Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?

Bayangan Hitam Itu (Bukan)Arwah Ibuku?
part 14


__ADS_3

Aku mencoba melangkah, tetapi jembatan yang bergoyang membuat jantung kembali tidak stabil bak pacuan kuda penuh cambuk. Sementara, air sungai masih fokus memandangi wajah gugupku. Mata ini pun berkali-kali terpejam dan terbelak dengan paksa.


Umar kembali menatapku. Senyumnya kembali merekah. Ia yang semula telah hendak melangkah ikut urung melihatku.


"Apa perlu saya gandeng tanganmu? Sehingga kamu percaya saya tidak akan meninggalkanmu?" Umar begitu dekat denganku sekarang, hanya berjarak kurang dari satu langkah.


Deg ... tatapannya membuat diri ini salah tingkah. Bahkan, saking kikuknya aku mundur selangkah darinya. Wajahnya memang tampan dan diri ini semakin menyadari itu.


"Fokus lihat ke depan abaikan sungai yang mengalir di bawah, fokus hanya ke satu arah depanmu!" tambah Umar dan setia menungguku melangkah.


Ayolah, Ning! Ini hanya sebuah jembatan yang sedikit bergoyang dan cukup tinggi! Baik ... tarik napas, lalu jalan! Kamu pasti bisa!


Akhirnya, kaki ini pun berani melangkah. Langkah demi langkah hati ini mencoba berani dan tetap berpegangan erat pada sisi jembatan. Sementara, Umar masih setia dengan tenang melangkah di sampingku.


Setelah cukup lama, akhirnya sampai juga diri ini di ujung jembatan. Keringat dingin yang sejak tadi menetes, telah berhasil membuat kuyup bajuku. Mungkin saja, jika tidak tertahan oleh jilbab segi empat warna biru laut yang senada dengan warna bajuku, keringat dari kening ini sudah terjun bebas ke sungai. Sayangnya, ia telah lebih dulu meresap, sehingga tidak mempunyai daya untuk melakukannya.


"Ibu, kenapa?" tanya Bu Rina menatapku tajam.


Habislah aku! Wanita itu pasti sedang cemburu berat, karena Umar telah menjadi pengawal setiaku di jembatan. Baik, tenang, Ning! Tenang ....


"Gak, apa-apa, Bu," balasku membuang pandangan dan bersikap seolah biasa saja.


"Saya permisi dulu, ya!" ujar Umar meninggalkan Bu Rina yang masih terpaku menatap Umar.


Laki-laki itu justru memilih untuk meninggalkan peggemar beratnya. Kini, ia telah sibuk dengan pengeras suara corong "toa". Kemudian, ia dengan lantang bersuara.


"Perhatian semuanya ... sekarang, kita istirahat dulu di sini, ya. Lima belas menit lagi kita kembali ke sekolah!"


Diri ini pun ikut meninggalkan Bu Rina yang masih ingin menginterogasi. Terserahlah, kamu akan menganggapku apa! Otakku hanya penuh dengan jembatan gantung yang sedang menunggu untuk kembali kusebrangi. Hufh ....


Aku mencoba melupakan jembatan gantung bercat hijau. Biarlah ia masih setia mentertawai diri ini. Kini, hamparan sawah yang masih hijau tengah membentang menyambutku.


Desir angin perlahan merayu. Menggoyangkan padi yang belum terisi. Karpet hijau begitu meneduhkan mata. Kemudian aliran air irigasi gemericik mengisi sela-sela aliran sawah.


Sungguh indah permadani-Mu Tuhan. Sembah syukur bertasbih dalam setiap napas yang berhembus. Andai, aku kuasa menjadikan langit atapku ingin sekali kuberbaring di permadani hijaumu sambil mengagumi.


Suara gelak tawa malaikat kecil pecah. Mereka adalah malaikat yang menyamar dalam seragam sekolah. Aku beruntung bersama mereka yang selalu berhasil membuatku tersenyum. Namun, tidak jarang mereka sering kali membuatku menahan kesal.


"Kamu masih punya sawah, Sep?" tanyaku kepada Asep yang sedang melipat tangan di dada.


Sementara kedua bola mata anak itu masih setia menatap dua pasang merpati yang melintas di udara. Merpati tersebut berwarna cokelat tanah, sayap mereka membentang lebar bak peswat terbang. Diam-diam aku pun menjadi ikut mengamati sang merpati.


Kini, mereka bertengger di atas pohon. Mungkin kini, merekalah yang sedang mengamatiku dan Asep. Namun, aku pun masih asyik mengamati mereka.


Salah satu merpati asyik memainkan paruhnya di leher sang kekasih. Mungkin itu adalah bentuk rasa manja atau rasa perhatian. Entahlah, aku masih mempelajari untuk menebak bahasa merpati.


"Masih, Bu. Emang, Ibu gak punya?" jawab Asep setelah puas mengamati merpati.


"Saya gak punya, Sep. Dulu, Nini saya punya, tapi udah dijual sewaktu saya masih kecil," balasku kembali menatap sawah.


"Oh, Asep gak tahu, Bu," balas Asep polos.


Aku tersenyum memandang Asep. Kemudian, anak laki-laki itu pun balik tersenyum memperlihatkan warna merah di sela gigi Asep. Aku pun tertawa ringan melihat potongan cabai masih menempel di gigi anak muridku tersebut.


Asep merasa heran senyum tulusnya justru kubalas berlebihan dengan tawa ringan. Akhirnya, jari telunjuk ini pun bergerak memberi kode bahwa sang cabai tengah melambai centil kepadaku.


"Bu, kita jalan lagi, ya?" Umar mendekatiku dan bertanya dengan lembut.


"Iya, Pak," balasku pasrah.


Entah, mengapa diri ini merasa Umar sangat memperhatikan diriku. Entahlah, aku tidak mau berpikir lebih. Diri ini tidak ingin membiarkan semu merasuk dan menguasai alam bawah sadar akan hal yang belum pasti.


Umar telah menjauh, laki-laki itu kini telah memberi aba-aba agar kami kembali membuat barisan. Suara riuh anak-anak kembali pecah. Seperti biasa, selalu ada tingkah anak yang membuat gaduh. Namun, sebenarnya itu hanyalah sebuah upaya dari seorang anak yang ingin diperhatikan.


Entah, karena ingin mendapat pengakuan untuk eksis atau sedang mencuri perhatian teman lawan jenisnya. Namun, seorang guru akan dengan mudah mengatasi semua riuh yang tercipta. Terkadang, memang ancaman akan mencatat nama sang anak selalu berhasil membuat mereka diam. Padahal, kami sendiri belum tentu siap mencatat nama mereka.


Derap langkah kembali terdengar. Begitu pula dengan detak jantungku yang kembali berpacu. Namun, kali ini diri ini tidak mau menjadi pecundang dan membuat Bu Rina melotot kepadaku. Sehingga, diri ini pun menguatkan tekad untuk mampu melangkah.


Aku melihat Umar menengok kepadaku. Ia kembali tersenyum, tetapi senyuman itu justru ditangkap Bu Rina. Sehingga Umar kembali menatap ke depan.


Suara nyanyian kembali menggema. Tentu saja, Umar dalang dari keributan massal ini. Namun, suara itu telah membuat semangat kami tetap tinggi. Lelah seakan pudar yang ada hanya ambisi untuk segera sampai ke sekolah.


Setibanya di sekolah, para siswa langsung berhamburan ke kelas masing-masing setelah diberikan izin oleh Umar. Aku merasa hari ini memang milik laki-laki itu. Bagaimana tidak, ini semua adalah idenya dan dialah yang memiliki kuasa dari kepala sekolah yang berhalangan hadir.


Berkat ini semua, impian Umar akhirnya terwujud. Laki-laki itu pernah mengajakku ke jembatan gantung tersebut dan ia berhasil mewujudkannya. Meskipun, dengan membawa pasukan satu sekolah.


"Bu Ning, masih sama yang dulu?" tanya Pak Ron mendekatiku yang baru saja selesai meneguk air.


Wajah Pak Ron mendadak sangat menyebalkan. Meskipun, ia memang sering menyebalkan. Namun, tidak biasanya ia menjadi ingin tahu tentang urusan pribadiku.


"Gak tahu, Pak. Masih abu-abu," balasku asal.


"Lah, itu ada yang putih di depan mata. Tinggal senyumin aja," balas Pak Ron, lalu menunjuk Umar dengan monyong mulutnya.


"Udah ada yang ngincar, Pak," jawabku melirik ke Bu Rina.

__ADS_1


"Hahaha baru ngincar belum tentu dapat. Udah, sikat aja!"


"Bersih, dong! Hahahah ...." Tawaku pecah disusul tawa Pak Ron.


Di sekolah, diri ini memang paling dekat dengan Pak Ron. Aku merasa hanya Pak Ron yang selalu setia mendengar keluhanku. Hanya Pak Ron pula yang selalu asyik untuk diajak bicara santai tanpa beban dan diajak bicara serius dengan canda.


***


Haikal kembali menghubungi. Sebuah pesan suara kini mendarat di ponselku. Semula aku mengacuhkannya, tetapi rasa penasaran selalu mendorong untuk ingin tahu.


Ternyata pesan suara tersebut merupakan rekaman lagu Janji Suci milik Kahitnya yang Haikal nyanyikan. Seharusnya aku merasa senang. Seharusnya ....


Hatiku tiba-tiba membeku meresapi lirik lagu tersebut. Terasa pilu sendiri. Seandainya saja tidak ada wanita yang memanggilku 'Ibu' di ujung sana.


Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu, dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur


'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Entah, siapa yang sedang bersandiwara? Namun, rasa mengganjal tiba-tiba menyumbat ulu hati. Aku seperti terjebak di tengah jalan yang ditumbuhi semak belukar, sehingga tidak tahu ke mana harus melangkah.


"Ning, kamu lagi belajar?" sapa Ibu memecah kesunyian.


Kamarku yang teduh ikut menyambut Ibu. Gorden kuning gading yang menjuntai di jendela bergoyang disentuh kipas angin. Ibu melangkah masuk dan duduk di ranjangku. Selalu ranjang itulah yang menjadi tempat favoritnya.


"Cuma baca-baca aja, Bu. Ada apa?" balasku.


"Enggak, Ibu cuma mau melihat kamu saja. Teruslah belajar, Ning! Namun, tetaplah merendah untuk menjadi tinggi!" ujar Ibu.


"Iya, Bu. Ning akan selalu ingat perkataan Ibu."


"Ning, jilbab pesanan Ibu lama banget ya," keluh Ibu.


"Ibu 'kan baru pesan kemarin. Sabar aja."


Ibu, lalu diam. Wajahnya tampak lesu. Matanya menerawang, entah memikirkan apa. Kemudian, senyumnya mengembang, tetapi tampak aneh.


"Ibu mau ke mana?" ucapku heran melihat Ibu hendak beranjak.


Namun, Ibu hanya diam dan meninggalkanku. Apa Ibu tidak mendengar pertanyaanku? Ibu terus melangkah menghilang dalam ruang rumah yang sepi.


***


Minggu selalu membawa harapan bagi Ibu. Senyum Ibu tidak berhenti mengembang semenjak A Iwan menelepon akan datang bersama Teh Nia. Sepertinya, rindu sedang merajai hati Ibu.


"Nia, akhirnya kamu main juga. Ibu senang banget!" ujar Ibu menyambut Teh Nia yang baru datang.


Teh Nia terlihat sangat cantik. Perutnya terlihat membuncit. Sweater rajut hijau toska masih memeluk erat pundaknya.


Teh Nia mencium punggung jemari Ibu. Namun, wajahnya terlihat sangat risih. Bahkan, masker kain polos berwarna merah jambu belum bersedia ia lepaskan.


"Iya, Bu," balas Teh Nia dengan nada malas.


"Teh, Ning sudah siapin rujakan. Nanti kita ngerujak ya?" ucapku mendekat ke Teh Nia.


"Iya, makasih, De," jawab Teh Nia.


"Nia, kita makan dulu, yuk! Ibu buatin makanan kesukaan kamu," ajak Ibu merangkul lengan Teh Nia.


"Makasih, Bu."


"Hayuk, sini duduk! Ibu siapin makanan dulu ya. Ning, ayuk bantu Ibu!" pinta Ibu.


Aku pun bergegas membantu Ibu di dapur. Tidak lama, Teh Nia datang menghampiri dan mengatakan keinginannya untuk ke kamar mandi. Aku pun dengan senang hati membantunya.


Wajah Teh Nia tampak risih keluar dari dalam bilik kamar mandi. Tanpa banyak bicara ia pun melangkah menghampiri A Iwan, suaminya. Terdengar mereka berbisik membicarakan sesuatu.


"Ayok, Nia makan dulu!" ujar Ibu memberikan piring dan sendok kosong ke Teh Nia.


"Iya, Bu. Nia belum mau makan, Bu. Masih mual," balas Teh Nia menolak piring yang disodorkan Ibu.

__ADS_1


Wajah Ibu berubah. Senyumnya kuncup. Gurat kecewa terpancar jelas dari matanya.


"Oh, ya udah, gak apa-apa," balas Ibu pelan.


"A, kita pulang, yuk!" pinta Teh Nia kepada A Iwan.


"Sebentar, De kita kan baru sampai." A Iwan merayu.


"Kok, pulang, Nia?" balas Ibu.


"Iya, Teh. Kok, pulang?" sahutku.


Namun, Teh Nia hanya terdiam dan bersembunyi di balik maskernya. Sementara, A Iwan terlihat menarik napas panjang dan gelagatnya mulai ikutan aneh. Apakah ia akan menuruti permintaan istrinya?


"Bu, maaf ya, Iwan dan Nia gak bisa lama." A Iwan menarik jemari tangan Ibu untuk ia cium.


"Kamu 'kan baru nyampe, Wan. Setidaknya makan dulu?" balas Ibu.


"Iya, Bu. Maaf, ya." A Iwan dan Teh Nia beranjak dan dengan wajah dingin meninggalkan kami.


Ibu hanya diam. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyumnya kosong. Aku tahu hati Ibu terluka, kini tatapannya lesu memandang masakannya yang tidak terjamah.


"Bu?" ucapku memandang Ibu sendu.


"Ayuk, kamu makan!" Ibu mencoba menutupi kesedihannya.


Kini, piring keramik warna putih ia berikan kepadaku. Piring yang tadi telah ditolak Teh Nia sekarang menjadi milik diri ini. Kemudian, satu centong nasi telah memenuhi piringku.


Sementara, Ibu hanya menyendok sedikit nasi. Ia mencoba menelan nasi yang banjir dengan kuah sayur asam. Pikiran Ibu masih mengapung dalam resah.


Selesai makan aku kembali ke kamar, tentu setelah membantu Ibu membereskan semua piring dan masakannya. Setelah dua jam berlalu, aku mencoba menghubungi A Iwan. Rasa penasaran masih mengusik untuk mencari tahu.


"Halo, De?" jawab A Iwan di ujung telepon.


"Aa kenapa tadi buru-buru pulang?" ujarku tanpa basa-basi.


"Teh Nia mual, De. Dia juga gak nyaman dengan WC jongkok."


Jadi, karena itu mereka ingin segera pergi dari rumah Ibu? Kamar mandi kami memang masih sederhana, tetapi apakah benar-benar membuat mereka risih? Apakah hamil membuat alasan mengabaikan orang tua menjadi benar?


Aku pun membiarkan A Iwan menutup teleponnya dengan tergesa-gesa. Aku sendiri pun sudah kehilangan selera untuk melanjutkan pembicaraan dengannya. Biarlah, ia pergi dengan keegoisannya.


Sesak akhirnya mendorongku untuk menghampiri Ibu. Dia sedang asyik menonton televisi. Wajahnya sudah tidak muram lagi akibat guyonan lucu dari pelawak favoritnya.


"Kamu kenapa?" tanya Ibu membuang pandangannya dari televisi dan menatapku yang mendekat.


"Sebel sama A Iwan dan Teh Nia!" gumamku.


"Gak usah gitu, Teteh kamu 'kan lagi hamil, jadi wajar dia lebih sensitif."


"Tapi, setidaknya mereka menghargai susah payah Ibu memasak dan menyiapkan kedatangan mereka," balasku tidak terima.


"Sudah, jangan menjadi orang yang mudah tersinggung! Memaafkan lebih baik, Ning! Mereka juga pasti tidak bermaksud menyakiti kita. Ning, dengarkan Ibu, siapa pun boleh menyakiti hati kita, tetapi kita harus punya hati yang siap untuk memaafkan. Jangan pernah kamu lupa itu, Ning!" Ibu menatapku.


Tatapan mata Ibu bulat, pandangannya tegas. Aku menunduk merasa malu, Ibu terlalu hebat untuk kutentang. Semoga saja aku bisa sepertimu, Bu!


"Iya, Bu. Ning akan berusaha."


"Berjanjilah, Ning kamu akan selalu berusaha dan mengingat ini selalu!" Ibu masih belum mengalihkan pandangannya.


"Insyaa Allah, Bu," balasku membuat Ibu akhirnya tersenyum.


Kini, Ibu kembali fokus menatap layar televisi. Namun, ia mendadak mematung. Tangan kanan Ibu tiba-tiba memeluk dadanya. Wajanya pucat, keringat menetes perlahan.


"Ning, Ibu istirahat dulu, ya!" pamit Ibu.


Aku merasa ada yang aneh. Namun, diri ini tidak berani menebak. Kini, aku justru menggantikan posisi Ibu menonton televisi dan larut dalam canda yang dibuat sang pelawak.


***


Waktu terus berlalu, tetapi hubunganku dengan Haikal masih menjadi tanda tanya. Sebenarnya bukan karena Haikal berhenti menghubungi, tetapi keyakinan terhadapnya belum juga kembali. Sulit bagiku membuang bayang suara wanita itu. Wanita yang muncul tiba-tiba dan membuat perasaan ini menjadi kacau.


Ramadhan mulai mendekat dan Ibu sudah ribut untuk minta diantar ke makam Nini dan Aki. Aku baru menyanggupi permintaannya, bukan karena tidak mau, tetapi tugas sekolah yang menumpuk membuat diri ini baru sempat mengantarnya. Saat diri ini mengatakan kesanggupanku, Ibu langsung menyiapkan bunga yang ia petik dari halaman rumah untuk ia taburkan di makam.


Di depan makam, Ibu hanya terdiam. Cukup lama ia terdiam sampai akhirnya surah Al-Fatihah mengalun indah dari mulut Ibu. Namun, setelah selesai ia kembali terdiam menatap kuburan.


"Bu, ayuk kita pulang?" ajakku.


Ibu mengusap lembut batu nisan yang bertuliskan nama Nini. Setelah itu bergantian mengusap batu nisan Aki. Kuburan mereka saling berdekatan, sehingga memudahkan Ibu saat ziarah.


"Ayuk, Ning!" balas Ibu merangkul lenganku.


Langkah Ibu memang beranjak menjauh. Namun, matanya masih mencuri pandang ke kuburan tersebut. Bunga kamboja pun bergoyang, beberapa bahkan jatuh ke tanah. Kelopak bunganya yang berwarna putih dengan garis tengah kuning sesekali menyebarkan wangi khasnya.


Inilah tempat peristirahatan sejati. Aku selalu menyadari itu. Entah kapan diri ini akan kembali, semua hanya menunggu waktu. Kuharap diri ini bisa seperti Aki dan Nini selalu bersama sampai maut memisahkan.

__ADS_1


__ADS_2