
Pengendara motor trail itu membuka helm dan jaketnya. Ternyata dia adalah laki-laki berwajah tampan. Garis wajahnya menyiratkan keturunan Timur Tengah.
Kakinya jenjang memakai celana olahraga panjang. Badannya tegap berbalut jersei. Hidungnya mancung, sementara rambutnya bergaya potongan tentara. Alisnya hitam tebal, sempurna dengan kulitnya yang susu.
Laki-laki itu tersenyum kepadaku membuat pipinya berlubang. Ia mendekat sambil menggendong tasnya. Aku menjadi salah tingkah.
"Umar ...," pekik suara Ibu Rina begitu lantang seolah tepat di telingaku, padahal ia berdiri jauh di pintu kantor.
Tangan wanita itu melambai tepat mengarah ke laki-laki itu. Ia begitu sumringah, kemudian berjalan cepat melewatiku begitu saja dan menghampiri laki-laki yang ia panggil Umar. Itukah nama laki-laki itu? Siapa dia?
"Ibu Ning, kenalkan ini Umar, eh maksud saya Pak Umar. Dia ini teman SMA saya, dia akan mengisi guru olahraga yang kosong," jelas Ibu Rina seolah paham hatiku dipenuhi tanda tanya.
"Selamat datang, Pak Umar. Kenalkan saya Ningsih, panggil saja Ning. Semoga nyaman di sini," balasku tersenyum canggung.
"Terima kasih, Bu. Mohon bimbingannya," ucap Umar lagi-lagi tersenyum.
Aku pun berlalu meninggalkan mereka. Kelas di pojokan koridor itulah tujuanku. Di sanalah, aku akan menemukan senyum tulus dengan banyak cerita.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Asep, murid yang kutunjuk langsung sebagai ketua kelas.
"Waalaikum salam ...," balasku membiarkan punggung jemariku dicium Asep.
Anak laki-laki itu sering berbau asap tunggu. Ia memang sering membantu ibunya. Tubuhnya kecil, tetapi bersuara nyaring, persis burung kolibri. Kulitnya eksotis warna ranting kering, karena sering bermain di sawah.
Asep adalah seorang anak laki-laki penuh mimpi. Ia selalu antusias menceritakan mimpinya menjadi ustaz kondang. Ia juga ingin menjadi penghafal Alquran.
"Asep mau ketemu Bapak di surga, Bu guru. Kata Emak, Bapak meninggal lagi Asep umur tiga tahun. Asep gak kenal Bapak, Asep gak ingat Bapak kayak apa." Aku selalu teringat jawaban Asep setiap kali ia kupergoki sedang menenteng buku "juz amma" kecil.
Anak laki-laki itu selalu berhasil membuatku bersyukur. Aku beruntung masih bisa mengenal Bapak, meskipun ia sering membuat diri ini kesal, karena sifarnya liarnya bercinta. Entahlah, Bapak selalu menjadi PR besar bagi diri ini untuk meredam emosi.
"Kamu sudah sarapan, Sep?" tanyaku.
"Sudah, Bu. Biasa makan nasi uduk jualan Emak," balasnya ceria.
"Alhamdulillah, semoga Emak sehat terus. Ibu ke kantor dulu ya, mau simpan tas," pamitku.
Asep tersenyum memperlihatkan gigi serinya yang tidak lagi putih. Bahkan, salah satu gigi serinya telah tanggal membuat jendela pada barisan giginya. Aku pun balik tersenyum, kemudian berlalu meninggalkannya.
Di kantor suasana sedikit gaduh. Ya, laki-laki bernama Umar itulah penyebabnya. Di sekolah tempatku mengajar memang lebih banyak guru perempuan. Jumlah kami saat ini ada sembilan, enam guru perempuan dan dua guru laki-laki dengan seorang kepala sekolah laki-laki. Jika laki-laki itu bergabung, genaplah jumlah kami sepuluh.
Laki-laki itu melirikku yang baru saja duduk di singgasana. Kursi dan meja ini milikku, Tuan. Apakah kau ingin mengambilnya? Mengapa menatapku seperti itu?
Aku tidak ingin memperdulikannya yang sedang sibuk mengambil perhatian. Diri ini bukan orang yang senang mencuri perhatian atau mudah memberi perhatian kepada laki-laki. Apalagi yang baru dikenal, meskipun ia tampan.
Kulirik jam dinding, masih dua puluh menit lagi sebelum bel berbunyi. Masih ada waktu untuk menelepon A Iwan dan A Wahyu. Semoga saja mereka segera menjawab teleponku, sehingga Ibu tidak akan mengejarku dengan pertanyaan "Gimana Aa, kamu Ning?"
"Kenapa, De?" jawab A Iwan ditelepon. Syukurlah ia cepat menjawab.
"Ibu tanya, besok Aa main gak?"
"Insyaa Allah, besok Aa main sama Teteh. Udah, ya Aa masih di tempat kerja. Mau siap-siap pulang," balas A Iwan tergesa-gesa.
"Iya A," setujuku dan mematikan telepon.
Kemudian aku pun mencari nomor kontak A Wahyu dan kembali melakukan panggilan keluar. Kali ini cukup lama teleponku mendapat balasan. Mungkin ia sedang bekerja.
Aa lagi kerja, De gak bisa angkat telepon. Besok Aa lembur, De. Bilangin Ibu ya, Aa gak bisa pulang.
__ADS_1
A Iwan mengirimiku sebuah pesan singkat. Ternyata benar ia sedang bekerja. Baiklah, besok hanya akan ada A Iwan dan Teh Nia di rumah.
Kusimpan kembali ponselku ke dalam tas. Kemudian, catatan absensi anak-anak yang kini menjadi pusat perhatianku. Sebentar lagi sapaan hangat mereka akan memenuhi hati ini. Bersama mereka waktu akan terasa sangat cepat berlalu.
Kupandang wajah ini dicermin kecil yang terselip dalam dompet. Sebentar saja, untuk memastikan tidak ada yang salah dengan penampilanku. Jilbab hijau daun ini pun sudah benar dan rapi, baiklah saatnya menyapa malaikat-malaikat kecil itu.
"Bu Ning, jam pertama di kelas Ibu olahraga 'kan?" tanya Ibu Rina mencegah langkahku yang akan beranjak ke kelas.
"Oiya, betul. Apa Pak Umar mau masuk ke kelas saya?" balasku memandang Bu Rina.
"Iya, biar pengenalan dulu sama anak-anak, bagaimana?" jawab Bu Rina.
Entah mengapa wanita itu sangat antusias dengan kedatangan Umar di sekolah ini. Mungkin, karena ia temannya atau mungkin laki-laki itu cukup tampan, sehingga bisa menjadi obat cuci mata di kala mumet datang. Ish, kenapa aku jadi memikirkan urusan orang lain.
"Boleh, Bu. Mau langsung mengajar juga gak masalah. Saya justru senang tidak pusing mengisi jam olahraga." Aku tersenyum santai dan laki-laki itu balik tersenyum, manis sekali.
"Ya, masa hari pertama langsung disuruh ngajar si, Bu. Perkenalan saja," balas Bu Rina.
"Oh, gak apa-apa kok, saya malah senang. Ngajar santai ajalah, gimana?" sahut Umar.
"Ya, terserah. Bagaimana Pak Umar saja enaknya gimana." Aku segera menenteng beberapa buku dan melangkah keluar ruangan.
Aku tahu Umar, telah berada di belakangku dan mengikuti langkah seorang Ningsih. Oh, ya, maksudku Pak Umar. Entahlah, aku merasa tidak nyaman menyebut laki-laki itu dengan kata Pak.
Laki-laki itu seumuran denganku, begitupun dengan Rina. Namun, Rina pernah marah, karena kupanggil hanya dengan nama tanpa ada kata Bu yang bersanding dengan namanya. Sejak saat itu diri ini merasa canggung bercengkerama lepas dengannya. Sehingga, mulut ini sangat hati-hati saat menyebut namanya, bahkan di dalam hati sekalipun.
"Ibu, sudah punya pacar?" celetuk Umar mengejar langkahku.
Apa-apaan laki-laki itu! Aku tidak pernah menyangka dia selancang ini. Baru kenal, tetapi sudah berani bertanya sejauh itu. Aku hanya diam menanggapi pertanyaannya.
"Oh, pasti sudah menikah ya?" celetuknya lagi membuatku semakin kesal.
"Jangan marah, Bu. Saya hanya bercanda agar kita tidak canggung, karena saya lihat Ibu seperti menjaga jarak sekali dengan saya," ucap Umar dan tersenyum di akhir ucapannya.
"Baik, saya maafkan," balasku mempercepat langkah.
Entahlah, aku bukan menjaga jarak dengannya atau bukan pula tidak menyukainya. Namun, seperti inilah diri ini. Aku memang bukan orang yang mudah akrab dengan laki-laki. Mungkin, terlalu sering melihat Ibu menangis karena Bapak, membuat diri ini benar-benar menjaga hati.
Namun, bukan berarti diri ini menolak laki-laki dalam kehidupanku. Diri ini masih terbuka dengan namanya cinta. Haikal, seorang laki-laki berkulit hitam manis sudah dua tahun menjadi pacarku.
Laki-laki itu selalu berhasil membuatku tertawa lepas oleh sikap humorisnya. Namun, sayangnya keputusannya untuk bekerja di Bandung telah membuat kami perlahan menjauh. Bahkan, sudah sebulan kami tidak berjumpa. Hubungan kami hanya menunggu waktu saja untuk berakhir.
Aku bukan pasrah, tetapi tahu diri. Hubungan jarak jauh tidak pernah bisa dipercaya. Apalagi belum ada ikatan pernikahan, tentu saja membuat Haikal masih bebas menentukan pilihannya. Diri ini hanya menunggu saat itu tiba, saat Haikal meminta kata putus untuk hubungan kami.
"Ini kelas saya, kelas empat. Mari silakan masuk," ucapku saat tiba di pintu kelas berwarna cokelat ranting tua.
Suasana kelas yang semula gaduh mendadak tenang melihat kedatanganku. Asep pun mengambil alih untuk memberi salam. Seisi kelas mengikuti komandan Asep.
"Waalaikum salam Warahmatulllahi Wabararakatu. Selamat pagi semua ...," sapaku membalas salam mereka.
"Pagi, Bu ...," jawab anak-anak kompak.
"Hari ini, Ibu mau memberi pengumuman. Mulai hari ini sekolah kita akan ada guru baru, namanya Pak Umar, guru olahraga. Silakan, Pak Umar," terangku akhirnya bisa tersenyum tulus juga kepada laki-laki itu.
Umar balik tersenyum dan membuat gaduh seisi kelas. Mereka semua sangat antusias. Aku tahu mereka pasti senang bisa bebas dari materi olahraga dariku yang menjemukan. Ditambah guru baru mereka tampan.
Umar terlihat sangat nyaman membawakan dirinya di depan kelas. Dari gaya bicaranya aku sudah bisa menebak dia adalah seorang yang humoris, mudah bergaul, dan pintar. Syukurlah, karena bagiku itu bisa membantu anak-anak untuk berkembang.
__ADS_1
Kutinggalkan Umar di kelas dan kembali ke kantor. Aku ingin mengejar laporan administrasi kelas yang belum rampung. Hal inilah yang paling menyebalkan selama menjadi guru. Semua sangat membuat bosan dan begitu banyak, sehingga sering membuat kepala ini pusing.
Aku tahu, Bu Rina pasti akan protes keras, teman tampannya itu kubiarkan langsung mengajar. Namun, diri ini tidak mau ambil pusing. Tutup saja telinga dan acuhkan segala perkataannya, lalu biarkan senyum ini meladeninya.
***
Akhirnya jam pulang datang. Semua anak sudah kembali ke rumahnya masing-masing, begitu pun seharusnya denganku. Sekolah telah sepi, hanya diriku dan Pak Ganim, penjaga sekolah yang masih menjadi penghuni sekolah.
Diri ini baru saja selesai dengan administrasi itu. Hari Senin akan ada supervisi dari pusat, sehingga mau tidak mau tumpukan pekerjaan itu harus selesai hari ini. Diri ini hanya tidak mau menganggu hari liburku besok.
"Sudah selesai, Bu?" tanya Pak Ganim yang usianya semakin sepuh.
Rambutnya sudah semakin memutih. Garis wajahnya sudah semakin kendor dan keriput halus sudah jelas terukir. Namun, semangatnya untuk berjuang belum juga kendor.
"Sudah, Pak. Saya pulang duluan ya?" pamitku.
Aku pun beranjak dari kantor dan segera menuju pohon jambu di depan sekolah. Di bawah pohon itulah motorku masih berteduh. Kemudian mesin motor pun diri ini nyalakan.
"Belum pulang, Bu?" tiba-tiba suara Umar terdengar di telingaku.
"Umar, eh maksud saya Pak, Umar. Mmm ... belum, saya baru selesai menyelasaikan administrasi. Bapak sendiri, bukannya tadi udah pulang?"
"Hehehe ... panggil saja Umar jika tidak ada anak-anak. Iya, HP saya ketinggalan di meja," balas Umar sambil menggaruk kepalanya.
"Oh, kalau begitu saya permisi duluan," pintaku, kemudian menaiki motor dan meninggalkannya sendiri.
Sampainya di rumah, aku tahu Bapak sedang bersantai di depan televisi. Ia pasti baru saja selesai menyantap masakan Ibu. Aku pun segera bergegas masuk.
Namun si Manis, kucing betina hitam peliharaan Ibu terus saja mengeong keras. Ia tidak pernah seperti itu, kalaupun menyambutku hanya sekedar mengeong pelan. Namun, kali ini ia sangat menyebalkan dan mengikuti langkahku sambil mengeong kencang.
"Kamu kenapa si? Lapar?" protesku ke Manis.
Manis terus saja mengeong dan terus mengikutiku sampai ke dalam rumah. Bulu hitamnya terus saja ia gesekkan ke kaki ini. Bahkan ia tidak mau beranjak sedikitpun dariku.
"Baru pulang kamu, Ning?" sapa Bapak menyambut tanganku dan membiarkan diri ini mencium tangannya.
"Iya, Pak. Ning ke kamar dulu," balasku dan berjalan ke kamar.
Sementara, si Manis masih saja mengikutiku. Buntutnya yang panjang sesekali ia gerakkan. Akhirnya ia pun diam, sesampainya di kamar, lalu tertidur di karpet bulu bermotif panda, hewan kesukaanku.
"Rupanya kamu ngantuk?" ujarku melihat Manis.
***
Pohon bambu bergoyang terkena angin. Aku baru saja terjaga dari tidurku setelah tertidur lagi setelah Subuh. Akhirnya, tubuh ini bisa bersantai.
Kupijakkan kaki ini untuk membuka pintu rumah. Hidung ini ingin mencium udara segar. Sejenak saja, ingin kulepaskan penat hari ini.
Namun, mata ini terbelak, jantungku berdegup kencang. Dengan tergesa-gesa kaki ini memakai sandal, sehingga terbalik, tetapi kuabaikan saja. Sesuatu di bawah pohon bambu telah membuat perasaan takut mencengkram erat.
"Manis!" pekikku berlari.
Kucing cerewet itu kutemukan tergeletak bersimpah darah. Bulunya yang hitam penuh dengan warna merah segar. Lehernya terdapat luka menganga. Lalat dengan cepat datang mengerubungi.
Oh, Manis kamu kenapa? Baru saja kemarin sore kamu begitu setia kepadaku. Kenapa pagi ini kamu pergi meninggalkanku dengan tragis?
Rasa sedih menguap begitu saja. Meskipun, Manis hanya seekor kucing. Namun, ia kutemukan di halaman rumah sejak ia masih sangat kecil. Setiap hari aku dan Ibu bergantian memberinya makan, sampai ia menjadi teramat gendut dan sulit bergerak.
__ADS_1
Tentu saja, wajar diri ini menjadi sangat sedih kehilangannya. Aku pun beranjak meninggalkannya. Bersabar Manis, akan kuurusi tubuhmu yang telah menjadi bangkai.