Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 12


__ADS_3

Langkah ini pun mendekat. Kedua insan itu sedang mengadu ekspresi. Bapak dengan ekspresi marah dan benci yang belum sepenuhnya terlampiaskan. Sementara, Ibu penuh ekspresi yang masih sulit kuterka.


Entahlah, Ibu merasa senang, sedih, atau bingung dengan pernyataan Bapak baru saja. Hening memeluk, cicak tertawa, nyamuk menari di telinga. Bapak telah menghabiskan teh hangatnya.


"Maksud Abang apa? Abang serius mau menceraikan Delia?" tanya Ibu setelah yakin Bapak sudah selesai minum.


"Iya, wanita itu telah berani selingkuh setelah semua yang Abang berikan dan apa yang telah ia lakukan!" balas Bapak memukul meja dengan jemari kanannya.


Aku terkejut. Suara pukulan meja itu membuat hening pecah. Cicak yang tertawa pun bungkam. Sementara, nyamuk masih berusaha mencari kesempatan untuk menghisap darahku.


Selingkuh? Benarkah wanita perebut madu itu berani selingkuh? Ternyata wanita itu masih haus kasih sayang rupanya? Telah berani merebut kasih sayang Bapak dari Ibu, ia pun masih mencari kasih sayang dari pria lain!


"Abang gak salah? Bagaimana bisa?" Wajah Ibu penuh rasa tidak percaya madunya berani melakukan itu semua.


"Jelas-jelas ia tertangkap basah sama Abang! Handuk Abang basah, lalu ada celana pria lain di rumah dan selalu ada nomor asing yang meneleponnya dan saat Abang telepon menggunakan teleponnya, suara pria memanggilnya Sayang, jika bukan selingkuh apa namanya? Hari ini juga Abang ceraikan dia!" Suara Bapak menggema, berapi-api penuh emosi.


Aku dan Ibu terpaku. Bagaimana mungkin wanita perebut madu itu berani selingkuh? Apa ia masih merasa haus akan kasih sayang? Sehingga, Bapak belum cukup untuknya?


Cicak kembali tertawa. Ia seolah senang mendengar emosi Bapak yang meledak. Hening kembali memeluk, aku kembali ke kamar dengan perasaan ikut tersulut emosi. Seharusnya memang kucabik wanita itu dari dulu!


***


Hari ini Bapak tampak masih berteman emosi. Bahkan ia masih berada di rumah, meskipun hari sudah siang. Biasanya ia pasti sudah sibuk di pasar dan membiarkan tubuhnya dihinggapi bau amis dari ikan jualannya. Aku rasa madunya telah menampakkan racun yang sangat pahit, sehingga Bapak sulit untuk menelannya.


Aku diam-diam masih mengamati Bapak. Hari ini aku memilih izin dari tugas mengajar. Badan ini mendadak ikut diserang rasa malas dan rasa mengantuk yang luar biasa. Mungkin masuk angin ....


"Kamu gak ngajar, Ning?" tanya Bapak sambil menghisap rokoknya di beranda.


"Izin, Pak. Badan Ning rasanya masuk angin. Bapak sendiri kenapa gak dagang?" balasku dan duduk di lantai.


Diri ini memang selalu menjaga jarak setiap kali Bapak merokok. Aroma asapnya tidak pernah bersahabat dengan dada ini. Aku selalu salut dengan Ibu yang kuat bertahan di samping Bapak dan asap rokoknya.


"Lagi gak ada ikan, Ning. Kiriman ikan dari Jawa lagi kosong." Bapak memutar ujung rokoknya.


Akhirnya, Bapak sadar juga kujauhi. Aku berharap selanjutnya, Bapak segera sadar rokok itu diam-diam sedang meracuninya. Hanya butuh waktu untuk semua racun itu meledak dalam tubuhnya. Hati ini berharap, sebelum itu terjadi, Bapak segera menghentikan kebiasaannya merokok.


"Apa setelah ini Bapak akan menjadi milik Ibu secara utuh?" tanyaku membuat Bapak melihatku.


"Ngomong apa kamu, Ning?" balasnya sambil tertawa ringan.


Aku terdiam dan hampir kehilangan selera melanjutkan kata-kata dan memilih meninggalkan Bapak dengan tawanya yang masih pecah. Aku rasa Bapak tahu maksud diri ini. Dia tidak terlalu bodoh untuk mencerna apa yang diri ini katakan, hanya hatinya sering tersumbat untuk mengerti perasaan Ibu.


"Mau apa kamu ke sini!" Suara Bapak pecah.


Aku baru saja sampai di pintu saat teriakan Bapak lantang menggema. Suaranya seperti sedang membentak seseorang di luar. Hal tersebut mengusikku untuk kembali ke beranda.


"Kenapa, Ning?" tanya Ibu dari kamar mandi dan kujawab dengan gelengan.


Ibu sedang mencuci pakaian Bapak. Namun, suara Bapak ternyata cukup keras, sehingga sampai ke telinga Ibu juga. Kami pun bergegas bersama ke luar.


"Maafkan Delia, Bang! Delia mohon, tetap akui Oning sebagai anak Abang!"

__ADS_1


Aku dan Ibu terpaku melihat wanita perebut madu itu datang membawa anaknya yang masih SD. Sudah lama aku tidak bertemu Oning, anak laki-laki pendiam yang tidak pernah diri ini harapkan. Terakhir aku bertemu dengannya ia masih putih, tetapi sekarang ia semakin kusam tidak terurus.


Oning memiliki tubuh tinggi, tubuhnya kurus karena sering kudengar dari Bapak ia susah sekali makan. Rambutnya lurus hitam, hidungnya tanggung antara mancung dan pesek. Deretan giginya masih utuh, hanya mulai kuning.


"Ada apa, Delia?" tanya Ibu mendekati wanita tersebut.


"Teh, maafin Delia. Delia emang salah, Delia gak bisa ngelarang Abang buat cerai dengan Delia, tapi tolong tetap akui Oning ya, Bang? Oning beneran anak Abang," balas wanita itu menahan tangis sambil memegang kedua jemari Ibu.


"Kamu tenang saja, Delia. Anak akan tetap jadi anak, meskipun kedua orang tuanya berpisah. Tidak ada mantan anak." Ibu kembali memegang jemari wanita itu.


"Ya Allah, makasih ya, Teh. Teteh memang sangat baik. Delia nyesel udah jahat banget sama Teteh."


"Sudah, gak apa-apa. Semua orang pernah berbuat salah. Teteh dosa kalau gak maafin kamu yang udah minta maaf."


Wanita itu memeluk Ibu. Sementara, Oning masih berdiri tanpa kata. Mungkin, anak laki-laki itu sedang memahami apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mungkin, ia telah sadar bahwa ia hadir di antara masalah yang rumit.


Bapak masih kelihatan angkuh. Wajahnya belum berubah, merah padam. Ia sama sekali tidak mau mengatakan apa-apa selain mengusir mantan istrinya.


"Udah sana, gak tahu malu banget!" Bapak kembali membentak, membuat mantan ibu tiriku melepaskan pelukannya.


"Jangan gitu kamu, Bang! Kasihan anak kamu," Ibu membela. "Oning, gak usah pikirkan masalah Bapak sama Ibu kamu ya? Oning tetap anak Bapak dan Oning boleh anggap Ibu sebagai ibu Oning."


Aku menatap Ibu dengan bangga. Sungguh, tidak diragukan lagi Ibu adalah malaikat. Bagaimana bisa wanita biasa memaafkan dengan mudah wanita yang sudah jahat kepadanya? Kemudian, dengan mudah pula meminta anak dari madunya untuk menganggap Ibu sebagai ibunya?


Ponselku tiba-tiba berbunyi dari kamar. Sungguh, ia berbunyi di saat yang tidak tepat! Aku mencoba mengabaikannya, tetapi semakin lama suaranya semakin berteriak meminta tidak diacuhkan.


"Halo," jawabku setelah di kamar.


Aku pun menatap layar dan baru sadar suara itu adalah Umar. Untuk apa ia menelepon? Mengacaukan saja!


"Iya, ada apa, Pak?" balasku.


"Ada rindu, eh," jawabnya membuatku mendengus ingin berteriak.


"Apaan, si! Udah, cepetan! Mau ngomong apa?"


"Cuma mau tanya keadaan, Bu Ning saja. Katanya sakit gak masuk? Sakit apa, Bu?"


Hadeuh, laki-laki ini! Baik, tarik napas, buang! Sekarang katakan dengan lembut!


"Gak, apa-apa, Pak. Saya hanya sedang ingin istirahat saja, mungkin masuk angin. Ya sudah ya, Pak! Assalamualaikum," ujarku dan segera menutup telepon.


Aku tergesa-gesa kembali ke beranda. Namun, wanita dan anaknya itu telah pergi. Cepat sekali mereka menghilang. Ini semua karena Umar!


"Ning, kamu lihat apa?" tanya Ibu yang kini duduk di bangku.


"Mereka ke mana, Bu?" balasku dan duduk di samping Ibu.


"Pulang."


"Lalu, Bapak?"

__ADS_1


"Ada di kebun salak,"


"Jadinya, gimana, Bu?" tanyaku penasaran.


"Ya, entahlah. Tapi, sejauh Ibu kenal Bapak, kalau dia sudah memutuskan sendiri cerai ya, sudah. Apalagi, karena istrinya selingkuh. Sudah, gak usah ikut campur urusan Bapakmu. Biarkan saja ia memilih jalannya untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya."


"Lalu, Oning?" tambahku mencegah langkah Ibu yang hendak beranjak.


"Ya, dia tetap anak Bapak. Tetap mendapat haknya sebagai anak. Semua ini sudah takdir, Ning. Semoga Oning akan baik-baik saja, meskipun tidak ada yang akan baik-baik saja, jika kedua orang tua berpisah."


Wajah Ibu terlihat sendu. Ibu, lalu meninggalkan aku sendiri. Inilah alasan mengapa Ibu tetap bertahan bersama Bapak. Ya, sekarang aku semakin mengerti betapa besar pengorbanan Ibu yang tidak membiarkan aku menjadi Oning.


***


Hari-hari selanjutnya, hubungan Bapak dan Ibu semakin baik. Bapak selalu ada di setiap malam bersama kami. Aku merasa tenang jika saat ini kuputuskan untuk meninggalkan Ibu bersama Haikal.


Namun, sayangnya laki-laki itu kembali sulit diri ini hubungi. Semua pesanku begitu jarang ia balas. Semua pesannya pun terasa dingin. Semua telepon pun diabaikan olehnya.


Aku merasa sesak. Padahal aku ingin sekali mengatakan akan menerima lamarannya, tetapi ia seakan tidak mau mendengar. Entah, apa yang terjadi.


Seingatku, diri ini sama sekali tidak melakukan kesalahan. Diri ini juga tidak pernah mengacuhkannya. Entah, di mana salahku?


Senja terasa menyilaukan dengan paduan warna jingganya yang terang. Namun, semua tidak lama hanya sesaat yang dalam sekejap menghilang. Aku masih menatap ponsel berharap Haikal akan membalas banyaknya pesan yang telah kukirim. Namun, bisu masih memeluk dengan jutaan resah yang mengikuti.


Aku masih belum putus asa, kini panggilan suara coba kulayangkan ke pujaan hati yang entah sedang merasakan apa. Hati berharap dengan resah, jantung berdetak sangat kencang. Kemudian, sebuah perasaan sangat tidak menyenangkan mengganjal di ulu hati. Menyisakan sesak yang tidak terungkap.


Panggilanku akhirnya terjawab. Mungkinkah telingaku menebal? Apakah telinga ini salah mendengar?


Suara itu bukan Haikal. Suara itu begitu lembut dan terdengar manja. Mungkinkah aku salah menekan nomor?


"Halo, maaf ini siapa ya?" tanyaku.


"Oh, iya maaf, Bu. Saya Fiza, ceweknya Haikal. HP Haikal ketinggalan di rumah saya. Maaf, Bu saya lancang menjawab telepon. Saya takut ada pekerjaan penting. Nanti, kalau Haikal ke rumah saya langsung sampaikan kalau Ibu menelepon," balas suara perempuan di ujang telepon.


Dadaku semakin sesak. Ibu? Pekerjaan? Dianggap apa aku ini oleh Haikal?


"Pekerjaan?" balasku singkat.


"Iya, Ibu atasan Haikal di kantor 'kan? Maaf ya, Bu. Nanti saya sampaikan, kalau Haikal sudah datang. Dia janji si, malam ini mau ke rumah."


Jadi, inilah alasan semua jarak yang dibuat Haikal selama ini? Sakit sekali rasanya. Seperti ditikam pisau sangat tajam, kemudian tanpa belas kasihan aku dibiarkan berdiri sampai kehabisan darah, dan mati dengan lemas.


Aku tahu semua ini pasti akan terjadi. Hubungan jarak jauh memang tidak pernah menjamin hati manusia. Namun, Mengapa diri ini harus tahu dari wanita yang kamu pacari? Bukan justru dari mulutmu sendiri?


Bahkan lamaran manis itu masih terngiang di telingaku. Bahkan rayuan manismu masih melekat di hati. Bahkan aku mulai berharap untuk mengucap janji suci bersamamu.


Bayangan wajah Haikal, tiba-tiba memenuhi pikiranku. Aku mendadak sangat membencinya. Seandainya dapat dengan mudah menghapus wajahnya, seandainya ....


"Tolong sampaikan saja, untuk segera menghubungi saya setelah ia sempat. Katakan, saya menunggu kabar yang hanya ia tahu. Terima kasih," balasku dengan getir.


Malam mulai merambat. Memilukan, hatiku tercabik, perih. Bisu membungkam mulutku. Guling kini menjadi teman dari rasa pedih yang teramat dalam. Mungkin aku akan habiskan waktu dengan tangis pilu malam ini.

__ADS_1


__ADS_2