Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 11


__ADS_3

Aku terjaga dari tidurku, pukul 07.05 kutatap jam dinding dengan penglihatan yang masih kabur. Baiklah, ini adalah hari Minggu, sehingga wajar santai melekat padaku. Darah merah yang masih keluar juga bisa menjadi alasan sempurna untuk bangun terlambat.


Dengan rasa malas aku mencoba duduk di tepi ranjang. Diri ini baru sadar rasa takut telah membuatku tidur bersama Ibu di kamarnya. Namun, kemana ia sekarang?


Aku mencoba menapakkan kaki keluar kamar. Perlahan mulai terdengar suara Ibu sedang menyapu. Ah, wanita itu tidak pernah mengenal kata libur!


"Kamu sudah bangun, Ning? Mandi dulu, setelah itu sarapan. Bapak tadi bawain nasi uduk," sambut Ibu menghentikan sejenak gerakan tangannya dan berdiri bak model.


Sapu lidi dengan gagang panjang bak sapu penyihir, kini Ibu biarkan berdiri tegak sejajar dengannya. Sementara, daun-daun kering yang gugur telah berkumpul di depannya. Daun-daun itu sedang menunggu untuk masuk ke dalam pengki untuk dipindahkan dan dibakar.


"Bapak tadi pulang?" tanyaku.


"Iya, tadi sebelum Subuh. Dia bawakan nasi uduk kesukaannmu. Nasi uduk Wa Kinem yang jualan di pasar. Katanya lagi kebetulan ketemu dan masih ada. Sudah sana mandi!" jelas Ibu.


Aku justru mematung memikirkan Bapak. Laki-laki itu tidak pernah lupa akan makanan kesukaan anak perempuannya. Ia selalu saja menyempatkan waktu untuk membelikan dan membawakannya ke rumah.


"Kamu, kenapa? Masih takut? Gak usah takut, rumah ini sudah dipagari Bapak. Lagian ada Allah pagar sejati diri kita," tanya Ibu seakan tahu isi hatiku.


"Apa Ibu percaya dengan Bapak?" balasku balik bertanya.


"Tentu saja, Ning. Dia kan suami Ibu. Dia menyayangi kita. Meskipun, rasa sayangnya memang tidak sebesar dulu kepada Ibu. Namun, rasa sayangnya kepadamu masih utuh, Ning. Jangan karena sedikit kesalahannya, kamu melupakan segala kebaikannya kepadamu, Ning. Salah Bapakmu hanya satu dan itu kepada Ibu, yaitu tidak setia. Namun, kepadamu ... Bapakmu masih peduli dan sayang sama kamu. Ingatlah ia selalu memberikan ia bisa sebagai Bapak."


Kata-kata Ibu membuatku tersadar. Rasa haru tiba-tiba menyentuh dinding egoisku. Selama ini aku terlalu sibuk mencari kesalahan Bapak.


Ibu benar, Bapak telah menjadi Bapak yang terbaik semampunya untuk aku. Ia tidak pernah mengacuhkan permintaanku. Bapak juga selalu ingat semua yang diri ini mau.


Sedari kecil Bapak juga selalu melindungiku. Ia selalu setia mengantar jemputku sekolah. Bahkan, sampai bangku SMA, Bapak tetap menjadi ojek langgananku tanpa dibayar.


Bapak juga begitu berjuang mendaftarkanku sekolah. Ia rela menunggu kabar dan duduk seharian di sekolah setiap hari. Itu semua semata untuk mengetahui kabar, apakah putrinya diterima atau tidak di SMA favorit pilihanku.


Bapak juga rela bekerja keras dan begadang setiap hari untuk memenuhi rengekanku. Ning saat remaja memang sangat manja dan ingin selalu kebutuhannya dipenuhi. Namun, Bapak selalu dapat memenuhi semua kebutuhanku.


Sekarang, hanya karena satu kesalahan Bapak, kenapa aku begitu tega membencinya? Aku terdiam larut dalam rasa bersalah. Ibu selalu saja bisa menilai dengan bijak. Inilah yang selalu membuat aku membelanya.


"Sudah, jangan terlalu banyak melamun! Anak perawan sudah siang belum mandi, malu sama pacar!" goda Ibu membuatku tersenyum.


Terpaksa aku pun menjauh darinya dan melangkah ke kamar mandi super mewah milik kami. Sementara, Ibu kembali berurusan dengan daun-daun kering tadi. Kini, ia pasti sudah membakar sang daun menjadi debu.


***


Ibu selalu semangat menyambut hari Minggu. Ia merasa hari Minggu adalah hari raya yang patut dipersiapkan dengan baik. Alasannya hanya satu, karena ia akan berkumpul dengan ketiga anaknya.


Bahkan hari ini, A Renan, anak tiri dari madu Ibu yang pertama datang berkunjung. Ibu A Renan dan Bapak menikah saat A Iwan baru berumur satu tahun. Kemudian mereka berlisah saat umur A Renan enam tahun.


A Renan telah menganggap Ibu sebagai ibunya pula. Itu semua, karena sikap Ibu yang sangat baik kepada A Renan. Meskipun, A Renan adalah anak dari madunya, Ibu selalu menyambut baik saat A Renan datang. Ia bahkan memperlakukan A Renan sama seperti anaknya sendiri.


Itu sebabnya, A Renan pun sangat sayang kepada Ibu melebih ibunya sendiri yang kurang perhatian kepada A Renan. Ini semua kutahu dari A Renan yang menceritakannya sendiri kepadaku. Ia selalu bilang aku beruntung memiliki ibu yang berhati malaikat.


Tentu saja, semua yang A Renan bilang benar. Ibu adalah malaikat yang menjelma menjadi manusia. Ibu adalah anugerah yang paling indah dari Tuhan untuk seorang Ningsih.


A Renan memiliki wajah yang sangat berbeda dengan Bapak. Ia mewarisi wajah ibu kandungnya. Hanya kulit putih Bapak dan tinggi badan Bapak yang ia warisi. Selebihnya, A Renan adalah kembaran dari ibunya.


A Renan memiliki postur tubuh tinggi. Badan ramping, rambut lurus hitam belah tengah. Alisnya tebal bak semut berbaris dan bibirnya merah mungil bak bibir boneka. Jika, A Renan adalah seorang wanita, ia pasti menjadi wanita yang cantik.


"Sudah lama banget kamu gak main, Nan? Sibuk ya?" ujar Ibu sambil membawakan beberapa tumpuk piring keramik untuk kami makan bersama.


"Iya, Bu. Lagi banyak kerjaan," jawab A Renan sambil menggaruk kepala, tetapi aku tahu rambutnya tidak gatal.


"Gak apa-apa, yang penting kamu selalu sehat," balas Ibu membuat A Renan tersenyum.


Siang ini menjadi siang yang indah. Kami semua larut dalam kebersamaan dan canda yang pecah. Jika dapat Ibu meminta, pasti Ibu akan meminta semua hari menjadi hari Minggu.


***


Akhir-akhir ini Bapak menjadi sering bermalam di rumah. Entah apa pula yang membuatnya menjadi lebih perhatian ke Ibu. Mungkinkah ia telah sadar? Sadar bahwa ia memiki intan permata di rumah?


Ibu juga lebih sering diajak jalan-jalan sama Bapak. Dari hanya sekedar membeli makanan sampai menemani Bapak pergi ke undangan pernikahan. Menurutku, sikap Bapak mendadak aneh!


"Kenapa Bapak bersikap lebih perhatian ke Ibu sekarang?" selidikku dengan tatapan penuh tanya ke Bapak.


Bapak sedang membaca koran langganannya. Berita olahraga selalu menjadi favoritnya. Di saat semua berita online berkembang pesat, Bapak masih setia membaca koran. Meskipun, sudah semakin sulit mendapatkan koran, tetapi Bapak masih punya loper langganan.


"Kamu itu, Bapak cuek salah, Bapak perhatian salah! Maunya apa, Ning?" protes Bapak, tetapi matanya masih fokus dengan berita hasil pertandingan bulu tangkis semalam.


"Soalnya Bapak aneh! Gak biasanya dalam seminggu menginap di rumah sampai lebih dari empat hari," sahutku.


"Kamu mau tahu, kenapa Bapak pulang ke sini terus?" goda Bapak melirikku dan meletakkan korannya di bangku.


"Dua hari lagi Bapak ulang tahun. Biasanya Bapak memang selalu bersama Ibumu. Kami selalu menghabiskan banyak waktu bersama. Bapak pernah berjanji, setidaknya Bapak akan memiliki satu waktu bersama Ibu. Ning, Bapak memang bukan suami yang baik buat ibumu. Namun, Bapak masih menyayanginya."


"Lantas, kenapa tidak cukup Ibu saja?"


Aku melayangkan protes keras. Tatapankun tepat menjurus ke mata Bapak. Kedua bola ini membulat fokus hanya ke arah Bapak.

__ADS_1


"Itulah kelemahan Bapak. Sudahlah, kamu mau dibelikan apa untuk makan malam? Bapak mau keluar sebentar. Nasi goreng Pak Kumis mau tidak?" Bapak mencoba lari dari pandanganku.


"Terserah," jawabku enggan.


Bapak lalu melarikan diri membawa motornya. Suara motornya yang halus selalu mengingatkanku akan sikap Bapak yang sangat menjaga motornya. Motor yang usianya lebih tua dari motorku, tetapi secara performa tidak kalah saing dengan motorku.


Hal tersebut wajar, karena Bapak sangat apik merawat motornya. Contohnya, aki motornya tidak pernah ia biarkan sangat kotor. Bapak selalu mengganti aki motornya sebelum waktunya. Bapak juga sangat rajin mencuci motor dan membersihkan badan motor dengan lap tangan.


Ia juga tidak akan pernah mengizinkan orang lain memakai motornya. Kalaupun, boleh pasti dengan serangkaian wejangan yang membosankan. Bawa motornya tidak boleh ngebutlah, dilarang keras melewati polisi tidur dengan ngebut, jangan lupa kunci motor dicabut kalau turun, jangan melewati jalanan yang berlubang dan sangat kotor! Itu semua sebagian dari yang kuingat!


Ponselku tiba-tiba berbunyi sangat nyaring dari dalam kamar. Aku pun berlari untuk meraihnya. Nama Pak Ron muncul di layar.


"Assalamualaikum. Ada apa, Pak?" jawabku.


"Waalaikum salam. Aduh, merdu sekali suara Ibu Ning. Pasti suasana hati Ibu sedang berwarna, seperti alunan musik dangdut yang rame ada gendang, suking, gitar," balas Pak Ron membuatku ingin muntah mendadak.


"Apa si, Pak Ron? Mau apa?" tebakku sangat hafal tabiat laki-laki itu.


"Ah, Ibu Ning memang paling paham isi hati saya. Hehehe .... "


"Udah deh, jangan bikin musik dangdut jadi musik rock!" kesalku.


"Jadi, begini, Bu. Tolong petikin salak dong! Besok kita pada mau ngerujak, nih! Tadi, Ibu main pulang duluan aja, si!"


"Kok, saya yang harus bawa? Bapak 'kan juga punya pohon salak!" protesku.


"Tapi, 'kan banyakan punya Ibu. Lagian, salak saya masih kecil. Masih muda buahnya. Asem banget dong, jadi tolong ya, Ibu Ning yang cantik!"


"Ya udah, nanti saya petik. Mau berapa karung?"


"Wes, bawa aja setruk, Bu. Sekalin buka lapak jualan salak, tar saya bantuin nimbang," balas Pak Ron membuatku tersenyum.


Ucapan Pak Ron telah sukse membuatku berkhayal. Aku membayangkan Pak Ron menurunkan ratusan salak dari truk dan dengan suara lantang berteriak menjajakan salak. Setelah itu, ia pun sibuk dengan timbangan, sehingga mabuk salak.


"Ya udah, saya petik dulu. Jangan lupa besok bawa timbangan!" godaku menutup telepon.


Sebenarnya, diri ini kurang suka berada sendiri di kebun salak. Aku juga malas sekali memetik salak, karena durinya yang sangat banyak. Namun, demi seorang Pak Ron yang sudah kuanggap seperti keluarga, malas itu pun terpaksa kubuang jauh.


Angin berdesir lembut. Kebun salak itu seperti menyambutku yang datang membawa karung dan golok. Tanganku pun sudah kulapisi dengan sarung tanga agar tidak terluka saat memetik salak.


Namun, udara dingin berdesir perlahan. Suara derap langkah kali diseret membuat bulu kudukku berdiri. Aku mematung, bola mata ini berhenti menatap. Derap langkah kaki itu semakin dekat.


Tangan dingin tiba-tiba saja menyentuh pundakku. Aku berhenti bernapas. Gelap merambat perlahan. Mentari sebentar lagi akan beristirahat.


"Ning ...." suara serak memanggilku.


"Ning, kamu ngapain? Lihat ayam Nini gak?"


Nini? Aku pun menoleh, ternyata suara serak itu milik Nini Aya. Ni Aya mulai menurunkan tangannya.Wanita, itu benar-benar sukses membuat jantungku hampir copot dengan suara seraknya.


"Kamu lihat ayam Nini gak? Tadi kayaknya ke sini. Nini mau potong besok pagi, jadi mau dikandangin."


Nini Aya masih berusaha mencari. Kepalanya terus bergerak perlahan ke kanan dan ke kiri. Bola matanya masih sibuk menjelajah.


"Ning, tidak lihat, Ni."


"Kamu mau metik salak?"


"Iya, Ni. Teman Ning minta dibawain salak besok."


"Sini, Nini bantuin!" ujar Nini Aya merebut golokku.


Wanita tua ini memang sangat lincah. Dengan sangat cekatan wanita itu telah berhasil memetik salak. Ia hanya memintaku menghilangkan durinya dengan menggoyangkan karung yang berisi salak. Nanti duri kecil dari salak tersebut akan saling beradu dan jatuh dengan sendirinya.


"Aduh, makasih banyak ya, Ni. Saya udah dibantuin," ujarku merasa puas atas kerja Nini yang sangat cepat.


"Iya sama-sama. Udah ya, Nini mau nyari Panjul, ke mana tahu tuh, ayam!" pamit Nini meninggalkanku sendiri.


***


"Pagi, Bu Ning ...," sapa Umar yang baru saja datang.


Ruang guru masih sepi. Semula kupikir diri ini sudah terlambat, sehingga aku sangat tergesa-gesa ke sekolah. Ternyata jam tangankulah yang mati sejak kemarin. Alhasil, sekolah masih sepi, khususnya ruang guru.


"Pagi ... kepagian juga, Pak?" balasku.


"Saya memang sengaja datang lebih pagi biar gak macet." Umar meletakkan tasnya di mejanya. "Wah, Ibu bawa apa? Salak ya? Ini yang dari kebun Ibu?" tanya Umar antusias.


"Iya, katanya pada mau ngerujak sepulang sekolah?"


"Iya, kemarin si, ngomongnga gitu. Wah, saya mau dong nyobain!" Umar kini berdiri tepat di hadapanku.


Tangan Umar tidak sabar mengintip kantung berisi salak yang kubawa. Kemudian, ia pun mengambil sebuah salak berukuran kecil. Lalu, menatapku meminta persetujuan.

__ADS_1


"Ambil saja, Pak. Tapi, udah sarapan belum?" setujuku bersyarat.


"Udahlah."


Umar pun dengan antusias mengupas salak dan langsung melahapnya. Tidak butuh waktu lama, ekspresi wajahnya berubah merasakan sepat dari salak. Aku tertawa ringan melihat ekapresinya, pasti rasanya sangat sepat ya!


"Kok, sepet banget si, Bu?" protesnya.


"Ya memang seperti itu, apalagi, Bapak makan yang kecil. Kayak gak pernah makan salak Cisaat aja, si?"


"Iya emang belum pernah. Kirain manis. Saya 'kan bukan asli sini dan emang gak tinggal di sini."


"Ya Allah, iya lupa hehehe. Ya udah minum nih," ujarku menawarkan minuman yang kubawa di dalam botol.


Ia pun tersenyum menerima tawaranku dan duduk di depanku. Dengan cepat laki-laki itu menghabiskan setengah air minumku. Aku rasa laki-laki itu memang haus!


"Makasih ya," ujar Umar mengembalikan botol minumku.


"Sama-sama," ujarku pasrah menatap sang botol yang hampir kosong.


"Saya benaran baru tahu, kalau salak asli sini sepet ya!"


"Tapi, kalau sudah masak ada manisnya, kok!" belaku.


"Kayak Ibu dong!" sahut Umar membuat mataku melotot.


Apa? Lagi-lagi aku disamakan dengan salak! Apa di atas jidat ini bertuliskan salak? Sehingga, dua orang laki-laki membandingkan aku dengan salak?


"Ibu itu sepet di awal, tapi kalau sudah masak alias sudah kenal, Ibu Ning ada manis-manisnya gitu. Eaaaa ...." goda Umar membuatku menahan senyum.


"Apaan, si!" balasku.


"Becanda, Bu biar gak sepi!" jelasnya.a


"Pak, boleh tanya gak?" tanyaku membuat Umar melirik. "Kok, mau jadi guru si?"


Pertanyaan itu akhirnya terucap dariku. Sudah lama sekali ia bersemayam dalam hati. Bagiku Umar adalah sebuah tanda tanya sangat besar. Bagaimana bisa seorang pria tampan tertarik menjadi guru yang penghasilannya tidak seberapa?


"Saya awalnya juga gak mau, Bu. Saya justru awalnya ingin menjadi pengusaha atau aktor. Hahahahha ...." Umar bergurau membuatku mengerutkan jidat. "Saya mempunyai seoarang kakek yang sangat saya sayang. Dia pernah bercerita cita-citanya adalah menjadi guru, tetapi karena banyak hal semua itu tidak bisa terwujud. Dia pernah meminta saya kalau sudah besar jadi guru ya, Mar! Saya hanya mengiyakan tanpa ambil serius. Namun, ketika dia meninggal, saya merasa sangat kehilangannya. Lalu, saya sadar saya telah berjanji kepadanya dan harus saya tepati. Jadi, saya pun melanjutkan kuliah di pendidikan. Namun, saya tidak tahu mau jadi guru apa. Karena saya pikir saya suka olahraga, ya sudahlah jadi guru olahraga saja. Ternyata tidak mudah hahahahha, saya sampai terlambat wisuda dua tahun. Fokus saya saat itu juga terbagi dengan kesukaan saya dengan teater dan bisnis keluarga yang sedang saya kelola. Serta usaha online saya sendiri. Awalnya, saya juga sempat menyerah tidak mau meneruskan semuanya, tapi setiap kali teringat kakek saya, saya bangkit lagi. Akhirnya, lulus juga. Setelah lulus saya bertemu Bu Rina di reuni SMA. Sebenarnya, kami gak dekat banget hanha sekedar kenal karena pernah satu ekskul. Lalu, dia cerita di tempatnya mengajar sedang butuh guru olahraga. Ya udah saya coba aja. Kebetulan ada saudara Ibu saya di Setu, jadi saya bisa numpang sementara sampai bosan. Ternyata asyik juga jadi guru, walaupun susah hahahhahaha .... "


Umar asyik sendiri menceritakan kisahnya. Namun, semua itu membuatku diam-diam mulai mengerti seperti apa dirinya. Aku pun mulai menyukai sifatnya, tetapi sekedar untuk menjadi teman, tidak lebih.


***


Malam selalu melukiskan rasa takut akan gelap. Bayang-bayang monster pemburu ketenangan selalu mengikutiku. Namun, semenjak peristiwa malam itu, Ibu sudah tidak pernah lagi mendapat gangguan. Ibu benar, Bapak memang telah membuat pagar untuk rumah ini.


Namun, rasa takut selalu muncul diam-diam menerobos relung hati. Aku menjadi lebih sensitif dengan suara. Serta menjadi sangat berhati-hati jika berada dalam sepi.


Pintu rumah tiba-tiba kembali terdengar ada yang mengetuk. Ketukannya terdengar cepat dan memaksa kami untuk membuka pintu. Aku dan Ibu saling bertatapan.


Ibu perlahan mendekati pintu. Tidak lama kemudian, suara Bapak menggema memanggil aku dan Ibu. Aku mencoba menahan Ibu. Aku takut suara itu bukanlah Bapak, karena tidak ada suara motor Bapak yang terdengar. Namun, suara itu semakin kencang dan memaksa untuk dibukakan pintu.


Ibu pun memberanikan diri membuka pintu, meskipun telah kutahan. Pintu terbuka perlahan dan membuat rongga besar yang berujung pada gelap di luar sana. Kosong! Tidak ada orang di luar sana!


Aku dan Ibu saling memandang. Tanpa pikir panjang Ibu pun segera menutup daun pintu dan menguncinya kembali dengan rapat. Kini suara Bapak kembali pecah dari dapur dan kembali meneriaki kami.


Aku sungguh ingin menangis menahan takut. Bulu kuduk ini berdiri. Namun, Ibu dengan berani melangkah ke dapur. Sungguh wanita itu selain baik, juga berani!


Aku sendiri belum berani menyusul Ibu. Suasana di luar yang sangat sepi dan hanya tonggeret yang masih sesekali terdengar menghibur. Perlahan diri ini mencoba menyusul Ibu ke dapur.


Langkahku berat, sangat berat. Namun, aku tidak mungkin membiarkan Ibu sendiri melangkah ke sana. Otakku penuh, nadiku berdegup kencang. Adrenalin semakin berpacu.


"Ning!"


"Argh ...," teriakku ketika namaku kembali disebut.


Suara itu tepat bergema di kupingku kini. Bayangan besar seperti hendak menangkap aku erat. Mataku bahkan dilem oleh rasa takut sangat dalam.


"Ning, ini Bapakmu pulang!" Suara itu tiba-tiba berganti suara Ibu.


Aku terbelak dan melihat Bapak tepat di hadapanku. Wajahnya tampak jelas dan kakinya menapak di lantai. Kucubit pipiku sendiri dan sakit. Tidak, aku tidak mimpi!


"Bapak membuat, Ning kaget saja!" protesku.


"Halah, kaget apa! Bapak dari tadi manggilin kalian lama banget dibukain. Bapak muter saja ke belakang."


"Lagian Bapak tumben banget pulang, motor Bapak mana?" balasku tidak mau kalah.


"Ada, tuh, bannya bocor di pertigaan depan. Mau gak mau Bapak dorong!" jawab Bapak membuatku berlari melihat motornya di depan rumah.


Ya, benar ada. Jadi, baiklah benar ini Bapak, bukan yang lain! Akhirnya, aku bisa bernapas lega. Namun, tunggu pertanyaaku tadi belum dijawab Bapak.


"Bapak mau cerai dengan wanita itu!" ujar Bapak.

__ADS_1


Bapak bicara dengan nada tinggi di dapur. Sehingga, diri ini bisa mendengar dengan jelas. Meskipun, jarak Bapak cukup jauh dariku yang kini berada di ruang tamu.


Benarkah Bapak mau bercerai dengan wanita itu? Aku segera kembali ke dapur. Kudapati wajah Bapak memerah, mulutnya membisu menahan amarah sangat dalam. Ada apa ini?


__ADS_2