Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 10


__ADS_3

"Apa maksud, Bapak? Kenapa Bapak tidak bisa membuat pagar untuk rumah saya?" tanyaku mencegah langkah Pak Saman yang sudah siap menaiki motorku.


Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia mematung sejenak. Rambutnya yang masih hitam dengan rapi ia usap lembut. Kemudian, berkali-kali menggerakkan topi koboinya, seolah belum pas di kepalanya.


Ia lalu melangkah mundur dan duduk di bangku bambu yang masih setia diam di depan rumahku. Kedua jemari laki-laki itu pun saling berpelukan. Entah apa yang sedang ia pikirkan? Mengapa sulit sekali berkata-kata?


"Baik, karena kamu terus memaksa ... akan saya jelaskan. Saya dan bapakmu pernah menemui seseorang. Orang tersebut yang sudah mengajarkan saya amalan untuk bisa membantu orang. Sementara, bapakmu ... saya sendiri tidak tahu apa yang ia pinta. Dengarlah Ning. Masalah ini adalah masalah yang melibatkan bapakmu, sehingga ia yang harus mengurusnya. Saya yakin bapakmu sudah tahu akan kejahatan istri mudanya. Jadi, dia yang harus menyelesaikan ini semua. Bagaimana pun ibumu adalah istrinya juga. Itulah sebabnya, hanya bapakmu yang bisa melakukannya. Saya tidak bisa membuat pagar untuk rumahmu. Ilmu saya tidak seberapa. Jika, saya bisa pasti sudah saya lakukan. Tidak ada pula orang lain yang saya kenal untuk melakukan itu, selain laki-laki tersebut. Tidak pantas rasanya, jika saya yang mendatangi orang tersebut dan mengurus ini semua. Sementara, bapakmu masih ada dan dia yang paling bertangung jawab dan berhak atas hal ini."


Aku sangat terkejut mendengar penjelasan Pak Saman. Hening menangkapku, memenjarakan diri ini ke dalam rasa sesak. Jadi, Bapak adalah ujung tombak dari semua ini?


"Baik, Pak. Terima kasih. Saya akan meminta bapak saya untuk menyelesaikan ini semua."


Aku menelan ludah, terasa getir dan pahit. Waktu pun kubiarkan berlalu dengan sunyi. Dengan perasaan tidak karuan diri ini pun mengantar Pak Saman kembali ke rumahnya.


Jika saja Pak Saman tidak memperingatkan agar tidak melabrak si wanita perebut madu itu. Pasti, diri ini sudah menghampirinya. Ingin sekali memotong tubuhnya atau mengikatnya, lalu memasukkannya ke dalam karung. Kemudian, akan kulempar begitu saja ke sungai penuh piranha.


Ah, sayangnya laki-laki bermata bulat dengan bola mata cokelat itu melarang. Namun, aku juga sadar, mana mungkin diri ini berani melakukan semua itu. Aku hanyalah pengecut yang hanya bisa sekedar memaki saja.


"Ning, sebaiknya kamu cepat membicarakan ini dengan bapakmu!" pinta Pak Saman setelah turun dari motornya.


Tentu saja, Pak. Akan segera kuselesaikan ini semua! Aku berjanji akan segera mengatakan ini semua. Semoga saja wanita berwajah manis itu tidak menjerat Bapak dalam jaring laba-labanya yang lengket.


***


Bapak akhirnya pulang. Seperti biasa perutnya selalu menagih jatah masakan Ibu. Aku merasa sangat muak melihat sikapnya. Bagaimana bisa ia begitu egois?


Ia tersenyum kepadaku. Wajahnya selalu tampak bersinar. Rambut hitamnya bercahaya dan bola matanya yang hitam tidak pernah redup.


"Ning, mau bicara, Pak," ujarku memulai setelah Bapak selesai makan.


"Ya, bicara saja." Bapak tampak santai menanggapi.


Bapak, lalu mengambil rokok dari sakunya. Menyusul kemudian, sebuah korek dan ia dekatkan untuk membakar ujung rokok. Dengan cepat rokok tersebut menyala.


Ujung rokok tersebut mulai membara. Asap mulai keluar, sementara Bapak dengan santai memainkan mulutnya. Bapak begitu menikmati setiap kepulan asap yang keluar dari mulutnya.


"Bisakah Bapak matikan sebentar rokok itu? Ning tidak pernah suka dengan asap dari rokok Bapak! Dada Ning sesak, apalagi melihat baranya, sakit di hidung Ning mau kambuh!"


Aku memang tidak pernah menyukai rokok secuil pun. Ditambah kenangan buruk tentang rokok masih terekam jelas di otak ini. Bara rokok itu sangat panas dan membuat hidung kecilku saat itu melepuh.


Saat itu usiaku baru delapan tahun. Aku masih sangat manja kepada Bapak. Setiap kali ia pulang, diri ini ingin selalu duduk di pangkuan Bapak sambil bercanda.


Aku tidak pernah mengerti apa yang sedang Bapak lakukan dan bagaimana kondisinya. Termasuk saat itu, ia begitu asyik merokok dan diri ini tetap memaksa ingin duduk di pangkuan Bapak. Alhasil, bara api rokok tersebut mendarat tepat di hidungku.


Sejak saat itu, aku tahu rokok itu sangat menyakitkan. Semakin bertambah usia, napasku pun semakin sesak, jika mencium asap rokok. Namun, aku tidak pernah berhasil melarang Bapak untuk membuang rokok dari hidupnya. Ia terlalu lama berteman dengan rokok.


"Baik." Bapak menekan ujung rokok, sehingga bara apinya padam. "Sudah, kamu mau bicara apa? Duduklah, jangan berdiri terus seperti gak punya bangku!"


Aku pun menurut dan duduk di sampingnya. Bapak pun kini mengganti kegiatannya dengan menyeruput kopi susu. Suara dari mulutnya sangat berisik, ia seperti menggodaku dengan sengaja.


"Apakah Bapak masih sayang dengan Ibu?" tanyaku lantang.


Bapak meletakkan gelas kopinya dan melirikku. Tatapannya seakan tidak pernah menyangka, aku akan lancang bertanya seperti itu. Dahi Bapak tampak berkerut.


"Kamu ini ngomong apa si, Ning? Tentu saja Bapak masih sayang."


"Benarkah? Kalau sungguh seperti itu, Bapak tahu 'kan Ibu sakit? Bapak juga pasti tahu sakit Ibu bukan karena hal biasa. Ada yang dengan sengaja ingin menyakiti Ibu. Bapak jelas tahu 'kan? Kalau Bapak benar masih sayang dengan Ibu, Bapak tidak akan membiarkan Ibu sakit. Bapak tidak akan membiarkan ada orang yang menyakiti Ibu. Bukankah seharusnya begitu?" tatapanku begitu tajam bagaikan menghunus pedang.


"Kamu ini ngomong apa si, Ning?" elak Bapak.


"Ning, bukan anak kecil lagi, Pak! Telinga Ning bisa mendengar dengan jelas, mata Ning pun bisa melihat semua kebenaran yang mulai tampak satu-persatu."


"Baik, sekarang mau kamu apa?" Bapak semakin bersandar ke bangku.


"Tolong lakukan sesuatu untuk Ibu. Pagari rumah ini!" pintaku.


"Baik, Bapak akan turuti permintaan kamu." Bapak, lalu kembali menyeruput kopinya.


Setelah habis, Bapak pun masuk ke kamar dan meninggalkan ampas kopi dalam gelas. Ia juga membiarkan puntung rokoknya begitu saja. Sehingga, akulah yang harus bertanggung jawab atas ulahnya.


***


"Kamu lagi apa, Sayang?" ujar Haikal di telepon.

__ADS_1


"Lagi, berpikir," jawabku singkat.


"Pikirin aku ya?"


"Kamu ini ... bukan, aku lagi berpikir apa mungkin bisa menjalani hubungan dan bertahan tanpa cinta?"


"Ya, gak mungkinlah. Cinta itu harus tetap ada agar hubungan tetap bertahan. Kenapa berpikir seperti itu? Kamu udah gak cinta sama aku?" balas Haikal dengan nada curiga.


"Bukan tentang kita, ini masalah orang tuaku. Aku ingin menyelesaikan masalah orang tuaku dulu, Haikal. Setelah itu, aku akan menikah denganmu. Sehingga, aku bisa tenang meninggalkan Ibu. Aku ingin Bapak bisa kembali menjaga Ibu," jelasku.


"Aku menunggu saat itu. Aku percaya kamu pasti bisa," balas Haikal membuatku tersenyum.


"Terima kasih ya,"


"Iya, tapi jangan lama-lama ya! Nanti aku bisa lumutan di sini!" canda Haikal membuatmu tertawa.


Semakin hari aku semakin yakin dengan Haikal. Mungkin benar ia adalah orang yang tepat untukku. Semoga saja diri ini bisa segera menikah dengan Haikal disertai rasa tenang akan Ibu.


***


Hujan baru saja reda. Sayangnya bias pelangi tidak muncul kali ini. Padahal, rindu akan cahayanya yang melengkung indah bermandi warna selalu ada.


Hujan reda di saat yang tepat, di saat jam istirahat belajar anak-anak tiba. Sehingga, mereka bisa menikmati waktu dengan berlari riang tanpa beban. Sebagian tampak asyik menikmati genangan air di lapangan upacara yang multifungsi.


Sebagian lagi sibuk menikmati jajanan pedagang kaki lima, tetapi ada pula yang hanya sekedar mengobrol santai. Menjadi anak-anak memang selalu menyenangkan. Tidak ada masalah yang begitu berat di otak mereka, selain jawaban rumit dari soal matematika.


"Ibu guru tidak mau jajan?" sapa Umar entah menawarkan atau hendak menggoda.


Aku sedang duduk di teras sekolah. Pikiranku sebenarnya sedang menjelajah jauh memikirkan Bapak. Bapak berjanji hari ini akan menemui orang yang bisa membuat pagar.


"Tidak, Bapak Umar terhormat. Saya masih kenyang," balasku.


"Mau es doger gak?" lanjutnya bertanya.


"Memangnya kalau saya bilang mau, Bapak akan membelikannya?" godaku.


"Es doger doang mah, kecil. Bentar ya ...." Umar setengah berlari menghampiri seorang kakek penjual es doger di luar pagar sekolah.


Hal tersebut membuatku diam-diam memperhatikannya. Tampak ekspresi si kakek sangat senang. Tangannya begitu lincah dan semangat menyendok racikan es doger di gelas plastik.


"Biar hatinya selalu adem dan senyum Ibu selalu manis," goda Umar sambil menyerahkan es doger kepadaku.


"Terima kasih." Aku tersenyum, tetapi tidak semanis harapannya. "Bapak beli berapa? Kenapa kakek penjual es doger tersebut masih terus membuat esnya?" selidikku.


"Beli buat semua gurulah. Masa Ibu doang yang saya traktir. Nanti ada yang cemburu hahahaha ... Pak Ron!"


Umar begitu lantang menyebut Pak Ron. Namun, aku tahu jelas Bu Rina maksudnya. Diam-diam kuperhatikan wajahnya, laki-laki ini semakin lama ternyata semakin menyenangkan. Mungkin inilah alasan mengapa Bu Rina sangat menyukainya.


"Pak, ini esnya mau di bawa kemana?" tanya kakel penjual es doger membawa beberapa gelas es doger yang ia masukkan ke kantung plastik yang ia jinjing.


"Oiya, sini biar saya yang bawa. Terima kasih ya," balas Umar mengambil alih sang kantung plastik membuat sang kakek tersenyum balik mengucapkan terima kasih.


Setelah itu Umar pun bergegas berjalan ke kantor. Di sanalah para guru sedang berkumpul. Mereka biasanya sedang asyik berbincang atau sebagian ada pula yang sedang mengisi perut.


Mungkin Umar akan membuat kantor gaduh. Mereka akan bersorak riang menyambut es doger dari Umar. Tentunya Bu Rina yang akan merasa paling senang di antara semuanya.


Aku sendiri masih asyik menikmati pemandangan di luar sekolah. Kini es doger menjadi temanku dan juga Asep yang berjalan mendekat. Anak laki-laki itu selalu ramah dan ceria.


"Kamu mau, Sep?" ujarku menawarkan es doger milikku yang masih banyak.


"Mau, Bu. Tapi ilok Asep gantiin punya Ibu, ora pantes.


"Ya, jangan punya Ibu. Kamu beli lagi yang baru, ya? Ini uangnya ...." Aku mengeluarkan selembar uang kertas lima ribu untuknya.


"Jangan, Bu. Nanti Asep dimarahin Emak, ilok minta uang sama Ibu guru."


"Siapa yang minta? Ibu ikhlas ngasih. Udah sana beli! Nanti Ibu marah kalau kamu gak beli, lagian Emak kamu gak usah tahu kamu dibeliin es sama Ibu. Nanti Ibu takut riya."


Asep akhirnya menerima uang yang kuberikan. Wajahnya penuh ekspresi gembira. Anak itu memang sangat mudah untuk merasakan bahagia di tengah keterbatasannya.


"Oh, jadi Ibu ikutan traktir orang?" goda Umar tiba-tiba muncul di belakangku.


Aku hanya diam. Kemudian ia pun duduk di sampingku. Aku merasa salah tingkah dekat dengannya.

__ADS_1


Sementara, Umar hanya memandang lurus ke depan. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Diam-diam aku mencuri pandangan untuk melihat wajahnya. Ia semakin terlihat tampan. Wangi minyak wanginya pun semakin kusuka.


"Kapan-kapan kita ke Sasak Mare yuk, Bu?" ucapnya membuatku terkejut.


Sasak Mare atau Jembatan Ijo adalah sebuah jembatan gantung yang terletak di perbatasan Kampung Cisaat dengan Kampung Leungsir. Jembatan tersebut sering disebut Sasak Mare oleh orang sekitar. Namun, para pendatang sering menyebutnya Jembatan Ijo, karena warna jembatan yang senanda dengan pemandangan sekitar yang hijau.


"Insyaa Allah ya, Pak," jawabku tidak berani berjanji.


Umar pun tersenyum sambil membulatkan jari jempol dan telunjuknya. Kini aku balik tersenyum kepadanya. Udara begitu sejuk angin membelai lembut tanpa pilih kasih.


***


Jalanan Cisaat selalu berwarna tanah sehabis hujan. Ini bukan karena tanah merah yang belum diaspal. Namun, ini semua disebabkan truk pengangkut tanah yang meninggalkan jejak di jalan.


Semakin lama jalan Cisaat memang dipenuhi oleh truk-truk pengangkut tanah. Truk tersebut terus membawa tanah dari Cisaat untuk keperluan membangun perumahan. Kebanyakan tanah yang akan dibangun menjadi perumahan adalah tanah bekas sawah, sehingga membutuhkan banyak tanah agar lahan tersebut tinggi dan siap untuk dibangun.


Bagi masyarakat Cisaat kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk menjual tanah dibanding menjual lahan mereka. Alasannya, karena lebih cepat menghasilkan uang, juga lahan tetap menjadi milik mereka. Sehingga, tidak heran banyak lahan yang semula tinggi menjadi rendah atau banyak pula lubang besar di lahan warga.


Aku sendiri hanya bisa mengamati hal ini. Walaupun, dalam hati merasa miris akan hal ini. Namun, siapa diriku? Mungkin aku bisa saja melakukan hal yang sama seperti mereka, jika kebutuhan materi lebih mendesak dibanding mempertahankan keseimbangan alam.


Ibu sedang duduk di sofa saat aku kembali usai mengajar. Salah satu tangannya terus bergantian mengurut betis kananya. Aroma balsam begitu menyengat menyambutku.


"Ibu kenapa?" tanyaku usai mengucap salam dan meletakkan tas di lantai.


"Ibu tadi jatuh, Ning di dapur. Gak sengaja menginjak lap basah. Kepala Ibu terasa sangat berat, sehingga hilang keseimbangan," balas Ibu.


"Ya Allah, terus Ibu gak apa-apa?" panikku.


"Hanya sedikit sakit saja kakinya. Ini sudah Ibu urut."


Ibu memang pandai mengurut. Ia pernah bercerita Nini yang mengajarinya. Bahkan Ibu bisa mengobati anak yang panas dengan urutannya.


Itu semua ia dapat tidak begitu saja. Ada amalan yang harus ia lakukan. Aku sering melihat Ibu membaca doa yang sangat panjang setelah salat duha. Ia juga menyiapkan air di gelas untuk ia minum.


Hal yang paling sulit yang ia pernah keluhkan adalah puasa mutih, yaitu melakukan puasa dan tidak memakan yang bernyawa saat buka dan sahur. Ibu hanya memakan nasi dengan lauk seperti tahu dan tempe saja. Mungkin lebih tepatnya memilih menu vegetarian.


Ibu juga dilarang memakan garam, sehingga semua makanan yang ia makan terasa hambar. Ia melakukan itu semua selama waktu yang cukup lama. Namun, Ibu adalah orang yang kuat, sehingga lulus dari ujian.


Nini memang berbeda. Ibu bilang Nini orang sakti, tetapi semua kesaktiannya untuk menolong orang. Kesaktiannya pun masih bersifat wajar, karena diperoleh berkat belajar dan melakukan suatu amalan. Entahlah, aku sendiri kurang mengerti dengan semua itu.


Bagiku, Nini adalah seorang nenek yang sangat lemah lembut. Ia tidak pernah perhitungan kepada cucunya. Apa yang ia miliki pasti akan ia utamakan untuk memberi untuk anak dan cucunya.


Nini itu sangat cantik, mirip dengan Ibu. Namun, wajah mereka tidak mirip, karena Ibu merupakan percampuran Nini dan Aki. Akan tetapi, sifat Nini dan Ibu hampir mirip. Banyak hal yang Ibu pelajari dari Nini, terutama tentang cara Nini yang selalu bijak menghadapi masalah.


"Kalau masih sakit, bilang ya, Bu!" pintaku dan disetujui olehnya.


Aku merasa wanita perebut madu itu masih menyakiti Ibu. Jika mengingatnya, ingin sekali kutarik rambutnya, lalu dengan tega akan diri ini gunting secara asal. Ah, tetapi apa semua akan menyelesaikan masalah? Bapaklah harapan kami saat ini, semoga saja ia cepat menyelesaikan semua ini!


***


"Bapak sudah memagari rumah ini! Jadi, Ibumu tidak akan diganggu lagi selama ia di rumah," ujar Bapak saat pulang dan menghampiriku di kamar.


"Bagaimana cara Bapak melakukannya?" tanyaku penasaran.


Aku sama sekali tidak melihat ia membawa apa pun. Bagaimana ia melakukan itu semua? Apa benar semua perkataannya.


"Kamu tidak perlu tahu. Bukankah yang terpenting Ibumu selalu sehat?" balas Bapak membuatku mengumpat dalam hati.


Bapak, lalu ke luar. Televisi kini menjadi perhatiannya. Bapak sangat suka sekali pertandingan tinju. Ia akan sangat antusias menyaksikan dua orang petanding saling baku hantam.


Acara tersebut selu sukses membuat Bapak ribut sendiri. Ia akan bersorak dengan riang, jika jagoannya berhasil mengalahkan lawannya. Namun, cacian akan muncul jika yang terjadi adalah sebaliknya.


***


Malam terasa mencekam. Aku baru saja terjaga dari tidurku oleh aroma kemenyan yang mengisi udara rumah. Aku tahu Ibu merasakannya. Kumohon jangan terjadi apa-apa dengan Ibu! Aku tidak mau di malam yang gelap ini pergi menaiki motor hanya untuk memanggil Pak Saman.


Ibu dengan tenang menepuk pundakku. Ia justru membasahi wajahnya dengan wudu. Kemudian, memegang Alquran dan ia lantunkan dengan khusyuk.


Pintu rumah tiba-tiba saja seperti ada yang mengetuk berkali-kali. Aku mendengar sangat jelas. Namun, tidak mungkin ada yang bertamu selarut ini. Pukul 01.15 sangat tidak wajar.


"Abaikan saja, Ning! Jangan kamu intip jendela, apalagi membuka pintu!" pinta Ibu.


Aku justru menjadi takut mendengar perkataan Ibu. Sebenarnya ada apa di luar sana? Siapa yang mengetuk pintu rumah kami? Oh, Ibu ....

__ADS_1


Ilok\= masa (kata dengan nada/rasa tidak percaya)


Ora pantes\= tidak pantas


__ADS_2