
"Ning, Ibu dan Bapakmu mana?" sambut wanita itu melipat tangannya di pinggang.
"Ning tidak tahu, Bu. Ning baru saja pulang. Ibu sudah lama? Ke sini naik apa?" balasku sambil membuka sepatu perlahan, berdiri di depannya.
"Sudah, saya sudah setengah jam di sini. Diantar ojek," ketusnya.
"Kalau begitu, mari tunggu di dalam. Saya buatkan minum dulu," pintaku sambil membuka pintu dengan kunci serep.
"Gak usah, Ibu tunggu di luar saja," balasnya masih berdiri menatap jalan.
Aku pun mengacuhkannya. Itulah yang wanita itu pinta. Diri ini telah mencoba santun, seperti yang selalu Ibu ajarkan. Andai saja kata-kata Ibu tidak terniang di telinga ini, pasti makian kasar telah menyambutnya sejak tadi.
Namun, Ibu tidak pernah mengajarkan diri ini menjadi wanita tidak tahu tata krama macam itu. Pantang bagi seorang Ningsih mengabaikan tamu yang datang, meskipun tamu itu adalah racun bagi rumah tangga kedua orang tuaku. Ya, wanita itu adalah tamu yang harus kuhormati saat ini.
"Mau apa kamu ke sini?" tiba-tiba suara Bapak menggema dari luar.
Aku yang baru saja masuk pun kembali ke luar. Padahal aku berniat membuat segelas teh hangat untuk madu Bapak. Namun, suara Bapak yang keras membuatku urung melaksakan niatku tadi.
"Delia, kamu sejak kapan di sini?" sapa Ibu lembut meletakkan kantung belanjaannya.
Ibu begitu tenang di samping Bapak dan sama sekali tidak merasa kesal melihat madunya datang. Justru senyum tulus mampu ia kembangkan. Ada apa denganmu, Bu? Hatimu sebenarya terbuat dari apa?
"Sejak setengah jam yang lalu, Teh. Delia kesal sama Abang, Teh. Tega banget sama Delia!" ujar Ibu tiriku dengan gaya manja dan membuatku ingin muntah.
"Ada apa? Duduklah dulu?" balas Ibu begitu ramah.
"Gak usah, Teh. Delia itu kesal, Delia sudah bersusah payah memasak untuk Abang, tetapi ia tidak pernah mau makan masakan Delia," ungkap wanita itu.
"Kamunya aja tuh yang gak becus masak! Masak apaan semua serba instan!" sahut Bapak dengan wajah paling pintar bak atasan yang menemukan kesalahan bawahannya.
"Abang selalu saja membandingkan Delia dengan Teh Rahma! Teteh itu cuma jadi boneka Abang 'kan! Kalau Abang gak cinta sama saya harusnya gak usah nikahin saya!" teriak Ibu tiriku sambil mendekat dan menunjuk-nunjuk Ibu.
Darahku meninggi, berani benar ia berkata seperti itu. Ingin sekali kubungkam mulutnya dengan plester. Namun, tangan Ibu menahan, beruntunglah kau, Nyonya perebut madu!
"Kalau kamu ke sini untuk cari ribut, pulang sekarang juga! Kita selesaikan di rumah!" pinta Bapak menarik tangan Ibu tiriku.
Wanita itu awalnya menolak, tetapi akhirnya menurut juga. Ia pun naik ke motor Bapak. Kemudian, pergi begitu saja tanpa permisi dan meninggalkan perasaan tak karuan di hati aku dan Ibu.
"Ibu tidak tahu, Ning harus senang atau sedih mendengar ini semua." Ibu tampak menahan tangisnya, tatapannya kosong, wajahnya terlihat datar tanpa senyum.
"Bu ...." Aku hanya dapat memanggil namanya pelan dan memeluknya erat.
Kami telah duduk di bangku, tetapi Ibu masih termenung. Cantiknya memudar, karena ditimpa rasa sedih yang ia tutupi. Seandainya bisa kupindahkan rasa sedih itu, aku rela memikulnya, Bu.
"Jika, Ibu selalu menjadi porosnya dan selalu ia banggakan. Seharusnya cukup hanya Ibu di hatinya? Kenyataannya ... berkali-kali ia selalu merasa kurang dengan Ibu. Ibu bukannya tidak ingin marah, Ning. Amarah Ibu sudah habis dan Ibu tahu amarah tersebut tidak merubah apa pun kecuali perpisahan. Ibu tidak pernah sanggup membuat kalian tumbuh tanpa mengenal Bapak. Ibu sangat mencintai kalian, anak-anak Ibu. Rasa cinta Ibu sama Bapak telah lama mati, Ning. Ibu bertahan hanya untuk kalian. Hanya untuk mendapat rida dari Allah." Mata Ibu masih memandang jauh ke depan.
"Seharusnya, Ibu tidak perlu melakukan ini semua. Kami pasti mengerti, Bu jika Ibu memilih berpisah dengan Bapak," balasku memandang wajah Ibu.
"Ini sudah menjadi takdir Ibu, Ning. Sebenarnya, Ibu sudah diperingatkan Nini sebelum menikah dengan Bapak. Nini begitu pandai membaca karakter orang, Nini bilang Ibu akan dimadu jika menikah dengan Bapak. Namun, cinta telah membutakan Ibu, Ning. Ibu abaikan perkataan Nini dan hanya meminta Nini terus mendoakan Ibu."
"Apakah, Ibu menyesal?"
"Tidak, Ibu tahu Allah telah mengatur ini semua, Allah ingin Ibu menjadi wanita yang kuat. Namun, Ibu tidak mau ini menimpa kepadamu, Ning. Itulah mengapa, Ibu sangat menjagamu. Jangan pernah merasakan apa yang Ibu rasakan, Ning! Rasanya sangat sakit bahkan terlalu sakit sampai Ibu mati rasa. Carilah laki-laki yang sungguh mencintaimu," balas Ibu membuatku kembali memeluknya dengan erat.
"Ning janji, Bu. Ning akan memilih yang terbaik dan tidak mengecewakan, Ibu."
"Ibu selalu mendoakanmu, Ning." Ibu tersenyum melepaskan pelukanku. " Hubunganmu dengan Haikal bagaimana? Kalian tidak mau menikah?" tanya Ibu membuatku teringat ajakan Haikal untuk menikah.
"Sebenarnya ia sudah melamar Ning secara langsung. Ia hanya menunggu jawaban Ning untuk mengajak kedua orang tuanya datang ke rumah. Namun, Ning belum bisa menjawab, Bu."
"Kenapa? Ibu lihat Haikal laki-laki yang baik, meskipun Ibu juga belum tahu apa Ibu sudah benar menilainya."
"Ning masih berat ninggalin, Ibu."
"Ning ... jangan kamu jadikan Ibu alasan untuk penghalang kebahagiaanmu. Sudah menjadi suratan takdir seorang wanita harus ikut suami setelah menikah."
"Ning tahu, Bu. Namun, bukan hanya itu, Bu. Masih ada rasa yang mengganjal di hati Ning untuk menerima lamarannya. Ning juga gak tahu itu apa. Ning merasa belum sepenuhnya yakin apa benar Haikal jodoh Ning? Apa ia akan setia setelah menikah? Ning belum yakin, Bu," jelasku membuat Ibu kembali memeluk.
__ADS_1
"Semoga Allah segera membimbing hatimu, Nak!"
Aku hanya terdiam dalam pelukan Ibu yang hangat. Diri ini selalu berharap semoga keraguan ini segera hilang. Jika benar Haikal jodoh seorang Ningsih maka dekatkanlah ya Rabb, jika bukan jauhkan ia tanpa rasa sakit. Kumohon ....
***
Embun masih melekat di rumput liar halaman rumahku. Rumput itu sudah semakin panjang saja. Mentari sebentar lagi akan meninggi dan hanya menunggu waktu untuk embun hilang dari pandangan.
Pagi ini aku belum melihat Ibu. Setelah selesai mandi selepas olahraga sebentar. Aku pun mencarinya di kamar.
Ibu tampak tertidur di ranjangnya. Tidak biasanya ia seperti ini. Ada apa dengannya? Apa Ibu sakit?
"Bu ... Ibu kenapa?" tanyaku khawatir.
"Ibu mimpi ketemu Nini, Ning. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Nini mengajak Ibu ke sebuah taman sangat indah yang tidak pernah Ibu lihat di dunia ini," jelasnya.
Diam-diam rasa takut menyelinap masuk ke dalam hatiku. Semoga saja mimpi itu hanyalah sebuah kembang tidur, karena rasa rindu Ibu yang menggebu terhadap Nini. Semoga saja, ini bukan berarti apa-apa, Bu.
"Ibu lagi kangen ya? Kita doakan Nini ya, Bu." Ibu beranjak dari tidurnya, kini ia telah duduk di tepi ranjang.
"Iya, Ning," jawab Ibu datar.
Ibu tampak berbeda, senyumnya perlahan memudar. Ia hanya diam, ah, semoga hanya perasaanku saja. Bukan apa-apa, ya, bukan apa-apa!
***
"Selamat pagi, Bu Ning?" sapa Pak Ron tersenyum menyambutku yang baru saja datang.
Tumben sekali laki-laki itu sudah datang. Biasanya ia selalu terlambat. Seandainya tidak pun hanya sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.
Rumahnya yang cukup dekat dengan sekolah membuatnya lebih leluasa datang kapan saja. Pak Ron adalah guru kelas lima. Sebenarnya namanya Roni, tetapi ia selalu meminta siapa pun untuk memanggilnya Pak Ron, bukan Pak Roni. Alasannya, Pak Ron lebih terdengar keren bak artis luar negeri.
"Pagi, tumben sudah sampai Pak?" balasku.
"Iya, Mamanya Raja maksa saya cepetan berangkat. Dia minta Bu Ning main ke rumah sepulang sekolah. Pohon kecapi kami sedang panen, Bu. Buat Bu Ning sudah disiapkan khusus, katanya." Pak Ron membuatku teringat istrinya yang cantik dan hanya terpaut setahun denganku.
"Wih, siap nanti saya ke rumah!" jawabku semangat mendengar kecapi si buah berwarna putih, bulat hijau seperti bola kasti, berasa manis, tetapi hanya bisa kuhisap seratnya.
Si kecapi bukan berarti tidak bisa ditelan. Bijinya yang cukup besar membuat diri ini khawatir dengan kesehatan organ perutku. Aku takut jika terlalu banyak menelan biji kecapi, entahlah mungkin sah-sah saja. Itu hanya kekhawatiranku saja.
"Selamat pagi, Pak Ron, Bu Ning!" sapa Umar yang baru saja datang.
Ia berhenti di depanku dan tersenyum. Kemudian, duduk di kursinya dan meletakkan tas di atas meja. Entah, apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu?
"Cie, Pak Umar sama saya mah cuma nyapa doang, pas sama Bu Ning mah, disenyumin! Ahay ...," ledek Pak Ron membuat Umar senyum-senyum sendiri.
"Iyalah, Bapak kan cowok udah ada buntut lagi, saya gak suka cowok Pak," balas Umar.
"Oh, jadi sama Bu Ning suka nih?" tambah Pak Ron membuatku memerah.
Aku melempar jauh pandangan dari Umar dan Pak Ron. Ada apa dengan laki-laki? Kenapa mereka senang sekali menjadikan wanita bahan candaan? Ah, mereka itu! Aku mencoba bersikap biasa saja. Namun, pandangan tajam Bu Rina yang baru datang membuat diri ini serba salah.
Lagi-lagi pandangan itu! Wanita itu sepertinya sangat cemburu kepadaku. Tenang saja, tidak akan kurebut Umarmu, Bu!
***
Jam sekolah berakhir itu artinya si kecapi siap untuk kujemput. Dengan sabar diri ini menunggu Pak Ron yang masih berada di kelas. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, laki-laki itu pun datang. Eh, tetapi kenapa Umar ikut pula bersamanya?
"Ayuk, Bu!" ajak Pak Ron.
Sementara, Umar sudah siap di motornya. Ia seperti pengawal yang siap mengikuti Pak Ron ke mana saja. Jadi, rupanya Pak Ron akan mengajak laki-laki keturunan Timur Tengah tersasar di Bogor itu?
Ya sudahlah, sepertinya diri ini harus sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku pun melajukan motorku. Pak Ron adalah juru jalan, sementara aku dan Umar adalah pengawal setianya sekarang.
"Ya Allah Si Teteh, akhirnya datang juga. Sini, duduk Teh, kita makan kecapi bareng!" sambut Teh Jihan tersenyum manis.
Wanita itu memakai kaus putih berlengan merah hati. Kerudung instan model terbaru telah membungkus rambutnya. Kerudung tersebut memiliki warna sangat manis untuknya, yaitu warna karamel. Ditambah rok plisket warna senada dengan kerudung menjadi pilihannya.
__ADS_1
"Makasih, Teh. Segala repot-repot, si?" balasku duduk di sampingnya.
"Enggak ih, saya mah seneng banget kalau, Teteh main. Eh, ini teh siapa? Cowok Teteh ya?"
"Enggak, bukan! Ini guru baru di sekolah. Pak Umar," jawabku buru-buru menolak, sementara Umar hanya tersenyum santai.
"Ya ampun, maaf ya, Teh. Si Aa nih gak ngasih tahu ada guru baru di sekolah," sesal Teh Jihan melirik ke suaminya.
"Lah, kemarin kan udah bilang, De. Kamu gak dengar kali, kamu lagi sibuk masak," kilah Pak Ron.
Laki-laki itu pun masuk dan kembali membawa keranjang berisi kecapi besar. Mataku pun langsung bersinar. Tidak sabar untuk menikmatinya.
Di tengah asyik menikmati kecapi ponselku tiba-tiba berbunyi. Sebuah telepon dari tetanggaku masuk ke ponselku. Ini pasti Ibu yang menumpang telepon!
"Halo, Assalamualakum," jawabku.
"Ning, Ibumu tanya kenapa belum pulang?" tanya Teh Nita, tetanggaku.
"Iya, Teh. Ini lagi di rumah teman, mendadak soalnya diajakin. Saya lupa ngabarin ke Teteh. Tolong bilangin Ibu ya, Teh sebentar lagi saya pulang. Makasih ya, Teh," balasku.
"Iya," jawab Teh Nita singkat menutup telepon.
"Teteh, maaf saya izin pulang ya, gak enak udah ditungguin Ibu." Aku memegang tangan Teh Jihan lembut.
"Oh, iya Teh. Maaf ya, jadi bikin Ibu Teteh khawatir," balas Teh Jihan.
"Iya, gak apa-apa. Makasih banyak ya, Teh kecapinya. Enak sekali, saya suka!"
"Iya, Teteh sama-sama. Oiya bentar ...." Teh Jihan berlari mengambil kantung plastik dan memasukkan beberapa kecapi. "Buat Ibu Teteh, salam ya, Teh!" Teh Jihan memberikan kantung berisi kecapi tadi kepadaku.
"Ya Allah, makasih ya, Teh."
"Iya sama-sama Teh, saya juga sudah lama gak main ketemu Ibu. Ibu sangat mirip sama Teteh. Kalian kayak kembar Teh, cuma ...."
"Cuma apa Teh?" selidikku.
"Kata orang kalau terlalu mirip nanti akan ada yang mengalah. Ah, tapi itu mah cuma mitos kali, Teh." Teh Jihan menampik sendiri ucapannya.
Namun, aku merasa sedikit terganggu dengan kata 'mengalah' tadi. Apa maksudnya? Aku mencoba membuang pertanyaan tadi dan berjalan jauh dari Teh Jihan. Tidak kusangka Umar pun berdiri mengikutiku.
"Bisa gak gak ngikutin?" ujarku ke Umar.
"Dih, siapa yang ngikutin! Emang saya juga mau pulang. Udah kenyang ya, pulang," sahutnya membuatku memajukan sedikit mulutku.
"Tambah cantik, Bu kalau manyun! Hehehhehe ...," ledek Umar membuatku ingin menimpuknya pakai kecapi.
***
Sampainya di rumah. Rumah terlihat sangat sepi. Tonggeret sudah mulai menyiapkan dirinya untuk konser. Ya, diri ini memang sangat terlambat pulang hari ini. kecapi telah membuatku lupa waktu, pantas saja Ibu menjadi khawatir dan meminta Teh Nita menelepon.
Dengan tenang aku menjinjing plastik berisi kecapi pemberian Teh Jihan. Semoga saja Ibu akan menyukainya. Semoga saja aku tidak membuatnya terlalu khawatir.
"Aaaaaaaa ...." Aku terkejut mendengar teriakan Ibu.
Tanpa pikir panjang kulepaskan sepatu dengan paksa hingga sedikit terlempar. Sementara kecapi tadi, kubiarkan tergelatak begitu saja di lantai. Diri ini terus berlari mencari Ibu dan mata ini berhasil menemukannya. Ia tampak ketakutan di pojok ruangan kamarnya.
"Bu, Ibu kenapa?" panikku.
Ibu masih ketakutan, tetapi ia mencoba berdiri dari jongkoknya. Berkali-kali ia mengucek matanya. Lalu, menunjuk pintu kamar.
"Ning, Ibu tadi lihat banyak sekali ular di pintu seperti dituang dari atas. Jumlahnya sangat banyak dan berbisa. Ibu sangat takut! Tapi ... sekarang mereka menghilang? Ke mana, Ning ular-ular itu?" jelas Ibu masih dengan sorot mata sangat ketakutan.
Namun, aku justru menjadi sangat bingung. Ular? Banyak? Aku tidak melihat sama sekali!
"Ibu ... Ibu yakin lihat ular?"
"Iya, Ning. Ular itu berwarna-warni. Kuning, merah, dan hitam. Suaranya sangat mendesis, Ning!"
__ADS_1
Aku semakin bingung. Ada apa sebenarnya. Apakah penglihatanku yang sudah berkurang? Atau Ibu sedang berhalusinasi?