Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 15


__ADS_3

Entah mengapa malam begitu cepat datang. Aku sering merasa waktu begitu cepat berlalu. Bahkan sering kali diri ini merasa waktu 24 jam terasa kurang. Mungkinkah bumi berputar terlalu cepat?


Aku masih sibuk menyiapkan materi belajar untuk besok. Jam dinding terus berdetak dan jarumnya menunjuk ke arah sebelas. Tangan ini sebenarnya sudah berkali-kali menutup mulut yang menguap. Namun, apa boleh buat guling belum bisa diri ini peluk.


Aku merasa malam sangat sepi. Tonggeret bahkan tidak bersedia menemani. Ke mana mereka? Hanya ada suara jangkrik yang sangat jauh dan semakin lama menghilang.


Nyanyian malam dengan udara dingin merasuk, memecah hening. Aneh! Wangi melati tiba-tiba saja semerbak memenuhi rumah. Aku mematung, bulu kuduk merinding tanpa diperintah.


Wangi bunga yang tidak kusuka itu begitu kuat. Diri ini mencoba fokus untuk sedikit lagi menyelesaikan RPP yang sedang kuketik. Namun, bohong jika kukatakan bisa fokus menutup hidung dan melanjutkan pekerjaan.


Apa boleh buat, jari ini pun harus tetap mengetik. Meskipun, dengan tergesa-gesa menekan keyboard pada laptop. Diri ini terus mencoba fokus mengetik, meskipun pundakku mulai terasa berat. Harus selesai! Ribuan cambuk segaja kukencangkan agar tidak goyah diterpa rasa takut yang menjadi.


Aku merasa rangkaian putik melati sedang menjuntai di hidung. Sekelebat bayangan seperti memata-matai. Kemudian, ia seperti mematung di belakang punggung. Namun, menghilang saat kumenoleh berkali-kali.


Konsentrasiku buyar. Kedua mata lalu menatap kalender di ponsel. Hari Kamis dan ini berarti Malam Jumat. Diri ini merasa bayangan di belakang tubuhku belum juga pergi, ia masih setia di tempatnya.


Diri ini mencoba menutupi rasa takut dan mengalihkan perasaan ini ke layar ponsel. Namun, bayangan itu masih tepat di belakangku. Aku tahu! Dengan tergesa-gesa diri ini segera mematikan layar laptop dan mengacuhkan RPP yang sedikit lagi rampung.


Kini guling bersarung merah, motif bunga mawar menjadi temanku. Bahkan, selimut menjadi penutup rasa takut bak anak kecil. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut dan memeluk guling dengan erat sambil memejamkan mata.


Sementara, mulut tiada berhenti membaca doa. Namun, telinga ini justru seperti ditiup pelan, meskipun selimut telah menutupi aku masih bisa merasakan. Jantungku hampir blong, karena berdetak sangat cepat. Ya Tuhan, ada apa ini!


Aku benar-benar tidak sanggup membuka mata. Bahkan suara panci yang terjatuh di dapur membuatku semakin berusaha menutup telinga. Mungkin hanya diri ini yang mendengarnya, karena sepi belum juga pergi.


Sementara, aku masih berusaha menutup mata dengan rapat, tetapi mataku justru terasa sepat. Aku berharap pagi segera datang. Namun, wangi melati itu belum juga pergi. Bahkan semakin kuat.


"Tok ... tok ... tok ...." Pintu rumahku seperti diketuk.


Sayup-sayup kudengar suara seperti diseret mendekat. Angin berhembus kencang di luar, seprtinya daun bambu saling bergesekan. Lalu, ranting kecilnya yang rapuh akan patah dan menjadi penghuni tanah.


Aku masih berusaha menutup mata sambil terus berdoa. Gelap mulai merambat. Bising angin perlahan menjauh.


***


"Ning, bangun, Ning!" Ibu berterik sambil mengetuk pinta kamarku yang terkunci.


Mataku pun terbuka, pukul 05.30 ternyata sudah pagi! Ya Tuhan, aku kesiangan! Dengan tergesa-gesa aku pun beranjak dan membukakan pintu untuk Ibu.


"Kamu sudah salat?" tanya Ibu dengan wajah yang pucat.


"Belum, Bu. Ning kesiangan. Ibu kenapa?" balasku melihat Ibu tampak menahan rasa sakit.


"Ya udah, kamu salat dulu. Setelah itu, Ibu minta tolong kerokin ya?"


"Iya, Bu," balasku, kemudian melangkah ke kamar mandi.


Setelah salat aku segera memenuhi permintaan Ibu. Ibu terus mengeluh dadanya sesak dan bahunya terasa berat. Keringat Ibu juga sangat dingin. Sementara, kulit tubuhnya begitu kaku.


"Ning, tolong panggil Pak Saman!"


Apa? Pak Saman? Laki-laki separuh baya itu sudah lama kulupakan. Mengapa sekarang Ibu mendadak ingin ia kembali ke rumah ini?


"Ning? Ayuk, cepetan!" pinta Ibu lagi.


"Iya, Bu," balasku.


Aku beranjak meraih kunci motor dan membawa si putih melaju ke rumah Pak Saman. Semoga saja laki-laki itu ada di rumahnya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Ibu.


Setibanya di rumah Pak Saman, aku segera mengetuk pintu rumahnya. Kini rumah laki-laki itu tampak semakin rapi. Temboknya baru saja dicat ulang menggunakan warna merah bata. Di berandanya juga dipenuhi tanaman hias gantung.


"Pak, tolong Ibu saya lagi!" pintaku setelah Pak Saman keluar.


"Aduh, emang Ibu lu kenapa lagi?"


"Gak tahu, Pak," balasku dengan wajah bingung.


"Ya udah, ayuk!" Pak Saman langsung menangkring di motorku.


Sepanjang jalan pikiranku kacau. Otak ini terbelah. Benang kusut mendadak ada di hadapanku dan menunggu untuk diuraikan. Namun, aku justru terjebak dalam lilitan benang tersebut.


"Ning, ambil air ya!" pinta Pak Saman seperti biasa kepadaku.


Aku menurut dan segera mengambil air dari dapur. Namun, pintu dapur yang semula terbuka lebar tiba-tiba saja terhempas sangat kencang, sehingga menutup dengan sendirinya. Namun, ia bergerak perlahan kembali terbuka.

__ADS_1


Mataku mendelik, lalu bergegas pergi setelah berhasil menuang air segelas dari teko. Di ruang tamu, Pak Saman tampak sibuk membaca doa. Kemudian, Ibu tampak mulai gelisah.


Wajah Ibu mulai berubah. Namun, kelopak matanya justru menutup sangat rapat. Sementara, mulutnya terus mengerang kesakitan.


"Siapa ini?" teriak Pak Saman.


"Mana si Fatah! Mana ...." teriak Ibu memanggil nama Bapak dengan suara yang menakutkan sambil menunduk dan dengan kedua mata yang menutup.


"Gak ada!" balas Pak Saman.


"Mana Fatah!" Ibu kembali menanyakan Bapak.


Aku merasa sangat takut. Kedua jemari ini saling berpelukan di depan perut. Sementara, gigiku terus mengigit bibir bawah secara lembut.


"Ada urusan apa kamu sama Fatah?" Pak Saman balik bertanya.


"Dia sombong sekali! Tidak tahu berterima kasih! Saya tidak pernah dikunjungi! Mana Fatah? MANA!" Ibu kembali berteriak membuatku hampir jantungan.


"Fatah gak ada di rumah hanya ada istri dan anaknya. Ini tubuh istrinya. Kasihan, jangan kamu sakiti! Urusan kamu sama Fatah, nanti saya sampaikan ke anak istrinya biar mereka sampaikan ke Fatah. Sekarang tolong keluar dari tubuh istrinya. Dia gak tahu apa-apa!"


"Saya tunggu Fatah, pangil dia pulang!"


"Gak mungkin menunggu dia pulang! Kasihan istri dan anaknya! Tubuh istrinya sudah lemah, mau sampai kapan kamu sakiti? Sekarang tolong pergi atau saya paksa? Nanti mereka akan sampaikan ke Fatah! Kamu mau pergi sendiri baik-baik atau saya usir?"


"Saya tunggu Fatah!" Ibu mengerang bak hewan liar diikat jeruji besi kakinya.


Ternyata Pak Saman sedang menekan tulang belakang Ibu. Kemudian, tangannya seperti memberi aura panas ke rambut Ibu. Ibu berontak masih dengan mata yang tertutup.


"MANA FATAH!"


"SUDAH DIBILANG FATAH GAK ADA! SEKARANG KAMU PERGI!" Pak Saman semakin menekan tulang belakang Ibu.


"Argh ...." Ibu kembali mengerang kesakitan.


Aku semakin larut dalam rasa takut. Kenapa ini terjadi lagi pada Ibu? Gelisah merasuk sangat dalam dan mengacak keberanianku.


"Sampaikan pada Fatah, kunjungi saya atau saya akan terus mengunjungi keluarganya!" ancam Ibu.


"Iya, anaknya sudah dengar. Nanti ia akan sampaikan ke bapaknya. Sekarang kamu pergi!"


Ibu kemudian diam. Pak Saman kembali menggerakkan tangannya ke rambut Ibu. Sesekali ia juga memijat kepala Ibu. Perlahan Ibu mulai membuka matanya.


Diri ini segera menyodorkan air minum untuk Ibu. Hal tersebut berbalas dengan tangan Ibu yang berusaha meraih sang gelas. Aku pun langsung berinisiatif membantu memegang lengan Ibu yang lemas.


"Baca Bismillah, Rahma!" kata Pak Saman mencegah mulut Ibu yang sudah menempel di bibir gelas.


Ibu pun menurut dan dengan lesu menggerakkan bibirnya. Ibu tampak sangat lelah. Dalam sekejap air tersebut habis.


"Ning, siapa yang membuat pagar rumah ini?" tanya Pak Saman.


"Saya tidak tahu, Pak. Bapak saya tidak menceritakan apa pun soal pagar rumah. Ada apa, Pak?"


"Jadi, tidak ada seorang ustaz yang datang ke rumah?


"Tidak, Pak."


"Jadi, Bapakmu menemui orang lain bukan orang yang Bapak maksud waktu itu. Orang yang Bapak maksud waktu itu tidak akan membuat efek seperti ini. Dia seorang ustaz. Ya sudah, Ning jangan lupa sampaikan ke Bapakmu untuk mengurus yang mengisi pagar rumahmu!" pinta Pak Saman.


"Maksudnya, Pak?"


"Yang mengisi rumahmu marah, karena Bapakmu tidak melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia minta dikunjungi, mungkin minta diurus sajennya atau minta disedekahi."


Deg, jantungku merasa sangat terkejut mendengar penjelasan Pak Saman. Sajen? Sedekah? Apa lagi itu?


Setelah yakin Ibu membaik Pak Saman izin pamit. Ia menolak untuk diantar pulang, karena ingin berkunjung ke rumah saudaranya yang tidah jauh dari rumahku. Sehingga, aku hanya mengantarnya sampai depan rumah dan seperti biasa menyalaminya dengan selembar uang ucapan terima kasih.


Ibu masih terlihat lesu. Kini ia sedang terbaring di kamar. Aku telah mengantarnya ke sana. Kini, gelisah kembali merasuk mengingat kejadian tadi malam yang mencekam.


Jam dinding telah menunjukkan pukul 08.00 dan itu berarti aku telah terlambat ke sekolah. Aku pun segera meraih ponsel ternyata Umar telah meneleponku berkali-kali. Tanpa pikir panjang diri ini pun meneleponnya kembali.


"Assalamualaikum," ucapku ketika telepon terhubung.


"Waalaikum salam. Ibu ke mana? Anak-anak menunggu. Jadi, terpaksa saya isi terlebih dahulu. Saya geser jam olahraga lebih awal," jelas Umar membuat hatiku lega.

__ADS_1


"Ibu saya sakit, Pak. Maaf saya baru sempat menghubungi. Terima kasih banyak, Pak sudah membantu. Sebentar lagi saya ke sekolah. Saya minta tolong ya, Pak tolong jaga anak saya sebentar sampai saya datang!"


"Baik, Bu. Bu Ning tenang saja ya. Kalau tidak bisa masuk tidak usah dipaksakan."


Entah mengapa Umar mampu meredam gelisahku. Laki-laki itu seperti penyejuk dalam rasa terik yang melanda hati. Ya, Tuhan ada apa dengaku?


"Assalamualakum." Suara Bapak menyelinap masuk.


Aku begitu senang mendengar suara itu. Bagaikan tanah retak yang mendengar suara petir menggelegar di langit. Tanah retak yang berharap hujan akan segera datang mengusir kemarau.


"Kenapa kamu lihat Bapak begitu?" tanya Bapak.


Aku merasa tertangkap basah memandangi Bapak. Memang seperti apa wajahku saat ini? Aku bahkan tidak dapat melukiskan bagaimana.


Mungkin wajahku terlihat kesal, marah, atau sedih? Entahlah, mungkin saja kombinasi dari ketiganya? Aku mencoba memainkan bola mata dan menepis ekspresi apa pun yang terpancar dan ditangkap Bapak.


"Ibu tadi kerasukan, Pak," jelasku.


"Halah, Ibumu gak lain kerasukan mulu. Bilang, jangan kebanyakan ngelamun!"


Tiba-tiba aku dilanda kesal sangat tinggi mendengar balasan Bapak. Laki-laki tua ini, terkadang ingin sekali mencari ribut denganku! Apa tidak ada kata lain yang lebih enak didengar?


"Bapak berkata seakan Bapak tidak salah!" protesku.


"Memang salah Bapak apa?"


"Bapak minta pagar rumah ini ke mana? Setan yang merasuki Ibu bilang Bapak sombong, dia minta Bapak mengunjunginya."


"Orang yang menolong Bapak sudah meninggal dua minggu lalu. Sekarang cuma ada anaknya."


"Ya, temui anaknya kalau gitu!"


"Ya sudah nanti gampang." Bapak menipis angin. "Kamu belum berangkat? Nanti telat!" Bapak berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Memang sudah telat, Pak!" Aku pun meninggalkan Bapak yang duduk di sofa.


Kini kamar mandi menjadi tujuanku. Ya, diri ini belum sempat mandi! Mungkin mandi gaya bebek atau mandi gaya capung akan menjadi pilihanku sekarang untuk mengejar waktu.


***


Suasana sekolah sudah gaduh. Lapangan telah terisi oleh anak-anak perempuan yang asyik bermain lompat karet. Ada pula anak laki-laki di sisi yang lain sedang asyik berkumpul. Mereka sepertinya sedang membicarakan game online favorit mereka.


Aku mempercepat langkahku menuju kelas. Di depan kelas, Umar sedang duduk di teras kelas, dia tersenyum dari jauh kepadaku. Apa sungguh senyuman itu untukku?


"Assalamualaikum," sapa Umar dan berdiri tepat di hadapanku.


Deg, jantungku seperti disentil. Kemudian berdetak sangat cepat. Perasaan apa ini?


"Waalaikum salam," balasku.


"Gimana kondisi Ibu kamu? Sakit apa?" tanya Umar.


"Gak apa-apa hanya kecapean aja," kilahku.


Rasanya tidak mungkin menjelaskan semua ke Umar kendati kami sudah mulai dekat sebagai rekan kerja. Namun, menjelaskan semuanya secara detail, itu tidak mungkin. Aku juga tidak yakin apakah Umar akan sanggup mendengarkan semua masalahku.


"Syukurlah kalau tidak serius. Mendengar Ibu ... saya juga jadi kangen sama ibu saya."


"Memangnya?" balasku setelah duduk di sampingnya.


"Hahaha gak apa-apa. Alhamdulillah dia sehat dan sibuk urus usahanya. Ibu saya wanita karier hahaha, tapi dia sangat peduli dengan saya. Sangat bawel tepatnya, hampir setiap malam dia menelepon saya melebihi seorang pacar. Bahkan seharian dia pasti WA gak berhenti-henti. Ini saya belum lihat WA, mungkin dia sudah WA menanyakan sudah makan belum, sudah mandi belum, sudah punya pacar belum? Hahaha ...."


Aku tersenyum mendengar cerita Umar. Ternyata laki-laki ini begitu manis. Aku tidak pernah menyangka ia pun begitu dekat dengan ibunya.


Jam istirahat telah berakhir. Hal tersebut membuat anak-anak berlari berhamburan menuju kelas. Begitu pun denganku dan Umar kami berpisah, tetapi entah mengapa ada rasa yang tercipta dan memberi kesan untuk berjumpa kembali.


Di kelas, seperti biasa sebelum memberi tugas aku selalu menjelaskan materi yang akan dipelajari anak-anak. Setelah yakin wajah-wajah polos itu mengerti, diri ini akan memberikan mereka tugas. Sambil menunggu, aku pun diam-diam memberikan nilai untuk mereka. Namun, ponselku bergetar, membuat rasa penasaran untuk mengintipnya diam-diam.


Jadi, Ibu juga suka dengan Pak Umar? Baik, kita bersaing mulai hari ini untuk mendapatkan hatinya.


Hatiku seperti tertancap belati sangat tajam. Pesan dari Bu Rina membuatku merasa bersalah, meskipun tidak bersalah. Jari ini kelu, air liur mendadak pahit, sementara hati macam lukisan abstrak tidak berbentuk dan sulit diterka.


RPP \= Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan administrasi wajib seorang guru yang dibuat sebelum mengajar di kelas. RPP merupakan acuan seorang guru dalam mengajar, berisi materi yang akan dibahas, staregi, alokasi waktu, cara penyampaian (metode), dan tugas yang akan diberikan.

__ADS_1


__ADS_2