
Bayangan Hitam itu (Bukan) Arwah Ibuku?
Oleh: Fitria Handayani
Arwah_Ibu_Part13
Pagi menjemput, sementara gelisah masih mengembang bak balon udara yang hanya menunggu waktu untuk meletus. Waktu terasa sangat lambat. Namun, kenyataannya ia telah bergulir sangat cepat.
Enggan telah bersarang dalam hati. Sialnya semua, karena makhluk yang semula kuanggap sempurna. Namun, kini diam-diam menghancurkan dinding kepercayaanku.
Semula, kupikir kami adalah insan yang sedang dimabuk rasa cinta. Akan tetap menyatu, meskipun raga menjauh.Ternyata, aku salah! Kurasa jarak telah membumihanguskan rasa itu, sehingga semua hancur dengan mudah.
"Kamu belum berangkat, Ning?" tanya Ibu berdiri di depan pintu kamarku.
Ibu hanya membuka sedikit pintu dan membiarkan kepalanya saja yang masuk mengintipku. Diri ini masih lesu, tetapi aku ingat betul wajah penuh semangat menungguku di kelas. Wajah mereka selalu membayangi, sehingga begitu berdosa rasanya, jika meninggalkan mereka hanya karena ego.
"Iya, Bu sebentar lagi," balasku pura-pura menata isi tas.
Ibu, lalu masuk dan membiarkan pintu merasa merdeka. Ribuan udara, kemudian berebut masuk mengisi kamarku. Ruangan inilah yang selalu menjadi peraduan seorang Ningsih.
Kamar berukuran 4 m x 5 m ini memiliki warna ungu lavender. Dindingnya dipenuhi pula stiker bunga berwarna hitam yang sengaja kutempel. Sementara, warna cokelat kayu mendominasi furniture.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu duduk di kasurku seakan tahu isi dalam otak anaknya.
"Gak, apa-apa, Bu," kilahku.
"Hubunganmu gimana sama Haikal? Sudah lama kamu tidak bercerita tentangnya?"
Jleb, pertanyaan Ibu seakan menancap tepat di ujung jantungku. Laki-laki itu, masih menjadi tanda tanya yang sulit kuuraikan. Bahkan sampai detik ini ia bagaikan tenggelam, tidak ada kabar sama sekali. Mungkin inilah maunya membiarkan diri ini percaya selingkuh adalah pilihannya.
"Baik, Bu," balasku menutupi semua.
"Ning, Ibu bermimpi bisa melihatmu melangkah ke pelaminan. Kamu pasti sangat cantik. Ibu berharap siapa pun jodohmu kelak, kamu akan tetap di sini, menjaga Bapakmu." Ibu menepuk pundakku lembut sambil tersenyum.
Kupandang wajah Ibu. Ia masih tersenyum. Sementara, aku justru tenggelam dalam resah yang menjadi. Apa maksud perkataan Ibu? Apa Ibu sudah tahu mengenai Haikal?
"Sudah, cepat sana berangkat! Sudah siang, nanti telat," tambah Ibu.
Ibu beranjak dari kamarku. Kemudian, meninggalkanku dalam sepi. Hanya suara jam dinding yang berdetak disahuti suara ayam yang berkokok di luar.
***
"Assalamualaikum, Bu." Pak Kanto, kepala sekolah meyapaku.
Laki-laki itu selalu rapi menggunakan seragamnya. Sabuk hitam selalu kencang melingkar di pinggangnya. Sementara, rambut dan kumisnya yang lebat selalu klimis. Senyumnya pun tidak pernah pudar di antara ketegasannya bersikap.
"Waalaikum salam," balasku sambil sedikit menundukkan kepala dan membiarkan si putih meneduh di bawah pohon jambu.
"Bu, nanti sepulang sekolah kita rapat ya. Ada yang mau saya bicarakan mengenai pembelajaran."
"Baik, Pak," setujuku dan membuatnya tidak lama berlalu.
Laki-laki itu kini pergi membawa tas kotaknya yang ia jinjing. Terlihat cukup berat, sehingga ia enggan mengalungkan tas tersebut di pundak.
Langkahku pun mendorong untuk menghampiri Asep di lapangan. Anak tersebut sedang asyik menggoda teman perempuannya, Mela. Anak perempuan bertubuh tinggi, kulit putih, dan sangat kemayu tersebut terlihat hampir menangis dibuat Asep.
Mela terus berlari mengejar Asep dan sesekali menghentakkan kakinya dengan teriakan memaki. Suaranya hampir habis serak menahan tangis, tetapi langkahnya masih setia mengikuti Asep, meskipun sudah lelah tampaknya. Kemudian, akhirnya anak perempuan tersebut jatuh lesu di lapangan karena lelah mengejar.
Wajahnya memerah senada dengan warna roknya yang tanggung sebetis dan kini bermandi debu. Hujan mulai jarang datang, sehingga debu mulai berkumpul dibawa angin. Kemarau sudah mengabarkan kedatangannya entah akan berapa lama ia akan singgah.
Asep merasa menjadi pemenang. Gantungan boneka berbentuk beruanglah yang sejak tadi menjadi magnet Mela untuk mengejar Asep. Anak laki-laki tersebut sedang berkacak pinggang di atas tumpukan batu bata yang tersusun rapi ke atas.
"Jangan suka nyakitin perempuan, meskipun hanya bercanda, Sep!" Umar tiba-tiba datang merebut sang beruang dari tangan Asep.
Asep mendadak bungkam. Begitu pun dengan langkahku yang hampir dekat dengan Asep. Mendadak aku mematung, laki-laki itu tampak berbeda. Ia tidak lagi menggunakan baju jersei dan celana training.
Seragam korpri bercorak biru telah membungkus dadanya yang bidang. Ia terlihat jauh lebih menawan, mungkin karena terlihat berbeda saja dari penampilan biasanya. Meskipun, memang tidak dapat kupungkiri ia memang tampan.
"Maaf, Pak," balas Asep bersalah.
"Minta maafnya jangan ke saya, ke Mela. Nih, kembalikan!" Umar memberikan gantungan beruang tersebut ke Asep.
Wajah Umar tampak sangat tegas, sehingga dengan cepat Asep pun menurut. Dengan malu-malu anak laki-laki itu pun menghampiri anak perempuan yang masih tertunduk lesu. Kini, aku telah membantu Mela berdiri, meskipun diam-diam masih memperhatikan ekspresi Umar.
"Maaf ya, Mel. Nih, gantungannya." Asep tampak canggung.
Mela dengan senang hati menerima gantungan beruangnya kembali. Meskipun, ekspresi kesal belum bisa ia sembunyikan. Namun, usapan lembutku di pundak Mela mampu meredamkan amarahnya untuk menyambut jemari Asep.
"Ya sudah, kalian ke kelas ya, sebentar lagi masuk!" pintaku dan langsung disetujui Asep dan Mela.
"Pasti Ibu mau bilang kalau saya kelihatan lebih ganteng?" bisik Umar mendekat dan membuatku melotot.
"Ish, geer!" balasku.
"Hahahahha ... Ibu lucu kalau begitu." Umar menatapku.
Tatapannya tepat bertemu dengan mataku. Aku pun salah tingkah dan membuang pandangan. Laki-laki itu membuatku menjadi macam anak kecil yang ketahuan asyik mengunyah permen, meskipun dilarang.
"Bapak tumben pakai baju seragam? Mmm ... terima kasih sudah memberi nasehat yang baik untuk Asep," ujarku mengalihkan.
"Saya di WA sama kepala sekolah disuruh pakai seragam hari ini hahahahha .... Iya, Bu sama-sama itu kata Ibu saya hahahahah. Jangan pernah menyakiti hati perempuan katanya. Kata-katanya sampai nempel banget di otak, padahal saya yang udah disakitin perempuan," balas Umar penuh senyum.
"Disakitin? Halah, mana mungkin cowok tampan macam Pak Umar disakitin, biasanya cowok tampan sukanya nyakitin."
"Akhirnya, ngakuin juga saya tampan hahahaha ...."
Haduh, salah ngomong! Ya sudahlah, terserah! Acuhkan, Ning! Acuhkan!
"Ya, masa cantik," balasku memainkan mata menghindar dari tatapannya.
"Alhamdulillah, biarin deh hehehe .... Saya memang disakitin, Bu. Wanita yang saya pacari dari SMA justru selingkuh setelah ia memutuskan kuliah di Jogya. Awalnya kami memutuskan untuk kuliah bareng, tapi saya berubah pikiran dan kami menjalani hubungan jarak jauh. Ternyata dia tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh dan selingkuh. Semenjak itu, saya asyik dengan diri saya sendiri."
Tatapan Umar kini kosong. Pandangannya jauh ke depan. Kemudian, memandang awan yang berkumpul seperti gumpalan kapas sangat besar.
"Traumakah?" Mendadak kata itu terlitas dalam benakku.
"Hahaha ... tidak, hanya belum menemukan yang pas saja dengan hati dan saya terlalu asyik dengan dunia sendiri. Seperti sekarang, saya sedang menyukai motor trail,"
Mendadak aku kembali teringat Haikal. Wajahnya masih selalu terbayang di kedua mata ini. Senyumnya yang hangat masih terukir di otak. Seandainya saja ia tahu, betapa sakit dikhianati ....
"Saya permisi ya, Pak," pamitku melangkah sendiri.
Sekolah semakin ramai. Suara anak-anak pecah dan riuh bersahut bel masuk yang berbunyi. Namun, diri ini justru merasa sangat sepi, jiwaku merana karena cinta. Dia di sana ... tidak pernah tahu apa yang kini kurasakan!
***
Jam pulang sekolah telah berlalu setengah jam yang lalu. Namun, suasana kantor justru gaduh oleh Bu Rina. Wanita itu selalu mencari perhatian Umar. Apalagi, sekarang ia sudah berkali-kali menawarkan Umar kue bolu yang ia akui sebagai buatannya.
Aku sendiri tidak yakin. Kue tersebut benar buatannya. Terakhir aku mendengar saat ia asyik mengobrol dengan Bu Fatma, ia mengaku tidak bisa membuat kue. Mungkinkah ia belajar dengan cepat?
"Assalamualaikum ...." Pak Kanto muncul di daun pintu.
"Waalaikum salam," Kami semua kompak menjawab.
__ADS_1
"Maaf ya, membuat semuanya lama menunggu. Urusan saya baru selesai. Mari kita langsung mulai rapatnya. Kita pakai ruang kelas tiga saja," ujar Pak Kanto membuat kami semua beranjak membawa alat tulis dan mengikuti langkah Pak kanto yang cepat.
Ruang kelas tiga merupakan ruangan paling dekat dengan kantor guru. Kelas di bawah bimbingan Ibu Euis ini terlihat sangat rapi. Jejeran gambar tokoh pahlawan menghiasi bagian atas dinding. Serta, kaligrafi buatan siswa yang dipajang di setiap sudut kelas.
Dengan cekatan kami semua mengatur kursi dan meja membentuk lingkaran. Kemudian, duduk saling berhadapan. Pak Ron duduk di sampingku, sementara Umar duduk tepat di samping Bu Rina. Namun, Umar tepat duduk bersebrangan dengan diri ini, sehingga ekspresi wajahnya masih bisa dengan jelas kulihat.
Rapat pun dimulai, hanya suara Pak Kanto yang mengisi ruangan. Kami berbicara jika diminta selebihnya hanya diam dan menjadi pendengar yang baik. Kemudian, tangan akan sibuk mencatat hal yang dianggap penting.
"Jadi, mulai hari Sabtu besok tidak akan ada lagi kegiatan mengajar materi. Namun, hari Sabtu khusus digunakan untuk kegiatan ekskul. Ada lima kegiatan inti, yaitu pramuka, olahraga, belajar Alquran, bahasa, dan seni. Kegiatan tersebut bisa dikembangkan lagi sesuai kemampuan Bapak dan Ibu guru sekalian. Ada yang mau ditanyakan?" ujar Pak Kanto.
"Jadi, Sabtu besok sudah ada kegiatan, Pak? Apa tidak terkesan mendadak mengingat ini sudah hari Kamis?" sahut Bu Fatma.
"Ya, sudah ada kegiatan. Jadi, sudah berlaku Sabtu besok. Untuk kegiatannya perkenalan saja dulu, sekarang silakan bagi saja ekskul apa saja yang mau dikembangkan dan siapa guru yang akan menjadi pembina dan pendamping."
"Bagaimana kalau Sabtu besok kita adakan gerak jalan saja, Pak?" balas Umar.
"Boleh saja, untuk pengenalan. Tapi, ya, terserah yang lain saja."
Serempak kami pun dengan cepat menyetujui saran Umar. Hanya dua alasan, yakni saran Umar sangat bagus atau kami ingin cepat pulang. Aku rasa dugaan terakhirlah yang paling mendekati kebenaran.
Bagaimana tidak, jam dinding telah bergerak ke pukul 14.50 mendekati waktu salat Ashar. Rona letih begitu terpancar dari wajah kami sang kuli kapur tulis yang kini mulai digantikan spidol. Namun, nasib sebagai honorer masih terkatung belum jelas.
"Ya sudah, rapat kita akhiri ya, karena semua sudah setuju. Jadi, hari Sabtu akan kita adakan gerak jalan. Tolong informasikan ke semua murid untuk memakai baju olahrga!" Pak Kanto mengakhiri rapat dan disambut dengan wajah penuh syukur oleh kami semua.
Ah, sungguh diri ini sangat merindukan kasurku yang empuk. Bersabarlah, Ning sebentar lagi pasti akan kupeluk sang guling. Tunggu guling, aku segera datang!
***
Sampainya di rumah, Ibu menyambutku dengan senyuman di beranda. Aneh sekali, biasanya Ibu selalu sibuk di dalam rumah. Namun, sekarang ia seperti sengaja menungguku.
"Ning, akhirnya kamu pulang juga!" ucap Ibu setelah kuhentikan motorku.
"Ada apa, Bu?" balasku mendekat dan mencium punggung jemarinya.
"Ke pasar yuk, Ning! Ibu mau beli baju baru."
"Baju baru? Buat apa, Bu?" heranku mengingat Ibu sangat jarang membeli baju baru.
Biasanya hanya sekali Ibu membeli baju dalam setahun, yaitu saat mendekati Lebaran. Namun, sekarang Lebaran pun masih cukup lama. Masih sekitar dua bulan lagi. Lalu, untuk apa Ibu membeli baju?
"Buat apa, Bu?" tanyaku kini duduk di sampingnya usai melepas sepatu.
"Buat Lebaranlah, Ning."
"Puasa juga masih dua mingguan lagi, Bu."
"Ya, gak apa-apa. Kalau sewaktu puasa pasar penuh sama orang. Lagian, kalau nanti-nanti takut gak sempat, Ning. Hayuk ah, anterin Ibu!"
"Ya sudah, tunggu. Ning ganti baju dulu,"
"Gak usah ganti baju, simpan tasmu saja! Kamu dah salat 'kan?"
"Sudah, Bu. Tapi, Ning juga belum gajian, Bu."
"Ibu ada uang, tenang saja. Ayuk!" balas Ibu membuatku mau tidak mau menurutinya.
Dengan cepat Ibu kini sudah menangkring di motor. Lenyaplah sudah impian ingin segera memeluk guling. Sepanjang jalan, Ibu sangat ceria. Begitu banyak yang ia ceritakan.
"Ibu mau beli baju warna putih, Ning. Kerudung putih, celana putih, pokoknya putih, Ning. Ibu belum punya."
"Iya, Bu."
"Oiya, kita ke Pasar Tambun aja ya, pulangnya Ibu mau mampir ke rumah Ncing Konah. Sudah lama Ibu gak main," pinta Ibu menyebutkan adik sepupunya.
"Tenang, Bapak sudah izinkan. Gak, kita beli baju sebentar saja, main sebentar saja. Ibu takut ga sempat main lagi."
"Ya sudah," jawabku pasrah.
Sampainya di pasar Ibu langsung mengajakku ke lantai dua. Di lantai inilah berjejer toko pakaian. Namun, entah apa yang Ibu cari. Rencana awalnya mencari baju putih, ternyata justru berujung dengan pilihan baju kaftan warna cokelat muda dan sebuah kerudung instan berwarna putih dengan banyak roncean di bagian topinya.
"Ning, ini baju buat kamu ya, warnanya samaan sama Ibu, tapi punya Ibu lebih muda." Ibu menunjukkan tunik berwarna cokelat kepadaku.
"Gak usah, Bu. Nanti, Ning beli sendiri," balasku menatap tunik panjang yang sanggup menutup dengkulku.
"Gak, apa-apa, Ning. Kapan lagi, selagi Ibu bisa belikan. Ini uang Ibu sendiri, boleh Ibu ngumpulin. Mau ya?"
"Iya, Bu."
Wajah Ibu tampak bersinar. Lalu, dengan semangat membayar belanjaannya. Kemudian, dengan penuh senyum menggandeng tanganku ke parkiran motor.
"Kenapa gak jadi beli baju warna putihnya, Bu?" tanyaku sambil memberikan helm ke Ibu.
"Gak ada yang Ibu suka, gak akan Ibu pakai." Ibu mengunci tali helm sampai klik. "Kita langsung ke rumah Ncing ya, Ning." Ibu menepuk pundakku lembut setelah menangkring di motor.
"Iya, Bu," balasku melajukan motor menuju rumah Ncing konah tidak jauh dari Stasiun Tambun.
Akhirnya, motorku pun berhenti tepat di sebuah rumah bercat merah jambu. Rumah ini sudah banyak berubah. Dahulu di depannya masih ada sebuah pohon jambu biji, tetapi sekarang halamannya telah dilapisi pavling block dan di sampingnya berjejer kontrakan.
Ibu dengan mantap mengucapkan salam pada rumah yang daun pintunya terbuka lebar. Namun, entah di mana penghuninya bersembunyi. Hanya ada suara televisi yang bergema di sela-sela ruangan.
"Waalaikum salam," balas suara perempuan dari dalam rumah setelah Ibu tiga kali mengucap salam.
"Ya Allah, dikirain siapa! Duduk, Mpok, Ningsih! Ya Allah, tunggu bentar ya," Ncing Konah muncul dari dalam rumahnya dan bergegas masuk lagi.
Aku dan Ibu pun duduk di sofa yang terletak di berandanya. Tidak lama kemudian, Ncing Konah keluar membawa dua gelas air mineral dan setoples kue kering di atas nampan. Lalu, dengan cepat meletakkan semua di atas meja.
"Udah, gak usah repot-repot," pinta Ibu.
"Repot apaan, orang cuma air putih doang. Ya Allah, udah kayak mimpi sore-sore didatengin, Mpok!" ujar Ncing Konah memeluk Ibu.
"Iya, abis dari pasar sekalian aja mampir."
"Wah, abis borong ya?"
"Enggak, cuma lagi pengen beli baju buat Lebaran." Ibu memamerkan baju Lebarannya.
"Lah, si Mpok, puasa ge belom udah beli baju Lebaran. Iya, Mpok cakep! Saya ge resep.
"Bagen, napa. Lagian, paling juga ntar nih, baju buat lu, Nah."
"Lah, kok gitu?" Ncing tampak bingung termasuk aku.
"Udah biasa 'kan baju gua nurun ke elu," jawab Ibu tenang.
"Iya si, hehe ...." Wajah Ncing mendadak malu.
Ncing Konah masih sama, tubuhnya masih tetap kurus seperti dulu. Rambutnya pun selalu pendek seleher. Daster pun masih menjadi baju andalannya di rumah.
Angin berhembus perlahan. Namun, tidak ada lagi daun yang bergoyang. Hanya poster iklan perumahan di ujung jalan yang bergerak menandakan ada angin yang baru saja berhembus.
Kami larut dalam keakraban. Namun, tidak lama, karena waktu terus bergulir dengan cepat. Pukul 17.00 Ibu meminta izin pulang dan dengan berat disetujui Ncing Konah yang masih sendiri di rumah. Anak dan suaminya masih sibuk bekerja di pabrik dan baru nanti malam akan kembali pulang.
"Hati-hati, Ning bawa motornya!" pesan Ncing Konah.
__ADS_1
"Iya, Ncing, pamit dulu. Assalamualaikum," balasku dan melajukan motor.
Kudengar Ncing Konah dengan lembut membalas salamku. Namun, diri ini sudah menjauh darinya. Kini motorku melaju melewati Gedung Juang 45 Tambun.
Senja mulai merambat. Ribuan kelelawar mulai keluar dari puncak Gedung Juang 45 Tambun. Bangunan yang merupakan peninggalan tuan tanah Cina tersebut selalu memberi kesan antik. Bangunannya masih sangat kokoh dan belum banyak berubah. Hanya beberapa perbaikan yang membuatnya tampak lebih baik.
Warna putih mendominasi dinding dan ornamennya. Sementara, tiang, pintu, jendela, dan atap didominasi warna cokelat tua kayu. Sedangkan, gaya arsitekturnya memiliki gaya yang sangat memperhatikan detail ornamentasi.
Bangunannya mirip seperti rumah mewah pada masanya, senada dengan museum yang banyak di Kota Tua. Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai dengan banyak jendela dan pintu utama. Halamannya sangat luas dan asri. Di belakang dan samping bangunan Gedung Juang, berderet rumah zaman dulu dan gudang yang kini dialihfungsikan sebagai kantor pemadam kebakaran dan laboratorium puskesmas.
Tepat di halaman utama terdapat sebuah relief. Relief tersebut menceritakan masa awal wilayah Bekasi dan perjuangan masyarakat Bekasi pada masa kemerdekaan. Relief tersebut berbentuk seperti tugu tanpa puncak yang dikelilingi gambar berwarna dasar hitam dan di kelilingi rantai pembatas agar tidak dirusak pengunjung.
Hal yang selalu menarik bagiku adalah puncak Gedung Juang yang berbentuk gunung. Di puncak inilah terdapat ribuan kelelawar yang tinggal dan akan keluar di senja hari untuk mencari makan. Kemudian, mereka akan kembali di pagi hari untuk beristirahat.
Entah, sejak kapan kelelawar itu tinggal di puncak Gedung Juang. Ibu sendiri tidak tahu, bahkan berapa jumlahnya secara pasti Ibu tidak dapat memastikan. Mereka sangat banyak dan selalu memenuhi langit senja dengan siluet hitam yang mengalir di langit.
Sewaktu kecil, aku pernah berusaha menunggu mereka keluar semua dari dalam gedung. Namun, aku gagal. Bahkan, saat azan Magrib berkumandang mereka masih belum juga usai memenuhi langit. Ribuan kelelawar masih berusaha keluar dari sela-sela jendela Gedung Juang.
Tidak pernah terbayang berapa jumlah mereka. Mungkin lebih dari ribuan. Entahlah, hewan hitam, bersayap dengan gigi tajam itu benar-benar sangat banyak. Sehingga, aku tidak berhasil menemukan ujung jalur yang mereka buat saat senja datang.
"Ning, ini nanti bajunya kamu pakai ya!" pinta Ibu setelah sampai rumah.
Langit telah gelap dan sebentar lagi azan Magrib pasti berkumandang. Aku hanya mengangguk menjawab permintaan Ibu. Namun, Ibu rupanya belum mau masuk. Ia justru berlari melihat Ibu Nana pulang ke rumahnya.
Ibu Nana adalah tetangga kami yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Majikannya adalah pemilik ruko di Tanah Abang. Sehingga, hampir setiap minggu Ibu Nana pulang membawa dagangan yang akan ia jual secara kredit atau kontan. Aku tidak tahu, mengapa Ibu berlari menemuinya.
"Ibu mau ke mana?" teriakku.
"Bentar, Ning!" balas Ibu, tetapi wajahnya mengacuhkanku.
Diri ini pun memilih untuk masuk ke dalam kamar dan membuka ponsel yang sempat tertinggal di rumah. Kemudian, jemariku dengan lincah membuka aplikasi pesan bermodal kuota. Puluhan pesan masuk tanpa henti setelah data kuaktifkan.
Satu-persatu dengan sabar kubaca pesan yang masuk sampai nama Haikal muncul. Sebuah pesan dari Haikal membuat jantung ini mendadak berhenti berdetak. Jemari seolah kaku, jari jempol yang semula begitu lincah menekan layar, mendadak kelu.
Diri ini terdiam, ribuan udara berebut masuk ke paru-paru. Namun, justru membuat sesak, karena terlalu banyak udara kotor yang ikut masuk. Aku gamang antara penasaran dan ingin mengacuhkan pesan tersebut. Namun, ternyata rasa penasaran jauh lebih unggul dan membuatku membuka pesannya juga.
Maaf, aku baru membalas pesanmu. Maaf, karena lama mendiamkanmu. Bisakah aku meneleponmu sekarang?
Hatiku tersayat. Akhir-akhir ini aku sudah terbiasa mendengarnya mengucap maaf. Sekarang, wajarkah jika maafnya sama sekali tidak mengetarkan hati ini?
Aku mencoba mengabaikan pesannya. Namun, lagi-lagi penasaran terlalu kuat bertahta. Haruskah aku membalas pesannya?
"Ning," panggil Ibu di daun pintu kamarku dan kemudian ia pun duduk di kasur menggeser ponselku yang tergeletak.
"Iya, Bu."
"Ibu habis pesan kerudung putih sama Ibu Nana. Tadi dia nunjukin gambarnya di HP, bagus, Ning. Kerudungnya panjang putih polos." Ibu begitu semangat bercerita kepadaku, tetapi otakku sedang memikirkan hal lain. Haikal!
"Iya, Bu pesan saja. Nanti, biar Ning yang bayar,"
"Sudah, Ibu bayar. Tinggal nunggu barangnya sampai,"
"Oh, ya sudah kalau gitu," balasku tidak bersemangat."
"Ning, udah azan. Ayok, salat!" ajak Ibu menepuk pahaku lembut dan berlalu dariku.
Setelah selesai salat. Aku kembali menatap ponsel. Lagi-lagi Haikal memenuhi otak. Akhirnya, aku pun membalas pesannya dengan singkat 'ya'.
Kuperhatikan ponsel tanpa jemu. Lalu, memastikan pesan singkatku telah ia terima. Namun, ia belum juga membaca pesan yang diri ini kirim . Ke mana lagi dirinya?
Akhirnya ponselku berbunyi. Lima belas menit setelah pesan terkirim. Dengan sedikit ragu aku pun menjawab teleponnya.
"Aku minta maaf, Ning. Aku tahu aku salah."
"Lalu?"
"Ning, aku khilaf. Ini bukan mauku. Keadaan yang memaksa aku seperti ini. Aku sangat mencintaimu, tapi aku hanya merasa jarak sedang mempermainkan kita. Wanita itu bukan siapa-siapa. Ia hanya teman satu kantorku. Ia sudah lama menyukaiku, tetapi aku tidak pernah menerimanya. Karena, aku punya kamu."
"Khilaf? Apakah kamu sudah sadar dengan yang kamu katakan? Kamu bilang ini bukan mau kamu? Lalu, kemana kamu selama ini?"
"Ning, aku mohon. Aku mau kita nikah, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya menjebak aku!"
Menjebak? Apa maksudnya? Mengapa laki-laki itu menjadi sangat menyebalkan!
"Ning,"
Haikal kembali memanggilku. Namun, aku membisu. Lalu, membiarkan sepi diam-diam menyelinap di antara kami.
"Jangan hubungi aku dulu ya," ucapku setelah lama diam.
"Maksud kamu apa, Ning?"
"Aku sendiri gak tahu kamu sedang jujur atau sedang membohongiku lagi."
"Lalu, aku harus bagaimana agar kamu percaya?"
"Aku sendiri gak tahu, hanya kamu yang tahu jawabannya. Aku gak bisa menjalani hubungan dengan dusta. Sudah ya, aku mau istirahat."
Aku menututup telepon Haikal dan menangis dalam diam. Entahlah, apakah semua yang diri ini katakan adalah yang terbaik. Aku merasa serba salah. Sesak mengikat tubuh dan membuat malam sangat dingin.
***
Sabtu telah datang, halaman sekolah mendadak berwarna-warni senada dengan seragam olahraga yang berbeda warna setiap tahunnya. Semua siswa dari kelas satu sampai kelas enam telah berkumpul di lapangan sekolah. Mereka tampak tidak sabar menunggu aba-aba untuk diberangkatkan. Hanya botol air minumlah yang mereka bawa untuk bekal.
"Baik, hari ini kita semua akan melakukan gerak jalan. Rute yang akan kita lalui adalah dari sekolah menuju Jembatan Gantung Sasak Mare. Nanti, kita istirahat sebentar, lalu kembali ke sekolah. Saat akan melewati Sasak Mare, mengingat jumlah kita semua banyak. Jadi, bergantian ya!" ujar Umar memberi arahan dan disetujui semua murid dan guru.
Perlahan derap langkah pun terdengar. Canda tawa sesekali terdengar dari para siswa. Udara masih sejuk. Pohon bambu yang berjejer di sepanjang jalan seolah melambai mesra kepada kami.
Sawah yang mulai menguning seakan tersenyum gemilang. Bulir-bulir padi yang kian menunduk seperti memberi rasa hormat kepada insan terdidik. Aku mengucapkan salam kepada bumi melalui tanah merah yang menganga diberi benih, semoga kelak tanaman unggul mampu kupetik.
Suara nyanyian berkomando kini menjadi pengiring langkah kami. Aktivitas warga mengembala ternak, bercocok tanam, dan memikul rumput di kepala menjadi tontonan kami. Sebaliknya, kami pun menjadi tontonan gratis warga.
Setibanya di jembatan gantung, jantung ini berdegub kencang. Jembatan yang bergoyang membuat nyaliku ciut. Wajah ini pucat pasi, keringat mulai menetes tanpa kusadari.
"Bu? Mari ... Semua siswa sudah melangkah, hanya Ibu dan sekarang saya yang tertinggal." Umar menyusulku yang terhenti di ujung jembatan.
Umar menatapku. Sementara, semua guru sudah di depan mendampingi semua siswa. Kini, Umar tepat berada di depanku dan hanya berjarak satu langkah.
Ya Tuhan, dia pasti tahu sekarang bagaimana buruknya wajah ini! Aku mencoba menutupi. Namun, jembatan hijau terbuat dari bambu itu seakan menggoda. Deretan bambu yang bejejer menjadi pijakan jembatan seakan tertawa menatapku.
Air sungai di bawah jembatan mengalir tenang seakan memperhatikan aku dari bawah. Sementara, daun bambu yang menjuntai di ujung jembatan seperti pemandu sorak. Mereka riuh, menyemangatiku.
"Gak, usah takut saya temani, berjalanlah di samping saya, saya tidak akan meninggalkanmu ...." tambah Umar.
Umar berkata dengan lembut. Tatapan matanya sangat teduh. Bagaimana bisa ia membuat detak jantung ini mulai tenang?
Puasa ge belom \= belum juga puasa
Cakep\= bagus
Saya ge resep\= saya juga suka
Bagen\= biar saja (tidak mengapa)
__ADS_1
Nurun\= turun (mewarisi)