duduknya dan protes pada Bara.


"Gue hanya tidak ingin kalian melakukan cara curang!" tegas Bara.


"Terus mau bagaimana lagi? Kami terpaksa. Kami berenam sudah berusaha, akan tetapi kami tidak pernah menang. Lo tidak akan pernah bisa merasakan beban kami, Bara. Orang tua kami memiliki obsesi agar kami menjadi yang terbaik di sekolah ini. Seperti lo. Tapi kami selalu gagal," cerita Agam.


"Apa gunanya menjadi yang terbaik jika itu didapatkan dengan cara menjadi orang licik?"


Perkataan Bara tersebut membuat Edgar yang sejak tadi diam pun kini bicara.

__ADS_1


"Licik? Lo menasihati kami agar tidak menjadi orang licik tapi lo sendiri bersikap licik pada Agam."


"Apa maksud lo, Edgar? Sejak kapan gue bersikap licik pada Agam?" Bara bingung ditempatnya.


"Lo sudah merebut Chelsea dari Agam. Padahal lo tahu jika Chelsea adalah pacar Agam. Lo bersikap licik pada sahabat lo sendiri!" jelas Edgar.


Fakta yang dijelaskan Edgar tersebut membuat Bara terkejut luar biasa.


"Tunggu. Ada sebuah ke salah pahaman di sini. Chelsea sendiri yang bilang jika dia sudah putus dari Agam sejak lama. Itu sebabnya gue mau berpacaran dengan dia," jelas Bara.


Semua orang di ruang kosmik pun langsung menatap Chelsea menuntut penjelasan. Chelsea panik luar biasa. Dia mau tidak mau harus mengakui niat jeleknya pada semua orang saat ini.


"Gue yang salah. Gue sengaja mengatakan itu agar Bara mau berpacaran dengan gue dan mau mengajari gue sehingga gue bisa memenangkan olimpiade seperti dia. Bara juga lebih famous dari Agam saat ini. Gue hanya ingin numpang tenar pada Bara. Hanya itu saja niat gue. Tidak lebih. Gue juga lebih suka pada Agam daripada Bara dalam hal perasaan," cerita Chelsea pada semuanya.


"Dasar ******!" hina Agam pada Chelsea.


"Gue tidak mau tahu. Intinya, gue tidak akan pernah mendukung rencana kalian untuk membayar panitia olimpiade agar bisa juara. Kalian harus batalkan rencana curang itu. Jika itu tetap dilanjutkan, gue akan mengadukannya ke kepala sekolah," putus Bara mengancam semua anggota kosmik.


Bara pun mulai beranjak hendak meninggalkan ruangan. Namun sebuah tinjuan tangan keras dari Agam membuat Bara tersungkur ke lantai ruangan.


"Persetan! Lo hanya ingin lo yang selalu menjadi yang terbaik kan, Bara? Dasar serakah!"


Bug! Agam kembali menghadiahi Bara dengan tinjuan keras tangannya. Edgar pun ikut menyakiti Bara. Dia menendang bagian perut Bara berkali-kali dengan kakinya. Membuat Bara pun mengalami rasa sakit yang luar biasa dan berakhir tidak sadarkan diri.


"Stop! Lo berdua bisa membunuh dia, sialan!" pekik Vivian lantang. Tidak tahan melihat Agam dan Edgar yang terus menyakiti Bara.


"Memangnya kenapa? Dia memang harus mati. Jika dia hidup, dia akan mengadukan kita ke kepala sekolah. Rencana kita tidak akan berjalan lancar." Edgar balas teriak dengan nada penuh emosi.

__ADS_1


"Edgar benar. Bara akan terus merugikan kita jika dia masih hidup. Kita bunuh saja dia sekalian," ucap Hugo.


"Tapi kita akan menjadi pembunuh. Kita akan menjadi penjahat!" Vivian tetap bersikeras tidak setuju.


"Kita sudah menjadi penjahat ketika kita berencana untuk curang di olimpiade nanti, Vivian! Kalau perlu ada orang yang kita bunuh demi melancarkan rencana kita, ya kita bunuh saja. Jangan setengah-setengah jika ingin menjadi orang jahat," ucap Agam.


"Terus kita harus bagaimana? Apa rencana kalian kepada Bara sekarang? Mau kalian apakan dia?" tanya Vivian kemudian.


"Kita tenggelamkan Bara ke danau melati sebelum dia sadar. Kita buat semuanya seolah Bara bunuh diri," jawab Kaisar. Semua orang disana terkejut mendengar usulan ketua mereka itu.


"Bagaimana caranya, Kaisar?"


"Kita bagi tugas. Agam, Edgar, Vivian dan Chelsea akan menyeret Bara ke danau melati. Hugo, tugas lo membawa tas Bara dan mengisinya dengan bebatuan besar sebagai pemberat. Gue akan membuat sebuah surat wasiat palsu. Di surat itu akan gue tulis kata-kata yang akan membuat semua orang percaya jika Bara bunuh diri," jelas Kaisar.


Mereka berenam pun mulai menjalankan rencana mereka. Tubuh Bara mulai di seret menuju danau melati. Hugo membawa tas Bara dan mengisinya dengan tiga buah batu besar sebagai pemberat. Kaisar merobek sebuah kertas dan menuliskan kata-kata wasiat palsu.


Surat wasiat itu bertuliskan :


"Saya tidak akan kembali untuk selamanya. Tolong jangan mencari keberadaan saya. Maafkan saya untuk semuanya." ~Bara~


Bara pun ditenggelamkan malam itu. Di tengah-tengah hujan lebat dan petir yang terus menggelegar. Tubuhnya tenggelam ke dasar danau akibat tas yang diisi batu pemberat di punggungnya.


Tidak ada yang bisa menolong Bara. Bara benar-benar mati dalam kesepian.


TERIMA KASIH PARA PEMBACA!!


Instagram : @sourthensweett

__ADS_1


__ADS_2