
Rumahku adalah sebuah bangunan bernaung yang cukup besar. Rumah ini adalah peninggalan Nini dan Aki. Anak mereka hanya satu, yaitu Ibu. Jadi, wajar jika rumah beserta tanah mereka yang luas menjadi milik Ibu seorang.
Rumah bercat hijau ini sudah banyak mengalami renovasi. Dindingnya telah kokoh dengan batako, lantainya telah licin dengan keramik putih. Hanya tembok bagian dapur dan kamar mandi saja yang belum mengalami banyak perubahan.
Hanya dapurlah yang masih memiliki dinding dari anyaman bambu. Ibu memang sengaja tidak mau menggantinya dengan alasan agar udara dari luar masih bisa masuk. Selain itu, hanya lantai kamar mandilah yang belum dilapisi keramik. Lapisan semen yang diratakan adalah penutup sang tanah. Alat yang digunakan untuk menampung air juga masih menggunakan kolam yang dibuat sengaja menggunakan batu yang disusun membentuk persegi panjang.
Halaman rumahku memang sangat luas, bahkan cukup untuk membangun sebuah sekolah. Rumput liar adalah tanaman hias halaman. Sementara, tanaman seperti, salak, kelapa, rambutan, pepaya, melinjo, singkong adalah salah satu penghasil camilan dan sering juga menjadi bahan utama untuk pendamping nasi.
"Ning, baru balik?" sapa Aki Darman.
Aki Darman adalah tetanggaku yang pekerjaannya mengembala kerbau. Usianya sudah lebih dari 70 tahun, hobinya memakai baju dan celana hitam dengan topi koboi warna senada, kulitnya putih dan sudah mengendor , rambutnya bahkan sudah hampir memutih semua. Namun, semangatnya masih terus membara, bahkan ia tidak pernah lelah berjalan jauh saat mengembala hewan ternaknya.
"Iya, Ki. Aki mau ke mana?" balasku
"Aki, teh biasa mau ajak Menor jajan. Biasa kalau jam segini dia maunya jalan-jalan nyari rumput segar ...." Aki tersenyum menepuk pundak Menor lembut.
Menor adalah nama untuk kerbau bulenya yang sudah besar. Kerbau tersebut sudah ia urus sejak masih kecil. Menor bahkan lebih berharga daripada istri Aki, Nini Aya.
"Cakepan Menorlah, Ning. Dia mah, masih muda. Kalau dijual juga mahal. Kalau Nini mah, udah banyak keriputnya, siapa yang mau kalau bukan Aki hehehhe ... Eh, tapi jangan bilang-bilang Nini ya, tar dia marah Aki gak dibuatin kopi. Aki mana bisa bikin kopi, pait ... kalau Nini yang bikin manis aja." Aku selalu saja teringat candaan Aki saat aku pernah meledeknya karena ia lebih sering bersama Menor dibandingkan istrinya.
Aki tersenyum manis menampilkan giginya yang sudah tidak lengkap. Kemudian, berlalu sambil merangkul Menor dengan kayu panjang yang menjadi pengarah Menor. Menor memang sering kali tergoda rumput segar, sehingga sering lupa arah.
Diri ini pun beranjak dari tempatku berdiri. Ibu adalah tujuan pertama ketika sampai rumah. Hanya Ibu teman sejati seorang Ningsih, mungkin dulu Manis adalah salah satu sahabatku, sayangnya ia telah bersatu dengan tanah.
Mungkin sekarang Manis telah menjadi tulang. Bulu lebatnya pun entah ikut hancur atau masih utuh belum terurai. Aku tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Namun, satu hal yang pasti, aku sangat kehilangan kucing cerewet itu.
"Assalamualaikum, Bu," sapaku menemukan Ibu di bagian belakang rumah.
Bagian belakang tersebut langsung terhubung dengan dapur. Pintu belakang yang terdapat di dapur merupakan salah satu pintu masuk ke rumahku. Di bagian belakang terdapat sebuah meja besar bernama "bale". Bale merupakan meja besar berbentuk persegi yang sering digunakan untuk duduk bahkan tidur.
"Waalaikum salam," balas Ibu.
Wajah Ibu terlihat pucat. Tangannya dingin. Keringat tampak bercucuran dari keningnya.
"Ibu kenapa? Masih sakit?" tanyaku khawatir.
"Kepala Ibu sakit sekali, Ning seperti dihimpit batu besar. Pundak Ibu rasanya berat. Dada Ibu nyesek," balas Ibu sambil memegang dadanya.
"Kita ke dokter ya, Bu?" ajakku.
"Iya, Ning." Ibu mencoba bangun dari duduknya, tetapi ia gagal dan justru merintih.
"Bu ... kenapa, Bu?" panikku.
"Ning, tolong Ibu, dada Ibu nyesek banget!" Ibu terus merintih dan beristigfar.
Awalnya ucapan Istigfar itu diucapkan Ibu pelan sambil terus memegangi dadanya. Namun, lama-lama ucapan tersebut Ibu ucapkan semakin keras dan cepat. Aku menjadi sangat khawatir dan berlari meminta pertolongan Nini Aya. Dengan rasa takut dan khawatir akan Ibu, diri ini pun berteriak memanggil Nini Aya di depan rumahnya. Aku tidak perduli jika dianggap tidak sopan. Hanya Ibu yang diri ini khawatirkan.
"Kenapa, Ning? Teriak-teriak gitu?" heran Nini tepat di daun pintunya.
"Ibu, Ni. Ibu kesakitan gitu, tolongin Ning, Ni!"
"Ya Allah. Di mana Ibu sekarang?" Nini ikut panik dan tergesa-gesa memakai sandal jepitnya.
"Di belakang, Ni."
__ADS_1
"Yaudah, ayuk cepetan takut tar Ibu kamu kenapa-kenapa!" ajak Nini melangkah dengan cepat.
Sungguh wanita itu begitu lincah. Usianya yang tua sama sekali tidak melambatkan geraknya. Bahkan, ia berjalan dengan sangat cepat dan mengalahkan langkahku yang jauh lebih muda darinya.
"Ya Allah, Rahma kenapa lo, Neng?" tanya Nini panik melihat Ibu masih kesakitan.
Wajah Ibu bahkan semakin pucat. Namun, ia masih setia melafazkan nama Allah. Aku merasa diliputi rasa takut yang dalam.
"Sakit banget dada saya, Ni. Tolong napa, Ni!" balas Ibu masih sadar, tetapi matanya sudah menutup.
Ibu terbaring di bale. Nini memintaku untuk segera memanggil Pak Saman, salah satu tokoh kampung yang sering kami percaya bisa mengobati orang sakit. Sakit dalam tanda kutip, seperti kerasukan, kesambet, dan ketempelan makhluk yang tidak tampak oleh mata biasa.
Awalnya aku merasa terkejut, kenapa Nini Aya menyarankan aku memanggil Pak Saman? Namun, rintihan Ibu yang semakin keras membuatku berlari menaiki motor. Tunggu sebentar ya, Bu!
Untung saja Pak Saman sedang berada di rumah. Sehingga, aku bisa langsung memboncenginya ke rumah. Biasanya ia jarang sekali di rumah, entah ke kebun atau pergi menolong orang lain.
Sampainya di rumah laki-laki berjenggot pendek itu memintaku mengambil air di gelas. Tanpa pikir panjang aku pun menurutinya dan segera kembali. Lalu, ketika ku kembali dia telah meminta Ibu duduk dan memegang pundak Ibu. Mulutnya pun tanpa henti berkomat-kamit.
Tidak lama kemudian, Ibu berbicara sambil merintih. Namun, suaranya tampak beda dengan intonasi yang sangat pelan. Aku begitu merinding mendengarnya.
"Siapa kamu?" tanya Pak Saman.
"SIAPA KAMU!" teriak Pak Saman membuatku ikut kaget.
"Masih gak mau jawab juga?" tambah Pak Saman sambil menekan tulang bekang Ibu.
Ibu berteriak. Aku tahu itu pasti sangat sakit. Ingin sekali menahan tindakan Pak Saman. Namun, Nini mencegahku, sehingga aku urung melakukan niatku.
"Saya cuma mau nengokin," ucap Ibu pelan.
"Nengokin? Kalau nengokin dari jauh aja, jangan ganggu!" balas Pak Saman.
"Kalau kasihan jangan ganggu! Udah sekarang pergi ya! Atau saya usir paksa?" Lagi-lagi Pak Saman menekan tulang belakang Ibu.
Ibu kembali teriak. Ia tampak sangat kesakitan. Aku hanya bisa terdiam sedih melihatnya.
"Pergi sendiri," balas Ibu.
"Yaudah, cepetan! Jangan ganggu lagi!" ancam Pak Saman.
Selang beberapa menit mata Ibu terbuka. Ia tampak sangat lelah dan Pak Saman langsung memberi air di gelas yang telah ia bacakan doa. Ibu pun tanpa ragu meminum air tersebut.
"Bu?"sapaku penuh rasa khawatir.
"Ibu ketempelan, sekarang udah gak apa-apa. Saya permisi dulu, ya?" ujar Pak Saman.
Aku pun segera menyalaminya selembar uang lima puluh ribu sebagai ucapan terima kasih. Lalu, mengantarnya kembali ke rumah. Sepanjang jalan aku mencoba mengorek informasi dari Pak Saman tentang maksud kata Ibu 'ketempelan'. Laki-laki itu hanya menjelaskan bahwa Ibu hanya kaget melihat yang seharusnya tidak dilihat.
Sejujurnya, aku masih sangat bingung dengan penjelasan Pak Saman yang menggiring otakku pada sebuah pertanyaan yang lain. Namun, aku akhirnya lebih memilih diam, karena yang terpenting Ibu sudah membaik. Jadi, biarlah pertanyaan itu menguap saja bak uap air.
"Ibu sudah enakan belum?" tanyaku khawatir sampainya di rumah.
Kini, Ibu sudah berbaring di kamarnya. Nini Aya yang mengantarnya dan sekarang wanita itu telah kembali ke rumah setelah menunggu aku pulang. Wanita itu sedang mencuci baju saat aku dengan panik memanggilnya. Sekarang ia pasti kembali melanjutkan kegiatan mencucinya.
"Badan Ibu pada sakit, Ning kayak abis digebukin. Kepala Ibu juga masih agak pusing." Ibu masih terbaring lemas.
__ADS_1
Tentu saja ia merasakan sakit di badannya. Laki-laki tadi telah menekan badan Ibu sangat kencang. Pasti sekarang meninggalkan bekas di badannya.
"Yaudah, Ibu istirahat, ya?" pintaku dan disetujui Ibu.
"Ibu kenapa, Ning?" tanya Bapak yang tiba-tiba saja datang dari arah luar.
Aku sungguh tidak mendengar kehadiran Bapak. Mungkin saja diri ini terlalu sibuk memperhatikan Ibu, sehingga tidak mendengar suara motor Bapak ataupun derap langkahnya. Ya, mungkin saja seperti itu.
"Kata Pak Saman Ibu ketempelan, Pak," balasku.
"Ah, Ibu kamu aja yang kebanyakan ngelamun!" balas Bapak dengan ekspresi datar tanpa ada rasa khawatir sedikit pun kepada istrinya.
Aku benar-benar merasa kesal. Apakah laki-laki yang kusebut Bapak dan seharusnya selalu kuhormati pulang hanya ingin merendahkan Ibu? Ayolah, Pak, di mana simpati dan rasa cintamu ke Ibu? Matikah sudah?
"Bapak lapar, Ning! Tolong siapkan makanan ya!" tambah Bapak membuat hatiku geram.
Sementara, Bapak pergi begitu saja tanpa dosa menuju ruang televisi. Entahlah di mana rasa khawatirnya. Mungkin sudah tenggelam dimakan buaya betina!
Sabar, Ning, sabar! Kutarik napasku dalam-dalam dan kuhempaskan jauh sekali. Baiklah, sepiring nasimu akan datang, Pak!
***
"Sabar, Ning. Bapakmu memang seperti itu, tetapi dia sebenarnya sangat sayang sama kamu!" ujar Ibu saat aku kembali setelah menyiapkan makanan untuk Bapak.
"Hanya sayang kepadaku? Bukan ke Ibu?" balasku.
Ibu hanya tersenyum. Diri ini memang sudah tahu jawaban atas pertanyaan tadi. Bapak memang hanya tinggal mencintaiku. Tentu saja, karena hanya akulah satu-satunya anak perempuan Bapak!
Kurasa Tuhan memang adil kepada Ibu. Meskipun, berkali-kali Bapak menikah siri dengan wanita lain, ia tidak pernah berhasil mendapat anak perempuan dari madunya. Hanya akulah anak perempuan Bapak yang akan selalu ia sayang.
Aku ingat Bapak selalu setia mengantar jemputku saat aku masih sekolah. Ia juga selalu mau membelikan apa pun yang kupinta. Entah itu makanan atau mainan mahal yang tidak pernah awet kugunakan saat masih kecil.
Itulah sebabnya, aku memang tidak pernah bisa membenci Bapak sekali pun ia sudah tidak pernah bersikap manis kepada Ibu. Ya, lambat laun aku memang menyadari mereka bertahan hanya karena aku.
***
Hari telah berganti, tetapi Ibu belum menunjukkan perubahan. Hari ini mata Ibu semakin memerah dan ia bilang matanya semakin sakit. Aku pun memilih izin tidak mengajar dan berniat mengantar Ibu ke dokter dan dokter mata adalah pilihanku untuk mengetahui sakit Ibu.
"Mata Ibu hanya sedikit infeksi saja. Mungkin karena debu atau asap. Hanya sepertinya, Ibu juga memiliki minus. Jadi, pakai kaca mata ya, Bu?" jelas dokter cantik dengan senyum sangat menawan.
"Mahal gak, Bu dokter kaca matanya?" tanya Ibu gelisah memikirkan harga kaca mata.
"Nanti bisa ditanyakan di bagian optik di depan ya, Bu. Saya hanya berikan resep saja," balas dokter tersebut tersenyum sambil menulis resep.
Setelah mendapatkan resep tersebut kami pun menuju bagian penebusan obat dan bagian optik untuk memilih kaca mata Ibu. Ibu kelihatan sangat khawatir. Wanita itu memang tidak pernah mau menjadi beban untuk anaknya.
"Ibu tenang aja, Ning ada kok, uangnya." Aku mencoba melepas rasa khawatir Ibu.
Awalnya Ibu terus menolak memakai kaca mata, karena takut memberatkan isi dompetku. Namun, akhirnya ia setuju dengan memilih model kaca mata paling murah meskipun modelnya tidak terlalu bagus. Baginya yang terpenting fungsi kaca mata tersebut, bukan model frame yang mahal.
Setelah mendapat pengobatan merah di mata Ibu sedikit berkurang. Ditambah pemakaian kaca mata juga banyak membantunya untuk mengaji. Ibu memang tidak bisa membaca huruf latin. Namun, Ibu begitu pandai membaca Alquran, itu pun ia pelajari setelah tua.
Saat itu Ibu selalu mengantarku mengaji. Ternyata semangatnya untuk belajar tidak pernah pudar. Ia meminta guru mengajiku untuk mengajarinya pula membaca huruf Alquran. Ibu tidak pernah malu dan terus bersemangat untuk bisa membaca Alquran, bahkan kini Ibu lebih pandai membaca Alquran dibandingkan aku.
Ibu selalu membaca Alquran dengan merdu. Ia selalu berhasil membuatku iri akan kemampuannya yang selalu cepat belajar. Tidak seperti diri ini yang sering dilanda malas, entahlah mungkin sifat ini menurun dari Bapak.
__ADS_1
"Jadilah orang yang iri, Ning. Iri akan ilmu yang dimiliki orang lain, kalau orang lain bisa masa kita gak bisa. Ibu tidak mengapa tidak bisa membaca huruf abjad, tidak bisa membaca buku cerita. Tapi, kalau tidak bisa baca Alquran, nanti Ibu ketemu Allah gimana, Ning? Nabi Muhammad saja tidak bisa membaca, tapi dia harus bisa membaca nama Allah." Cerita Ibu saat itu masih terniang di telingaku.
Aku berharap Ibu selalu sehat, sehingga telinga ini akan selalu bisa mendengar lantunan ayat suci yang Ibu bacakan. Namun, sudah tiga hari Ibu sakit. Ada apa sebenarnya dengan Ibu?