
Di ruang kosmik yang gelap gulita, Agam menyalakan sebuah lampu emergency untuk menerangi ruangan. Agam dan ketiga sahabatnya kini sedang mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk penutupan malam penentuan.
Agam pun melihat Hugo yang tiba-tiba menghampiri jendela untuk melihat ke luar ruangan. Ekspresi Hugo saat ini terlihat seperti waspada akan sesuatu.
"Ada apa, Hugo?" Agam pun bertanya penasaran.
"Ada suara teriakan barusan. Kalian mendengarnya tidak?" tanya Hugo kepada Agam dan yang lain.
"Teriakan siapa? Dari arah mana datangnya?" Agam balas bertanya.
"Gue yakin teriakan barusan berasal dari area perpustakaan. Jumlah teriakannya berjumlah lebih dari satu orang. Sepertinya ada salah satu kelompok yang sedang diteror saat ini," jelas Hugo yang seketika membuat Agam dan yang lain pun panik mengkhawatirkan keadaan para peserta.
"Vivian, coba lo hubungi para peserta," perintah Agam kepada Vivian. Vivian pun langsung menurut.
Ketika sudah membuka ponselnya, wajah Vivian tiba-tiba terkejut.
"Ada apa, Vivian? Kenapa wajah lo terkejut seperti itu?" tanya Agam.
"Ketua kelompok dua ternyata mengirim pesan whatsapp kepada gue satu jam yang lalu," jawab Vivian.
"Apa isi pesannya?" tanya Edgar.
"Pesannya mengatakan bahwa kelompok dua mengundurkan diri dari malam penentuan. Mereka sudah meninggalkan sekolah sekarang."
Agam dan yang lain lagi-lagi terkejut mendengar kabar yang diucapkan Vivian barusan.
"Mereka sepertinya terkena teror hantu Bara," tebak Hugo.
"Lalu bagaimana dengan kelompok empat? Apakah ada kabar dari mereka?" tanya lagi Agam kepada Vivian dengan nada panik. Agam sangat mengkhawatirkan para peserta sekarang, terutama Sairish.
__ADS_1
"Mereka tidak mengirim pesan kabar apapun. Sepertinya mereka masih menjalankan misi," jawab Vivian.
"Kalau begitu sekarang tugas lo adalah harus menghubungi anggota kelompok empat satu-persatu," perintah Agam kepada Vivian. Vivian pun mengangguk menurut.
"Kalian berdua pergi dan cek keadaan kelompok empat sekarang!" perintah Agam kepada Edgar dan Hugo. Mereka berdua pun mengangguk menyanggupi.
"Ingat, jangan pernah berpencar. Kalian berdua harus tetap bersama-sama sampai kembali lagi ke ruang kosmik ini."
Agam memberi peringatan tersebut kepada Edgar dan Hugo. Mereka berdua pun beranjak pergi meninggalkan ruang kosmik untuk menyusul para peserta.
***
"Aaaaa, hantu! Itu hantu Kak Chelsea!"
Di area koridor perpustakaan, Sairish dan teman-teman kelompoknya berteriak histeris. Mereka sedang diteror oleh hantu Chelsea saat ini. Hantu Chelsea yang berada di depan mereka terus menggeram dengan nada menyeramkan. Napasnya naik turun dengan tarikan napas kencang seperti napas seseorang yang sedang emosi. Hantu Chelsea terlihat murka kepada Sairish dan teman-teman kelompoknya.
Hantu Chelsea mulai berjalan menghampiri Sairish dan teman-teman kelompoknya saat ini. Hantu Chelsea merentangkan tangannya ke depan seperti zombie sembari terus menggeram dan terus menghirup dan menghembuskan napas emosinya. Dia berniat menyakiti Sairish dan teman-teman kelompoknya saat ini.
"Ayo, kita lari!" aja Genta kepada Sairish dan yang lain.
Mereka berlima pun mulai berlari meninggalkan area koridor perpustakaan. Namun, Sairish tertinggal oleh teman-teman kelompoknya karena tangannya ditarik oleh hantu Chelsea. Sairish pun memekik keras ketakutan.
"Aaaaa, jangan sakiti aku, Chelsea. Lepaskan!"
Sairish terus meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya dari genggaman hantu Chelsea. Ketika tangannya dilepaskan oleh hantu Chelsea, Sairish pun tiba-tiba terjungkal ke dasar lantai akibat Sairish menarik tangannya terlalu kencang barusan.
Hantu Chelsea menggeram dan berusaha meraih Sairish untuk menyakitinya. Sairish yang jatuh ke lantai kini berusaha menghindar dengan memundurkan tubuhnya ke belakang. Namun naas, hantu Chelsea berhasil meraih rambut Sairish. Hantu Chelsea menjambak rambut Sairish dan mulai menyeret tubuh Sairish.
"Lepaskan! Jangan sakiti aku Chelsea!" teriak Sairish marah.
__ADS_1
"Diam perempuan ******!" balas hantu Chelsea dengan nada suara dan tatapan menyeramkan.
Hantu Chelsea terus menerus menyeret Sairish. Kemudian tubuh Sairish dia bantingkan ke tembok luar gedung perpustakaan. Sairish pun memekik kesakitan. Tubuhnya terasa remuk karena bantingan yang begitu keras. Kepala Sairish di bagian dahi berdarah sekarang.
Hantu Chelsea tertawa mengerikan. Dia terlihat begitu gembira menatap Sairish yang tersiksa olehnya saat ini. Hantu Chelsea pun kembali merentangkan tangannya dan mencoba meraih leher Sairish.
"Dasar perempuan munafik! Gue akan membunuh lo, Sairish!"
Hantu Chelsea langsung mencekik leher Sairish setelah mengatakan itu. Sairish kesulitan bernafas. Cekikan hantu Chelsea pada lehernya begitu keras dan menyakitkan. Sairish meronta-ronta meminta dilepaskan. Namun hantu Chelsea tidak mengabulkannya.
Sampai kemudian hantu Chelsea tiba-tiba terlempar beberapa meter karena ditendang hebat. Sairish pun melihat siapa pelaku yang menendang hantu Chelsea. Sairish menyoroti pelaku itu dengan cahaya senter miliknya. Mata Sairish membulat ketika melihat jelas wajah pelaku itu. Dia adalah hantu Bara. Hantu Bara lah yang menyelamatkannya.
Hantu Bara pun menghampiri hantu Chelsea yang terkapar di lantai. Dia saat ini mulai menyiksa hantu Chelsea. Namun hantu Chelsea pun mencoba membalas menyakiti hantu Bara. Kedua hantu itu benar-benar bertengkar saat ini. Sairish pun mengambil kesempatan itu untuk berlari menyusul teman-teman kelompoknya.
***
Tim mana? Tim hantu Bara atau Tim hantu Chelsea?
Kira-kira siapa yang akan menang? Bara atau Chelsea?
Siapa yang akan mati selanjutnya di malak penentuan ini?
Kira-kira misi apa yang akan menjadi mis terakhir malam penentuan?
Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya untuk mengapresiasi penulis.
See you in next chapter!
Instagram : @sourthensweett
__ADS_1