
Sepi masih merajai. Waktu begitu lambat bergulir. Bayangan hitam masih diam-diam mengamati diri ini. Aku mencoba untuk berani seperti pohon bambu yang dengan berani terus tumbuh tinggi menembus langit. Namun, aku gagal dan melengkung patah oleh angin.
Ponsel harusnya menjadi temanku kini. Namun, sialnya dia tertinggal di tas dan tas itu tertinggal di sofa yang terletak di dalam. Di sofa itulah bayangan itu sedang duduk mengamati diri ini. Entah, ini hanya sekedar perasaan atau memang bayangan itu ada dan ingin menikamku?
Untungnya, Ibu segera kembali dan mengusir bayangan itu. Bayangan yang sejak tadi hendak menikamku diam-diam. Bayangan yang menghilang setiap kali aku menoleh untuk memergokinya.
"Ibu darimana?" sambutku saat Ibu baru saja turun dari motor Bapak.
"Ibu habis beli sayuran di pasar sama beli ini ...." Ibu menunjukkan es campur kesukaannya.
"Memangnya Ibu sudah enakan?" tanyaku penuh rasa khawatir.
"Sudah, lagian di rumah mulu bosan." Ibu tersenyum.
Ibu sangat cantik memakai jilbab kuning gading segi empat. Ditambah bros berbentuk bunga mawar putih yang merekah membuatnya semakin mempesona. Bibirnya pun kembali cerah dengan lipstik warna cokelat yang lembut.
"Alhamdulillah kalau Ibu sudah baikan."
"Ning, motormu mana?" tanya Bapak yang heran tidak melihat motorku.
"Ditinggal di sekolah, Pak. Kunci motor Ning gak tahu ada di mana. Gak tahu lupa atau jatuh," balasku datar.
"Lah, kok bisa gitu? Terus motormu di sekolah gimana? Nanti hilang!" protes Bapak.
Ya kalau hilang bukan rejeki, Pak! Lagian siapa juga yang mau lupa. Uh, laki-laki itu, kenapa selalu saja membuat darahku meninggi? Sabar, Ning ... sabar, Bapak hanya khawatir!
"Ada Pak Ganim yang jagain, Pak. Dia sudah janji mau cari kunci motor Ning, kalau gak ketemu paling motornya digotong ke rumah dia," balasku membuat Bapak menggelengkan kepala.
"Ya sudah nanti kamu cari lagi, Ning! Sekarang, kita makan es campur, yuk!" ajak Ibu.
Ibu selalu pandai menjadi penengah antara aku dan Bapak. Ia selalu tahu perasaan kami. Ibu adalah sutradara terhebat yang pernah aku temui.
Setelah selesai menyantap es campur diri ini pun pamit ke kamar dan merangkul kembali tasku. Kemudian, membuka ponsel yang sejak tadi aku abaikan. Ternyata banyak sekali pesan masuk dari Haikal.
Ya, masalahku dengannya belum selesai. Sebenarnya, diri ini sedang dilanda rasa malas dengannya. Namun, pesannya yang sangat banyak membuat rasa penasaran muncul untuk membaca semua pesannya satu-persatu.
Dari semua pesannya hanya dua yang membuatku tersentuh, yaitu kata jarak dan penyesalan. Sementara, sisanya hanya kata maaf dan kalimat tanya, apakah aku mau memaafkannya. Entah siapa yang salah, tetapi jarak memang menjadi biang keladi dari masalah seorang Ningsih dengan Haikal.
Seandainya aku tahu keputusan untuk bekerja di Bandung menjadi sumber masalah untuk kita. Aku akan memilih tinggal di Bekasi, meskipun diri ini tidak pernah tahu kapan rejeki untuk pria bernama Haikal akan datang. Aku sangat menyayangimu, Ning. Maafkan aku.
Itulah pesan yang terakhir ia kirim dan membuat diri ini sangat tersentuh. Mungkin diri ini sudah egois mendiamkannya. Mungkin alasan ponselnya yang ia katakan rusak, seharusnya masih bisa kuterima.
Kuputuskan untuk meneleponnya kembali. Tersambung dan tidak butuh waktu lama ia pun menjawabnya. Suaranya sedikit parau.
"Akhirnya, kamu nelepon aku juga, Ning. Maafkan aku ya?" ujarnya menyambutku.
"Itulah yang aku rasakan selama beberapa hari tanpa kabarmu," balasku seperti masih dendam dengan sikapnya.
Didiamkan itu tidak enak. Apalagi dengan seorang kekasih yang terakhir bertemu mengatakan ingin menikahiku. Kemudian, setelah itu menghilang tanpa kabar, sakit sekali rasanya!
"Aku minta maaf ya, Sayang. Kamu mau maafin aku 'kan? HP aku rusak, setelah diperbaiki aku langsung menghubungi kamu," balas Haikal membela diri.
"Ya sudah, tapi jangan ulangi lagi. Kita ini jauh, kuncinya hanya komunikasi yang lancar. Kalau gak, ya buat apa?" ancamku
"Iya, aku janji. Sudah ya, jangan marah. Nanti pipimu merah aku gak bisa cubit hidungmu, hehehe ...."
"Apaan si!" balasku mulai tersenyum sendiri mengingat kebiasaan Haikal yang suka selali menyubit hidungku lembut dengan tangannya saat aku merajuk.
"Pasti lagi senyum nih, hehehe ...."
"Haikal ...," teriakku di telepon.
"Iya, iya ... hehehe ... oiya, Ibu kamu gimana? Sudah membaik?" tanya Haikal teringat pesanku tentang Ibu.
"Alhamdulillah sudah baikan. Kamu kapan ke Bekasi?"
"Gak tahu nih, mungkin minggu depan. Kerjaan di kantor lagi banyak," balas Haikal membuatku diam.
Aku memang menyayangi Haikal dan tidak dapat diri ini pungkiri. Kebersamaan yang tidak sebentar dengannya membuatku sering bermimpi indah. Bahkan kami pernah merajut mimpi akan memiliki banyak anak yang membuat rumah kami pecah dengan tangis dan canda dari pasukan kecil kami.
Entah, kapan itu bisa terwujud. Ibu masih menjadi pikiranku. Berat sekali meninggalkannya di sini sendiri. Haikal pun sudah semakin nyaman bekerja di tempatnya saat ini, jadi entahlah apa yang harus aku lakukan?
Aku membaringkan tubuhku di ranjang. Bantal guling adalah teman paling setia untuk bersantai. Ah, langit-langit kamar terasa sangat tinggi untuk diri ini raih.
Kupejamkan mata sejenak. Kini bayangan kunci motor masih menjadi masalah yang harus kutemukan titik terangnya. Entah di mana ia berada sekarang?
"Pak, ketemu gak kunci saya?" tanyaku pada Pak Ganim di telepon.
"Aduh, maaf saya sampai pusing nyari gak ketemu, Bu. Saya terpaksa gotong motor Ibu berdua sama anak saya. Takut motor Ibu hilang kalau di sekolah," balas Pak Ganim di ujung telepon.
"Waduh, jadi repotin Bapak ya? Maaf ya, Pak! Makasih, ya Pak. Kalau gitu nanti saya cari kunci serepnya di rumah. Mudah-mudahan ada di tempatnya. Makasih ya, Pak."
Aku pun segera beranjak mencari kunci serep. Namun, aku ingat belum menyimpan uang tabungan anak-anak. Sehingga, tas hitam kugunakan ke sekolah menjadi tujuan utamaku terlebih dahulu.
"Ting ...." Kunci motorku tiba-tiba saja jatuh dari buku catatan tabungan.
__ADS_1
Ya ampun, jadi di sanalah kamu berada sejak tadi. Oh, kunci! Sukses rupanya kamu membuat diri ini mencoba dibonceng motor trail. Hufffhhh ....
***
Malam kembali datang. Bapak pun sudah pulang ke rumah istri mudanya. Wanita perebut madu itu selalu mendapat waktu penuh bersama Bapak.
Aku mencoba mengintip Ibu di kamarnya. Ia sedang membaca Alquran besar miliknya. Ibu selalu sadar akan kehadiranku, meskipun diri ini sudah sangat berhati-hati sekali melangkah.
"Kamu mau bicara dengan Ibu Ning?" sapa Ibu setelah mengakhiri tadarusnya.
"Ning, ganggu Ibu tidak?" balasku dan duduk di ranjangnya yang empuk oleh kapuk.
"Tidak, bicaralah kalau kamu mau bicara," ujar Ibu tersenyum dan menyimpan Alqurannya.
"Ibu pernah bilang kalau Nini melarang Ibu menikah dengan Bapak waktu itu?"
"Iya, terus?"
"Apa yang membuat Ibu yakin untuk tetap melangkah menikah dengan Bapak?"
"Ibu ingin mencintai Bapak karena Allah, Ning. Ibu yakin dia akan menjadi Bapak yang baik untuk anak-anak Ibu. Kamu lihat 'kan? Bapak mungkin bukan lagi suami yang baik untuk Ibu, tetapi sejauh ini dia masih menjadi Bapak yang baik untuk kamu dan kedua kakakmu? Meskipun, terkadang di mata kalian Bapak masih jauh dari kata sempurna. Bapak sudah banyak memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia rela bekerja tanpa lelah untuk anak-anaknya. Masalah dengan Ibu, itu perkara lain. Ini memang sudah jalan dari Allah. Allah mau Ibu mendapat surga dengan jalan ikhlas yang sangat sulit, berbagi suami dengan wanita lain. Biarlah mereka Bapak nikahi daripada Bapak liar mencintai tanpa hukum agama."
Ibu masih mampu tersenyum, sementara aku justru merasa sesak. Diri ini bahkan sering tidak menghargai kasih sayang Bapak. Namun, Ibu yang sudah berkali-kali disakiti Bapak masih bisa melihat kebaikan Bapak. Rupanya Ibu bukanlah manusia, tetapi malaikat yang dikirim Allah untuk menjadi ibuku.
Dulu aku selalu berpikir malaikat selalu bersayap dan memakai jubah putih. Namun, aku salah malaikat tidak selalu bersayap. Malaikat itu begitu dekat denganku dan tidak pernah lelah berpikir baik kepada Allah.
"Kamu kenapa? Galau sama Haikal?" tebak Ibu.
Ternyata selain baik, Ibu juga pintar. Ia bisa berperan jadi apa saja untuk anaknya. Ia bahkan bisa meramal isi hatiku kini.
"Iya, Bu. Menurut Ibu Haikal gimana?"
"Ibu bukan Nini yang bisa membaca karakter orang, Ning. Tapi, menurut Ibu Haikal menyayangimu saat ini. Ibu tidak berani mengatakan lebih, Ibu sendiri gagal menebak tentang suami Ibu. Saran Ibu percayalah kepada isi hatimu dan mintalah petunjuk Allah."
Aku memeluk Ibu. Semoga saja aku tidak salah menilai Haikal. Namun, aku butuh waktu, Bu untuk meninggalkanmu. Semoga Allah memberiku petunjuk tentang hal itu.
***
Burung telah berkicau. Mereka bertengger di batang pohon rambutan dan berkali-kali pindah. Sesekali mereka turun ke rumput untuk mengambil daun-daun kering untuk dijadikan sarang.
Aku merasa kesal pagi ini oleh Pak Ron. Tukang ojek itu tidak pernah bisa dihubungi di saat aku membutuhkannya. Sekarang entah bagaimana diri ini ke sekolah?
"Masih menunggu Pak Ron, Ning?" tanya Ibu berdiri di sampingku sambil menatap lurus ke jalan.
"Ibu coba lihat ya?" tanya Ibu dan langsung kusetujui.
Namun, sebelum kaki Ibu melangkah. Umar tiba-tiba saja datang. Suara motornya yang berisik selalu membuatku tahu pengendara motor itu adalah Umar.
Hatiku diselimuti tanya. Untuk apa ia ke rumahku? Laki-laki itu pun turun dari motornya dan membuka helmnya.
Dengan santun ia mengucapkan salam serta mencium tangan Ibu dan memperkenalkan dirinya. Oh, manis sekali laki-laki ini! Ibu tersenyum membalas salamnya.
"Bu Ning, bareng ya? Bingung 'kan mau ke sekolah naik apa?" tanya Umar seakan tahu isi pikiranku pagi ini.
"Naik motor trail lagi?" balasku menatap si hijau.
"Yang penting sampai dengan selamat, gimana?" balas Umar menaikkan alisnya sebelah.
"Sudah, sana!" Ibu menyikutku pelan. "Titip, Ning ya, Umar!" Ibu menatap Umar.
Aku pun menurut. Baiklah, aku harus menaikkan rokku dan kembali memegang pundak Umar yang tegap. Sementara, laki-laki itu aku tahu jelas sedang tersenyum sendiri memegang setang motornya.
"Ning, berangkat ya, Bu?" ujarku setelah Umar menyalakan mesin motornya yang cempreng.
***
Tibanya di sekolah aku harus bersiap menghadapi pandangan sinis Bu Rina. Ah, lagi-lagi wanita itu! Bahkan kali ini dia dengan berani menghampiriku.
Bu Rina tampak tergesa-gesa menghampiriku. Seperti singa betina yang melihat musuhnya. Ia dengan cepat berlari hendak menerkam. Entah apa yang mau ia katakan, bersiaplah, Ning!
"Ibu kok, bisa bareng sama Umar? Maksud saya Pak Umar!" Bu Rina menatapku dengan mata kucing.
Habislah kau Ning! Wanita ini sepertinya sangat mengidolakan Umar. Mungkin ia sudah sangat siap ke pelaminan, jika calonnya adalah Umar.
"Kemarin saya lupa meletakkan kunci motor saya. Jadi, Pak Umar menolong saya mengantar dan menjemput saya," balasku.
"Jadi?" sahut Bu Rina.
"Maaf ya, Bu saya mau ke kelas. Ada yang harus saya persiapkan. Pak Umar mungkin bisa membantu menjelaskan. Permisi!" balasku tidak mau pusing.
Kemudian, aku pun meninggalkan Bu Rina dengan Umar. Biarkan saja laki-laki itu yang akan menghadapi penggemarnya itu. Biar saja ....
***
Pagi ini seperti biasa dapur Ibu selalu mengebul. Dapur yang hangat mampu mengusir rasa dingin dari udara luar yang sedang mendung. Kodok bernyanyi tanpa henti untuk memanggil hujan.
__ADS_1
Suara nyanyian kodok sangat beragam. Mungkin bak paduan suara, mereka pun punya tugas masing-masing. Ada yang menjadi suara pertama dan kedua. Ada pula yang memiliki suara minor dan bas.
Kodok-kodok itu selalu berhasil membuatku tertawa. Pasti perut mereka sedang kembang-kempis memainkan melodi. Diri ini pun diam-diam selalu menikmati persembahan mini konser mereka.
Jika hujan turun dengan deras dan lama para kodok pasti akan ribut seharian. Mungkin pesta sedang dimulai. Kaki-kaki ceper mereka akan lihai berenang di genangan air.
Aku tersenyum sendiri, aku sedang asyik membayangkan pasukan kodok berperut buncit sedang mandi genangan air di tanah merah. Sementara, Ibu masih sibuk dengan kukusannya yang mengebul. Lalu, wanita itu pun menuang air panas di cangkir berisi kopi hitam.
Semerbak wangi kopi pun memenuhi udara. Menusuk dan menggoda hidungku. Tidak biasanya Ibu membuat kopi. Untuk siapa?
"Ibu tumben minum kopi?" selidikku melihat Ibu menyeruput kopi hitam yang masih mengebul.
"Lagi pengen aja, Ning," balas Ibu.
Ibu, kemudian meletakkan gelas kopinya begitu saja di meja kecil, tempat biasa Ibu meletakkan masakannya. Wajah Ibu mendadak pucat. Suaranya parau, keringat mulai menetes dari keningnya.
Ibu, lalu merintih dan memegang dadanya. Kemudian, bergantian memegang pundaknya. Kepalanya berkali-kali ia goyangkan ke kanan dan ke kiri seperti merasa ada beban sangat berat di kepalanya.
"Ning, badan Ibu gak enak lagi. Tolong panggil Pak Saman ya!" pekik Ibu sambil merintih.
Hah? Apa? Laki-laki itu lagi? Kenapa harus laki-laki itu yang kujumpai sepagi ini?
Aku mencoba menolak, tetapi saat melihat wajah Ibu yang menahan sakit, diri ini tidak tega. Dengan tergesa-gesa aku pun mengeluarkan motor dan membiarkan tubuhku basah oleh gerimis yang mulai turun. Baiklah, semoga ini yang terakhir diri ini memanggil Pak Saman.
"Kenapa lagi, Ning?" tanya Pak Saman mulai hafal namaku.
Laki-laki itu sedang duduk di bale depan rumahnya. Ia hendak menikmati singkong rebus yang masih mengebul. Di sampingnya ada pula kopi susu yang sudah ia minum setengah.
"Tolong Ibu saya, Pak! Ibu sakit lagi," jawabku.
"Aduh, bentar! Saya ganti sarung dulu!" balas Pak Saman bergegas ke kamarnya.
Laki-laki itu memang masih memakai kain sarung. Mungkin selepas salat subuh tadi, ia belum ingin menggantinya. Selang beberapa menit kemudian, Pak Saman kembali dengan celana panjang hitam dan topi koboinya.
"Ayuk, buru!" pinta Pak Saman setelah naik di motorku.
Aku pun menurut dan melajukan motor dengan hati-hati. Sampainya di rumah Ibu sedang duduk di sofa. Ia masih memegang dadanya. Sementara, bajunya sudah basah oleh keringat.
Seperti biasa, Pak Saman kembali meminta air di gelas. Tentu saja, diri ini hanya menurut bak robot. Lalu, ia kembali membaca doa yang tidak akan bisa aku hafal, meskipun ini bukan yang pertama kali kudengar.
Ibu berteriak histeris. Suaranya mulai berubah, bukan seperti suara Ibu. Suaranya sangat lantang memekik pendengaran. Mata Ibu tidak teduh, matanya penuh kebencian dan hendak menikam siapa saja yang ia lihat.
Aku merasa sangat takut. Untungnya Pak Saman tidak mau kalah. Ia terus menekan pundak dan tulang belakang Ibu dengan sangat kencang. Sehingga, Ibu berteriak kesakitan.
"SAKIT ...."
"Udah jangan gangguin mulu! PERGI! ATAU SAYA USIR! SAYA BAKAR KAMU, MAU?" balas Pak Saman tidak mau kalah.
"SAKIT ...." Hanya satu kata yang Ibu ucapkan.
Aku merasa begitu gamang antara sedih dan takut. Aku tahu itu bukan Ibu, tetapi aku tahu itu raga Ibu. Sudah, kumohon pergilah! Jangan ganggu Ibuku!
"MAU PERGI GAK SIH? SAYA BAKAR YA!" Pak Saman mengambil korek dari sakunya dan menyalakan korek tersebut, sehingga keluar api.
Laki-laki itu mau berbuat apa? Apa dia akan membakar Ibu? Tidak! Semoga saja ini hanya ancaman.
"PANAS! Iya saya keluar!" ucap Ibu.
Ibu lalu terjatuh dari duduknya. Pak Saman, lalu mencoba menyadarkan Ibu. Sementara aku berusaha menopang tubuhnya yang lemah.
"Ning, badan Ibu sakit ...." Ibu membuka matanya.
Wajah Ibu sangat pucat. Matanya sayu, sementara tangannya terus memegang badannya yang tadi ditekan Pak Saman.
Pasti sangat sakit ya, Bu? Aku merasa serba salah. Diri ini tidak bisa menyalahkan Pak Saman, karena ia berbuat seperti itu untuk menolong Ibu. Namun, melihat Ibu hatiku sangat teriris.
"Ning, kasih minum Ibu kamu!" pinta Pak Saman memberikan air yang telah ia bacakan doa.
"Rumah ini harus diberi pagar," saran Pak Saman.
"Rumah ini sudah dipagar, Pak?" heranku mengingat pagar bambu yan mengelilingi rumahku.
"Bukan pagar bambu macam di depan rumahmu, Ning. Pagar rumah yang tidak terlihat. Pagar yang bisa menghalau makhluk jahat," jelas Pak Saman.
"Bagaimana caranya, Pak?" bingungku.
"Bapak tidak bisa melakukannya, Ning. Bicarakan dengan Bapakmu, Ning. Dia yang bisa menemukan jalannya."
"Maksud Bapak?"
Pak Saman hanya diam. Lalu, meminta izin pulang dan mengabaikan pertanyaanku. Kini, rasa bingung menyelimutiku. Apa maksud kata-kata Pak Saman tadi?
Bale\= bangku besar yang mirip seperti meja yang umum digunakan masyarakat Betawi untuk duduk berkumpul, makan bersama, atau sekedar tidur-tiduran, bersantai.
Buru\= cepat
__ADS_1