Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 4


__ADS_3

"Ning, kamu dah pulang? Katanya mau nonton?" sambut Ibu dengan wajah bingung.


Tepat seperti dugaanku, ia sedang menunggu A Iwan. Ibu tampak resah duduk di bangku bambu panjang yang sengaja kami letakkan di beranda. Mungkin sudah lama Ibu duduk di bangku itu.


Ibu sudah berganti baju, ia tampak cantik alami dengan baju tunik panjang selutut, berwarna kuning kunyit. Baju itu merupakan pemberian Teh Nia saat Lebaran tahun lalu. Bibirnya telah berwarna cokelat lembut.


Badan Ibu wangi aroma permen karet. Sementara, rambutnya masih selalu rapi dengan sanggul asal menggunakan karet gelang. Wajahnya pun telah ia poleskan bedak tabur bayi, Ibu memang tidak pernah memakai bedak selain bedak bayi. Mungkin, itu sebabnya wajahnya selalu cantik alami.


Aku menjadi sangat minder kalau sudah bersaing dengan Ibu. Bahkan pergi dengan seorang yang dikatakan pacar saja, diri ini hanya berpenampilan biasa saja. Hanya kaus kasual berwarna putih panjang sepaha dan celana bahan panjang hitam, serta jilbab segi empat berwarna pastel.


Bibirku pun hanya kupoles dengan pelembab bibir warna merah jambu. Wajah ini pun hanya kupoles asal dengan bedak padat. Sementara, tubuh ini hanya "lotion" yang menjadi pewangi alami.


"Iya, Bu. Kami tidak jadi nonton, saya berubah pikiran. Saya ingin di rumah Ibu saja menyicipi masakan Ibu, bolehkan?" balas Haikal membuatku menoleh ke arahnya.


Kenapa laki-laki ini menjadi pandai bersandiwara? Kutatap wajah Haikal. Ia masih sama, tetap mempesona dengan kesederhanaannya.


"Ya Allah, Haikal ... tentu saja boleh." Ibu tersenyum menatap Haikal. " Tapi, ini A Iwan dan Tetehmu belum nyampe ya, Ning? Ibu khawatir takut mereka kenapa-kenapa," lanjut Ibu menatapku.


"A Iwan dan Teh Nia gak jadi datang, Bu. Teteh hamil, jadi gak kuat ke sini," balasku.


Ibu tersenyum, wajahnya sangat sumringah. Matanya bersinar bagai mata air yang terkena cahaya mentari. Pelangi pun melengkung di senyumnya.


Ibu sangat bahagia mendengar menantunya hamil. Sudah sangat lama rasanya ia menunggu kehadiran seorang cucu. Setahun baginya begitu lama, jadi wajar jika ia sangat bersinar mendengar kabar tersebut.


"Alhamdulillah, Ibu mau ngomong sama Aa dong, Ning," pinta Ibu bak anak kecil.


"Iya, Bu. Sebentar ...." Aku segera mengambil ponsel di tas dan memanggil nomor telepon A Iwan.


"Iya, De?" balas A Iwan setelah terhubung.


"Ibu mau ngomong sama Aa," jawabku, lalu menyerahkan ponsel ke Ibu yang kuaktifkan menu pengeras suaranya.


"Wan, Nia hamil?" tanya Ibu semangat.


"Iya, Bu. Tadi waktu mau berangkat, Nia muntah-muntah terus. Dia cerita katanya sudah telat tiga minggu. Saya bawa aja ke klinik dekat rumah. Alhamdulillah Nia hamil, Bu. Maafin Iwan ya, Bu gak bisa main hari ini. Ibu pasti sudah repot nyiapin masakan buat kami, ya?"


"Kamu ngomong apa, si? Ke rumah Ibu bisa lain kali, sekarang yang paling penting itu kandungan Nia. Ibu gak apa-apa, lagian Ibu cuma masak sedikit, dimakan Ibu sama Ning juga nanti habis. Ya udah kamu jaga baik-baik Nia! Hati-hati hamil muda sangat rentan," balas Ibu.


"Iya, Bu. Iwan pasti jagain Nia. Ibu jaga diri baik-baik ya, nanti kalau kondisi Nia sudah enakan kami pasti main atau nanti Iwan cari waktu sendiri buat kunjungi Ibu."


"Udah, gampang .... Ya udah, salam buat Nia ya?"


"Iya, Bu. Assalamualaikum ...."


"Waalaikum salam," balas Ibu mengakhiri telepon.


Ibu terlihat sangat gembira. Rasa rindunya telah terbayar, meskipun hanya melalui telepon. Namun, aku tahu ia berbohong, masakan yang Ibu masak sangatlah banyak. Mana mungkin aku dan Ibu sanggup menghabiskannya.


"Ning? Baju Haikal kayaknya basah? Kalian kehujanan?" ujar Ibu baru sadar dengan kondisi kami yang sedikit lusuh.


"Iya, Bu. Tadi di jalan sempat gerimis. Haikal lupa gak bawa jas hujan. Jaketnya saya pakai," balasku.


"Ya Allah, yaudah sana kamu ganti baju. Nanti Haikal biar Ibu carikan baju milik A Iwan. Kalau baju Wahyu bisa kegedean di Haikal," ujar Ibu menyebut kakak keduaku yang sedikit berisi alias gemuk.


"Gak apa-apa, kok, Bu. Cuma basah sedikit aja," kilah Haikal.


"Ya tetap gak boleh, nanti bisa masuk angin, sebentar ya," balas Ibu.


Diri ini pun pamit ke Haikal untuk mengganti baju. Kini, kaus warna cokelat muda dan celana kulot yang menjadi pilihan seorang Ningsih. Sementara, rambut ini kubiarkan tergerai. Ya, diri ini memang belum mantap memakai jilbab, hanya saat pergi saja jilbab akan kukenakan.


Setelah lima belas menit, entahlah mungkin lebih, aku segera menemui Haikal di ruang tamu. Kini, ia telah memakai kaus biru langit polos milik A Iwan, seperti yang Ibu janjikan. Ia tampak semakin manis, ditambah senyum yang mengembang menyambutku.


Sementara, Ibu justru sibuk menyiapkan makan untuk kami. Aku yang tidak enak segera menyusulnya ke dapur. Namun, sayang terlambat, ia telah selesai menyiapkan semua makanan, termasuk piring untuk kami. Ia hanya menyisakan tugas untukku membawa semua makanan ke Haikal.


"Makan yang banyak ya?" pinta Ibu ke Haikal setelah semua piring makanan selesai kusajikan ke depan Haikal.


"Iya, Bu. Terima kasih banyak." Senyum Haikal mengembang sangat mekar.


Ia pun segera menyambut piring yang kuberikan. Sayur asam dan goreng teri menjadi pilihan pertamanya. Kemudian, sambal goreng dan lalapan mentimun dan daun singkong pun menyusul. Ditambah tempe dan ayam goreng yang siap menanti.


***


"Ning, sekarang aku mengerti, kenapa kamu berat ninggalin Ibu," ujar Haikal sambil memetik salak yang sudah masak.


Tangan laki-laki itu memakai sarung tangan putih rajut. Sementara tangan kanannya memegang parang dan tangan kirinya memegang salak dengan sangat hati-hati. Salak itu penuh duri kecil yang kapan saja bisa menusuk kulit.


Aku menatap Haikal penuh rasa takut. Ya, kapan saja diri ini harus siap kehilangan Haikal. Itulah selalu yang kutanamkan dalam diri, sehingga kapan saja aku akan siap patah hati.


"Dia terlalu baik untuk kutinggalkan seorang diri. Dia terlalu kesepian di tanah yang luas ini. Benarkan?" balasku.


"Jika kamu belum siap, aku akan menunggu kamu, mungkin takdir akan membawa rejekiku kembali ke Bekasi. Aku tidak pernah tahu, Ning."

__ADS_1


"Dan jika tidak?" balasku menatapnya dalam.


"Semoga akan ada jalan keluar untuk keresahanmu terhadap Ibu," balas Haikal bijak.


Aku tersenyum dan berharap Tuhan mendengar harapan kami. Aku sungguh tidak ingin meninggalkan Ibu sendiri. Dia adalah cahaya yang tidak mungkin kubiarkan redup.


"Kamu tahu? Aku selalu rindu dengan salak dari rumahmu. Rasanya sangat khas, manis, sepet. Namun, jika sudah benar-benar masak di pohonnya rasa sepetnya sedikit pudar dan berimbang dengan rasa manis. Warnanya juga cantik seperti kamu, Ning, kuning kentang." Haikal begitu asyik menikmati salak Cisaat milikku.


Salak dari tempatku tinggal memang memiliki rasa yang khas, sepet! Namun, seperti yang Haikal bilang dia akan memiliki rasa manis jika benar-benar sudah masak di pohon. Sementara, dari bentuk pohon, salak Cisaat sama saja dengan bentuk salak pada umumnya.


Mataku terbelak menatap Haikal. Apa-apan laki-laki ini! Bagaimana bisa aku disamakan dengan salak? Jadi, dia pikir aku sepet? Berduri? Aku harus senang atau sebal si?


"Hei, jangan marah! Kamu itu cantik ... sangat cantik, itu sebabnya aku selalu setia denganmu. Kamu memang berduri dan sepet, untuk melindungi diri, nanti setelah kita menikah kamu pasti akan sangat manis, iya 'kan?" tambah Haikal seakan tahu isi hatiku.


Haikal benar, mungkin diri ini seperti salak. Aku memang tidak pernah membiarkan Haikal menyentuhku tanpa izin. Seorang Ningsih memang sangat menjaga diri dari laki-laki.


Kata-kata Ibu selalu terniang di telingaku. Aku harus bisa menjaga diri, sehingga tidak ternoda sebelum menikah. Kesucian wanita haruslah menjadi milik suaminya.


Beruntung Haikal selalu mengerti alasanku, jika hasrat gelora laki-lakinya muncul. Ia hanya akan berani menyentuh tanganku saja. Itulah sebabnya, Haikal berhasil memenangkan hati ini.


Aku pun batal merajuk kepadanya. Kata-katanya yang sederhana telah mematahkan pikiran jelek yang sempat tersinggung disamakan dengan salak. Senyumku pun bergulir, semoga saja aku bisa cepat menjadi salak yang manis untukmu.


Waktu bergulir sangat cepat. Sehingga, perpisahan kembali menjemput. Aku harus merelakan Haikal pulang dan besok pagi ia akan kembali ke Bandung. Semoga saja ia cepat kembali, karena menahan rindu itu sangat menyebalkan.


"Berjanjilah untuk menjaga hatimu, Ning!" ujar Haikal sebelum ia pamit.


"Apa tidak terbalik? Di sini mana ada cowok tampan, hanya ada sawah dan kerbau, serta pohon bambu menjulang dan kebun salak yang tersebar," balasku.


"Kamu ini bisa saja,"


"Kamu yang harus jaga hatimu, bukankah Bandung penuh dengan wanita cantik?"


"Cantik itu relatif, aku tidak akan bisa melihat yang cantik di sana, karena aku telah buta, mataku tertinggal di sini," gombal Haikal membuatku tersipu.


"Apaan si, udah sana pulang, nanti kemalaman, di sini sangat gelap kalau malam," pintaku.


Haikal pun menurut ia pun pamit kepada Ibu. Lalu, kembali tersenyum memandangku cukup lama. Akhirnya aku harus melepasnya kembali, entah kapan lagi kami akan bertemu.


"Ning, kamu sedih ya?" tanya Ibu setelah Haikal menghilang dari pandangan.


"Tidak, Bu. Haikal hanya kekasih yang Ning sendiri belum tahu apakah kami akan benar-benar berjodoh," jawabku.


"Masakan Ibu masih banyak ya?" tanyaku teringat masakan Ibu.


"Iya, kamu kasih tetangga saja sebagian ya, sayang kalau terbuang," pinta Ibu dan kujawab dengan anggukan.


"Assalamualaikum ...." Bapak pulang mengucap salam.


Aku dan Ibu terkejut, tidak biasanya Bapak pulang di Minggu malam. Entah, apa yang terjadi dengannya, sepertinya ia baru saja bertengkar dengan istri mudanya. Sehingga, rumah ini pun menjadi pelabuhannya.


Wajah Bapak tampak kesal. Matanya yang sedikit sipit seperti menahan amarah yang besar. Sementara rambut hitamnya yang lurus selalu tampak bersinar bak disemir berkali-kali.


Bapak masih kelihatan muda, meskipun usianya sudah bisa dikatakan tidak muda lagi. Bulan depan usianya genap 56 tahun. Namun, ia masih kelihatan energik dan karismatik.


"Kenapa si, Pak?" tanya Ibu membaca amarah di wajah Bapak.


"Biasa, nenek-nenek marah mulu!" jawab Bapak membicarakan istri mudanya.


Aku yang mendengar jawaban Bapak ikut tersulut. Sudah tahu wanita itu nenek-nenek, tukang marah-marah, kenapa dinikahin? Paling juga emosi sesaat!


Aku merasa malas mendengarkan ocehan Bapak. Sehingga, kamarlah yang menjadi pilihanku untuk membaringkan badan. Sementara, Ibu justru sangat sabar mendengarkan Bapak. Sungguh wanita itu terlalu sabar menghadapi Bapak!


***


Senin telah tiba, ia selalu saja memberi catatan menakutkan. Senin selalu membuatku tergesa-gesa, ditambah hari ini supervisi dari pusat akan dilakukan. Ah, semoga semua berjalan lancar!


"Ibu ... Ning berangkat ya ...." teriakku tergesa-gesa setelah menghabiskan sarapan buatan Ibu.


"Iya, Ning hati-hati ...," balas Ibu berteriak, tetapi aku yang telah menjauh tidak bisa lagi membalasnya.


Di sekolah aura mistis sudah terpancar dari setiap guru yang ada. Bahkan, si penjaga sekolah pun ikut-ikutan berwajah tegang. Mungkin dia pun takut kalau sekolah yang ia bersihkan setiap hari mendapat nilai jelek dan nanti akan berpengaruh kepada nasibnya.


Hanya Umar saja yang berwajah merdeka. Tentu saja, karena dia adalah guru baru. Apa yang akan tim supervisi nilai darinya? Paling ia hanya akan menjadi teman ngobrol santai saja.


Sekolah kami pun menjadi lebih rapi dari biasanya. Selain itu, banyak pula kudapan berupa kue basah yang ditata rapi di piring, serta minuman teh dingin dalam botol yang menjadi temannya.


"Ahhhhh, akhirnya selesai juga supervisi menyebalkan!" pekik Bu Rina setelah supervisi selesai dilakukan.


"Iya, akhirnya nanti malam bisa tidur nyenyak," sahut Bu Mona.


Mereka adalah rekan kerja yang paling kompak. Selain rekan kerja, mungkin mereka adalah belahan jiwa. Bagaimana tidak, hobi dan pandangan mereka selalu sama.

__ADS_1


Bu Rina adalah seorang wanita tinggi 160 cm, kulit sawo matang, berwajah masam dengan berat badan sekitar 60 kg. Hobinya makan pedas, khususnya rujak dan bakso. Jadi, tidak heran hampir setiap kesempatan ia selalu mengajak makan bakso atau ngajak rujakan bersama.


Sementara Bu Mona memiliki tinggi 155 cm. Berkulit putih dan berat badannya ... Sepertinya lebih berat dari Bu Rina. Bu Mona sudah berkeluarga dan memiliki dua orang putra. Perutnya pun semakin buncit setelah melahirkan anak kedua.


Mereka berdua adalah idolaku dalam hal kekompakkan ketika berlomba menghabiskan rujak. Sementara, untuk yang lain Bu Mona jelas lebih ramah daripada Bu Rina, perawan yang suka sentimen denganku.


Aku pun membuang pandangan dari mereka, ternyata Umar sedang memandangiku diam-diam. Kami saling berpandangan. Namun, akhirnya saling membuang pandangan.


Umar kemudian berdiri dari duduknya dan berdiri di depan bak artis yang akan tampil. Mau apa dia? Ia bahkan tersenyum ke arahku. Ish, laki-laki itu percaya diri sekali!


"Teman-teman, daripada pusing mau dengerin saya stand up gak?" ujar Umar membuatku tidak percaya dengan tindakannya.


Sementara, guru yang lain justru senang bukan main. Terutama Bu Rina, wanita itu bahkan histeris bak penggemar berat bertemu idolanya. Aku rasa wanita itu tergila-gila dengan teman SMA-nya itu.


"Oke dengar, ya. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu ...." mulai Umar memancing balasan dari rekan guru yang lain.


"Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatu ...." kompak yang lain menjawab.


"Perkenalkan nama saya Umar Mustofa. Banyak yang pikir saya ini keturunan Arab. Padahal, saya ini asli kelahiran Bogor. Terus, kok bisa si, muka jadi Arab gini? Ya, kata Ibu saya si, lagi hamil dia ngidam mau ke gurun, cuma karena lagi hamil ... Ya, kalian tahu dong, masa hamil ke gurun, jauh pula... tapi, karena hamil, yaudahlah pasrah Ayah ngajak ke gurun. Tapi, versi Ancol. Biar Ibu puas katanya main pasir yang penting ada gurun-gurunnya. Iya gak? Ternyata ... berhasil program Ibu ...." Umar nyeleneh dan melirik kepadaku.


"Apaan si, gak lucu!" protesku pelan,


"Nah, saya adalah seorang guru. Kata orang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Menurut saya itu tuh, gak bener. Terus yang bener apa? Yang bener guru itu pahlawan tanda tangan? Iyalah secara tanda tangan guru itu paling laku, apalagi kalau pas abis ulangan. Rapot kalau gak ada tanda tangan guru itu gak sah! Jadi tanda tangan saya berharga banget 'kan? Apalagi ngasih tanda tangan di buku nikah sama kamu." Aku hanya terdiam sementara guru yang lain, khususnya Bu Rina begitu asyik tertawa dan histeris.


"Banyak nih, yang protes 'ngapain si lo jadi guru, guru tuh gajinya kecil!' eits, emang guru gajinya kecil, kalau mau banyak datang ke tukang bakso tinggal bilang, 'Bang gajinya banyakin!' beres 'kan?" mulai memecah tawa dan membuatku tersenyum.


"Satu lagi yang bikin saya bangga jadi guru. Guru itu idola, Sob. Gak percaya? Cuma guru yang bisa ngalahin bintang jendral. Guru bisa ngasih bintang sebanyak yang dia mau dan itu berharga banget buat muridnya, kalau ... muridnya anak PAUD terus bintangnya ada tanda senyum." Kali ini tawa semakin pecah.


"Oke terima kasih saya Umar." Akhirnya, laki-laki itu pun berhenti dan kembali ke tempat duduknya.


Ia menatapku sambil berjalan ke arah kursinya. Aku hanya terdiam dan mencoba melempar pandangannya. Laki-laki itu mulai membuatku risih dengan pandangannya


***


Akhirnya, jam pulang tiba. Aku pun melajukan motor matickku yang selalu setia menemani. Namun, baru sampai setengah perjalanan pulang, si matic putihku mendadak mati.


Wajah ini pun langsung berubah kesal. Putih ... kenapa gak nanti saja si, mogoknya? Aku sudah rindu melahap masakan Ibu siang ini.


"Motornya kenapa, Bu?" Umar tiba-tiba saja mendekat dan mematikan mesin motornya yang berisik.


"Gak tahu, nih!" balasku memandang si putih.


"Sudah cek bensinnya?" tanya Umar sambil mengecek tabung bensin motorku.


Aku hanya memainkan mataku. Ya, seperti diri ini lupa mengisinya. Supervisi telah membuatku pikun dengan memberi jatah bensin untuk si putih.


"Bensinnya habis, Bu. Yang jual bensin masih jauh ya? Saya bantu dorong ya, pakai motor saya?" tawarnya membuatku mau tidak mau mengiyakan mengingat jarak si penjual bensin masih sangat jauh, sementara tubuhku sedang dilanda lelah.


Umar pun kembali menyalakan mesin motornya. Salah satu kakinya menempel di pijakan kaki motorku. Perlahan motorku jalan dengan bantuan dorongan dari Umar.


"Bu, kemarin pacarnya ya?" tanya Umar sedikit mengeraskan suaranya, karena hampir kalah dengan mesin motornya.


"Iya," balasku dengan nada yang sama, cukup keras.


"Habis jalan-jalan, ya?" tambahnya semakin ingin tahu.


Aku hanya diam, malas sekali menjawab pertanyaannya. Sementara, ia masih setia mendorong motorku. Jika saja bukan terpaksa, rasanya sangat malas diikuti olehnya.


"Kalau di sini jalan-jalan ke mana, Bu?" tambahnya lagi.


"Kenapa kamu tidak tanyakan saja ke temanmu, Bu Rina?" ketusku.


"Hahaha ... kalau Rina tidak perlu ditanya, dia pasti menjelaskan sendiri. Cuma, saya mau tahu aja dari sudut pandang, Ibu Ning?" balasnya menghentikan dorongannya.


"Kok, berhenti?" protesku.


"Udah nyampe di tukang bensin, tuh," balasnya membuatku malu.


Aku pun segera turun dan meminta satu liter bensin untuk si putih yang sedang mengambek. Setelah selesai, segera kunyalakan mesin si putih. Akhirnya, dia menyala. Terima kasih, Umar!


"Di sini banyak sekali tempat yang bisa kamu datangi dan semua akan membuatmu terpesona dengan kesederhanaan dan keindahan alam yang indah, nanti akan saya tunjukkan jika ada kesempatan," balasku menjawab pertanyaan Umar setelah membayar bensin kepada laki-laki tua penjual bensin eceran.


"Janji?" pinta Umar.


"Insyaa Allah, jika Allah izinkan." Aku tersenyum dan naik ke motor.


Ia pun balik tersenyum dan seperti biasa manis sekali. Aroma tubuhnya yang wangi tiba-tiba semerbak oleh angin. Menyentuh hidungku, wangi segar khas minyak wangi cowok.


"Saya permisi, terima kasih bantuannya," pamitku disambut senyumnya kembali.


Setibanya di rumah aku sangat terkejut melihat wanita bertubuh tinggi, kurus, dan berambut lurus sebahu. Dia adalah istri muda Bapak, ibu tiriku. Untuk apa ia datang ke rumah ini?

__ADS_1


__ADS_2