
Langit masih gelap, pukul 03.00 dini hari. Tonggeret pun masih berbunyi nyaring. Pohon bambu yang menjulang tinggi, itulah rumah mereka.
Namun, lampu dapur rumahku sudah menyala. Wangi aron nasi sudah mengebul. Aromanya memenuhi udara dan menembus dinding anyaman bambu rumah.
Dia adalah Ibu, dalang dari kegaduhan di dapur sepagi ini. Aku sendiri masih malas terbaring di kasur. Pekerjaan semalam masih membuat otakku mumet.
Namun, suara gaduh kayu bakar di atas tungku, ditambah suara sodet yang bergesek di atas wajan membuatku risih bertahan di kasur. Dengan muka berantakan dan rambut kusut aku menghampirinya. Wanita berdaster ungu dengan lengan sepundak itu, terlihat sangat sibuk.
"Sudah masak, Bu?" ucapku memulai pembicaraan.
Aku bersender di daun pintu. Asap mengebul, menyapa, dan memberi rasa hangat di tengah udara dingin. Sementara, Ibu hanya tersenyum, lalu memberiku secangkir teh melati.
Kusambut uluran tangannya, kemudian dengan cepat aroma melati menusuk hidung ini. Nikmat sekali, dinginku pun sejenak pergi. Sementara, Ibu kini sibuk memindahkan aronnya ke kukusan yang akan ia masak di atas dandang.
Wanita itu sangat hebat. Bertahun-tahun ia melakukan ini semua tanpa penghargaan. Ibuku sangat cantik, tetapi sudah tidak terawat semenjak Ayah mendua.
Wajah Ibu sangat tenang, senyumnya selalu hadir menyapaku. Hidungnya mancung bak perosotan di taman bermain. Rambutnya panjang sedada, bergelombang, hitam seperti arang. Namun, rambutnya lebih sering ia sanggul asal dengan karet gelang dibanding ia biarkan terurai.
Ibu sering memakai minyak kelapa yang ia buat sendiri. Wanginya sangat khas dan sering membuatku justru lapar. Ia juga suka mencampur minyak dengan kemiri yang disangrai dan ia haluskan. Terkadang lidah buaya pun sering menjadi masker untuk rambutnya.
Ibu sangat sabar membuat minyak untuk rambutku yang semula tipis. Padahal, membuat minyak kelapa tidaklah sebentar, Ibu harus rajin mengaduk santan yang dipanaskan. Bisa berjam-jam lamanya sampai minyak tersebut keluar dan hanya menyisakan ampas gurih dan wangi yang bisa dimakan bernama blondo.
Alis ibu tipis dan terukir alami, menurutnya saat ia menikah alisnya tidak dicukur seperti calon pengantin wanita pada umumnya. Alis itu pula yang ia wariskan kepadaku. Rambut bergelombangnya pun sedari lahir telah kuwarisi.
Kulit ibu pun eksotis, kuning langsat seperti kentang Dieng. Bibirnya tipis, tetapi merah alami tanpa pewarna. Pinggulnya sangat berbentuk, meskipun tubuhnya tidak lagi langsing seperti foto yang pernah ia tunjukkan.
Saat itu, Ibu baru memiliki dua anak. Dia masih bekerja di pabrik pakaian, itu sebabnya ia sangat pandai menjahit. Saat itu, aku belum lahir dan kami masih tinggal di Kota Bekasi. Setelah aku berumur enam tahun, kami pindah ke Kabupaten Bekasi sampai sekarang.
Banyak yang bilang kami sangat mirip, bagaikan kembar, tetapi beda generasi. Warna kulit, jenis rambut, tinggi badan, bahkan sampai cara berjalan pun semua kuwarisi. Hanya mata sipit ini saja yang mirip dengan Bapak.
"Ning, nanti angkat ya kalau nasi Ibu sudah matang? Ibu mau salat," ucap Ibu meninggalkan singgasananya dan perlahan menuju kamar mandi untuk wudu.
__ADS_1
Kini, aku duduk di lantai menatap tungku yang membara. Sebenarnya kami bukan tidak mampu membeli kompor gas dan penanak nasi listrik, tetapi sikap Bapak yang kolot membuat Ibu tidak pernah bermimpi menggunakan itu semua. Ibu sangat sabar menghadapi Bapak yang kupikir suka keterlaluan.
Bapak selalu beralasan, makan dari nasi yang dimasak pakai penanak nasi listrik rasanya tidak enak. Baginya nasi yang dimasak menggunakan penanak listrik hasil nasinya lembek dan bau. Ia lebih suka memakai tungku karena masakan akan terasa wangi dan pulen.
Sebenarnya, Ibu bisa saja menentang dan bersikap sama seperti madunya. Namun, Ibu terlalu patuh kepada Bapak. Ia lebih memilih repot dibanding harus menahan sedih masakannya tidak disentuh Bapak.
Lantas, bagaimana dengan istri kedua Bapak? Bapak tidak pernah makan di rumah istri keduanya. Ia hanya akan pulang ke istri mudanya setelah makan masakan Ibu, lalu besoknya pulang dengan teriakan lapar yang menggema.
Jadi, laki-laki tua itu hanya pulang ke istri mudanya untuk tidur dan bercinta. Sementara, Ibu hanya mendapat jatah untuk menjadi tukang masak, cuci, dan muka masam Bapak. Aku sendiri suka kesal melihat tingkah Bapak, tetapi Ibu bilang Bapak sangat mencintai masakan Ibu.
Ibu tidak pernah mengeluh di depanku. Ia selalu cerewet menceritakan banyak hal, tetapi bukan Bapak. Ia hanya akan bercerita tentang Bapak, jika aku tanya. Namun, aku tahu ia sering menangis di atas sajadah.
"Sudah matang belum, Ning?" tanya Ibu masih dengan mukena putihnya.
"Belum, Bu. Sedikit lagi, mungkin ...."
"Kamu mau salat? Masih ada waktu untuk tahajud, nanti keburu Subuh." Ibu mengintip nasinya, kemudian mencoba satu butir nasi untuk mengetahui apakah nasinya sudah matang atau belum.
Aku berjalan gontai dan menyeret langkah ini ke kamar mandi. Segar sekali rasanya, saat aliran air menyentuh wajahku. Kudengar tonggeret masih bernyanyi, jumlah mereka terlalu banyak di sini.
***
Mentari telah datang, perlahan tonggeret mulai sepi. Mungkin sekarang mereka tertidur dan biasanya nanti sore mereka akan kembali beraksi. Di tempat tinggalku memang masih banyak pohon bambu tumbuh, bahkan mereka menutupi jalan dengan batang yang saling melengkung.
"Bu, Ningsih berangkat dulu ya?" teriakku sambil memakai sepatu di depan teras rumah.
"Iya, sudah habis sarapannya?" balas Ibu sambil membersihkan tangannya saat aku meminta jemarinya untuk kucium.
"Sudah, Bu."
"Oiya, Ning. Tolong tanyakan A Iwan dan A Wahyu besok main ke sini gak?" pinta Ibu.
__ADS_1
Wanita itu sangat ceria saat menyebut kedua kakak laki-lakiku. A Iwan sudah dua tahun meninggalkan rumah ini, semenjak menikah ia dan istrinya membeli rumah di perumahan di daerah kota. Sementara A Wahyu, kakak keduaku sudah setengah tahun mengontrak dekat tempat kerjanya di kawasan industri. Jadi, tinggallah aku yang menemani Ibu.
"Iya, nanti Ning telepon ya, Bu. Mudah-mudahan sinyalnya bagus." Aku pun bergegas menyalakan mesin motorku dan meninggalkan Ibu sendiri di rumah.
Udara masih sejuk, itulah yang membuatku betah tinggal di sini dibanding di kota. Awalnya memang dulu diri ini tidak suka. Di sini terlalu sepi, tidak ada mall atau supermarket. Semua sangat jauh dari tempat tinggalku sekarang.
Namun, perlahan aku justru mulai mencintai kehidupan sederhana ini. Di sini sepanjang jalan sawah masih terbentang luas. Semua masih hijau, karena belum lama ditanam. Hewan ternak juga bebas mencari makan. Bukan hanya ayam, tetapi sapi, kerbau, dan kambing selalu bebas berlarian.
Semua tampak sederhana, para petani menyiram padinya, ada pula yang sangat sibuk mengembala kerbau untuk mencari rumput. Tidak jarang, ada yang sibuk memanggul rumput dan membawakannya untuk hewan ternak yang sengaja dikurung di kandang. Sebagian ada juga yang sibuk bercocok tanam lengkuas, kunyit, sereh dan tanaman lain yang menguntungkan untuk dijual. Itu adalah salah satu cara mereka memanfaatkan setiap lahan yang ada menjadi pundi uang.
Halaman rumahku juga sangat luas dan penuh dengan tanah merah. Sehingga becek saat hujan sudah biasa. Di rumahku juga banyak tanaman, tetapi lebih banyak ditanam salak oleh Bapak. Sementara, bumbu dapur dan tanaman berbuah lainnya hanya menjadi pelengkap saja.
Di sini, semua orang memiliki halaman yang luas dan sebagian berpagar bambu dengan model seadanya. Namun, banyak juga yang dibiarkan tanpa pagar. Rumahku pun berpagar bambu, tujuannya hanya satu untuk mencegah anjing liar masuk pekarangan.
Aku sendiri adalah seorang Guru sekolah Dasar. Sejak kecil diri ini memang sudah bercita-cita menjadi guru. Bukan karena ingin menjadi PNS, tetapi Ibu bilang guru adalah pekerjaan yang mulia dan selalu membuatnya iri.
Ibu memang tidak tamat SD, ia bukan malas untuk belajar. Namun, pada masanya wanita dianggap tidak penting menempuh pendidikan tinggi. Sehingga Aki, kakekku memaksa Ibu berhenti sekolah di kelas dua SD.
"Ibu saat itu menangis, Ning! Ibu belum bisa membaca, Ibu sedang semangat belajar membaca sama guru Ibu, namanya Pak Jali. Namun, siang itu Ibu diminta pulang, Aki menjemput Ibu dan bilang tidak usah sekolah lagi. Lebih baik membantu Aki di sawah dan Nini di dapur." Aku teringat ucapan Ibu setiap kali diri ini menceritakan cita-citaku.
Kami selalu bercerita sambil Ibu menyisir rambut panjangku. Jika tidak, ketika Ibu meminta aku mencari rambut putihnya. Rambut putih bernama uban itu, selalu membuat kepala Ibu gatal. Ia akan sangat ribut minta uban itu dicabut dan aku hanya bisa menurut saja untuk membungkam mulutnya yang terus menggerutu.
Keasyikanku tiba-tiba saja terusik oleh bunyi berisik di belakangku. Seorang pengendara motor trail terus membuntuti. Semula otak ini berpikir kami hanya searah dan nanti di pertigaan dia akan menjauh. Namun, baru diri ini sadari ia terua berada di belakangku.
Apa sebenarnya maksud pengendara tersebut? Sejak tadi aku telah memberi ruang, menepi, dan melambatkan laju motor, berharap ia segera menyalip. Namun, kenyataannya sampai kini ia terus setia di belakangku.
Perlahan, takut mulai muncul di pikiranku. Gelisah menyelinap dalam hati. Jangan-jangam dia orang jahat? Pencuri organ tubuh yang sedang ramai dibicarakan.
Tanpa pikir panjang, kedua tangan ini pun memutar gas motor. Laju motorku sekarang bisa dikatakan mengebut. Aku takut, untunglah si motor trail tadi menjauh.
Namun, sialnya tidak lama ia mengejar. Bahkan, kini ia tepat berada di sampingku. Untunglah, diri ini telah tiba di sekolah. Jika orang tersebut berani macam-macam mulutku akan berteriak sangat kencang dan seluruh penghuni sekolah pasti akan menolong.
__ADS_1
Aku memarkirkan motorku tepat di bawah pohon jambu. Sementara, si pengendara motor tadi juga ikut berhenti dan ikut parkir tepat di samping motorku. Aku masih gelisah. Siapa dia?