Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 6


__ADS_3

Ibu telah duduk di tepi ranjangnya. Namun, ketakutan masih terlihat jelas dalam sorot matanya. Aku bersimpuh tepat di hadapannya dan dengan lembut menggenggam jemarinya.


"Sebaiknya Ibu istirahat, ya?" pintaku menatap matanya.


"Iya, Ning," balas Ibu dan kembali terdiam.


Ada apa dengannya? Aku kembali memperhatikan kamar Ibu. Sungguh sepenglihatanku, tidak ada hal yang aneh di kamar Ibu, apalagi ular berwarna-warni. Membayangkannya saja diri ini tidak mau, apalagi benar-benar melihatnya.


Aku sangat takut sekali dengan ular. Mata kecilnya begitu tajam, lidahnya panjang penuh bisa mematikan, suaranya mendesis dengan sisik kasar. Badannya panjang dan berjalan dengan menyeret tubuhnya. Jadi, rasanya tidak mungkin jika ada ular luput dari pandanganku.


"Kamu sudah makan, Ning?" tanya Ibu mulai membaik.


Sorot matanya tidak lagi memancarakan rasa takut. Ibu adalah aktris terhebat yang begitu cepat mengubah ekspresinya. Ia bahkan sudah bisa tersenyum lembut kepadaku.


"Sudah, tapi makan kecapi hehehe .... Oiya, kecapi ... tunggu ya, Bu tadi Ning bawa kecapi titipan Teh Jihan," balasku, kemudian berlari ke luar.


Ternyata si kecapi masih tergeletak di luar. Bahkan, ia seperti sampah yang terbuang begitu saja karena rasa panik mendengar teriakan Ibu tadi. Kini sang kecapi di dalam plastik putih itu telah kujinjing dan kuserahkan ke Ibu.


"Sudah lama Ibu gak makan apel Cisaat," sahut Ibu setelah menggengam kecapi.


Wajah Ibu kembali bersinar. Ia tampak menikmati si kecapi. Dengan cepat dua buah kecapi telah ia habiskan dan hanya menyisakan biji dan kulitnya. Wanita itu memang sangat mirip denganku, ya aku adalah produk kloning Ibu.


"Sampaikan terima Ibu sama Teh Jihan ya?" pinta Ibu sambil membereskan sisa kecapi.


"Iya, Bu."


"Ya sudah, kamu makan dulu, Ning!" pinta Ibu menatapku.


"Iya, Bu," balasku dan meninggalkannya menuju dapur.


***


Malam telah berlabuh, suara jangkrik seskali terdengar dan berlomba dengan tonggeret. Angin sesekali menggoyangkan pohon bambu. Sinar rembulan menjadi penerang paling indah saat gelap telah memeluk.


Ibu sudah tertidur di kamarnya. Sementara, aku masih berkutat dengan laptopku. Layarnya yang terang adalah temanku dari rasa sepi. Alunan musik dari penyanyi favorit adalah penenang dari rasa rindu terhadap Haikal.


Laki-laki itu belum juga menghubungi, pesanku seharian ini pun belum ada yang terbalas. Aku merasa jarak dengannya begitu jauh. Sungguhkah ia terlalu sibuk, sehingga waktunya habis hanya untuk sekedar membalas pesan?


Diri ini benar-benar dilanda gelisah, curiga terus bersemayam. Semoga saja aku hanga berteman perasaan, bukan kenyataan yang menyakitkan. Entahlah, mungkin ini semua salahku.


Malam kian menghadirkan kesunyian. Namun, ponselku berbunyi. Sebuah pesan dari nomor asing masuk ke dalam kotak masuk melalu aplikasi berwarna hijau.


Bu, besok saya ajak anak-anak olahraga di luar ya?


-Umar-


Ish, laki-laki itu! Dari mana ia mendapatkan nomorku? Aku terdiam dan wajah Pak Ron yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Pak Ron selalu muncul di ingatanku dengan gaya bicaranya yang santai.


Silakan, Pak.


Aku hanya membalas singkat pesannya. Semoga saja setelah ini ia tidak akan banyak menggangguku. Meskipun, sebenarnya ia tidak terlalu menggangguku. Hanya saja, dekat dengannya membuat diri ini tidak nyaman dengan tatapan Bu Rina, si perawan bermuka masam. Mungkin hanya kepadaku ....


Kuabaikan ponselku, meskipun diri ini tahu sebuah ucapan terima kasih telah Umar kirimkan. Ah, biar saja, besok pagi jika ia bertanya akan kubalas dengan santai bahwa diri ini sudah tertidur. Diri ini pun penasaran dengan Ibu, sehingga memilih mengintipnya di kamar sebelum mencuci muka, rutinitas seorang Ningsih sebelum tidur.


Dengan sangat hati-hati kubuka pintu kamar Ibu. Bahkan berharap suara derak pintu yang bergeser tidak membuatnya terbangun. Ternyata Ibu justru sudah terbangun. Ia sedang salat di sela ruang antara ranjang dan lemari bajunya.


Kutatap ia, wanita itu selalu mampu membuat diri ini terkesima. Ternyata Tuhan telah begitu baik kepadaku, dia telah menganugerahkan wanita tangguh dan berhati sangat sabar untuk seorang Ningsih. Sungguh, tidak pernah diri ini bayangkan seandainya bukan dia Ibuku.


"Sejak kapan kamu di situ, Ning? Ada apa?" Ibu tersadar rupanya.

__ADS_1


Aku masih berdiri di depan pintu. Kemudian, perlahan mendekat kepadanya. Wajah Ibu begitu bersinar dan teduh.


"Belum lama, kok, Bu. Tidak ada apa-apa, Ning hanya mau melihat Ibu saja."


"Kamu belum tidur? Sudah malam,"


"Ini mau tidur."


"Jangan terlalu sering begadang, nanti cepat tua! Apalagi anak gadis, nanti berkurang kecantikanmu."


"Apaan si, Bu ...." Aku tersenyum malu.


"Lah, iya 'kan. Gimana gak berkurang cantiknya, kalau kurang tidur mata kamu jadi ada kantungnya, kayak hewan yang gendut itu," jelas Ibu membuatku teringat dengan si hewan bernama panda.


"Ibu ... masa aku disamaain sama panda," protesku.


"Iya cantikan kamulah, menang langsing." Ibu tersenyum. "Ning, mata Ibu, kok sakit ya?"


"Sakit gimana, Bu?" selidikku.


"Sakit seperti ada yang menghalangi pandangan. Jadi, gak jelas melihat," jelas Ibu.


"Sejak kapan, Bu?" ujarku mendekat melihat mata Ibu.


"Sejak terjaga tadi, agak kabur Ibu melihat yang jauh."


"Besok, kalau masih sakit kita ke dokter ya, Bu?" saranku.


"Iya, besok pagi Ibu mau timbang dulu pakai air sirih," balas Ibu membuatku teringat kebiasaannya menimbang mata dengan air sirih.


Menimbang mata dengan air sirih adalah cara yang sering dilakukan Ibu untuk membersihkan matanya. Caranya, sirih diremas dengan air, sehingga keluar sari daun sirih. Setelah itu, air tersebut dituang ke piring kecil dan didekatkan ke mata sampai air sirih tersebut masuk ke mata. Saat terkena air sirih, mata akan terasa perih, tetapi biasanya kotoran mata akan keluar dan terlihat di piring.


"Gumprangggg ...." Tiba-tiba suara berisik memecah dari dapur.


Aku dan Ibu pun beranjak untuk mengetahui sumber dari suara tersebut. Kami setengah berlari menuju dapur. Ternyata sebuah panci terjatuh dari tempatnya. Biasanya panci itu tergantung di paku yang dibuat dengan sengaja tepat di atas kompor.


Tanganku pun refleks mengambil si panci yang tergeletak di lantai. Sementara, Ibu justru mematung. Kedua matanya seperti menemukan hal aneh.


Aroma melati tiba-tiba saja merebak. Bulu kudukku sedikit merinding, tetapi mencoba tetap berani. Kupandangi seisi sudut ruangan. Hanya kesunyian yang menyapa.


"Bu ...." panggilku menggoyangkan badannya.


"Ning, ayuk tidur!" pintanya membuatku diliputi tanda tanya.


Apa yang sebenarnya Ibu lihat? Ia hanya diam tanpa penjelasan. Kemudian, mengunci pintu kamarnya. Aku pun terpaksa mengunci diri pula di kamar. Ah, pagi cepatlah kau datang!


***


Seperti biasa Ibu selalu berkutat di dapur. Aku tahu ia pasti bosan dengan semua rutinitasnya. Namun, ia tidak pernah mengeluh, jika aku menjadi dirinya pasti aku bisa saja gila diliputi jenuh.


"Mata Ibu bagaimana? Masih sakit?" tanyaku memulai pembicaraan.


"Masih, Ning. Malah rasanya semakin mengganggu." Ibu menjawab sambil mengaduk sayurnya yang sebentar lagi matang.


"Kita ke dokter ya, Bu?" pintaku.


"Nanti saja, Ning sepulang kamu kerja. Kasihan kalau harus izin nanti anak-anakmu tidak ada yang mengurus. Mungkin nanti, mata Ibu enakan."


"Ya sudah, kalau begitu Ning siap-siap dulu ya, Bu?" jawabku dan dibalas dengan senyum Ibu.

__ADS_1


***


Aku kembali lagi ke sekolah. Ya, sekolah ... sekolah ini sudah lima tahun menjadi tempatku mencari rejeki. Namun, bukan hanya uang alasanku berada di tempat ini. Rasa cinta dengan anak-anak dan keindahan berbagi merupakan alasanku bertahan dengan gaji yang tidak seberapa.


Menjadi guru bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa membuatmu kaya materi. Namun, mungkin kaya akan keberkahan dan rasa cinta dari Tuhan. Sehingga, aku tidak pernah ambil pusing jika gajiku yang tidak seberapa sering terlambat. Meskipun, tidak memungkiri uang tentu saja kuharapkan, tetapi diri ini akhirnya sudah mulai terbiasa jika gaji bulan depan belum tentu diri ini dapatkan tepat waktu.


Beruntung diri ini belum memiliki banyak keperluan. Sehingga tidak perlu terlalu bekerja keras seperti rekan kerjaku yang lain. Seperti Pak Ron yang harus menjadi ojek online setelah mengajar atau mengojek di hari libur. Bu Mona dan Bu Salma yang mengajar di dua tempat.


Ibu Rina yang membuka toko online. Ibu Euis yang mengajar mengaji dan membuka TPQ di rumah. Pak Dulah yang aktif ikut kegiatan politik dan kecil-kecilan membuka usaha di rumah. Hanya Bu Fatma yang lebih beruntung, karena memiliki suami yang mapan pekerjaannya.


Ya, beginilah nasib guru memang. Sering disebut ujung tombak pendidikan, tetapi sering pula terabaikan nasibnya. Kami diminta fokus mengajar, mendidik anak-anak. Namun, bagaimana bisa jika otak kami bercabang dengan kebutuhan di rumah yang belum terpenuhi, sementara perut harus selalu terisi, bukan?


"Ibu Ning ...." Asep memanggilku setengah berlari.


"Ada apa, Sep?" balasku setelah ia dekat.


"Gak apa-apa, Bu. Mau salim," balasnya meminta tanganku.


"Ibu, nanti olahraga kata Pak Umar belajar di luar sekolah? Ke mana, Bu?" tanya Asep membuatku teringat pesan Umar.


Jadi, laki-laki itu serius mau mengajak anak didikku ke luar? Ah, laki-laki itu selalu saja mau ke luar dari zona nyaman. Ke mana ia akan membawa anak-anakku?


"Assalamualaikum, Bu Ning ...." Suara laki-laki itu tiba-tiba saja tepat berada di sampingku.


Entah, sejak kapan ia datang. Aku bahkan tidak menyadarinya. Senyumnya mengembang bak bunga mawar yang mekar.


"Waalaikum salam," jawabku melemparkan pandangan matanya.


"Terima kasih ya, Bu," ujarnya membuatku teringat pesannya yang belum terbalas.


"Sama-sama," balasku, kemudian meninggalkannya.


Aku melihat Bu Rina berjalan di koridor sekolah. Namun, pandangannya tepat menjurus ke arahku. Ah, wanita itu lagi!


***


Jam pelajaran olahraga sebentar lagi akan berakhir. Namun, aku belum melihat tanda-tanda kedatangan anak muridku kembali. Ke mana laki-laki itu membawa anak-anak? Dengan rasa khawatir kudatangi Pak Ganim, laki-laki itu sedang serius menyapu daun jambu yang berguguran.


"Bapak lihat anak kelas empat?" tanyaku.


"Tadi sama Pak Umar bukan? Kalau gak salah katanya mau ke lapangan dekat sawah, Bu."


"Ya ampun ngapain si itu orang! Yaudah, makasih ya, Pak."


Kutinggalkan Pak Ganim kembali dengan sapunya. Kemudian, bertekad mencari si Umar, artis stand up dadakan di sekolah. Semoga saja ia tidak merubah rencana tujuannya!


Motorku pun melaju, tidak pelan, tetapi juga terlalu kencang. Ternyata benar kata Pak Ganim, laki-laki itu telah membawa anak-anakku bermain di lapangan dekat sawah. Mereka semua tampak sangat riang. Tawa lepas mereka pecah menikmati materi olahraga yang disampaikan Umar.


"Bu, Ning? Wah, Ibu membawa kejutan untuk saya? Di mana, Bu?" ujar Umar mulai dengan candaannya.


"Bapak lupa waktu, ya? Sebentar lagi jam olahraga akan selesai," jelasku.


"Ya Allah, iya heheheh. Abis seru, Bu main di sini. Angin berhembus perlahan, ilalang menari, dengar deh, Bu sesekali burung asyik bernyanyi merdu sekali, seperti suara Ibu di telinga saya." Aku melotot kepadanya dan melihat anak didikku.


Kenapa si laki-laki ini senang sekali menggoda! Bagaimana jika ada anak yang mendengar? Baik, sudah ya, Umar!


"Apa tidak bisa, jika tidak melotot?" tambahnya sambil tersenyum membuatku makin salah tingkah.


"Anak-anak, ayuk bersiap kembali jam olahraga sudah hampir selesai," teriakku mengabaikan Umar yang masih tersenyum.

__ADS_1


Angin berhembus menggoyangkan jilbabku yang sedikit tipis. Rumput-rumput mengikuti alunan. Kembali aroma minyak wangi Umar tercium, semakin hari diri ini mulai terbiasa mencium aroma itu. Sangat segar dan lembut, kupikir diri ini mulai menyukai aroma itu.


__ADS_2